Senin, 04 Mei 2015

Lembar Awal Penulis

Setelah dua bulan lebih kami melepaskan diri sejenak dari dunia perkuliahan, tepat pada tanggal 3 Maret 2015 kami akan memulai perkuliahan lagi di semester baru. Ketidak puasan terhadap jatuh bangun selama semester pertama memacu semangat baru tuk menjadi lebih baik di semester selanjutnya. Memang kuakui, prosesku di semester pertama buruk. Saat awal memang baik, namun dipertengahan dan akhiran semester satu, semangatku mulai kualahan. Ingin kutebus dengan semester selanjutnya.
Lembaran awalku
Hari ini, tepatnya tanggal 12 April aku baru memulai buku harian ini, memang aku tau harusnya sejak mulai kuliah aku mulai menulis ini, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajarkan. Kutulis kata-kata ini dengan perasaan rindu besar kepada
teman-temanku di kampung, teman-temanku disekolah, dan bahakan kakak-kakak kelasku dulu. Mereka yang mampu menerimaku apa adanya. Dulu aku berangkat ke kelas tanpa mandi, tanpa dandan keren, tanpa potongan rambut keren, baju dengan ukuran kebesaran, tanpa mengejar perhatian wanita, itu semua biasa bagi kami semua. Tetapi di sini? Di sini berbeda. Aku kangen mereka, tertawa dalam kesederhanaan, tersenyum di atas kekurangan, berangkat bareng, ulang bareng, jalan kaki bareng, bersepedah boncengan, terkena masalah bareng, kampung halaman tercinta. Aku hanya bisa mendoakan mereka dari sini, diamapun kalian berada, semoga kalian bahagia. Saat kita bertemu nanti, kita akan membawa sesuatu yang lain yang dapat dibagi bersama. Amiin..
Jalan hidup memang tidak selalu lurus, namun hal tersebutlah yang telah menghiasi kehidupan manusia dan membuat semuanya berarti. Sebagaiman yang kurasakan sekarang, Allah memberikan banyak arti di setiap kejadian-kejadian yang Ia ciptakan. Cuma kita saja yang kekurangan merenungi dan berfikir mendalam terhadap apa-apa yang Allah takdirkan.
Untuk mengusir sepi yang kurasa, aku memutar musik dari notbook ini. Namun, ternyata hal itu malah memperkuat kangeku. Aku turun ke lantai bawah untuk mencari minuman, makanan, atau apalah untuk menemani aku belajar malam ini. Aku turun menuju lantai dua , namun kantin DM tutup. Aku berbelok ke kamar temanku, disitu kudapati teman-temanku, ada Mizan yang sedang asik dengan laptonya, Jadul yang dengan sabar menunggu laptopnya untuk belajar yang sedang dipinjam Alghi untuk nonton One Piece. Aku berdiri ikut nonoton bersama Alghi, aku melupakan tujuanku turun ke lantai dua tadi. “Goal...!!!”  “Ye...!!!” Teriakan para mahasantri yang sedang nonton sepak bola di ruang TV terdengar sampai kamar ini. Beberapa temanku terganggu dengan teriakan tersebut, namun mereka tak mau menegur para mahasantri yang sedang nonton sepak bola tersebut.
Beberapa waktu kemudian, kuputuskan kembali ke kamarku, kulihat kantin tetap tutup. Sampai di lantai empat aku mampir ke kamar Faisal untuk membeli kopi, mie dan energen untuk menemani malamku. Namun aku hutang dulu karena uangku besar, lima puluh ribuan, sedang Faisal belum mempunyai uang kembali. Lalu aku kembali ke kamarku yang berada paling ujung dekat toilet di lantai lima. Aku sedirian malam in karena teman sekamarku pulang kampung setiap minggunya di hari libur.
Aku membuka kunci kamar kemudian masuk dan menyalakan notbookku. “Tuuuut, tuuuut” suara notbookku karena baterainya hampir habis, langsung kusambungkan dengan casnya yang sudah terpasang di colokan terminal. Aku memanaskan air untuk membuat kopi. Selang beberapa menit air sudah panas. Aku membuka mejikom dan melihat air sudah mendidih,  aku msempat kebingungan encari alas tangan untuk menahan panasnya panci ketika aku menuangkan air panas ke dalam gelas plastik yang sudah aku siapkan. Aku sobek tutup kardus tempat semua cas kuletakkan sebagi alas tangan. Kutuangkan air panasnya ke dalam gelas lalu kumasukkan dua setengah saset kopi susu karena setengah saset kopi susunya tadi sudah aku makan mentah-mentah, biasa buat cemilan.
Lalu aku melanjutkan mengetik diary ini. Aku mencari teman sms-an untuk mengusir sepi malam ini, tapi sepertinya kakakku mbak Susi yang akrab aku panggil Sen (Senior) sudah tidur. Jadi kunyalakan musik MP3 dari notbook ini. Kulirik kopiku, sudah habis sepertinya, terlihat dari rasa ampasnya yang dalam bahasa Jawa disebut “Cekakek” ketika kuminum kopi tersebut, agak pahit.
Malam ini, sebenarnya aku harus belajar untuk ujian Pak Prof besok, namun kalau aku belajar bawaannnya kangen sama teman-temanku, kenapa ya? Jadinya lebih memilih mendahulukan menulis diary ini. Malam ini juga aku harus mencuci baju-bajuku yang sudah satu minggu lebih belum aku cuci. Waktu sudah menunjukkan jam dua belas kurang beberapa menit lagi. Aku teringat seminggu yang lalu di hari yang sama, aku belajar untuk ujian keesokan harinya sampai hampir subuh. Aku belajar lama karena kurang konsen dalam belajar, aku terfikirkan oleh kangen berat juga. Hal itu membuat keesokan harinya aku bangun kesiangan dan nggak ikut intensif bahasa Arab dan menutup pintu dari luar ketika pelajaran Pak Prof dikarenakan telat lebih dari sepuluh menit. Aku mau bilang apa, salahku juga, namun aku tidak terlalu bersedih karena dengan keterlambatanku, aku dapat memberi contoh kepada diriku sendiri dan juga teman-teman sekelasku untuk tidak meremehkan waktu.
Setelah aku keluar dari ruang kelas, aku duduk di kursi dekat pintu kelasku dan membuka Hpku. “”Rifqi, kamu tau hrdiskkku?” Kata Munir yang membuyarkan lamunanku. Aku menjawab “Di kamar Jadul tadi.” Kami mengobrol tentang hardisk Munir yang nggak ketemu, lalu dia turun ke kamar Jadul dan aku meninggalkan notbookku untuk pergi ke kamar Jadul juga untuk memeriksanya. Baru beberapa langkah aku keluar dari kamarku, aku teringat akan keamanan hardisk juga notbookku yang ada di kamar, aku kembali ke kamarku dan menguncinya. Lalu aku pergi ke kamar jaul di lantai dua. Zubad mengatakan bahwa mungkin dibawa Mizan, lalu kami ke kamar Mizan. Stibanya di kamar Mizan Alghi mengatakan bahwa notbook Jadul beserta hardisk Munir berada di lemari Jadul. Kami kembali ke kamar Jadul untuk mengeceknya. Ternyata memang benar di lemari jadul. Kami menghembuskan nafas lega, ternyata tidak hilang.
Aku kembali ke atas, namun aku menyempatkan mampir di kamar Mizan. Aku berbincang-bincang degannya untuk melepaskan unek-unekku malam itu agar merasa plong. Tak terasa sudah sekitar dua puluh menitan aku berada di kamar Mizan. Aku kembali ke kamarku dan melihat jam di Hpku, waktu telah menunjukkan jam setengah satu malam. Aku bingung, aku harus mencuci baju, namun aku khawatir kejadian seminggu yang lalu terulang lagi, aku nggak ikut intensif dan juga nggak ikut kuliah.
Sepertinya, malam ini akan menjadi malam yang panjang, meski sebenarnya aku berharap dapat memendekkan malam ini dengan berbaring di atas ranjang. Hanya suara musik dan terkadang suaraku sendiri yang terbawa suasana lagu yang terputar yang menemaniku malam ini. Hambar rasa mulutku, sedikit terasa bekas kopi yang kuminum tadi, mataku tak sepenuhnya terbuka, badanku agak lemas, dan perutkupun agak terasa lapar, namun aku tidak boleh tidur sekarang. Dengan sisa kesadaranku aku melanjutkan mengetik diary diselimuti hawa dingin yang masuk dari jendela kamar yang terbuka.
Malam ini malam yang berbeda dengan malam-malam yang lain, biasanya aku baik-baik saja dengan kesendirianku di kamar ini, namun malam ini aku merasa sepi sekali. Di tambah dengan kesunyian malam yang bagikan Hp tanpa kontak sama sekali.
Hari Kebebasan
            Kemarin, tepatnya tanggal 13 April, saat perkuliahan Pak Prof, aku merasakan bahagia sekali, kesan-kesan yang sebelumnya kurasakan ketika di perkuliahan beliau sekarang sudah berubah. Sebelumnya aku merasa selalu minder karena kurasa aku masih buruk sekali, tapi setelah bertemu beliau kemarin, kesanku berubah total, ketika beliau mengabsen satu persatu mahasiswa kelas kami, beliau memeberikan masukan kepada kami satu-persatu dengan tepat sekali setelah nilai ujian kami di umumkan.
            Ketika teman-temanku diberi masukan satu-persatu, kami berkali-kali memeberikan tepuk tangan bangga karena ternyata mereka semua  mempunyai sesuatu yang tidak di sangka-sangka sekali. Banyak sekali masukan yang mereka dapat. Absen terus berlajut, teman-temanku terus dipanggil, aku yang belum terpanggil mendengarkan masukan untuk teman-temanku sembari aku menulis semua kekurangan-kekuranganku ketika belajar dan mengerjakan soal ujian beliau. Diantaranya:
1.      Kurang hafal ayat, karena kesalhanku paling parah adalah pada soal-soal yang menuntut kami untuk menulis ayat, banyak sekali ayat-ayat yang aku belum hafalkan.
2.      Kurang  konsen ketika belajar, banyak fikiran yang masuk ke kepalaku ketika belajr, entah pikiran tentang rumah, teman-temanku di kampung, sekolah aliyahku dulu, dan lain sebagainya. Susah sekali untuk konsen belajar.
3.      Kurang baca keseluruhan, ini karena memang aku belajar untuk ujian beliau cuma satu malam sebelum ujian berlangsung. Maka akibatnya adalah, selau tidak selesai ketika belajar.
4.      Kurang bisa mengatur waktu, hal ini bersangkutan denganwaktu belajarku yang masih memakai sistem SKS atau sistem kebut semalam yang emang sebenanya aku tau sistem tersebut kurang efisien. Akibatnya ketika keesokan harinya selama perkuliahan mataku sudah terlalu lelah untuk tetap dalam keadaan siaga.
5.      Kurang serius karena aku sudah tau sistem kebut semalam itu buruk tetapi aku tetap memakai sistem tersebut.
6.      Kurang yakin dengan diri sendiri, penyakit ini agak parah, yaitu penyakit dimana ketika melihat jawan dari temanku, aku cenderung menirunya dan tidak percaya dengan
Mengejar Ketinggalan
            Hari ini, tepatnya tanggal 21 April aku baru memlai kembali menulis buku diary, entah kenapa kemarin tanggal 13 April tiba-tiba aku berhenti menulis karena males tiba-tiba menghampiriku lagi. Aku sebenarnya kecewa dengan diriku sendiri, namun tak kuasa berbuat apa-apa.
            Kemarin, aku sudah tidak masuk ke kelas intensif bahasa Arab dikarenakan kesiangan, sedang hari ini aku tidak masuk mata kuliah Ushul Fiqih karena ketiduran. Penyakit tidurku bisa dibilanh parah, hampir setiap hari aku bangun kesiangan, sedang siangnya, kalau aku tidak tidur siang pasti mataku terasa panas. Padahal banyak yang harus kukerjakan.
            Kemarin, guruku Aliyah datang untuk mengantarkan no. tanda peserta PBSB 2015 untuk adik kelasku, namun aku malah ketiduran sehingga tidak dapat menemui guruku yang datang jauh-jauh tersebut. Akhirnya guruku menitipkannya kepada kakak kelasku. Lalu aku menerimanya dari teman sekelasku. Itulah secuil cerita betapa parahnya aku.
            Hari libur kemarin mempunyai cerita tersendiri yang berbeda dengan hari-hari liburku yang lain, dimana hari-hari liburku yang lain aku habiskan untuk tidur, hari liburku kemarin aku mengikuti acara PTQ (Pembinaan Tilawatil Qur’an) IQMA. Acar tersebut sedikit uni dari acara-acar yang lain, karena pada acara tersebut aku menjadi peserta sekaligus panitia. Awalnya dikarenakan uang pendaftaran yang terbilang mahal, ditambah acara tersebut adalah acara baru yang belum pernah diadakan oleh IQMA. Akibatnya peserta yang mendaftar jauh dari jumlah yang ditargetkan. Selanjutnya pengurus IQMA bidang tilawah mengambil jalan menurunkan harga pendafaran dan mewajibkan semua anggota IQMA untuk mengikuti acara PTQ tersebut. Pada hari H, peserta tenyata masih belum memenuhi target sehingga pendanaan acara menjadi minus banyak.
Melanjutkan Estafet
            Hari ini bertepatan dengan tanggal 22 April, aku mulai merasakan kembali perjuangan dalam memperbaiki diri. Berawal dari malam kemarin malam, aku ketiduran duluan sebelum sempat sholat isya’. Aku merasakan Allah memperhatikan aku, tepat jam setengah empat pagi Allah membangunkan aku untuk mendirikan sholat isya’ sebelum waktu isya’ habis. Setelah sholat, tak lama kemudian berkumandanglah adzan subuh. Setelah sekalian sholat susbuh, aku ingat bahwa hari ini nanti akan dilaksanakan ujian tengah semester mata kulia Filsafat Ilmu, aku menyempatan diri untuk belajar. Namun mataku tak kuasa membuka kelopaknya lebar-lebar.
Melakukan apa yang seharusnya
            Tanggal 27 ini, aku teringat akan sesuatu yang harus kulaksanakan yang telah terencana sejak seminggu yang lalu. Diawali dari kemarin malam, ketika akan belajar Tafsir BKI, aku terkekang oleh rasa malasku. Lalu aku memberikan batasan kepada diriku senidir, setelah selesai nonton One Piece sampai episode 100 aku harus mengakhiri nontonku dan dilanjutkan belajar. Aku belajar sampai larut malam yaitu sekitar jam satu lebih, lalu aku menyempatkan juga untuk belajar bahasa Arab untuk ujian UTS intensif bahasa Arab besok sampai aku ketiduran.
            “Drrrrrd... Drrrrrrd...” alarm hpku berbunyi keras menandakan jam tiga lewat dua puluh lima menit. Aku terbangun dan mengambil hpku untuk mematikan alarm nya, setelah itu aku ketiduran lagi. Aku terbangun dan langsung melihat jam di hp, “Wah...” teriakku dalam hati, jam sudah menunjukkan pukul enam lebih, aku terlambat masuk intensif dan sekaligus melewatkan ujia tengah semester intensif bahasa Arab tersebut. Namun, apalah artinya menyesali diri, Allah tidak pernah salah kok, jadi apapun kehendak-Nya aku meerimanya.. Aku yang sudah kehilangan minat untuk bangun tertidur kembali sampai jam tujuh, aku bangun lalau bersiap-siap untuk masuk kuliah Pak Prof. Dengan agak terburu-buru aku berjalan menuju kelas.
            Gedung fakultas Dakwah sudah tinggal beberapa meter lagi, aku melirik hp dan melihat ada miskol dari temaku Egha yang khawatir aku tidak dapa mengikuti kuliyah lagi. Ia juga mengirimkan pesan kepadaku untuk bersegera masuk ke kelas. Ketika kurang beberapa langkah lagi ke kelas, aku melihat teman-temanku dari luar pintu yang tengahnya terdapat kaca yang tembus pandang. Disitu aku melihat pandangan mereka mengarah kepada seseorang yang berada di depan kelas. Aku masuk dengan mengucapkan salam di kelas, aku melihat Pak Ainul Yaqin yang mengguanakan baju berwarna merah dengan kerah dan bagian pergelangan baju berwarna hitam. Beliau mengenakan jam tangan di tangan kirinya serta sepatu hitam dengan garis putih di bawahnya menambah elegan penampilannya. Beliau duduk di pojok depan kelas dengan perhatian penuh terfokus kepada Faisal yang sedang menceritakan sesuatu di depan kelas dengan menggunakan bahasa Arab. Aku mendekati beliau dan menjabat tanganya, setelah itu aku mengambil tempat duduk di barisan depan yang masih kosong satu kursi.
            Aku duduk dan memperhatikan Faisal, aku belajar bagaimana agar bisa tampil percaya diri dan juga menarik dari Faisal. Dari caranya mengawali pembicarannya, caranya mengungkapkan, caranya mendapatkan perhatian dari para pendengar, dan lain sebagainya.
            Setelah itu ujian dimulai, kami melewati ujian dari soal ke soal selanjutnya dengan perhatian penuh terhdap suara Pak Yaqin yang membacakan soal. Kami agak merasa lega sealgus tegang karena soal yang akan di berikan cuma dua puluh, tidak empat puluh seperti biasanya dikarenakan bahan ujiannya cuma tiga ayat dan juga tafsirnya tidak terlalu banyak. Di tengah ujian berlangsung Pak Prof datang ke kelas dengan mengenakan baju putih bergaris hitam ke abu-abuan, bercelana hitam, sepatu fentovel hitam mengkilat seperti baru, jam tangan di tangan kirinya, sabuk hitam dengan bentuk seperti ukiran garis-garis tegak yang di tengahnya terdapat garis hitam lurus yang menyatukan semua garis tegak tersebut. Dengan penampilan yang rapi tersebut beliau langsung duduk di kursi besi dengan bagian dudukan dari kapas halus dan empuk. Beliau masuk dan merebut perhatian kami semua yang berada dalam kelas. Semua terdiam ketika beliau masuk sebagaimana pembina acara masum ke dalam sebuah lapangan upacara bendera.
Sambungan yang terputus
            Tadi, setelah jam kuliah Pemahaman Individu yang di ajar oleh Ibu Yusria, ketua angkatan kami yang berwibawa yang kerap di panggil Aa’ Jajang, meminta perhatian kami sejenak sebelum kami bubar dari kelas. Aa’ membacakan pesan dari Pak Prof di handphone miliknya yang di angkatnya setinggi dada bahwasanya kami disharatkan minimal harus sudah menulis buku diary sebanyak tiga puluh halaman untuk bisa mengikuti ujian terakhir mata kuliah Tafsir BKI.
            Kabar tersebut menggemparkan hampir semua hati mahasiswa kelas B3 semester II jurusan BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini. Mungkin hanya segelintir mahasiswa yang tidak terkejut dan bahkan merasa biasa dengan kabar tersebut. Misalnya saja Nursabila, gadis asal Sambas yang tidak suka menganggur sehingga meluangkan waktunya untuk menulis diarynya. Meskipun berpostur tubuh mungil dengan kira-kira tingginya 140 cm, tetapi ia memiliki kesungguhan dalam menulis diary melebihi kami semua. Dua hari yang lalu tepatnya tanggal 27 April 2015, saat perkuliahan Pak Prof, ia ditanya tentang jumlah halaman diary yang telah ia tulis, gadis mungil tersebut menjawab bahwa ia telah menulis diary kira-kira sebanyak tiga puluh sembilan halaman. Sungguh gadis asal Sambas tersebut telah jauh melampaui kami semua.
            Kami terkejut dengan kabar tersebut, kami dipaksa menulis minimal tiga puluh halaman, namun kami sadari, kami tidak akan memacu kencang kemampuan kami menuju perubahan yang lebih baik kalau tidak dipaksa seperti ini.  Memang setiap orang mempunyai potensi dan kemampuan yang berbeda, namun siapa yang tidak mau bila diajak menjadi penulis hebat?
            Aku sendiripun masih jarang menyempatkan diri untuk merutinkan menulis diary setiap hari. Aku malah lebih sering menonton film baik yang sekaligus habis ataupun yang bersambung. Misalnya saja film sambungan yang sedang marak di angkatan kami khususnya yang laki-laki, yaitu film One Piece. Film yang menceritakan tentang seorang anak ang memiliki kekuatan seperti karet yang dapat memanjang dan tahan banting yang berjuang mengejar impiannya menjadi raja bajak laut seluruh dunia dengan mencapai Grand Line dan mendapatlkan harta karun one piece. Ia mempunyai sifat seperti polos, jujur, bukan pendengar yang baik, cepat akab dengan orang baru, pantang menyerah, menepati janji, bertekad kuat, tidak takut mati dalam mengejar impian, dan juga tidak pernah takut ataupun gentar bgaimanapun musuhnya. Ia ering dijuluki dengan Mugiwara atau si topi jerami karena ia selalu memakai sebuah topi jerami cokelat bergaris merah di sekelilingnya yang di berikan oleh seorang kapten bajak laut yang rendah hati.
            Aku merasa harus meniru semangat berjuag Mugiwara ketika mengejar impiannya. Bagaimana caranya berjuang, semangat berjuangnya, jiwa pantang menyerahnya, kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri tanpa keraguan sedikitpun dan tidak pernah gentar dengan masalah sesulit apapun. Si topi jerami telah mengajarkan kepadaku bahwasanya berjuang itu simpel yaitu berusaha dengan maksimal, jangan takut terjatuh, dan juga jangan mendengarkan mereka yang ingin menghentikan impian kita.
            Setelah kami mendengarkan kabar penulisan diary tadi, satu persatu dari kami mulai bubar dari kelas. Ketika di kelas tinggal beberapa orang, aku mlihat laptop dan buku temanku masih berada di kelas, padahal orangnya sudah tidak ada. Aku keluar dari kelas untuk mencari temanku tersebut dengan tujuan dapat menemukan temanku tersbut. Namun aku tidak menemukannya, aku kembali ke kelas dan melihat barang-barang temanku akan dibawakan temanku Jadul, tetapi aku mlihat ia sendiri sedang membawa laptopnya di salah satu tangannya, “Biar ku sajayang bawa” kataku dengan suara agak keras karena aku masih berada di depan pintu yang jauh dari barang-barang tadi. “Ouh, kamu juga tahu.” Jawab Jadul. “Iya, akukan barusan nyari nisa.” Kataku. Lalu kami keluar dari kelas mau kembali ke Pesma. Aku turun dengan mata selalu mengawasi ke setipa sudut tempat untuk mencari Nisa pemilik barang yang ketinggalan tadi. Ketika aku menuruni tangga ke lantai satu aku melihat Mbak Tria dan Rina pergi manuju ruang dosen menyusul Mizan dan Faisal, Aku bertanya “Mau ngapain?” tpi mereka tidak menjawabya. Setelah itu aku melihat Nisa masuk ke Fakultas dengan agak terburu-buru dan melihat aku membawa sesuatu yang ia cari, lali ia menghampiriku dan aku menyerahkannya kepadanya, ia tterlihat senang sekali aku membawakannya. Ia berterima kasih dan langsung kembali keluar Fakultas.
            Aku berbelok menyusul Mbak Tria dan rina ke ruang dosen. Aku bertanya kepada mereka pertanyaan yang sama, namun mereka tidak menjawabnya. Akhirnya aku kurang sesrius menanggapi mereka. Aku menarik tas Rina dan bertanya, “Aku ke sini ngapain?” tanyaku agak sedikit usil. Ternyata mereka berhenti di depan pintu ruang dosen dan terlihat sedang mencari sesuatu. “Inilah TKP-nya” kata Mizan. Aku langsung mengerti apa maksud mereka semua datang ke sini. Mereka mau mencari absensi Solidaritas yang telah hilang di tempat itu kemarin ketika kami kesitu.  Aku teringat sesuatu, kemarin aku melihat Nanang melempar setumpuk kertasb dan terjatuh dibalik lemari dosen yang berada di sisi-sisi jalan menuju ruang dosen. Aku langsung menceritakan ingatanku tersebut kepada mereka.
            Lalu mereka mencoba menginitip belakangh lemari dari sela-sela antara tembok dengan lemari, dari sela-sela lemari satu dengan lemari yang lain, dan juga dari bawah lemari tersebut. Mizan melihat sesuatu di balik lemari, Lalu ia pergi mencari celah yang lain, gantian aku menginitip dari sudut yang tadi di tempati Mizan. Ia benar, aku melihat ada kertas di balik lemari, lalu Miozan dan Faisal menarik lemari dari ujung yang lain, aku melihatnya semakin jelas ketika lemari mulai di tarik keluar, dan akhirnya kami mendapatkan kertas tersebut dan ternyata dugaa-n-dugaan kami benar, itulah absensi Solidaritas yang kami cari. Oia, aku hampir lumpa menjelasklaan, Solidaritas adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang fokus terhadap bidang jurnalistik.
            Aku mengatakan kepada diriku sendiri, “Ternyata aku disini ada gunanya juga.” Mereka semuya tampak bahagia sekali tatkala menemukan absensi tersebut. Setelah itu sebelum kembali ke Pesma, kami menyempatkan diri membaca koran yang terpampang di teras Fakultas. Setelah itu kami ke Pesma. Sesampainya di Pesma kami duduk-duduk di rauang tamu dan Mizan menyuruhku untuk memesan lauk dan nasi di warung Bu Puji. Kami ngobrol kembali tentang kabar yang diberitakan ketua angkatan kami tadi di kelas. Miza, temanku yang aku akui dia adalah orang yang termasuk rajin dalam menulis diary, ia sudah menulis sampai sekitar sebelas halaman namun ia mengeluhkan kalau harus tiga puluh halaman. Aku sendiri yang jumlah halamanku belum sebanyak Mizan mencoba menghiburnya agar tidak menyerah, “Ni laptokuy saja belum bisa di buat ngetik, keyboardnya sering tidak berfungsi. Aku harus men-sscan­ boottime terlebih dahulu.” Kataku sambil menunjukkan notbookku. Ku akui, notbookku sudah pernah terjatuh dari atas kursi satu kali, mungkin inilah efek dari jatuhnya notbookku tersebut. Kadang juga, kursorny tidak mau bergerak sama sekali. Tidak apa-apa sih sebenarnya, tapi kalau bisa jangan keseringan saja.
Setelah itu aku kembali ke kamarku lalu mau makan dengan lauk yang dibelikan Mizan, namun setelah melihta nasinya, ternyata belum matang. Setelah itu, aku ingin segera memulai menulis diaryku, namun mau bagaimana lagi, notbookku masih belum bisa. Aku program notbookku untuk scan Booottime, aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku mengambil kertas dan bolpoin di dalam tasku. Aku menulis diaryku di kertas dulu supaya mendaptkan gambaran nanti apa yang akan aku tulis dan juga biar aku tidak lupa kejadian hari ini yang akan aku tulis di diaryku. Aku berklali-kali melirik mesin penanak nasi, perutku d\sudah lapar karena dari tadi pagi belum makan nasi sama sekali. Akhirnya nasi matang juga, aku makan bersama teman sekamarku. Setelah itu aku melanjutkan menulis diaryku di kertas sambil tiduran lagi sampai ketiduran.
Aku bangun sekitar jam lima sore kurang sedikit, aku menyadari bahwa aku telah melewatkan kajian kitab kuning ma’had di masjid hari ini. Aku mandi dan sholat, setelah itu selang beberapa menit adzan maghrib di kumandangkan, aku sholat maghrib sekalian. Setelah itu untuk menjernihkan hatiku aku mengaji Al- Qur’an yang sebenarnya aku sudah jarang sekali mengaji Al-Qur’an. Karena memang ketika aku membaca Al-Qur’an, aku tidak menargetkan harus sampai berapa juz, yang penting baca saja. Setelah itu, ketika kau mau menulis diaryku, DM (dewan Mahasantri) mengumumkan dari lantai satu bahwasanya perlombaan catur akan dil;anjutkan sampai selesai hari ini juga. Aku yang terlajur semangat mau menulis diary terhalang oleh lomba catur yang aku alami. Di tambah lagi hari ini aku harusnya mengikuti rutinan tilawah IQMA di masjid sekitar jam delapan malam. Akhirnya aku menyapkan notbook, Al-Qur’an, songkok dan juga alat tulis sebagian persiapan untuk mengikuti semua jadwal kegiatanku hari itu juga. Namun ternyata Allah berkehendak lain, aku memenangkan babak penyiusihan catur sampai aku menjadi juara dua dikalahkan Faisal kemudian ia menjadi juara satu perlombaan catur se-Pesma. Aku melirik jam yang ada di handphoneku, ternyyata jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, rutinan tilawah IQMA sudah selesai pada jam tersebut.
Lalu Faisal mengajakku makan di kamrnya aku menurut dan makan bersam di kamar tersebut sambil sharing masalah dunia percaturan kami sebelum memasuki dunia perkuliahan. Dari situ aku tahu kalau memang ia telah banyak memiliki prestasi di bidang catur, sedang aku sendiri baru Aliyah ikut perlombaan catur. Sebelum aku berpamitan dengan Faisal dan teman sekamrnya, aku meminta film Nruto dan Sule. Sesampainya di kamar aku masih merasa males untuk menulis diary, aku menonton beberapa episode Naruto. Aku sudah lama tidak melihat film Naruto, ketiak aku menonton, aku baru merasakn hal yang berbeda dari waktu-waktu dulu ketika nonton Naruto. Aku baru menyadari bagaiman rasanya menjadi Naruto, mungkin orang-orang berpendapat bahwa tokoh utama tersebut merupakan tokoh yang kuat dan konyol. Namun di sisi lain, ia adalah seorang ytim piatu, kedua orang tuanya meninggal demi melindunginya. Bisa aku bayangkan ketika menonton bagaimana perasaan menjadi seorang anak yatim piatu, aku sendiri hampir mengeluarkan air mata ketika menonton episode tersebut. Aku nonton keasyyikan dan tak terasa hampir dua jam aku kesyikan nonton film naruto sampai ketiduran.
Aku terbangun sekitar jam tiga pagi. Lalu aku baru melnjutkan menulis diaryku yang belum terselesaikan. Jadinya, aku menulis diary khusus bagian ini bisa di bilang dua hari yaitu tanggal dua puluh sembilan dan tanggal tiga puluh April. Namun sebenarnya jangka waktu ketika mengetik tidak sampai dua puluh empat jam, namun ketepatan menulisnya malam sampai berubahnya tanggal. Dalam menulis diary ini aku ingin memberikan kejutan bagi dirku sendiri dengan tips dari Faisal kemarin, yaitu dengan mengubah ukuran font menjadi 10, lalu ketika kira-kira sudah mendekati target, aku merubahnya kembali menjadi ukuran font 12. Sehingga seakan-akan ketika menulis diary aku masih mendapatkan sedikit, namun ketika aku melihat hasil real-nya, ternyata sudah banyak. Aku akan melihat, seberapa banyak aku akan terkejut.
Hari ini adalah hari kamis, Nanti aku harus masuk perkuliahan Ibu Ragwan karena kamis kemarin aku sudah tidak amsuk kelas di karenakan aku bangun  kesiangan. Aku akui, memang bangun kesianganku parah, namun bukan berarti aku harus menyerah. Sebagaiman kata Pak Prof “Allah itu tidak menilai hasil, namun menilai usahanya.” Memang beliau pernah mengatakan bahwa penyakit  tidur beliau paling parah, misal saja ketika ia mau pergi dari kota A ke kota B, ketika bus belum keluar dari terminal beliau sudah tidur duluan bahkan kadang-kadang sampai melewati kota tujuan. Namun aku rasa, tidurku tidak kalah parahnya dengan Pak Prof, aku sudah berkali-kali tidak ikut jam perkuliahan di karenakan aku ketiduran ataupun kesiangan.
Aku sekarang sudah mengantuk, padahal baru dari jam tiga aku mengetrik diary ini, dan sekarang waktu masih menunjukkan pukul setengah enam. “Wah.., ternyata akuudah hampir sekitar dua jam setengah mengetik diary ini, namun hanya mendapatkan hampir dua halaman.Aku mengetik diary ini sembari kuputar musik instrumen santai guna mencegah diriku sendiri dari rasa bosan. Namun ternyata halangannya adalah ngantuk. Pagi ini, keyboardku bermasalah lagi, tadi aku menyempatkan untuk meminjam keyboard Muajib, teman sekamar Mizan untuk mempermudah pengetikan diary ini.
Sekarang, aku sudah mulai bingung mau mengetik apa lagi, namun yang jelas aku harus mengejar target tiga puluh halaman yang bila kukalkulasikan maka jatah hari ini adalah minimal aku harus sudah mengetik sekitar delapan belas halaman. Memang jumlah targetnya lumayan banyak, namun aku sendiri belum tahu kesulitannya bila belum mencobanya.
Oia, aku baru ingat bahwa aku  mempunyai catatan-catatan untuk diaryku yang kebanyakan belum aku ketik, tetapi memang ada yang sudah aku ketik namun belum selesai, maka dari itu bagian ini naku beri judul “Sambungan yang terputus” dengan harapan aku bisa menyambung semuanya hari ini juga. Berikut ini akan aku tuliskan sambungan-sambungan dari catatan-catatan di atas yang telah terputus.
Catatan yang pertamaakan saya bahas adalah sambungan catatan diary yang berjudul “Hari kebebasan” yang kucatat pada tanggal 13 April lalu. Yaitu:
7.      Kurang husnudzon, yaitu mudah sakit hati terhadap perilaku orang lain.
8.      Kurang semangat, karena aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktuku untuk hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diriku sendiri, contohnya saja nonton film.
9.      Kurang usaha, karena aku sendiri lebih sering malesnya dari pada semangatnya dalam mempelajari mata perkuliahan.
10.  Kurang jeli, yaitu kurangnya menguasai semua materi yang ada.
Selanjutnya pada tanggal 13 april itu aku juga mendapatkan banyak masukan dari Pk Prof yaitu:
1.      Kesuksesan tidak harus bersama ayah. Masukan ini sebenarnya diperuntukkan teman-temanku yang ayahnya sudah meninggal dunia. Namun bagiku sebenarnya juga bisa masuuk di karenakan terkadang aku ketika malam hari kesulitan belajar karena kerinduan hati kepada keluarga di rumah.
2.      Ketika belajar jangan tegang. Ini ditujukan kepada aku sendiri, hal ini di karenakan baisanya ketika belajar matteri yang akan di ujukan keesokan hariny biasanya aku kepikiran bagimana ujiannya besok, bagaimana soalnya, dan bagaimana-bagaiman yang lain. Aku diberi masukan agar ketika belajar santai saja, pokoknya belajarnya maksimal, selanjutnya masalah hasil biar Allah yang menentukan, kita dilarang mendikte Allah.
3.      Orang sedih tidak akan sukses. Bagaimana ia akan sukses bila ia tidak bangkit dan berjuang. Sindiran tersebut sangat cocok sekali untukku karena aku dulu sering bersedih karena merasa belum menjadi hamba yang baik. Sebenarnya bersedih boleh saja, namun harus pada tempatnya bersedih.
4.      Terkadang seorang guru lebih perhatian dari pada orang tua murid tersebut. Sebagaimana beliau hari itu, hari itu beliau memberikan masukan-masukan kepada kami satu-persatu, memang hari yang benar-benar istimerwa.
Selain itu kebanyakan yang aku tulis adalah masukan bagi teman-temanku. Namun yang membuatku memberikan judul “Hari kebebasan” pada catatan ini adalah pesan beliau yaitu,”Apapun kalina, saya bangga.” Kata-kata tersebut merubah mensetku yang sudah tertanam dalam hati lama sekali. Aku berpikir bahwa aku selalu jauh dari apa yang beliau harapkan, aku masih belum pantas menjadi mahasiswa yang beliau banggakan. Namun ketika mendengar kataikata tersebut dari beliau, suasana hatiku berubah, dari mendeung berkepanjangan menjadi cerah sejuk dan nyaman sekali suasana hati ini. Rasanya kau maju terbang saat itu juga.
Namun naasnya, pada jam kuliahan tertsebut, temanku Shofi, anak asal Bangkalan Madura, ia di kelluarkan dari kelas karena ketahuan mengoperasikan handphonenya dalam kelas. Aku merasa, aku harus berjumpa dan menghiburntya karena aku sendiri juga pernah dikeluarkan dari kelas karena aku terlambat hampir sepuluh menit ketika mau masuk ke dalam ruang kelas beliau. Seusai perkuliahan beliauy, aku mencarinya keluar kelas, tepat sekali aku bertemu dengannyya, ia sedang menuju kampus. Ketika ia bertemu denganku, ia langsung mengajakku untuk pergi ke perpustakaan pusat untuk mencari hadits yang telah diberikan Ibu Ragwan dalam mata kuliah Hadits BKI.
“Ini kesempatan emas”,  kataku dalam hati. lalu aku menurutinya untuk menemaninya mencari hadits. Waktu itu kira-kira sampai jam dua belas lebih dua puluh, kami belum mendapatkan hadits yang kami cari. Sembari kami mencariu hadits, aku berbincang-bincang dengannya mengenai dikeluarkannya dia dari kelas. Aku m,eyakinkan dia bahwa sebenarnya Pak Prof tidak marah, itu hanyalah bentuk ketegasannya.Tegas berbeda dengan keras, apa lagi dengan marah. Perkuliahan Bu Ragwan akan di mulai jam setengah satu, sedangkan aku sendiri belum melaksanakan sholat dzuhur. Lalu kami pergi ke tempat sholat yang sudah di persiapkan oleh petugas perpustakaan di dalam perpustakaan, namun tempat tersebut kulihat dipenuhi oleh wanita-wanita. Aku yang laki-laki sendiri merasa sungkan kalau aku sendiri, akhirnya aku mengatakan kepada Shofi kalau aku akan pergi ke masjid untuk sholat, alalu aku menyuruhnya untuk menunggu di perpustakaan, setelah aku selesai sholat, aku akan menemuinya di perpustakaan kembali untuk bersam-sama masuk kelas bu Ragwan di karenakan handphonenya mati, jadi jadi dia tidak bisa melihat jam.
Aku pergi menuju masjid untuk melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah. Setelah selesai, aku kembali menuju perpus. Aku mencari-cari Shofi dari lanti satu sampai lantai dua di perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.n namun tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku tidak menemukannnya. Aku melihat jam di hp-ku, waktu telah menunjukkan jam dua belas tiga puluh lebih. Aku mencoba mencari lagi, mungkin aku tadi kurang teliti. Selang beberapa menit, aku mendapatkan pesan dari salah satu temanku yang isinya mengatakan bahwa Shofi telah masuk ke kelas, aku disuruh langsung masuk ke kelas. Lalu ketika sampai di kelas, aku hanya mengarahkann jari telunjukku kepada Shofi sambil memapangkan wajah sinis tanpa mengatakan sepatah katapun.
Selanjutnya aku sudah lupa bagaimana kejadian tanggal tiga belas April tersebut, maklum juga, aku cuma mengandalkan ingatanku. Kelupaan terhadap kejadian masa lampau diakibatkan oleh kita sendiri, karena sebenarnya kita bisa membuat suatu kejadian yang susah untuk dilupan diri kita sendiri. Bagaimana maksudnya diakibatkan oleh kita sendiri? Begini, aku dulu pernah menonton acar ILK (Indonesia Lawak Kleb) yajng aku download dari Youtube. Di situ, Abdel, seorang salah satu komedian yang melejit di karenakan sebuah acara komedi yang berjudul “Abdel dan Temon” mendapatkan hati masyarakat Indonesia, ia berdebat dengan Cak Lontong, seorang komedian yang pernah menjadi “Jawara” dalam acara yang menjadi sorotan pemuda sekarang yaitu “Stand Up Comedy”, Cak Lontong adalah nama julukan yang di berikan kepadanya, sedang nama aslinya aku belum tahu. Abdel mengatakan kepada Cak Lontong bahwa kita bisa lupa terhadap sesuatu karena kita tidak meletakkan sesuatu tersebut ke dalam memori-memori penting. Ia memberikan pertanyaan perumpamaan dengan beberapa pertanyaan kepada Cak Lontong, “Sejak kapan anda menikah?”, Cak Lontong menjawab bahwa ia telah menikah sejak empat belas tahun yng lalu, lalu Abdel bertanya kembali tentang apa saja yang terjadi pada saat empat belas tahun yang lalu, ternyata Cak Lontong masih ingat apa-apa yang terjadi empat belas tahun yang lalu. Kemudian Abdel bertanya kembali tentang sesuatu yang diulakukan Cak Lontong empat belas hari yang lalu, namun ternyata Cak lontong sudah tidak ingat kejadain empat belas hari yang lalu. Lalu Abdel menyimpulkan bahwa, Cak Lontong dapat mengingat kejadian empat belas tahun yang lalu karena ia meletakkan kejadian tersebut dalam memori-memori penting, sedangkan ia tidak dapat mengingat kejadian empat belas hari yang lalu karena ia tidak meletakkannya ke dalam memori-memori penitng. Maka dari acar ILK tersebut tepatnya dari perbincangan Abdel dan Cak Lontong bahwasanya setiap kejadian yang kita lalui akan dapat diingat atau tidak dapat diingat dikarenakan kita sendiri. Namun kalau nkita seorang penulis diary yang rajin, kita dapat m,engingat kejadian-kejadian yang lampau melaui tulisan kita baik kejdian tersebut penting atau tiudak buat kita.
Selanjutnya, aku akan memasukkan catatan-catatanku yang lain yang akan sia-sia bila tidak aku nmasukkan ke dalam diary ini. Catatan ini aku sudah hampir lupa sebenarnya, namun aku akan memasukkannya. Catatan kecil ini aku catat pada tanggal 30 Maret lalu.
Berawal dari selesainya perkuliahan intensif bahsa Inggris, aku dan beberapa temanku yang kebetulan satu kelas intensif sekaligus satu kelas perkuliahan biasa juga, dan kebetulan juga nanti perkuliahan Pak Prof dilaksanakan di kelas ini juga, jadi kami tinggal menunggu teman-teman kami hadir sekaligus menunggu kehadiran Pak Prof dan juga Pak Ainul Yaqin tanpa harus repot-repot berganti kelas. Aku diberikan sepotong roti oleh teman sekelasku lalu aku memakannya, namun Pak Prof dan Pak Ainul Yaqin datang ketika saat aku belum selesai menghabiskan sepotong roti yang sebenarnya taingal satu gigitan lagi. Aku tidak mengurangi rasa hormat terhadap guru-guruklu, aku meninggalakn sepotong roti kecil  tersebut karena pk prof dan pak Ainul yaqin sudah masuk di kelas. Aku biarkan roti tersebut disamping tangan kananku selama beberapa jam sampai jam kulia selesai, aku sebnarnya sangat ingin memakan sepenggal roti tersebut, namun aku malu dengan Pak Prof dan pak Ainul Yaqin meskipun sebenarnya mereka tahu atau tidak tahu aku tidak mengerti. Beberapa temanku telah melirik sepotong rotiku, namun aku mengacuhkan mereka dengan tersenyum kepada mereka tanpa mengatakan apa-apa bahkan sepenggal katapun tidak. Kadang kalu mereka terlihat akan melihat rotiku, aku menutupinya dengan tanganku sambil tersenyum setengah tertawa. Dalam pengajaran pak prof kali ini aku mendapatkan pelajaran bahwa, dalam penulisan tugas tafsir kami tidak boleh ada kesalahan sediki pun. Dengan  kepastian bahwa minggu depan kesalahan yang ada targetnya adalah dalam sepuluh halaman hanya terdapat satu keslalahan saja, tidak seperti sekarang, satu halaman saja terdapat banyak sekali kesalahan.
Beliau mengatakan hal tersebut lalu memngatakan sebuah kata-kata bijak, “Kehebatanmu jangan sampai tercoreng oleh kekurang telitianmu.” Karena terkadang seseorang gagal meraih kesuksesan karena disebabkan oleh hal-hal yang dianggap sepele namun ternyata mempunyai dampak buruk bagi kesuksesan seseorang. Beliau juga mengajarkan bahwa, sebenarnya kesulitan adalah hal yang dapat membantu kita menuju kesuksesan lebih cepat. Contoh saja Pak Hamka, seorang pidana pengarang kitabTafsir Al Azhar. Beliau mengarang tafsir al Azhar tersebut  selama di dalam penjara. Seandainya saja beliau tidak di penjara, dia tidak akan sanggup untuk menulis tarsir tersebut, karena keadaanyalah yang dapat membantunya untuk mengarang sesuatu. Memang ternyata Allah selalu mempunyai rahasia di balik semua kejadian yang di kehendakinya.
Selanjutnya aku masukkan lagi catatan yang lebih lama dari pada catatan tersebut, yaitu catatanku ketika pertama kali aku dan teman sekelasku diperkenalkan dengan Pak Ainul Yaqin, seorang yang berasal dari Malang, beliau lulusan S1 dari Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Beliau orang yang tidak suka pamer, beliau kurang setuju kalau beliau beliau diunggulkan karena beliau lulusan Kairo. Beliau berpesan kepada kami semua, “Selama kamu berbakti sama orang tua, selama itu juga kamu merasa tenang.” Beliau adalah orang yang aku akui dalam hal berbaktinya kepada orang tua luar biasa. Beliau memang tidak pernah sholat istikhoroh, karena beliau menempatkan istikhoroh beliau kepada keputusan ibu beliau. Ketika ada apa-apa, istkhoroh beliau selalu bergantung kepada keputusan ibu beliau apapun itu. Sebagaimana cerita beliau semasa masih menuntut ilmu di Al Azhar, ketika itu beliau akan mengambil ijazah S1 beliau beberapa hari lagi, namun Ibu beliau meminta beliau untuk segera pulang ke rumah, ibu beliau sudah kangen terhadap beliau. Lalu beliau menceritakan tentang pengambilan ijazahnya, namun ibunya menjawab kurang lebih seperti ini, “Aku tidak membutuhkan ijazah kamu, aku membutuhkan kamu.” Akhirnya beliau pulang sebelum mengambil ijazah S!-nya. Beliau adalah orang pertama dari Indonesia yang lulus dari Al Azhar selama empat tahun dan berani tidak mengambil ijazahnya. Padahal  Universitas di Kairo tersebut terkenal bahwa mahasiswa yang lulus dari Al Azhar selama lima tahun itu sudah tergolong hebat, sedang beliau mampu lulus dalam waktu empat tahun. Maka dari itu aku menyimpulkan bahwa Birrul Walidain beliau luar biasa.
Selanjutnya beliau juga berpesan, “Jika kamu punya uang lebih, pakailah untuk sekolah atau menyekolahkan orang lain.” Beliau nebyadari betapa mahalnya ilmu dan juga betapa banyak oarng yang ingin mendapatkan ilmu namun tidak mempunyai kemampuan materi serta begitu banyak orang memiliki kemampuan materi untuk belajar namun kurang bisa memanfaatkan kemampuannya tersebut. Misal saja di Surabaya ini, begitu banyak anak usia belajar yang tidak mampu membayar SPP sekolah sehingga membantu perekonomian orang tuanya dengan mengamen di angkutan umum. Mereka adalah musisi jalanan sekaligus pelajar. Menghabiskan waktunya untuk mencari recehan dari para penumpang yng kebetulan bertemu dengan mereka. Mempertaruhakn harga diri demi sesuap nasi. Berpacu melawan hawa panas yang selalu menerpa kulit mereka. Bising suara mesin tak jemu memasuki daun telinga mereka. Namun, mereka dapat mengatasi semua itu, semangat mereka tak pernah madam meskipun sudah berkali-kali terhembus angin permasalahan. Mereka lebih pantas untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak. Namun Allah memberikan kelayakan tersebut dengan jalan yang berbeda, mungkin bila mereka mempunyai kemampuan materi, mereka akan menyeleweng dari jalan Allah. Allah lebih tahu apa yang terbaik buat mereka.
Kemudian, catatanku yang telah aku ketik pada tanggal 20 April kemarin. Kebetulan kemarin Pak Prof tidak masuk di perkuliahan di karenakan Beliau sedang ada acara di Jakarta. Jadi yang mengajar kami adalah Pak Ainul Yaqin saja. Di tengah-tengah perkuliahan, Pak Prof menelpon Pak Ainul Yaqin, kemudian Pak Ainul Yaqin mengisyaratkan kepada kami untuk maju mendekat ke hanpdhonenya karena Pak Prof mau menyampaikan beberapa pesan kepada kami, beberapa isinya telah aku catat di buku tulisku. Yang pertama adalah tentang jaringan atau relasi terhadap siapapun. Beliau menekankan kami untuk memiliki hubungan yang baik dengan semua orang. Jaringan lebh pentng dari pada kepandaian. Kuatnya jaringan menandakan seseorang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan mampu memberi kenyamanan bagi setiap orang yang ada di sekitarnya.Orang dikenal bukan karena kepandaiannya, tetapi karena kebaikan dan kenyamanan yang ia berikan. Di tambah lagi, sebaik-baik manusia adalah ia yang paling baik akhlaknya dan juga bermanfaat bagi sesama manusia.
Lalu yang kedua adalah, beliau meyakini bahwa posisi kami  sudah mudah tinggal memacu diri untuk mengembangkannya saja. Beliau sudah tahu akan kemampuan kami dan beliau yakin bahwa kami semua sanggup menjadi orang-orang besar di kemudian hari. Beliu sangat perhatian dengan kelas kami. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Ainul Yaqin, “Dekat dengan guru besar itu bangga dan juga tuntutan.” Maksudnya adalah, kami senang bisa dekat dengan guru besar, namun kami tidak bisa santai-santai saja bila sudah dekat, kami sangat takut mengecewakannya, Jadi amu harus menuntut diri sendiri untuk memacu lebih kencang belajar kami, cara belajar kami, dan bahkan berusaha lebih keras lagi. Kami akan berkembang lebih pesat dengan usaha yang lebih banyak di banding dengan biasanya. Namun, bila semua dilaksanakan dengan hati yang ikhlas, semuanya itu indah, tidak ada yang dirasa berat, karena semuanya dilakukan dengan lapang dada. Karena memang sejatinya masalah itu salnya dari beban yang ada d dalam hati, bila dari awal sudah melakukan dengan kerelaan, tidak akan ada beban dalam hati yang dapat mengubah keikhlasan itu sendiri.
Poin ketiga adalah tentang salah satu cara beliau meningkatkan kemampuan kami, yaitu menekakan menulis diary ini, harus bisa sampai tiga puluh halaman dengan sau spasi, tidak boleh kurang. Memang benar, dari penulisan diary ini kami belajar banyak hal, kami menjadi bisa mengekspresikan diri lewat tulisan, memperkaya kosa kata kami, dan juga sekaligus memperindah bahasa kami. Kami menghidupkan diri kami melewati sebuah tulisan. Dengan menulis, kita naru saja menghidupkan diri lebih lama dari umur kami sendiri. Dengan menulis, kami dapat tetap hidup di mata masyarakat, meskipun jasad kami meninggal, namun karya yang telah kami buat akan tetap hidup di hati masnyarakat. Namun tentu saja itu semua bila kami sudah menjadi penulis hebat yang dapat memenangkan hati para pembaca. Kemudian beliau juga mengingatkan kami tentang tahsin Al Qur’an yang akan di ujikan kepada kai untuk menambah kekurangan-kekurangan nilai kami pada setiap ujian. Walaupun aku sendiri belum juga menyiapkan bagaimana membaca Al Qur’an yang bagus. Untu membaca Al Qur’an dengan bagus, tidak haris mempunyai suara atau vokal yang bagus, namun kita hanya perlu untuk pintar-pintar memilih lagu yang sesuai dengan suara kita.
Lalu di akhir, beliau menyakan kepadakami, mau oleh-oleh apa dari beliau, lalu kami menjawab bahwa kami hanya minta doa dari beliau agar kami dapat berjuang semaksimal mungkin. Stelah telephone berakhir, kami melanjutkan perkuliahan Tafsir BKI. Aku mendapatkan masukan lagi dari Pak Ainul Yaqin ketika membahas ayat-ayat Al Qur’an beserta tafsirannya, antara lain:
1.      “Kita bukan hamba kenikmatan, tapi hamba Maha Pemberi Kenikmatan.” Maka jangan sampai kami terjebak di dunia hanya mencari kenikmatan saj dan buta terhadap Pemberi Kenikmatan. Dunia memang menyilaukan, banyak godaan-godaan dan banyak pula rintangan. Dengan berpegang teguh kepada hakikat agama Islam, Insya’ Allah kami akan selamat di dunia ini.
2.      “Dapat bersyukur harus di syukuri, Maka hakikatnya kita itu tidak bisa mensyukuri. Ketidak berdayaan kita dalam bersyukur, itulah hakikat syukur.” Maksudnya ketika kita ersyukur, kita harus juga mensyukuri rasa syukur tersebut, setelah itu kita juga mensyukuri rasa syukur terhadap kemampuan untuk bersyukur tersebut, lalu mensyukuri dapat mensyukuri rasa syukur kita terhadap rasa syukur kita atas nikmat Allah, dan terus bersambung tanpa ada habisnya. Maka beliau menyimpulkan bahwa hakikat menusia itu tidak bisa bersyukur secara sempurna.
3.      “Hakikat kita adalah ketiadaan.” Karena pada hakikatnya yang maujud hanyalah Allah, semua alam adalah ciptaan Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
4.      “Inti dari makhluk adalah Rasulullah SAW yang diciptakan dari nur Allah langsung.” Beliau mengatakan begitu karena di dasarkan kepada dalil nash yang mengatakan bahwa, seandainya Allah tidak menciptakan Nabi Muhammad, maka Allah juga tidak akan menciptakan dunia ini. Manusia yang paling sempurna adalah Rasulullah SAW. Bahkan di ‘arsy. Asma Rasulullah SAW sejajar dengan Asma Allah, sebagaiman dalam cerita Nabi Adam ketika melewati ‘ary melihat tulisan tersebut, padahal pada waktu itu Rasulullah belum muncul ke dunia, namun nur Muhammad sudah ada.
5.      “Kalau mencintai saja masih menyisakan sakit dan derita, apa lagi memusuhi.” Kita sebagai muslim dilarang saling membenci karena rasa benci itu ibarat air aqi yang lebih merusak wadahnya dari pada sesuatu yang di tumpahi air tersebut. Apa lagi kami sebagai konselor dituntut untuk menjadi seseorang yang memberikan kenyamanan kepada semua orang yag ada di sekitarnya.
6.      “Orang yang membenci kita adalah orang-orang yang diam-diam memperhatikan kita.” Meskiun kita dibenci orang, namun kita usahakan kita tidak membencinya balik. Karena oarng yang membenci kita sebenarnya adalah orang yag sebenarnya memberikan perhatian lebih kepada kita, mereka menunggu berjam-jam menuggu hanya untuk melihat beberapa detik kesalahan kita. Istimewa bukan. Bahkan mungkin orang yang dekat dengan kita belum tentu dapat memberikan perhatian lebih sebagaiman orang yang membenci kita.
7.      “Setiap orang pasti ada yang menyukai dan juga ada yang memusuhi.” Kita lihat saja Rasululah, manusia yang begitu luar biasanya masih saja ada yang membencinya, apa lagi kita yang manusia biasa yang cenderung banyak kekurangan serta kesalahannya. Jadi ketika ada yang suka atau membenci kita, jangan kaget, karena memang itulah fitrah manusia. Kesimpulannya adalah, sebaik apapun manusia pasti ada yang membencinya, dan juga sebaliknya, seburuk apapun seseorang pasti ada juga yang menyukainya.
8.      “Baghat adalah ngeyel.” Baghat secara bahasa banyak diartikan sebagai pemberontak, namun hakikatnya adalah ngeyel (bahasa Jawa). Ngeyel  bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bisa berarti susah dibilangin, susah dinasehati.
9.      “Banyak kesalahan yang tidak kita sadari, maka keuntungan dari seorang mukmin adalah kebiasaan kita mendoakan semua umat Islam.” Kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari bisa jadi lebih banyak dari pada kesalahan-kesalahn kita yang kita sadari. Karena terkadang, seseorang merasa tersakiti karena tingkah laku kita padahal kita sendiri tidak merasa menyakiti, kita secara tidak sengaja telah melukai hati seseorang tanpa sepengetahuan kita sendiri. Namun untungnya, kita adalah seorang muslim, kita kerap kali ketika berdoa bukan cuma untuk diri sendiri, namun untuk semua orang Islam pada umumnya, jadi secara tidk langsung kita sebagai muslim saling mendoakan satu sama lain.
Selanjutnya mengenai catatan yang telah aku catat pada tanggal 27 April lalu, yaitu yang pertama adalah, “Sesuatu yang luar biasa bila di ulang-ulang menjadi biasa kecuali bagi orang-orang yang terbisa tafakkur.” Maksdunya adalah sesuatu yang sangat kita sukai memang seharusnya adalah sesuatu yang jarang kita temui, karena bila kita mendapatan apa yang kita sukai secara berulang-ulang, maka kita dikhawatirkan akan cepat bosan dengan hal tersebut dan akhirnya kita sendiri menjadi tidak suka terhadap hal tersebut. Kecuali bagi orang-orang yang selalu tafakkur, yaitu orang-orang yang selalu memikirkan setiap sesuatu yang menimpanya sehingga mampu mengambil hikmah di balik sebuah kejadian dan akibatnya, ia dapat menikmati apapun yang ia hadapi dengan kenikmatan yang tidak ada duanya.
Masukan selanjutnya adalah,
أَوَّلُهَا التَكَلَّفُ ثُمَّ جَاءَتْ التَّأَلُّفُ
“Di paksa dulu baru ikhlas setelahnya”.
Maksudnya adalah ketika melakukan sesuatu yang baik memang biasanya adalah paksaan dari guru, teman ataupun oleh orang tua kita, hal ini di perbolehkan karena untuk memiasakan dulu dengan kebaikan tersebut. Lalu ketika kita sudah terbiasa dengan kebaikan tersebut, rasa ikhlas akan muncul dengan sendirinya. Semisal, ketika waktu kecil kita disuruh untuk makan dengan tangan kanan, awalnya kita melakukannya karena dipaksa dan takut dimarahi, kemudian ketika kita sudah terbiasa makan dengan tangan kanan, kita akan makan dengan tangan kanan dengan sendirinya meskipun tidak disuruh ataupun diawasi. Karena sebuah kebaikan butuh pembiasaan terlebih dulu, meskipun pada awalnya di beri iming-iming sesuatu atau karena takut akan dimarahi atau disakiti.
Masukan yang ketiga yaitu, “Politik dan Agama, dua hal yang kadang bertentangan dan juga kadang juga saling memperkuat.” Dua hal ini memang sesuatu yang terlihat sulit untuk disatukan. Karena politi dan agama mempunyai “Cara main” masing-masing. Keduanya mempunyai aturan-aturan yang berbeda, namun dapat disatukan meskipun tidak secara menyeluruh. Agama menuntut kita untuk berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan, semua yang dilakukan ikhlas untuk Allah, bukan yang lain. Sedangkan dalam politik, semua usaha dilakukan untuk kemenangan diri sendiri. Kemudian masukan yang kudapat selanjutnya adalah, “Bencilah sikap golongan Islam keras, jangan orangnya.” Hal ini berhubungan dengan akhlak seorang muslim, ketika kita membenci seseorang baik orang Islam atau bukan, kita dilarang untuk membenci orangnya, namun boleh membenci sikapnya. Hal ini dikarenakan setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk memilih jalan yang baik dan juga jalan yang buruk bagi dirinya. Dengan membenci skapnya dengan harapan sikapnya tersebut dapat berubah suatu saat nanti.
Masukan terakhir adalah, ”Apa bila ilmu dihitung dengan uang, maka Rasulullah adalah orang yang paling kaya.” Karena kita tahu, Rasulullah mempunyai ilmu yang langsung diberikan oleh Allah meskipun beliau adalah Nabi yang ummi, yaitu Nabi yang tidak bisa baca tulis. Namun dibalik ke-ummi-an beliau, terdapat banyak sekali hikmah yang di dapat, salah satunya adalah ke-ummi-an beliau membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan karangan Rasulullah, namun murni dari Allah langsung.
Kemudian catatan terakhirku yang tertulis pada tanggal 30 April lalu. Aku mengetik catatan tersebut di kelas dengan memakai laptop temanku karena laptopku sendiri sedang rewellagi, tidak mau diajak untuk mengetik diary. Catatan tersebut adalah sebagai berikut.
Pagi ini, aku berangkat ke fakultas dengan antusias meskipun aku datang gak terlambt. Namun seperti biasa, ternyata Mis Ayu, dosen B. Inggrisku lebih terlambat dari pada aku sendiri. Dari mahasiswa kelasku yang terdaftar di absen, hanya tiga yang hadir hari ini. Ketika Mis Ayu masuk, beliau masuk agak lesu, mungkin sedang ada masalah, atau mungkin juga ini cuma naluriku sebagai calon konselor Islami, atau mungkin juga cuma perasaanku saja.
Setelah beliau masuk, beliau menanyakan kami maunya apa, lalu kami memutuskan untuk nonton film saja. Mereka teman-temanku sudah tau film apa yang akan di putar karena dulu sudah pernah diputar di kelas namun belum selesai dan kebetulan aku tidak tahu karena aku tidak masuk. Lampu kels dimatikan, namun tidak memakai speaker karena Mis tahu kalau kami cuma membaca subtitlenya saja.
Entah kenapa, baru beberapa menit kami nonton, mataku sudah terasa panas, mungkin karena aku kurang tidur pagi ini. Setelah selesai, kami keluar menuju ruangan yang lain untuk melangsungkan perkuliahan Ibu Ragwan yaitu mata kuliah Hadits BKI. Setelah masuk di kelas, aku menulis catatan ini. Ketika di tengah mencatat, Munir, anak dari Balikpapan yang meiliki tubuh bidang, memiliki retorika bahasa yang baik, dan juga ramah, masuk ke dalam kelas. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin meminjam hardisknya untuk mengkopi film bersambung Naruto Shippuden. Dulu sebelum menyukai film One Piec, aku terlebih dahulu menyukai film Naruto. Naruto sebenarnya adalah film yang sangat terkenal pada masa kecilku dulu. Namun aku dul sering melewatkannya ketika ditampilakn di layar televisi, sedangkan teman-teman sebayaku tidak melewatkannya. Sekarang gantian aku yang menyesal karena telah melewatkannya. Memang, dari duu yang aku ketahui, film anime Jepang, bagian tokoh utamanya pasti mempunyai tingkah-tingkah yang konyol namun mempunyai jiwa yang pantang menyerah. Namun, ketika aku tengah menyalin film Naruto tersebut, Ibu Ragwan tiba-tiba masuk ke kelas. Aku tidak ingin menyia-nyiakan proses menyalinnya. Maka aku biarkan sampai proses menyalinnya selesai, kemudian setelah selesai aku langsung mengembalikan hardisk dan laptop yng aku pinjam. Ketika aku masuk jam perkliahan tersbut, aku teringat minggu lalu aku tidak masuk jam perkuliahan ini dikarenakan aku bangun kesiangan.
Di balik layar
            Kemarin, hari jum’at tanggal 1 Mei, aku sempat terhenti menulis diary ini dikarenakan notbooku rewel lagi, tombol keyboardnya banyak yang tidak berfungsi. Akhirnya, dari pagi sampai dengan mau jum’atan aku hanya menggunakannya untuk nonton film. Ketika berangkat jum’atan, aku bersama beberapa penghuni Pesma telat datang, hingga akhirnya pintu keluar Pesma telah dikunci. Kami kebingungan mencari jalan keluar, semua pintu ditutup. Akhirnya, aku mengajari mereka berdasarkan pengalamanku dulu. Dulu aku pernah telat satu kali sehingga semua pintu ditutup. Selanjutnya saya naik ke atas teras lantai dua. Saya melihat ke tepi atap sebelah utara teras, aku ingin melompat, tetapi ternyata di bawah ada dua motor. Lalu aku mencoba ke tepi sebelah barat atap, disitu terdapt pohon yang batangnya panjang-panjang namun tidak terlalu kuat untu dinaiki. Waktu terius berjalan, aku ingin pergi ke masjid untuk jum’atan. Aku melihat di tera gedung FISIP (Fakultas Ilmu Psikologi) dan FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) ada dua orang cewek yang membuatku agak malu karena telat pergi jum’atan skaligus karena aku mau nekat loncat dari lantai dua. Aku merasakan harus segera pergi ke masjid namn aku ragu kalau harus melompat ke pohon, karena selain nanti rasanya mungkin agak sakit, bajuku pasti juga akan kotor karena bergesekan dengan pohon tersebut. Akhirnya, aku mencoba untuk memberanikan diri melompat ke pohon, aku memegang dahan pohon tersebut di tangan kanan danjuga di tangan kiriku, aku menghitung dalam hati dari hitungan satu sampai tiga. “satu...” jantungku berdegup kencang, “dua...” aku tegang sekali namun tetap mencoba untuk fokus melompat, dan “tiga...” aku mengguguran niatku untuk melompat ke pohon itu. Aku berpikir dua kali karena di samping kanan dan kiri pohon tersebut ada banyak motor. Aku jongkok sambil memikirkan cara lain untuk keluar dari Pesma.
            Lalu aku melihat di sela-sela daun di bawahku di dahan yang masih aku pegang, aku melihat tanah di bawah, dan aku berpikir, ini tidak terlalu tinggi. Masak aku menyerah dan tidak jum’atan. Masak segini saja imanku? Waktu terus berjalan, namun aku tidak akan menyerah. Lalu aku mencoba melihat paping di bawah yang telah tertutup dengan tanah.Aku melangkah sekitar dua langkah ke kiri. Di situ aku dapat melihat tanah dengan bebas tanpa tertutup dedaunan lagi. Aku rasa, ini adalah tempat yang cocok untuk melompat. Namun lantai tiga ini tinggi juga, sekitar tiga sampai empat meteran dari tanah. Lalu untuk mengurangi ketinggian, aku bergantung pada atap lantai dua, setelah kurasa cukup, aku menjatuhkan diri ke tanah, dan bruk.. Aku telah sampai di bawah. Selanjutnya aku segera mengambil sendal meskipun sendal tersebut lain yang kanan lain yang kiri, lalu aku langsug berlari menuju masjid. Kedua orang wanita yang melihatiku tadi entah kagum entah keheranan melihatku berhasil turun dari lantai dua, yang pastiaku tidak menghiraukannya. Namun ternyata timingku pas, ketika aku sampai di masjid, iqomah langsung dikumandangkan. Aku sholat dengan perasaan lega.
            Dari pengalaman tersebut, jum’at kemain aku mengajari beberapa penghuni Pesma lain untuk keluar dari Pesma sebagaimana caraku keluar dulu. Aku turun duluan dar atap lantai dua, namun kali ini rasanya berbeda dengan yang dulu, kali ini kakiku terasa sakit. Aku menepi untuk memberikan gilirn kepada yang lain untuk melompat sambil mengelus-ngelus kakiku untuk meredakan sakitnya. Aku lalu berteriak kepada mereka yang masih di atas atap untuk mencarikanku sendal. Kebetulan di atas atap lantai dua ada sendal yang telah di genangi air hujan sebelumnya. Sendal tersebut di jatuhkan dari atas, lalu aku memakinya secara langsung. Kemudian aku menepi lagi, salah satu temanku, Munji, anak asal Aceh, langsung melompat dari lantai dua tanpa bergantung terlebih dahulu. Ia kemudain menepi sambil berjalan pincang.Aku melihat kakinya, ia melompat dengan sendal, aku mengatakan kepadanya bahwa betapa beraninya dia melompat langsung tanpa bergantung telebih dahulu. Lalu dia menjelaskan kalau sebenarnya bila melompat dengan sendal, itu dapat meredakan benturan yang terjadi, sehingga kakinya tidak terasa sakit, namun naasnya sendalnya yang sebelah kiri miring sehingga tungkainya kelihatn dan akhirnya tungkainya berbenturan langsung dengan tanah berlapis paping. Selanjutnya temanku yang lain bergantung seperti aku, namun ketika sudah begantung, ia mengayunkan tubuhnya ke dalam teras, lalu melompat ke lantai dengan kerasnya, kemudain dia berteriak kesakitan dan langsung tengkurap begitu saja. Lalu suara iqamat terdengar di telinga kami, aku langsung bangun dan memberi isyarat untuk segera ke masjid karena sudah iqamat. Aku berjalan dahulu, kemudian Munji memaksakan diri untuk berjalan, dan kami bertiga berjalan ke masjid. Lalu aku melihat temanku tadi yag masih di atap, aku mengataan kepadanya untuk segera ke masjid karena sudah iqamat. Lalu aku berbalik dan berjalan lagi.
            Sampai di masjid aku bertemu dengan mas Umam, anak IQMA bidang sholawat, ia mau menaiki motornya untuk pergi ke masjid. Kemudan tanpa pikir panjang aku di bonceng untuk pergi ke masjid dan aku meninggalkan teman-teman Pesmaku begitu saja. Mas Umam bertanya tentang apakah aku baru beragkat ke masjid, lalu aku menjelaskan bahwa masjid sudah iqamah, ia sedikita terkejut mengetahui kalau masjid sudah iqamah. Lal setelah sampai, kami berjalan sedikit berlari menuju shaf shalat kami. Mas Umam mendahului di depanku, lalu aku berlari juga di belakangnya. Kami berdua kebagaian rakaat pertama, sedangkan teman-teman Pesmaku mendapatkan rakaat kedua sehingga harus menambah satu rakaat lagi setelah imam mengucapkan salam.
            Setelah selesai sholat, aku menanyakan bagaimana keadaan kaki Munji, ternyata kakinya keseleo. Dia butuh pijat kaki. Kami bejalan kembali ke Pesma. Mereka berjalan duluan. Aku berbelok dulu ke kantin untuk membeli sebungkus nasi. Ketika aku melewati sebelah kanan Auditorium UIN SA, di situ ada bazar IQMA, aku sungkan melewati jalan itu karena aku sendiri adalah anak IQMA namun tidak bantu-bantu dalam even IQMA kali ini, aku berjalan sambil tertuduk ke kantin yang erada di belakang auditorium. Setelah sampai, akumemesan satu bungkus nasi ayam. Setelah aku mebeli nasi ayam, aku kembali ke Pesma sambil menundukkan wajahku lagi. Sebelum ke kamarku, aku mapir dulu ke kamar Mizan untuk meminjam keyboard ke Muajib, teman sekamar Mizan yang mempunyai ciri khas suara yng lirih. Namun yang kutemukan cuma Kurni, teman sekelasku yang berasal dari Bone, Sulawesi. Muajib ternyata pulang kampung sedangkan Mizan pergi dengan Fasal ke Malang untuk mengikuti sebuah acara. Aku melihat Kurni memakai Keyboard Muajib yang dipaainya untuk bermain permainan sepak bola di laptopnyya sendiri. Aku mengtakan kepada Kurni bahwa aku ingin meminjam Keyboard tersebut untuk mengetik diary, lalu ia mau meminjamkannya setelah satu permainan sepak bola tersebut selesai satu pertandingan, aku menunggunya sampai selesai lalu membawanya ke kamarku.
            Sesampainya di kamar, aku menyalakan notbook sambil membuka bungkusan nasi yang telah aku beli di kantin tadi. Aku makan sambil mengutak-ngatik  notbookku. Setelah selesai makan aku kembali melanjutkan mengetik diary setelah tertunda karena konslet. Sembari mengetik, terkadang terdengar suara perlombaan MSQ (Muhasabah Syaehil Qur’an) yang diadakan oleh IQMA di auditorium. Lomba MSQ adalah kejuaran yang melombakan ceramah, tilawah, sekaligus sari tilawahnya. Aku berseduh dalam hati karena ku tidak bisa bantu-bantu dalam acar tersebut dikarenakan aku harus menyelesaikan diary ini. Aku menyalakan musik untuk membantuku fokus sekaligus rileks ketika mengetik diary. Setiap kali terdengar suara perlombaan MSQ, konsenku sedikit terguncang, namun aku harus merelakannya.
            Tak terasa, aku mengetik menghabiskan waktu yang banyak. Waktu menunjukkan pukul setengah enam, adzan maghrib berkumandang. Aku menghentikan tanganku untuk mengetik catatan harian. Aku merencanaka aan keluar untuk malam ini untuk mencari oleh-oleh untuk orang-orang di Kediri karena ku kira,karena minggu depan Tafsir sudah tidak ujian lagi, aku bisa pulang ke rumah setelah dua bulan lebih, yaitu selam semester dua ini aku belum pernah pulang ke rumah sama sekali. Sudah tidak bisa di bayangkan lagi betapa kangennya aku degan rumah, sekolah, teman-teman, guru-guru, serta semuanya di kampung halaman. Setelah sholat, aku menonton naruto lagi. Saking asyiknya, aku menonoton samapi jam sembilan malam. Lalu aku keluar bejalan kaki ke Wonocolo, aku melewatkan warung nasi, toko, dan yag lain karena aku mau mendahulukan ke toko laptop untuk mencari stiker Arab untuk memudahkan kita mengetik tulisan Arab. Dengan memakai sarung hijau dan jaket abu-abu. Aku menundukan kepala ketika melewati depan audit karena malu terhadap teman-teman IQMA. Ketika aku tengah berjalan di wonocolo, seorang perempuan yan naik motor menyapaku dari belakang, “Dek..” Aku spontan tersenyum, ketika perempuan tersebut mendahuluiku dengan motornya, perempuan yang belakang melihatku keherana karena ia tidak menganalku, sedang aku tersenyum kepadanya. Mereka berlalu dengan cepat. Aku melnjutkan berjalan menuju toko laptop yang jaraknya lumayan jauh. Ketika sampai di perempatan, aku melihat Alfamart sdah tutp, aku bepikir, apakah toko laptop juga sudah tutup, aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku berbelok ke kanan mengarah ke toko laptop. Setelah sampai, aku agak sedikit lupa dimana letak toko laptop tersebut, aku melihat bagian atas toko. Aku menemukan tulisan toko  laptop yang terpampang di atas teras sebuah toko yang sudah tutup. Aku sudah kemalaman karena keasyikan menonton naruto. Aku mengurungkan niatku untuk mencari oleh-oleh karena aku pikir, sebaiknya kalau mencari oleh-oleh sebaiknya di area sekitar jalan masuk menuju pemakaman Sunan Ampel.
            Aku kembali melewati jalan yang lain. Setelah berjalan agak jauh, aku menghentikan langkahku untuk berbelok menuju sebuah warung untuk memesan sebungkus nasi. Alau aku berjalan menuju sebuah toko yang berada di seberang jalan warung nasi tadi. Aku membeli beras dua ilo dan juga cemilan untuk persiapan bila ku begadang malam ini untuk mengetik diary. Setelah itu aku berjalan kembali. Ketika melewati toko terakhir di jalan Pabrik Kulit Wonocolo, aku menghentikan langkahku untuk yang kedua kainya untuk membeli sebotol besar air putih. Lalu aku kembali menuju Pesma. Sesampainya di kamarku, aku langsung memakan nasi bungkus yang aku beli sambil menyalakan notbookku. Setelah selesai makan, aku mendengarkan teriakan Kurni yang memanggilku dari lantai tiga. Aku keluar untuk melihtnya, dia menanyakan apakah aku masih memakai keyboard Muajib, aku menjawab bahwa aku sudah selesai memakainya. Meskipun sebenarny belum selesai, tetapi kurasa, aku cuma meminjam dan aku harus mebgembalikannya. Aku berlalu sambil menuju dapur untuk mencuci tanganku. Setelah itu, aku berjalan menuju kamarku. Kurni memanggilku lagi untuk menanyakan apakah aku mempunyai air. Aku mengatakan bahwa aku mempunyai air. Kemudian aku mengambil keyboard dan juga air sebotol yang aku beli tadi, lalu aku turun ke lantai tiga untuk memberikannya.
            Aku rasa notbookku selesai ngambeknya. Aku berpamitan dengan Kurni dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke kamar Jadul di lantai dua. Di situ aku bertemu dengan Alghi dan juga Jadul yang sedang asyik juga mengetik diarynya. Setelah selesai berbincang-bincang, aku berpamitan untuk kembali melanjutkan mengetik diary di kamarku, tetapi Jadul menawarkannya untuk mengetik bareng di kamarnya dan aku menyetujuinya. Kemudian aku kembali ke kamarku untuk mengambil tas yang berisikan terminal, cas hp, cas notbook, alat tulis. Kemudian aku tidak lupa juga untuk membawa cemilan yang aku beli tadi. Aku berangkat ke kamar jadul dengan hp di kantong, notbook di tangan kananku yang masih menyala, dan juga tida lupa untuk mengunci pintu kamarku untuk berjaga-jaga.
            Sampai di kamar jadul, akukembali melanjutkan mengetik dary. Lalu Jadul pergi ke kamar mizan untuk meminjam kipas angin untuk kami. Ketika ia masuk kamar, ia bertanya kepadaku apakah aku bisa memperbaiki sambungan kabel kipas angin tersebut yang terputus, aku menjawab bahwa aku bisa. Lalu aku melihat kabel yang putus tersebut. Aku mengeluarkan gunting yang ada di dalam tasku untuk memotong pembungkus kabel supaya aku dapat mengaitkan besi kuningan di dalamnya. Lalu setelah selesai, aku membungkusnya dengan isolasi dari dalam tasku untuk memastikan kabelnya dapat tersemabung lagi. Lalu aku mencolokkan kipas angin tersebut di terminal yang sudah aku bawa dari kamarku, kipaspun menyala membawa angin sejuknya. Kami melanjutkan mengetik diary.
            Setelah beberapa waktu, notbookku kembali bermasalah. Mataku juga sudah terasa panas karena terlalu lama diterpa hembusan angin dari kipas angin. Aku merebahkan tubuhku di depan notebookku yang masih menyala, untuk mengatisipasi agar notbookku tidak mati, aku menyalakan slide show dari foto-fotoku dulu semasa Aliyah. Alu aku mematikan slide show tersebut dan memejamkan mata untuk menetralisasi panasnya mataku. Namun ternyata aku malah ketiduran. Jam tiga pagi aku terbangun lalu menyalakan notbookku lagi, aku melihat teryata notbookku sedang baik, semua tomobl keyboard berfungsi lagi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, aku melanjutkan kembali mengetik diary. Selang beberapa menit kemudian, adzan subh berkumandang. Aku mengemasi semua barang-barangku. Sebelum aku keluar kamar Jadul, aku menggoyangkan badan Jadul agar terbagun, dengan keadaanya yang setengah sadar setengah tidak, aku mengatakan kepadanya “Dul, udah subuh.” Lalu aku melihat Jadul tidur lagi. Aku tidak menghiraukannya, aku langsung kembali ke kamarku. Di kamar, aku melaksanakan sholat subuh, lalu melanjutkan mengetik diary. Samapi sekitar pukul enam pagi, aku merasa agak lelah dan mengantuk. Aku merebahkan diri di atas kasur lalu tertidur pulas.
            “Rif, udah pagi.” Kata Aa’ Jajang yang membangunkanku dari tidur pulasku. Lalu Aa’ keluar begitu saja. Aku melihat jam di hp dan ternyata sekarang sudah pukul setengah delapan. Aku membasuh mukaku dan melanjutkan mengetik diary. “Ngiik...” Suara pintu kamarku yang terbuka, aku menoleh ke arah pintu. Aku melihat Syarif yang telah berpakain rapi. Dia masuk dan menanyakan kenapa aku belum bersiap-siap untuk mengikuti kajian bersama Pak Ainul Yaqin. Aku bertanya kembali kepadanya tentang jam berap kajiannya karena aku sendiri tidak mendapatkan pemberitahuan apa-apa dari jalur sms. Dia sendiri menjelaskan bahwa di kajian nanti kami harus membawa laptop, namun dia juga tidak mengetahui jam berapa nanti kajian akan dimulai. Sembari mengobrol, aku melanjutkan mengetik.
            Lalu kami mendengarkan teriakan Rahmat, teman sekelasku yang berasal dari Pangkeb, kepulauan Sulawesi, teriakan tersebut berasal dari bawah di luar Pesma. Lalu kami melihat ke luar jendela namun tida melihat Rahmat di sana. Lalu kami memutuskan untuk berangkat ke masjid untuk mengikuti kajian, kami rasa teriakan tadi menadakan bahwa Rahmat sudah berangkat duluan ke masjid. Setelah selesai mengemasi semua barang yang aku perkirakan di butuhkan nati saat kajian, kami turun ke lantai satu di bawah. Ketika sampai di teras lantai satu, aku melihat Ajdul sudah berangkat dan hampir sampai di audit, aku berteriak memanggil namanya agar dia mau menunggu kami. Lalu kami berangkat ke masjid. Sampai di masjid, Pak Ainul Yaqin telah hadir duluan, aku melepas sendalku lalu melangkah ke lantai masjid dan mengambil posisi di samping Pak Ainul Yaqin dan tak lupa menjabat tangannya terlebih dahulu. Beliau berbicara dengan bahasa Arab karena sesuai dari tema kajian kami kali ini yaitu kajian bahasa Arab. Beliau memanggil nama kami sesuai dengan setumpuk kertas  yang bertulisakan tafsiran ayat Al Qur’an dalam bahasa Arab. Itu adalah kertas yang diberikan kepada kami sabtu kemarin yang telah kami beri harakat dan selanjutnya di koreksi oleh beliau. Beliau menanyakan tentang nahwanya, beliau menanyakan pertanyaan sesuai dengan kesalahan-kesalahan mayoritas yang memberikan harakat tersebut.
            Ketika namaku di panggil, aku ditanya tentang amal kaana wa akhawatiha dengan bahasa Arab, aku menjawab dengan agak ragu-agu, turfa’ul isma wa tanshibul khobar, lalu beliau bertanya dengan bahasa Arab yang maksudnya adalah bahwa bagaimana aku bisa menjawab tentang amalnya Kaana, namun tetapidalam kertas yang diberikan kepadaku kemarin harakatnya tidak sama dengan jawabanku tadi. Lalu beliau memberikan kertas tersebut kepadaku. Memang aku akui, selain aku kurang hafal dengan nahwu, aku juga mempunyai kekurangan dalam pemraktekan nahwu dalam lafadz-lafadz berbahasa Arab. Lalu, Bila menyodorkan flashdisknya kepadaku dan memberi isyarat untuk mengkopi beberapa file. Lalu setelah kukopi, aku membuka apa yang telah aku kopi ke notbookku. Aku mengkopi satu folder yang di dalamnya terdapat dua berkas, berkas pertama adalah berkas berbentuk pdf, lembaran awal bertuliskan Majalah Al Azhar yang didalam berkas tersebut semua tulisannya berbahasa Arab. Sedangkan berkas yang satunya berbentuk berkas microsoft word, namun ternyata setelah aku buka, banyak kata-kata yang hilang spasinya sehingga sulit di pahami. Aku tahu kenapa bisa begini, beliau mengetik tulisan ini dalam microsoft 2013, sedangakn bila di masukkan ke dalam microsoft 2007 seperti punyaku akan menjadi rancu seperti ini. Lalu aku memperbaiki tulisan tersebut dn membuatku kurang fokus terhadap beliau. Namun bila tidak aku perbaiki terlebih dahulu, aku nanti akan ketinggalan pembahasa, akhirnya aku memilih untuk ketinggalan sekarang dari pada ketinggalan nantinya dalam membahas berkas yang ini.
            Setelah selesai, tepat beliau menyuruh kami untuk membaca teks yang ku perbabaiki tadi. Bila yang mempunyai laptop dengan microsoft 2007 sama dengan notbookku ternyata belum selesai memperbaiki teksnya. Lalu aku berkata kepadanya bahwa aku telah selesai mengedit teksnya meskipun belum sempurna benar karena ada beberapa yang kelewatan. Kemudian dia meminta kopian dari punyaku saja untuk mempercepat waktu agar kami dia tidak ketinggalan pembahasan. Lalu aku mengkopikannya dari notbookku. Kemudian aku membaca teks tersebut sekaligus meneliti kembali kalau-kalau masih ada yang salah.
            Teks itu adalah sebuah cerita yang menjadi azbabun nuzul dari Surat An-Nur ayat 11-20. Cerita tersebut mengisahkan tentang Nabi Muhammad dan juga salah satu istri mudanya yaitu Aisyah. Dikisahkan, suatu hari Nabi Muhammad akan pergi berperang dengan bani Mustaliq yang ditetapkan Rasulullah sendiri. Beliau mengundi istrinya untuk diajak menemani beliau pergi berperang. Dan kebetulan yang terpilih adalah Aisyah. Aisyah bahkan hampir tidak percaya kalau dirinyalah yang terpilih karena saking bahagianya. Kemudain berangkatlah Nabi bersama rombongannya, sedang Aisyah menaiki seekor unta yang tersedia haudah (sebuah tenda kecil sebagai penutup yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan untuk tempat perempuan-perempuan yang istimewa saat bepergian) di atasnya. Saat itu adalah saat dimana perintah behijab baru saja ditetapkan. Jadi Aisyah pergi menemani Nabi dengan memakai hijab sebaimana yang telah diperintahkan oleh Allah.
            Peperangan berlangsung singkat dan kemenangan di dapatkan kaum muslimin dengan cepat. Kumdian Nabi SAW memutuskan untuk kembali ke Madinah. Ketika hampir sampai di Madinah, Rasulullah memutuskan untuk beristirahat di suatu tempat. Ketika malam tiba, Aisyah memutuskan untuk keluar menuntaskan kebutuhan pribadinya, ia pergi secara diam-diam tanpa meminta izin kepada salah satu rombongan Rasulullah sama sekali. Ketika dia sudah menuntaskan kebutuhannya, ia meraba lehernya dan tidak menemukan kalung pemberian Rasulullah yang di impir dari Zafir, Yaman. Ia mencari-cari di sekitar tempatnya berjalan tadi. Namun ia tidak menemukanya, sangat menyesal sekali karena telah menghilangkan kalung istimewa dari Rasulullah. Kemudia ia mencoba untuk mencarinya lagi namun tetap tidak menemukannya karena saat itu masih malam sehingga semua tempat diselimuti dengan gelap gulita. Akhirnya ia kembali ke tenda tempat rombongan beristirahat dengan hati yang sedih. Namun ternyata rombongan Rasulullah telah melanjutkan perjalanannya, Aisyah telah ditinggalkan rombongan. Ia menangis sedih tanpa tahu harus melakukan apa, ia tidak tahu arah kembali ke Madinah, ia juga percuma bila harus berteriak karena pasti tidak ada yang mendengar. Di tengah malam yang gelap, ia melihat sesuatu yang berkilau dalam kegelapan di tempat dimana untanya tadi beristirahat. Ia mendekatinya dan ternyata itu adalah kalungnya yang hilang. Ia bersyukur karena dapat menemukan kalung tersebut. Ketemunya kalung tersebut membuatnya senang, namun ia tetap bersedih karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia telah tertinggal rombongan.
Ia berpikir bahwa orang-orang yang menutun untanya tadi pasti tidak menyadari kalau ia tidak ada di dalam haudah yang berada di atsa untanya. Ia memanglah seorang wanita kurus dan berbobot ringan sebagaimana wanita-wanita pada zaman tersebut. Jadi adanya dia d dalam haudah ataupun tidak itu sama saja. Ia menyesal karena tadi ia tidak berpamitan dengan orang-orang yang berada di dalam rombongan. Ia berharap para rombonan segera menyadari ketiadaannya di dalam haudah. Ia cuma bisa terdiam dan menangis, sampai akhirnya kantuk menyerangnya, ia tertidur pulas.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun...” teriakan Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menyadarkannya dari tidur lelapnya. Shafawan memang bertugas untuk mengemasi barang-barng yang tertinggal, jadi ia adalah rombongan terakhir. Shafwan meneriakkan kalimah tarji’ karena ia melihat wajah Aisyah yang tidak tertutup hijab. Setelah Aisyah terbangun dari tidurnya, ia langsung menutup wajahnya dengan sara malu. Mereka tidak berbicara sama sekali kecuali kalimat tarji’  yang diucapkan tadi. Shafwan memberikan isyarat kepada Aisyah untuk menaiki untanya dengan menundukkan untanya. Kemudian Aisyah menaiki unta tersebut, Shafwan berjalan menuntun untanya menuju rombongan Rasulullah.
Sesampainya di rombongan Rasulullah yang tengah beistirahat di sebuah tempat, banyak para sahabat menggunjing dan memfitnah Aisyah. Menurut Aisyah, yang memulia menggunjing adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay menyebarkan fitnah tersebut kepada para sahabat lain, sahabat-sahabat lain juga gegabah memakan mentah-mentah tuduhan tersebut dan ikut-ikutan menyebarkan fitnah tersebut. Namun Aisyah sendiri tidak mengetahui apakah yang orang-orang bicarakan.
Kemudian mereka kemlabi ke Madinah. Di Madinah, Aisyah jatuh sakit selama satu bulan. Aisyah tidak tahu kalau sebenarnya berita nista tentangnya telah menyebar di seluruh masyarakat Madinah. Ia mulai mengetahui menyebarnya fitnah tersebut setelah ia menyadari perhatian Rasulullah kepadanya berkurang. Hal itu tampak dari ketika ia sakit, biasanya ketika ia sakit, suaminya, Rasulullah sangat memanjakannya, namun pada saat itu Rasulullah hanya menanyakan keadaannya lalu berlalu begitu saja.
Suatu malam, Aisyah pergi membunag hajat ditemani ibu Misthah bin Utsasah. Ketika mereka kembali, Ibu Misthah tidak sengaja tersandung batu dan spontan menghina anaknya. Lalu, Aisyah menegurnya, kenapa ia menghina anaknya. Kemudian Ibu Misthah malah bertanya kembali kepada Aisyah tentang apa yang dikatakan oleh anaknya. Pertanyaan tersebut membuat Aisyah penasaran dengan apa yang dikatakan anaknya. Aisyah bertanya kepada Ibu Misthah tentang apa yang dikatakan anaknya. Kemudian Ibu Misthah menjelaskan apa yang dikatakan oleh orang-orang termasuk anaknya bahwasanya Aisyah telah dituduh yang tidak-tidak dan tuduhan tersebut telah menyebar luas di kalangan masyarakat Madinah, yaitu tuduhan tentangnya saat kepulangannya dari perang melawan Bani Mustaliq. Karena mengetahui berita tersebut, sakit Aisyah menjadi tambah parah. Kemudian meeka kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk tinggal di rumah orang tuanya dan Rsulullah mengizinkan. Ia bertujuan untuk memastikan tentang tuduhan-tuduhan yang beredar tentangnya.
Aisyah bertanya tentang apa yang digunjingkan oleh masyarakat Madinah. Ibunya menenangkannya agar tidak risau dan gelisah. Air mata Aisyah mengalir deras karena tuduhan tersebut, ia menangis malam itu sampai paginya. Rasulullah sendiri mulai merasakan gelisah karena perkataan-perkataan buruk tentang istri dan rumah tangganya yang telah menyebar luas. Kemudian Rasulullah, meminta pendapat Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.” Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat “Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda.”
Kemudian Rasulullah bertanya kepada Barirah bahwa apakah ada keraguan dalam diri Aisyah. Barirah memantapkan Rasulullah dengan menjawab bahwa tidak ada keraguan dalam diri Aisyah. Kemudian Barirah menjelaskan tentang keluguan Aisyah yang tidur di atas adonan makanan kemudian ketika bangun dari tidurnya malah memakan adonan tersebut.
Di sisi lain, Aisyah terus menangis sepanjang hari meratapi kesdihannya. Oang tuanya yang khawatir duduk di sisinya, namun Aisyah tetap menangis. Aisyah telah menangis selama dua malam satu hari. Salah seorang wanita Anshar meminta izin untuk menemaninya lalu ikut meratapi kesedihan Aisyah. Kemudian Rasuluulah berkunjung ke rumah orang tua Aisyah dan duduk di samping Aisyah.
Sebelumnya, Rasulullah belum pernah duduk di samping Aisyah selama tuduhan tersebut menyebar di masyarakat. Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika kau melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.” Kemudian Aisyah menghapus air matanya sampai tidak tersisa, kemudian mencoba meminta pembelaan dari orang tuanya namun orang tuanya tidak membelanya sama sekali. Kemudian Aisyah mengatakan kepada orang tuanya “Aku hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji itu, kalian tak akan mempercayaiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu -meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.” Kemudian Aisyah kebali ke tempat tidurnya. Aisyah yakin bahwa Allah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Ia tidak mengira Allah akan menurunkan wahyu-Nya hanya untuk membebaskan dirinya, ia merasa tidak pantas untuk itu. Aisayh cuma mengharapkan Rasulullah mendapatkan petunjuk tentang pembebasannya dari fitnah tersebut melewati mimpi. Rasulullah dan orang tua Aisyah tidak beranjak dari tempat duduk mereka sama sekali. Lalu keringat Nabi bercucuran, hal ni aneh, padahal pada waktu itu adalah musim dingin yang dinginnya dapat terasa sampai ke tulang. Setelah itu, Nabi tersenyum dan mengatakan, “Wahai Aisyah, sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.”
Ketika Nabi mengucurkan keringat, Nabi mendapatkan wahyu surat An Nur ayat 11 sampai 20 yang isinya menyindir semua yang telah menggunjingkan Aisyah. Adapun terjemahan ayat tersebut adalah:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) (QS. An-Nur [24]:11-20)
            Lalu ibu Aisyah menyuruh Aisyah untuk bangkit dari tempat tidurnya untuk menemui Rasulullah. Selanjtnya Aisyah mengatakan, “Demi Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain Allah.” Aisyah bersyukur karena Allah telah membebaskannya dari tuduhan nista yang selama ini membayang-bayangi namanya di mata masyarakat. Dalam ayat ini Allah menyindir para umat Islam yang menerima berita tersebut tanpa empertimbangkan kebenaranyya terlebih dahulu, padahal mereka tidak mempunyai bukti yang benar-benar nyata. Bahkan mereka tidak membawakan empat orang saksi, sebagaimana syarat melakukan qodzaf (tuduhan berzina). Kenapa merka tidak berhusnudzon sebagaimana yang biasa mereka lakukan sebelum-sebelumnya.
            Setelah selesai membaca cerita tersebut, kami di suruh menceritakan kembali satu persatu dengan menggunakan bahsa Arab sebisanya. Giliran pertama di dapatkan oleh Syarif, namun ia kebingungan sehingga ia belum bisa memberikan komentar apa-apa bila menggunakan bahsa Arab. Lalu giliran kedua adalah giliranku, kami di pilih sesuai dengan barisan kami duduk. Aku pun terpatah-patah bila harus mengungkapkannya denga bahasa Arab, aku mengucapkannya satu kata tambah mikir, satu kata lagi mikir lagi, begitu seterusnya. Kemudian tanpa harus menunggu lama, giliran berlanjut kepada Bila yang duduk di sebelahku. Aku memanfaatkan waktu itu untuk melanjutkan membaca di karenakan aku tadi belum selesai membaca keseluruhan cerita. Entah lewat beberapa temanku yang telah tertunjuk sehingga aku selesai membaca cerita tersebut. Kajian selesai sekitar pukul setengah sebelas siang.
            Setelah kajian selesai, aku dan teman-teman berencana untuk kembali ke Pesma dan Pesmi. Namun langkahku terhenti ketika aku melihat teman-temanku IQMA sedang duduk di pinggir jalan yang sering di sebut blok M di Kampus UIN SA, tepatnya mereka duduk di pinggir jalan masuk parkiran masjid. Ketika yang lain kembali, aku berbelok arah untuk menyapa mereka. Aku menjabat angan mereka semua. Salah satu dari mereka mengatakan, “Nyang ndi ae kok gak ketok?” Dari perkataan tersebut, aku hanya mampu tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. Aku duduk untuk menemani mereka. Aku bertanya-tanya apa yang mereka lakukan disini. Mereka menjelaskan bahwa mereka sedang menjadi tukang parkir sekaligus mendata peserta yang datang untuk acara Festival Banjari IQMA sebagai salah satu rangkaian acara Dies Maulidiyah IQMA yang ke 26. Tanpa berpikir panjang aku mengurungkan niatku untuk kembali ke Pesma meskipun sebenarnya aku sangat ingin kembali untuk melanjutkan menulis buku catatan harianku. Aku memutuskan untuk setidaknya menunggu parkir bersama mereka meskipun aku tidak memakai jas UIN SA sebagaimana seharusnya panitia. Aku tidak bisa melanjutkan menulis catatan harian di tempat parkir tersebut di karenakan baterai notbookku hampir habis, dan juga tidak ada colokan di luar ruangan seperti ini. Banyak panitia IQMA yang kerap kali lewat dan menyapa kami, aku senang dapat melihat dan bertemu dengan mereka semua.
            Sekitar pukul dua, kami semua di tarik ke auditorium di karenakan kebanyakan peserta tidak menghiraukan tempat parkir yang kami tunggu, mereka lebih emilih parkir di samping auditorium sebelah kana yang sebenarnya tempat itu telah di persiapkan untuk bazar IQMA, bukan untuk parkir. Akhirnya aku dapat melihat tampilan-tampilan peserta secara langsung di dalam auditorium. Ada peserta yang masih SD, meskipun masih kecil dan suaranya pun belum sebagus peserta yang lain, namun aku menyukainya karena mereka masih ecil namun semangat mereka bagus. Bahkan aku yang sudah menjadi mahasiswa belum tentu berani untuk tampil menjadi vokalis seperti itu, menjadi yang memukul terbangan pun juga belum karena aku belum menguasainya dengan mumpuni. Aku kembali ke Pesma sekitar pukul tiga sore. Lalu aku kembali elanjutkan menulis catatan harian di kamarku. Sebenarnya aka sangat ingin untuk membantu menjadi panitia penuh dari awal acara sampai akhir acara, aku benar-benar ingin. Aku menahan keinginanku sendiri sekuat mungkin. Pada hari sabtu tersebut, aku sengaja tidak memutar musik untuk menemaniku menulis karena aku ingin mendengarkan Festival Banjari tersebut dari kamarku. Hatiku sebenarnya telah menjadi milik IQMA, namun aku sendiri kurang aktif dalam IQMA, dan itu menyakiti hatiku sendiri. Bukan cuma denga kesibukanku menulis catatan ini, sebelum-sebelumnya aku juga banyak yang absen dari kegiatan IQMA. Banya sekali kegiatan, dan jam kuliah yang berbenturan dengan kegiatan IQMA. Semester satu dulu, aku sangat benci dengan yang namanya benturan waktu. Namun semester dua ini, hampir setiap hari pasti ada benturan waktu. Akhirnya aku kurang aktif di semua organisasiku karena aku berusaha untuk membagi waktunya, seumpama hari ini aku ikut kegiatan oranisasi A, minggu depan aku ikut organisasi B. Entah seberapa lam aku kuat bertahan dalam situasi ini yang tidak mungkin terhindar lagi. Sehingga kerap kali, ketika aku izin untuk meninggalkan sebuah acara untuk mengikuti acar lain, ketika mereka memaksaku untuk tidak meninggalkan, aku sering kali menjawab dengan amarah. Mungkin inilah luapan hatiku yang paling dalam. Aku sendiri juga krang memahami kenapa aku arah ketika di tanya mengapa.
            Di tambah lagi, akhir-akhir ini aku sering memikirkan haflah akhirus sanah di sekolahku di Kediri, kabarnnya alumniku yang banyak bekerja di banding murid-murid kelas tiga yang menjadi panitianya. Aku ingin sekali pulang untuk membantu persiapan haflah. Namun yang terjadi adalah, aku belum pulang sama sekali semenjak semester dua ini. Aku melanjutkan mengetik catatan sambil mendengarkan Festival Banjari. Ketika malam, notbookku  kembali konslet, aku marah tidak tahu harus marah dengan siapa, akhirnya aku memilih untuk memejamkan mataku. Paginya, aku dibangunkan Aa’ untuk mengikuti acara Musyawarah Besar CSS untuk acara pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Aku tak mempunyai semangat untuk mengikuti Mubes  tersebut, aku melanjutkan tidurku. Lalu Syarif datang ke kamarku untuk membangunkanku lagi. Aku terbangun, namun aku melnjutkan tidurku lagi. Mungin karena aku ingin menyempatkan diri untuk mengetik, namun notbookku tidak begitu sejalan dengan keinginanku. Disaat aku mempunyai waktu untuk mengetik, ternyata masih ada saja masalah yang menghampiri. Aku teringat dengan kata-kataku sendiri yang telah aku masukkan ke dalam sebuah gambar dimana ada seekor burung yang mengejar seekor lebah yang aku umpamakan lebah tersebut adalah kita, sedangkan burung tersebut adalah resiko dan masalah. Kata-kata tersebut adalah. “Resiko dan masalah adalah teman setia yang membuat perjuangan tidak sepi dan hambar.” Memang, masalah dan resiko serasa membebani kita, namun hal itu dapat membuat kita menjadi lebih kuat untuk menghadapi kerasnya hidup ini.
            Sampai akhirnya, ustadz Baiquni, salah satu dewan mhasantri Pesma yang bisa di bilang salah satu yang dekat dengan mahasantri membangunkanku dengan paksa. Aku menyadari beberapa menit sebelumnya ada pengumuna DM dari lantai satu melewati speaker bahwa setiap lantai harus mewakilkan dua orangny untuk turun ke bawah untuk berfoto-fot, entah untuk apa aku tidak tahu. Namun yang aku kira, penghuni lantai lima selain aku itu banyak, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menjadi wakil yang turun ke bawah. Ketika aku mendengaran pengumuman terebut, aku mengabaikannya dan memilih melanjutkan tidurku. Sampai ketika Ustadzku menarik-narik tanganku sambil memintaku untuk turun ke bawah mewakili lantai lima. Namun ia tidak kuat menarikku sampai bangun, aku sangat males pagi itu. Aku mengatakan bahwa yang lain masih banyak. Lalu ia keluar kamarku dan akupun melanjutkan tidurku lagi. Beberapa menit kemudian Ustadz Baiquni menark-narik tanganku lagi. Ia menjelaskan bahwa bila aku tidak turun maka lantai lima akan mendapatkan denda lima puluh ribu. Ia benar-benar memaksaku, meski aku masih memakai celana pendek selutut, ia tetap memaksaku untuk turun meski meski bilak tetap memakai celana pendek. Lalu aku meminta waktu sebentar dulu untuk berganti pakaian. Akhirnya ia mengizinkan dan ia bilang ia menungguku di lantai bawah. Aku bangkit dari tidurku, berjalan ke kamar mandi untuk membasuh badanku sekilas lalu mengganti celanaku dengan sarung. Kemudian aku cepat-cepat turun ke latntai satu. Sesampainya di lantai satu, aku terduduk melihat ereka berfoto-foto di panggung karena ternyata wakil lantai lima sudah ada.
            Ketika itu, setelah selesai mereka mengambil gambar, aku di ajak untuk berfoto juga untuk tambahan. Lalu aku naik kembali ke lantai lima bersama Ustadz Baiquni. Kemudian ia mengajakku unutk makan di kamarnya. Aku hanya menurut saja makan di kamarnya. Setelah itu ia mengajakku untuk keluar ke gedung Fakulat Syariah untuk mencari sinyal wifi. Aku menuruti saja apa keamauannya. Seusai makan aku kembali ke kamarku untuk mengemasi apa yang perlu. Setelah itu kami berangkat, au hanya mengenakan aos dan sarung, karena au sendiri belum mencuci baju arena melihat tempat jemuran selalu penuh dengan cucian mahasantri lain. Sampai di Fakulats Syariah, kami mmbersihkan lantai tempat duduk kami lalu enyambungkan terminal ke colokan yang agak jauh dari tempat kami duduk. Lalu kami membuka notbook dan laptop kami, kami masing-masing langsung membuka internet. Aku asyik membuka internet sampai-sampai aku menunda mengetik catatan. Internet benar-benar mengalihkan perhatianku.
            Di awal, akubingung mencari apa. Lalu aku teringat aku dulu ingin sekali mempunyai buku cerita Qais dan Laila. Kisah cinta yang sudah lama melegenda di Timur Tengah. Cerita inilah yang menginspirasi Wiliam Shakespeare untuk mengarang kisah cinta Romeo dan Juliet. Namun sekarang yang lebih terkenal adalah Romeo dan Juliet. Sebenarnya kisah Qais dan Laila ini adalah kisah cinta Islami yang sering juga di sebut Laila Majnun. Majnun adalah julukan dari Qais yang berarti gila, kegilaannya terhadap cinta sangat dalam. Syair-syair Qais tentang Laila melegenda sampai sekarang. Qais adalah seorang sufi, ia mengambara karena cinta, sedangkan Laila memendam cintanya begitu dalam sehingga Allah memuliakannya di sisinya. Aku dulu membaca cerita mereka dari internet dan sampai sekarang pun masih hafal mana cerita yang aku baca dulu dan mana yang bukan aku baca hanya melihat dari awal ceritanya meskipun aku tidak tahu alamat websitenya yang pasti. Cerita tersebut masih diceritakan dalam bahasa hikayat, yaitu masih cenderung kepada bahasa melayu.
Selain itu aku juga mencari cerita Timur Tengah tentang kisah seribu satu malam. Aku juga sangat ingin memiliki buku tersebut yang berjumlah empat jilid. Namun jarang sekali toko buku yang menjual buku kisah seribu satu malam Kisah ini terkenal dengan kisah Abu Nawas, padahal bukan. Kisah seribu satu malam berbeda dengan kisah Abu Nawas. Cerita-cerita Aladin, Simbad dan empat puluh penyamun, dan lain sebagimana banyak yang berasal dari kisah seribu satu malam ini. Aku sangat penasaran dengan buku ini, lama sekali aku menginginkan kedua buku ini, yaitu buku tentang Qais dan Laila, serta buku seribu satu malam.
            Ketika aku mencari di internet, alhamdulillah aku mendapatkan dua jilid buku kisah seribu satu malam dalam bentk pdf, aku senang sekali medapatkannnya.Ketika aku membukanya, isinya foto dari buku tersebut dari cover sampai setiap lembaran ada di situ. Aku senang meskpun itu adalh foto buku yang penting dapat di baca. Setelah aku melihat dua lembar terakhir jilid yang kedua, aku mengetahu ceritanya masih sampai malam ke dua ratus tujuh puluh satu. Aku senang sekali, aku berharap sekali aku mempunyai waktu untuk membaca buku pdf ini. Inilah yang telah aku impikan dari bertahun-tahun yang lalu, meskipun belum semuanya namun aku sungguh senang. Selanjutnya dengan wifi yang lancar begini aku bisa mendownload video, atau aku bisa belajar caranya mendownload film yang ada subtitlenya (terjemahan). Selama ini aku hanya bisa mengunduh video dari youtube, kelamahan dari youtube ini adalah tidak ada subtitlenya.
Tak terasa waktu dzuhur telah menjumpai kami, kami memutuskan untuk kembali ke pesma terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat dzuhur. Kemudian sesampainya aku di kamar, aku menelfon Ida, anak dari adiknya bapakku, kalau dalam bahasa Jawa disebut misanan. Memang sebenrnya aku tidak mempunyai pulsa yang cukup untuk mengirim satu smspun, namun aku telah menukar poinku dengan bonus telefon, jadi aku bisa menelfon Ida. Ustadz Baiquni yang menungguku memanfaatkan waktunya untuk tidur siang. Aku menelfon untuk menanyakan keadaan persiapan haflah di sekolahku. Sekolahku berbentuk yayasan yang di dalamnya ada pondok pesantren, RA, MI, MTS, MA dan SMK. Kebetulan Ida adalah murid SMK kelas tiga, ia adalah koordinator Sinom. Ia mengaku bahwa dirinya beserta teman-temannya SMK belum masuk ke sekolah dan berencana untuk masuk hari ahad depan di karenakan mereka banyak yang sakit setelah sepulang ziarah makam wali delapan.
Setelah selesai telfon sekitar setengah jam-an, aku membangunkan Ustadz Baiquni lalu aku mendirikan sholat dzuhur. Lalu aku membangunkan ia yang tertidur lagi baru setelah itu kami kembali ke tempat dimana kami mencari sinyal wifi tadi.Di situ aku mencoba untuk mendownload film yang ada subtitlenya. Dengan arahan dari Ustadz Baiquni terlebih dahulu. Kahirnya aku mendapatkan satu buah film, namun yang entah kenapa ketika mendownload lama sekali, padahal jaringan wifi lancar-lancar saja, mungkin Allah memang mencegahku untuk mengunduh film ini dengan alsan tertentu. Aku mencoba mengunduh yang lain dan ternyata cepat sekali, namun unduhan film tersebut tetap berjalan lamban sekali, bahkan disitu tertulis, satu hari lebh untuk menyelesaikan mengunduh film tesebut. Lalu aku meninggalkan internet untuk kembali mengetik catatan harian, aku menekan keinginanku sendiri untuk belajar cara mengunduh film yang ada terjemahannya berbahasa Indonesia.
Ketika aku melihat proses mengunduh film tadi, ternyata gagal. Film yang ingin kuunduh tadi adalah film pirates of the caribbean. Sebuah film bajak laut dengan petualangannya yang seru. Sebelumnya aku hanya bisa melihat dari layar televisi. Namun sekarang ketika tinggal di Pesma, bisa dikatakan aku tidak pernah nonton televisi lagi. Yang ada aku malah melihat film yang aku kumpulkan dalan hardiskku yang berkapasitas lima ratus gigabyte yang lebih tepatnya empat ratus empat puluh enam giga.
Kami kembali pukul lima sore ke pesma. Kemudian aku menghentikan mengetik diary, aku memilih untuk menghibur diriku sebentar untuk melihat film di hardiskku yang belum aku lihat. Dalam hal film, aku orang yang selektif, ketika aku tida suka dengan sebuah film, tanpa pikir panjang aku segera menghapusnya karena tidag berguna juga bila aku terus menyimpannya.
Setelah isya’, aku memutuskn untuk keluar untuk membeli pulsa dan juga lauk untuk makan. Seperti biasa aku kelur sendirian. Di Pesma sebenarnya ada lomba Muhasabah Hifdhul Qur’an. Namun aku malas mengikutinya karena masih banyak buku catatanku yang harus aku selesaikan. Au keluar dengan menggunakan sarung pemebrian bos bapakku yang sebenarnya diberikan kepada bapakku naun bapakku memberikannya kepdaku, dan jaket abu-abu lama bapakku yang masih terlihat bagus.
Ketika aku melewati warung pertama di Jalan Parik Kulit Wonocolo, aku bertemu dengan teman sekamarku di Pesma, ternyata dia sudah kemabali dari rumahnya di Jombang menggunakan motornya. Aku menyapanya dengan senyuman dan melanjutkan langkahku menuju warung nasi leseha di dekat jembatan sebelum masjid. Sebelum sampai di warung, di depan basecamp CSS aku bertemu dengan Faisal yang berboncengan dengan Rifai. Ia bertanya kepadaku kenapa aku tidak ikut debat kandidat di depan fakultas Dawah dan Komunikasi. Aku menjawab bahwa aku tidak mendapatkan informasi sama sekali mengenai debat kandidat. Lalu ia mengatakan kepadaku bahwa aku seharusnya tahu. Aku juga bertanya kepada diriku sendiri, bagaimana aku bisa tahu kalau aku tidak di tida mendapatkan informasi sama sekali, merekapun tidak memberikku kabar tentang acara tersebut juga. Ia mengajakku untuk menghadirinya. Kemudian aku mengiyakan saja. Aku berlalau untuk membeli lauk di earung lesehan.
 Lalu ketika kembali, saat melewati toko terakhir, aku berbelok untuk membeli pulsa. Lalu ketika aku melanjutkan langkahku untuk kembali ke Pesma, Abduh dan Bima yang menakiki motor menawarkan diri untuk memboncengku. Lalu aku kembali e Pesma dengan di bonceng naik motor. Sesampainya di belokan setelah kantor rektorat, aku meminta untuk berhenti karena aku mau mampir dulu ke Fakultas Dakwah untuk melihat debat kandiat, namun mereka menolak, mereka memilih untuk mengantarku ke fakulats sekaligus dan aku mengambil tawaran tersebut. Sesampainya di Fakulats, aku melihat Faisal dan Rifai juga sampai di Fakultas, namun ternyata acara tersebut sudah sampai acara akhir yaitu pengucapan salam penutup oleh pembawa acara. Kaku tidak masuk ke tempat duduk para penonton, aku memilih berjongkok di pinggir dan melihat akhir dari acara tersebut dari kejauhan. Lalu kami semua kembali ke Pesma bersama-sama.
Aku kembali ke kamarku unutuk memakan lauk dan nasi yang telah aku masak dan aku baiarkan tetap di mejikom dari kemarin malam.Lalu aku melanjutkan mengetik diary ini. Lalu aku tidur seitar jam setengah dua belas. Karena aku belum mendirikan sholat isya’, belum menyelesaikan catatan harianku, dan juga belum belajar untuk ujian besok, Allah membangunkankujam satu kurang sebelas menit. Aku bangun untuk mendirikan sholat. Kemudian aku melanjutkan mengetik diary ini di malam yang sunyi diselimuti dingin yang  menusuk tulang.
Di awal-awal menulis di hari senin pagi tanggal empat Mei ini, aku merasakan perasaan-perasaan yang telah terpendam ketika matahari masih mengawasi bumi bagian Surabaya selatan disini. Namun aku terus melnjutkan menulis meski diselimuti sepi dan menyesal. Waktu subuh sudah dekat, aku baru teringat kalau aku belum belajar untuk ujian Tafsir BKI nanti. Nanti adalah ujian Tafsir yang terakhir kali.
Kusadari bahwa nilai-nilaiku sebelumnya ada beberapa yang kurang memuaskanku arena hasilnya buruk sekali. Aku tak mengira bisa mendapatkan nilai seburuk itu. Aku kira aku mendapatkan nilai buruk itu sejak aku enyadari kalau aku tertekan dengan sumuanya dulu. Namun setelah hari yang aku sebut hari pembebasan dulu, aku menjadi bisa bangkit lagi menjadi aku yang seharusnya. Hari pembebasab dulu sangat berpengaruh bagiku.
Subuh semakin dekat, kantuk mulai menyerang kesadaranku, namun seharusnya aku belum boleh tidur karena aku belum belajar untuk ujian nanti.
Bersambung...

52 komentar:

  1. secara umum sudah bagus rifqi,, namun perlu dibaca ulang dan di edit kembali ya :0
    jangan lupa kirim komentar anda di http://fiskamahasantri-nusantara.blogspot.com/2015/05/aku-hidup-bersama-doanya-meniti-kisah.html

    BalasHapus
  2. bismillah
    usahakan jangan ada pengulangan kata dalam 1 kalimat yah, misalnya
    Beliau mengatakan hal tersebut lalu memngatakan sebuah kata-kata bijak,
    semangat ya

    BalasHapus
  3. Rifqi,,,
    punya kamu udah bagus, namun ada pengulangan kata,,
    penggunaan tanda titik, koma juga,,,
    tetap semngat, good job sobat,,,

    BalasHapus
  4. m'f ya semuanya, hehe, mmang sebenarnya tulisan tsb blum q edit sama sekali, cuma d tlis lalu d krim tnpa d revisi terlebih dahulu..

    BalasHapus
  5. Good job ... tulisan sampean dah bagus .... tpi Eyd ne iku di perhatikan Nggeh

    BalasHapus
  6. Penulisan dan prngadaian katanya sangat bagus namun harus memperhatikan penulisan kata yang tepat seprti "Guruku Aliyah"

    BalasHapus
  7. kocak habis rifqi mungkin dari sekian tulisan teman-teman cuman punya kamu yang paling lama aku baca
    aku ngerasa gimana yah kamu ini sangat berbakat dalam kepenulisan suer
    kamu menulis dengan kejadian ynag sangat tergambar habis apa kejadian yang baru terjadi kamu kayak cerita dengan bicara ke kami keseharianmu dan apa-apa hal yang terjadi di pesma di kamrmu dan di ukmmu pokokny aku bangga sama kamu dan kami mohon maaf jika kamu rasa kami tak menerimamu apa adanya , walaupun kau lihat aku fashionable aku harus matching berpakaian dan kusuruh kamu bergay laykanya seharusnya kusruh kamu maakai baju biar gag keihatan dumel aku gak bermajsud apa -apa kami meneriammu rifqi apa adanya hanya kami ingin kamu move on dari rifqi yang dulu dengan rifqi yang sekarng. iya kau ngerti kalu kita melihat seseorang jangan lihat baju apa yang dia kenakan tapi bagaimana sikap dan tinkah lakunya tapi kan kalu sampean disodorkan permen yang bungkusnya msih bagus dengan yang sudah uwet uwetan man yang kamu pilih? itu aja mungkin kebanyakan jangan lupa koment punya yang paling penting rifqi kita hars bisa memproritaskan man yang harus dilakukan dan man yang ditinggalkan aku banga samamu thanku u

    BalasHapus
  8. Subhanallah... luar biasa (y) semngat menulis dek...(y)

    BalasHapus
  9. good job rifky, bagus tenan tulisannya rek,...
    akan tetapi lebih diperhatikan lagi yah EYD'a rifky,...

    BalasHapus
  10. fightingggg kawan.
    salam LTB.

    BalasHapus
  11. karakter penulisnya bisa saya dapatkan dalam tulisan ini. Semangat kakak !!!

    BalasHapus
  12. setuju ca'... karakter si penulis sangat tergambar dalam isi ceritanya.. rentetan ceritanya juga detail sekali..
    mungkin jika diberi sub judul akan lebih menarik karena pembaca terpimpin untuk mengetahui point utama dari penggalan ceritanya...
    terus berkarya kawan....

    BalasHapus
  13. jangan lupa komentarnya ya... http://tsalisaalmumtazah.blogspot.com/2015/05/titian-langkah-bersama-sang-guru-besar.html?showComment=1432564234762#c2368300993161394567

    BalasHapus
  14. Subhanallah ,,,,mumtazzz rif,,,semoga kedepannya menjadi penulis yang masyhur,,,,
    dan sedikit masukan jika menulis lagi ketelitiannya ditingkatkan ya,,,,

    BalasHapus
  15. akhirnya,, have done juga tulisanmu rif,,,
    salut dah gua....

    BalasHapus
  16. bagus ki... lanjutkan! tapi hati2 dengan pengulangan kata ya... lebih diminimalisir lagi. good job:)

    BalasHapus
  17. Ayo Rifki...tambah lg semangat membacamu agar semakin bnyk yg akan kau tuliskan...

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Ekspresikan dirimu rif! sebagai teman aku kan senantiasa mendukung dan mensupportmu, namun jangan lupa salah satu tugasku juga adalah mengingatkan dan meluruskan setiap langkahmu, tapi mutlak "kau yang menentukan segalanya"! Sukses :D

    BalasHapus
  20. Terus Bikin Artikel Gan Kali Aja Artkel Ada yang beli

    BalasHapus
  21. Mantap ki....
    trus menulis, posting yang lebih banyak lagi...
    semangaaaaat...

    BalasHapus
  22. The great pleasure in life is doing what people say you cannot do. -Walter Bagehot

    BalasHapus
  23. Good people are good because they've come to wisdom through failure. We get very little
    wisdom from success, you know. -William Saroyan

    BalasHapus
  24. Men are not prisoners of fate, but only prisoners of their own minds.
    -Franklin D. Roosevelt

    BalasHapus
  25. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  26. janagan lupa kunjungi
    http://nurmujibiyah.blogspot.com/2015/06/pentingnya-mengelola-lingkungan-belajar.html

    BalasHapus
  27. lanjutin menulisnya ya kri
    enggak tau mau bilang apa

    karena semuanya good job
    jempol for you

    BalasHapus
  28. Kurangi bgadang...agar esok harinya lbih produktif dalam menulis

    BalasHapus
  29. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  30. terus berbagi ilmu lewat goresan penamu ki....

    BalasHapus
  31. tetap istiqomah, semangatt....

    BalasHapus
  32. Subhanallah,,,amazing,,,tetap semangat rif,,,

    BalasHapus
  33. hanya saja perwajahannya ,,,perlu diperindah ya,,,,biar lebih enak dibaca,,,

    BalasHapus
  34. lanjutkan tulisannya rifqi... jangan berhenti di sini ok

    BalasHapus
  35. Terus berkarya Rifqi Muhammad Nur
    ditunggu buku terbitannya !!! Oke.

    BalasHapus
  36. benar katamu di paragraf awal. tidak ada kata terlambat untuk berkarya :)

    BalasHapus
  37. TULISANNYA MEMBUAT PEMBACA SERASA BERADA DI DALAMNYA. SIIP. LANJUTKAN!!

    BalasHapus
  38. Benar memang perkataan guru kita, "Potensimu sangat besar tapi sayang semua itu tertutup oleh rasa malas dan minder" Jadi mulai sekarang tidak ada alasan untuk tidak giat, ayo sukses bersama. Bangun Rifqi.....

    BalasHapus
  39. Rifqi,,,
    Fighting,,,
    Potensimu tidak sampai dsini, lanjutkan,,,
    Tdak ad kta terlmbat tuk mmulai suatu hal,,,

    BalasHapus
  40. Rifqi,,,
    Fighting,,,
    Potensimu tidak sampai dsini, lanjutkan,,,
    Tdak ad kta terlmbat tuk mmulai suatu hal,,,

    BalasHapus
  41. Ayo terus berjuang sobat,,,,

    BalasHapus
  42. great writing ^_^
    just make it a short story

    BalasHapus
  43. Jangan berpuas diri perbanyak membaca

    BalasHapus