Namaku Rifqi Muhammad Nur, sering dipanggil dengan nama Rifqi. Aku dilahirkan di Kabupaten Kediri, tepatnya pada hari ahad tanggal 24 Desember tahun 1995. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Satu setengah tahun pertama setelah pernikahan orang tuaku, mereka tinggal dirumah kakekku. Selama satu setengah tahun tersebut ayahku membangun rumah sendiri untuk keluarga kami. Setelah dirasa rumah disebelah rumah kakekku tersebut layak pakai, orang tuaku menempati rumah tersebut. Seiring waktu berjalan, pembangunan diteruskan sampai akhirnya menjadi layak dan nyaman sebagimana rumah-rumah tetangga yang lain. Beberapa tahun setelah kakekku tersebut meninggal, rumah kakekku dibongkar.
Aku tinggal di Desa Turus bagian selatan yang sering disebut dengan Besole. Besole bukan nama desa, bukan juga nama dusun
, tetapi sebutan untuk satu wilayah yang berada di dalam Desa Turus. Besole di apit diantara sungai. Di sebelah tenggara Besole, terdapat dam yang bernama Dam Karebet di dam tersebut, aliran sungai dibagi menjadi dua sungai, yang satu berbelok ke utara kemudian belok ke barat sehingga posisinya berada di utara Besole, sedangkan aliran yang satu lagi tetap lurus ke barat melewati sebelah selatan Besole. Jadi bisa dikatakan, wilayah Besole dibatasi oleh sungai baik dari utara maupun selatan. Di Besole ini mayoritas adalah keluarga besarku, bahkan Masjid yang ada di Besole bernama Bani Sholeh. Bani Sholeh merupakan keluarga besarku yang diambil dari nama kakek moyang ku, Mbah Sholeh.Aku tinggal di Desa Turus bagian selatan yang sering disebut dengan Besole. Besole bukan nama desa, bukan juga nama dusun
Waktu kecil, aku beserta adikku yang laki-laki diajari membaca iqra’ oleh adik dari kakekku dari jalur ayah. Beliau akrab dipanggil dengan Mbah Wer, sedang nama aslinya adalah Ahmad Munawir. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang mengaji di rumah Mbah Wer. Lama kelamaan, kegiatan ini dipakaikan jubah berupa lembaga TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) atau TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan sekarang berubah jubah lagi menjadi Madin (Madrasah Diniyah).
Seiring waktu juga, karna semakin banyak anak yang mengaji, semakin dibutuhkan pula tenaga pengajar. Tetangga-tetangga yang dianggap mumpuni dalam hal agama diundang untuk menjadi guru disitu. Karena semakin bertambah murid, adik nenek saya dari jalur ibu sebelum beliau meninggal, beliau berwasiat agar tanah yang berada di samping rumah Mbah Wer dibangun sebuah mushola yang nantinya menjadi tempat ngaji yang baru. Setelah mushala yang dibangun jadi, tempat ngaji pun dipindah ke mushala.
Ketika aku berumur 5 tahun, aku dimasukkan dalam RA (Raudhatul Athfal) Kusuma Mulia yang masuk ke dalam Yayasan Hidayatus Sholihin. Dari sini aku mulai menganal teman-temanku yang nantinya menjadi teman seperjuanganku paling setia dalam ranah pendidikan. Bisa dibilang mereka jauh lebih setia dari pada kebanyakan orang. Karena kami satu perjuangan tidak hanya dari RA, tapi berlanjut hingga MI, MTs dan bahkan sampai MA dalam satu jalan. Di RA ini kami mulai berkenalan. Sosok yang kuingat waktu itu adalah sahabatku jailani yang masih belum mau ditinggal sendiri di dalam kelas oleh bapaknya, akibatnya setiap belajar di RA sselalu ditemani ayahnya di dalam kelas sampai pelajaran selesai. Pernah suatu ketika dicoba untuk ditingggal ayahnya di kelas, namun yang terjadi adalah ia nangis keras-keras di dalam kelas.
Ada beberapa memori juga yang masih kuingat ketika masa- masa RA. Salah satunya ketika diadakan lomba antar kelas RA, aku mengikuti beberapa lomba, diantaraya memasukkan kancing baju dan lomba balap kelereng berkelompok. Dalam lomba memasukkan kancing baju, kami diberikan sebuah baju besar dengan kancing baju yang besar pula, yakni kancing baju yang berdiameter 2 cm, padahal tanganku waktu itu kecil sekali. Dengan susah payah kami para peserta lomba mencoba untuk memasukkan kancing baju dengan berpacu melawan waktu. Memang yang kuingat, agak susah memasukkannya, mungkin karena lubangnya yang terlalu kecil, atau mungkin karena memang ukran dan kekuatan tanganku yang relatif masih kecil. Setelah selesai, aku berganti menjadi penonton. Aku melihat temanku, Ahmad Aziz Rifa’i, ia berlomba untuk memasukkan kancing baju, masih kuingat ketika itu tangannya bergetar keras. Memang waktu itu aku masih kecil, jadi kejadian seperti itu sangat lucu bagi kami, namun lain dimataku, aku malah merasa kasihan dengan dia, jadi aku tidak tertawa seperti yang lain, aku terdiam melihat tingkahnya tersebut. Aku mengira ia ketakutan dalam mengikuti lomba. Hehe, padahal kalau kita dewasa ini mengannggap hal seperti itu adalah wajar, bagi setiap individu yang belum terbiasa berada di depan publik, ia akan merasakan demam panggung, dan salah satu cirinya adalah tubuhnya bergetar padahal tidak merasakan kedinginan.
Kemudian setelah itu aku mengikuti lomba balap kelereng berkelompok. Dalam hal ini bukan para peserta yang berlomba menuju garis finis, akan tetap yang berlomba menuju garis tersbut adalah kelereng itu sendiri, kami bertugas untuk saling menyalurkannya menuju garis finish. Teknisnya adalah, kami satu kelompok dibuat baris sepanjang antara garis start sampai garis finish.Setiap kami membawa sendok makan di mulut kami. Kami bertugas untuk saling menyalurkan kelereng tersebut melewati sendok tanpa boleh disentuh tangan. Kelereng yang jatuh tidak boleh diambil kembali, harus mengambil kelereng lagi dari garis start. Aku mash ingat, aku waktu itu diposisikan di ujung garis start. Letika peluit dibunyikan, tanda perlombaan dimulai, mulai kuambil sebuah kelereng dan kuletakkan diatas sendok di mulutku. Seteleh itu dengan susah payah kuberikan kepada temanku. Percobaan pertama gagal, aku menjatuhkan kelereng itu. Selanjutnya dengan sigap aku mengambil kelreng lain, lalu kuusahakan lebih baik lagi dan hasilnya aku berhasil menyalurkannya kepada temanku. Namun sayang sekali, ketika hampir sampai finish, kelereng kami jatuh lagi dan waktu telah habis. Dalam dua perlombaan ini aku tidak mendapatkan juara sama sekali. Kurasakan kecewe membasahi tubuhku, namun bukan kecewa karena tidak mendapatkan juara, tetapi kecewa karena menurutku perlombaan aakan berlangsung lama, akan tetapi aku hanya bisa mengikuti dua lomba saja dan setelah itu selesai. Ada sesuatu yang sangat mengganjal di hati, aku merasa kurang lama dalam berlomba.
Itu adalah salah satu even yang dilaksanakan mungkin satu tahun sekali. Lebih pendek dari itu, setiap dua minggu sekali kami melaksanakan olah raga bersama. Olah raga tersbut sangat lama sekali menurutku. Dibawakan dengan lagu makanya meskipun waktu lama tetap kami tidak bosan. Selanjutnya di akhir pelajaran dalam hari yang sama, kami mengikuti kegiatan makan bersama. Masih kuingat sekali, kami diberikan semangkuk makanan, entah bakso atau apa itu, yang menurut porsiku sendiri, itu banyak sekali. Dengan mangkuk besar, dan juga diberi saos yang banyak. Aku tak yakin aku sanggup untuk menghabiskannya, kelihatan agak aneh juga berhadapan dengan semangkuk porsi beserta sausnya yang banyak.
Kemudian yangmenjadi pertanyaan pastilah, bagian mana yang mengandung unsur Ismalisasi diri bukan? Saya kira semua masuk. Masa kanak-kanak adalah masa menantang dimana untuk memberikan pengajaran kepada anak, guru harus pintar-pintar menarik perhatian anak terlebih dahulu, oleh karena itu banyak sekali kegiatan yang bertujuan untuk menarik minat anak yang secra tidak langsung ilmu pengetahuan secara tidak disadari mengalir masuk dalam otak kami. Semua pembelajaran dibuat berbeda agar siswa didik tidak merasa bosan untuk menuntut ilmu disini. Bagaimana ilmu pengetahuan dikemas dengan semenarik mungkin membuat siswa tidak begitu merasakan yang namanya sulit, sebaliknya siswa malah merasa senang dan akibatnya pengetahuan yang diberikan dapat disambut baik oleh anak tanpa adanya rasa cemas akan tantangan yang akan dihadapi. Ditambah, dalam kelas kami, dalam satu pelajaran pasti diisi oleh dua orang guru, sehingga dua guru tesebut dapat salin menumpahkan ide yang semenarik mungkin dalam pembelajaran.
Aku beserta mayoritas teman sekelasku mengampu jenjang RA cuma dalam satu tahun, setengah tahun di tingkat nol kecil, setengah tahun lagi ditingkat nol besar. Sampai saat ini aku masih belum tahu alasannya kenapa kami cuma satu tahun menempuh jenjang pendidikan RA. Diakhir masa RA, yayasan kami selalu mengadakan acara haflah Akhirussanah. Kami dari murid-murid RA bertahun-tahun selalu menampilkan penampilan-penampilan di awal acara untuk sekaligus mempromosikan RA kami. Beberapa hari sebelumnya, hampir setiap hari beberapa siswa yang terpilih untuk tampil dalam acara Haflah, sebelum pelajaran berakhir selalu izin keluar dari kelas untuk latihan di masjid yayasan. Sayang sekali, aku bukan termasuk orang-orang pilihan tersebut. Aku selalu bernggapan bahwa mereka yang terpilih adalah orang-orang yang cerdas, aku cemburu pada meraka.
Setelah lulus dari RA Kusuma Mulia, aku melanjutkan langkah dalm tangga pendidikan menuju tingkatan MI. Kebetulan aku masuk MI masih dalam yayasan yang sama, yakni dalam MI Hidayatus Sholihin bersama mayoritas temanku yang berasal dari RA yang sama. Di kelas satu ini salah satu guru yang mengajar adalah bibiku sendiri, ia adalah kakak perempuan teman sekelasku, kemudian ia menikah dengan adik ibuku dan jadilah beliau menjadi bibiku yang akrab aku panggil dengan Bek Kusnul.Aku lupa dengan pelajaran apa yangia ajarkan. Seingatku pernah sekali, aku bermain di kelas dengan molen, suatu mainan yang berbentuk seperti penghapus, namun lentur bisa dibentuk mejadi apa saja seperti tanah liat. Karena keasikan bermain, di mejaku, aku tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Ketepatan waktu itu yang mengajar adlah Bek Kusnul, namun ia diam saja. Tetapi ketika sampai di rumah, Bek Kusnul melaporkan kelakuanku di kelas kepada ibuku, wal hasil, omelan yang kuterima. Kejadian tersebut membuatku lebih waspada di kelas.
Disamping sekolah formal, aku juga melanjutkan untuk mengaji agama di TPA Mbah Wer. Saat kelas satu MI ini, inilah pertama kalinya aku mengkhatamkan Al Qur’an. Sebagai rasa syukur, keluargaku mengadakan slametan di TPA. Inilah awal mula yang menjadikan slametan ketika seorang murid khatam Al Qur’an do TPA menjadi budaya di TPA Mbah Wer. Acara yang menambah niat para murid untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Keluarga murid akan menyampakan rasa syukurnya dengan mengadakan slametan di TPA yang biasanya diakhiri dengan pembagian jajan atau makanan kepada semua murid lain beserta guru-guru yang mengajar pula. Dalam masa ini, ngai masih dilaksanakan di kediaman Mbah Wer. Seiring waktu berjalan, ngaji tidak hanya mengaji Al Qur’an, tapi ditambah dengan kitab-kitab seperti kitab tajwid, kitab tauhid, nahwu, dan lain-lain. Untuk memberikan materi yang sesuai dengan tingkatan murid, dibuatlah kelas. Dan untuk menarik murid, dibuat juga sistem peringkat di akhir tahun beserta hadiah bagi yang mendapatkan peringkat atas.
Kembali lagi ke sekolah formal, saat aku kelas satu. Di kelas satu itu, kami mulai mengenal pembagian kelas, ada kelas satu A dan ada kelas satu B. Disitu potensi-potensi kami mulai terlihat. Salah satu guruku yang sering dipanggil Bu Jannah, Pernah memuji tulisan huruf bersambungku. Namun, karena dulu aku masih polos sekali, aku cuek-cuek saja ketika secara perlahan beliau mendekatke bangkuku ketika kami diberikan tugs untuk menulis huruf bersambung. Dari tempat duduk beliau, secara perlahan beliau mendekati tempat dudukku, sembari mengamati aku yang sedang menulis, beliau mengatakan, “Sampean lo, kok apik tulisane.” (Kamu lo, kok bagus tulisannya). Namun aku cuek, mungkin karena aku sudah telanjur fokus kepada tulisanku, suara pelan tersebut tidak terlalu terdengar di daun telingaku. Aku tetap melanjutkan menulis. Aneh memang aku itu. Dampaknya, sampai sekarang pun meskipun aku sudah di jenjang kuliyah, Bu Jannah tetap mengenalku walaupun jarang sekali bertemu. Padahal jarang sekali guru yang hafal semua muridnya dikarenakan saking banyaknya. Sebuah kebanggaan tersendiri dapat dikenal oleh guruku MI.
Kelas satu semester ganjil ini, aku mendapatkan peringkat ke 4. Hal yang jauh diluar dugaanku. Apakah mungkin ini karena kejadian dirumahku sendiri. Suatu ketika, aku pernah ditanya oleh ibuku, dan aku menjawabnya. Kemudian spontanitas ibuku mengapresiasinya, beliau mengatakan bahwa jawabanku tepat sekali, dari situ muncul rasa bahagia dalam diri, ketika itu spontanitas pula aku mengkayal, enaknya kalau besok waktu dewasa menjadi orang yang cerdas, tak pernah bingung dngan kejadian-kejadian yang datang, karena sudah mempunyai jawaban-jawaban sendiri mengani hal itu. Dapat menanggapi semua hal. Sepertinya menjadi orang cerdas nikmat sekali. Mungkin dikarenakan hal ini, karena dalam sebuah teori psikologi dikatakan bahwasanya di alam ini terdapat energi-energi, ketika kita menginginkan sesuatu, energi-energi tersebut trtarik secara perlahan dan dapat menjadi kenyataan suatu saat. Namun hal ini cuma asumsiku saja. Karena menurutku cara belajarku biasa saja, belajar sendiri, ketika ada yang aku belum paham, barulah aku bertanya kepada orang tuaku. Bapakku membebaskanku, mau jadi apa aku nantinya, asalkan tidak berhenti di tengah perjalanan. Kemudian pada semseter genab aku mendapatkan peringkat 2 dan seterusnya. Aku ingat, kelas tiga adalah kelas pertama kali aku diajari bahasa Arab, dimulai dengan hafalan, seperti kitabun kitab, daftarun buku, mirsamun pensil, qolamun pena, dan seterusnya. Hafalan tersebut menggunakan sebuah irama yang memudahkan.
Di MI, kami mulai diajari ngaji kitab. Namun, dikarenakan di TPA aku juga sudah diajari ngaji kitab, jadinya waktu di MI aku sudah tidak kaget lagi dengan ngaji kitab. Bahkan, berdasarkan ngaji di TPA, hal ini sangat memudahkanku dalam ngaji kitab di MI. Banyak kitab yang sama-sama diajarkan baik di TPA maupun di MI, jadinya aku mengulang saja, enak sekali. Memang benar, sesuatu yang dapat membuat kita tenang adalah persiapan yang matang.
Di tambah lagi, beberapa tahun sekali di TPA diadakan liburan bersama ke tempat wisata, tujuannya untuk menyemangati murid-muridnya. Terkadang pula diadakan penampilan-penampilan yang menyelimuti setiap perjalanan. Diantara penampilan tersebut adalah para murid diajari tarian dengan diringi lagu qashidah. Pernah juga membuat sebuah video drama. Aku masih ingat sekali drama kecil tersebut. Berlatarkan tempat wisata bendungan di kediri. Tempat wisata yang berada disekitar area sungai berantas. Penampilan-penampilan tersebut dijadikan sebuah video yang bisa dilihat nantinya. Ada salah satu pamanku yang memfasilitasi kamera, ia juga sebagai editor yang handal. Membuat anak-anak yang menotonnya puas dan bangga melihat penampilan mereka sendiri.
Kemudian kalau ada even-even tertentu, para murid yang masih kecil-kecil diajari untuk tampil berpidato di depan umuum yang sering dinamai dengan Pedacil (Penampilan Dai Cilik), karena memang biasanya yang ditunjuk adalah anak-anak yang berumur kurang lebih kisaran 5 tahunan. Para orang tua pastinya sangat bangga dengan penampilan-penampilan anak mereka.
Kemudian ketika aku berada di kelas lima, kebun didepan rumahku diratakan dan dibangunlah sebuah mushola. Ketika mushola telah jadi, tempat ngajipun dipindah dari kediaman Mbah Wer ke mushola, mushola Al Khoiriyah namanya. Disitu pendidikan agama dilanjutkan. Dengan adanya mushola tersebut, fasilita pendidikan menjadi lebih memadai. Mushola dibangan atas dasar murid yang terus bertambah, akibatnya kediaman Mbah Wer menjadi kurang kondusif karena keterbatasan tempat.
Ketika bulan ramadhan datang, waktu ngaji dipindah dari yang asalnya waktu siang, diubah menjadi setelah maghrib. Ketika bulan ramadhan, ngaji bagi murid-murid yang masih kecil (masih MI) hanya Al Qur’an dikarenakan keterbatasan waktu. Setelah ngaji, semuanya sholat tarwih bersama-sama di mushola. Kemdian bagi mereka yang sudah MTs ke atas, ada ngaji kitab setelah selesai sholat tarwih. Kitab-kitab yang dikaji di bulan ramadhan biasanyakhatam di pertengahan bulan. Ketika khatam, biasanya Mbah Wer mengadakan slametan dengan makan rujak bersama.
Ketika aku kelas enam MI, ada acara sunatan masal gratis di dekatnya Sri Ratu, sebuah mall besar di kota Kediri. Aku beserta dua tean sekelasku didaftarkan disitu. Memang, sebenarnya jarak antara Sri Ratu dengan rumah kami cukup jauh, Sri Ratu yang terletak di Kota, sedangkan rumah kami berada di wilayah Kabupatennya, lebih tepatnya di wilayah pedesaannya. Wilayah yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor yang saling berdesakan. Sebelum acara dimulai, Bapakku mengajakku keliling Sri Ratu terlebih dahulu, meskipun hanya keliling tanpa menikmati suatu permainan apapun, hal tersebut membuatku senang, karena backgroundku yang anak desa, sangat jarang sekali melihat gedung bertingkat-tingkat yang besar dan luas. Bapakku memang orang yang cerdas, beliau mengajarkanku untuk menjadi orang yang kreatif dengan membebaskanku untuk memilih pendidikan yang kusukai. Disaat berada jauh dari rumah seperti ini, beliau selalu menunjukkan wajah tenangnya dalam semua kondisi, membuat aku, anaknya, merasa tenang kemanapun aku diajak. Salah satunya ketika aku diajak kesini, Sri Ratu. Beliau menemaniku dari jalan-jalan sampai acara inti, yaitu khitananku. Beliau menemani disamping tempatku berbaring untuk dikhitan.
Setelah itu aku kembali mengikuti pembelajaranku di MI. Waktu itu seusia khitan, adalah waktu-waktu yang sudah mendekati UN (Ujian Nasional). Setelah lulus UN, sekolahku mengadakan ziarah maqam wali lima sebagai refreshing. Salah satu hal yang luar biasa dalam hidupku. Kami berkunjug ke maqam para wali dan juga maqam para pendiri yayasan kami. Bermodalkan uang saku lima puluh ribu, aku berangkat. Perjalanan kami menggunakan bis pariwisata. Perjalanan ini merupakan puncak kenanganku dengan teman sekelas. Setelah kami berjuang bersama-sama melewati ujian UN dengan persiapannya mengikuti uijan-ujian Try Out berkali-kali. Kemudian kami berlibur bersama. Padahal bisa dibayangkan sebenarnya setelah liburan tersebut, selanjutnya kami mungkin akan berpisah-pisah memilih tempat belajar yang kami inginkan. Ziarah ini merupakan kenangan yang sangat melekat di ingatan kami. Masa diamana kebersamaan selama enam tahun kemungkinan akan berpisah disini. Agak menyedihkan memang, ditambah zaman itu di desaku belum menganal handphone. Tapi sudah ada sedikit teman-teman sekelasku yang mulai memiliki hp.
Bersambung...
(y)
BalasHapusterimakasih atas kunjungannya, komentar anda sangat berarti bagi perkembangan saya... terimakasih..
BalasHapus