Tepat keesokan harinya aku bertemu
dengannya pada malam hari selepas isya’. Aku berjalan dengan menggunakan kaos
oblong, sarung agak ngeper (agak longgar karena terlalu sering dipakai),
dan juga tak lupa kubawa notbook untuk memastikan aku tidak salah fd lagi. Aku
pergi ke tempat kam beremu kemarin.ketika tinggal beberapa langkah lagi,
“mas..” suara seorang laki-laki kudengar dari pinggir jalan. Kulihat sosok
laki-laki tersebut duduk di teras sebuah rumah kecil berhamparkan halaman kecil
yang berisi tumbuhan bambu kuning di sisi jalan masuk di depannya. Kutatap
lebih tajam sosok lelaki
yang berada dibawah sorotan lampu lima watt tersebut,
ternyata sosok tersebut adalah sosok penjual fd yang kucari. Aku menghampiri
rumah mungil itu dan duduk di kursi kayu tua usang namun masih bagus dan layak.
Teras tersebut berisikan dua kursi kayu biasa, dua kursi kayu panjang dan satu
meja sederhana, dua kursi terletak dikanan meja, sedang dua kursi panjang lain
di sebelah depan dan belakang meja. Tatanan meja kursi tersebut tepat berada di
kanan pintu masuk rumah mungil itu.
Aku
mengeluarkan fdku yang berisi 1/2 GB dan sekaligus membuka notbookku untuk
membuktikannya. Sosok agak gendut itu juga terkejut dan sedikit tertawa ketika
melihat bahwa kapasitas fd yang bertuliskan 16 GB itu ternyata isinya cuma
setengah GB. Lalu ia mengeluarkan beberapa fd yang ia jual dan memilih salah
satunya. Lalu ia menggaris bagian belakang bungus fd itu dengan sebuah pisau
untuk mengeluarkan fd yang ada di dalamnya. Ia memberikan contoh kepadaku
bagaimana cara untuk mengeluarkan fd dari bungkusnya yang benar tanpa merusak
hampir keseluruhan bungkusnya. Kuberikan senyuman untuk setiap perkataannya
karena aku tidak mau mengambil hati untuk kesalah fahaman tersebut yang
akibatnya menyiksa batinku sendiri. Fd baru tersebut dimasukkan ke notbookku.
Sembari tersenyum ia menyodorkan notbook itu kepadaku untuk menunjukkan
kapasitas fd baru tersebut. Kulihat, fd tersebut berukuran 14,9 GB, itulah yang
kucari. Lalu ia meminta maaf untuk kesalah fahaman kecil yang terjadi. Aku tidak langsung kembali ke Pesma, aku
masih duduk di teras tersebut. Tidak lama kemudian datanglah beberap orang,
kulihat salah satu mereka adalah teman seperjuanganku dulu, namanya Daud, lebih
akrab dipanggil kang Daud, ia berasal dari kota tahu kuning, tepatnya di
kecamatan Pare. Lalu kami berjabat tangan, baru kuketahui setelah itu bahwa
rumah mungil itu adalah rumah UKM Teater milik Fakultas Tarbiyah. Aku senang
dapat bertemu teman seperjuanganku dulu, dulu kami ngaji di Pondok Belungsari, Belung,
Kediri.Ia memakai kaos lengan pendek dengan celana lepis dengan panangnya
sampai bawah lutut dengan tanpa memakai alas kaki. Kulihat ia sudah dapat
beradaptasi dengan lingkungannya, namun peringainya tetap ramah dan kalem
seperti yang dulu aku kenal. Setelah kurasa cukup, aku pamit untuk kembali ke
Pesma.
Setelah
mengkopi berkas ke fdku, aku mampir di kamar Syarif untuk menjadikan berkas pdf
menjadi lembaran siap baca. Kemudian dengan agak tergesa-gesa aku berangkat
meuju blok M depan kantor rektorat. Sesampainya di blok M, ternyata ada yag
lebih terlambat dari pada aku. “Yah, Nggak papa. lebih baik menunggu
dari pada ditunggu, meskipun sebenarnya aku lebih banyak ditunggu. hehehe”
Gumamku dalam hati sambil tersenyum.
Ketika
semua sudah berkumpul, kami berangkat ke tempat Mas Yaqin dengan menyewa dua
angkot, satu untuk putri, dan satu lagi untuk putra. Di jalan, suasana angkot
diramaikan dengan suara-suara kami yang masing-masing sibuk menghafalkan
ayat-ayat yang telah ditentukan. Mungkin suara kami sampai mengganggu pengguna
jalan lain, namun kami bersikap apatis atau acuh tak acuh kepada semua yang
kami lewati. Memang sih, itu egois namanya, namun orang Jawa berkata, “Durung
tenanan sinaune wong lek durung gendengi.” Maksudnya adalah, seseorang belum
dikatakan belajar dengan sungguh-sungguh apabila belum menggilai apa yang
dipelajarinya tersebut. Semisal, bila aku sedang mempelajari sebuah puisi,
setiap hari mempelajari puisi, mimpipun mimpi belajar puisi atau berpuisi,
sampai-sampai aku seperti tergila-gila dangan puisi. Maka sikapku tersebut baru
bisa disebut belajar dengan sungguh-sungguh. Persis seperti yang kami lakuakan
searang, kami tidak peduli apakah orang-orang berkata kami sok pintar, sok
alim, tau sok apalah, yang penting kami belajar. Meski sebenarnya belajarku
karena kepepet waktu seperti biasanya.
Sesamainya
di tempat Mas Yaqin, kami langsung disambut oleh beliau. Tempat tinggalnya
adalah sebuah masjid yang ada kamar-kamar untuk dtinggali diatasnya. Kami
dipandu beliau menuju masjid tersebut. Kami melepaskan sendal mangikuti tradisi
kami di Pare dulu, yaitu dengan membalikkan sendal kearah luar dan
merapatkannya sehingga terlihat rapi dan enak dipandang. Lalu kami mingikuti
beliau menuju sebuah ruangan dilantai tiga yang memiliki pintu masu berupa
pintu geser dari kayu. Kami terkagum-kagum dengan ruangan tersebut, luas,
bersih, putih, beralaskan karpet tebal dan lembut, di pinggir ruangan terdapat
meja ngaji kecil yang banyak sekali, ada LCD Proyektor yang terletak di depan.
Ruangan sebesr empat kali lima belas meter tersebut panjangnya menghadap ke
arah utara dan selatan, bagian depan di sebelah utara, sedang pintu masuknya
berada di sebelah timur agak depan. Di bangunan yang entah berapa lantai itu
ami melaksanakan tes hafalan ayat. Lantai pertama bangunan itu hanya untuk
parkir kendaraaan. Lantai kedua sebagai tempat sholat. Lantai tiga memiliki
beberapa kamar untuk menampung beberapa orang. Lantai empat aku tidak
mengetahuinya, lantai lima apakah ada atau tidak aku juga tidak tahu. Bangunan
itu benar-benar unik, kelihatan mungil dari luar, namun ketika di dalam, luar
biasa.
Mas
Yaqin telah maju ke depan, kami dipilih acak untuk maju kedepan. Lembaran yang
kupegang sebanyak sebanyak lima lembar. Kalau masalah hafalan, aku kalah dengan
teman-temanku, apalagi masalah ayat, hafalanku tergolong rendah. Kulihat dari
teman-teman yang maju sebelumnya, beliau meminta kertas hafalan kami terlebih
dahulu, lalu memilih tiga bagian saja yang di tes dari keseluruhan ayat,
keseluruhan ayatnya berjumlah kira-kira 70-an ayat. Sedangkan satu bagian ada
yang terdiri dari satu ayat, dua ayat, dan juga ada yang lebih. Lalu aku
mengatur siasat untuk majuku nanti, aku tahu aku belum hafal semuanya, lalu aku
menghafalkan minimal disetiap lembar ada yang kuhafal. Karena kemungkinan Mas
Yaqin akan memberikan setiap bagian di lembar yang berbeda.
Menurutku,
aku telah menunggu begitu lama untuk dipanggil. Aku menghabiskan waktu dengan
membaca cerita seribu satu malam yang berbentuk pdf di notbookku. Sebuah dongen
lama yang berasal dari Arab yang telah dterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Teks aslinya berbahsa Arab kuno. Namun kebanyakan penerjemah yang ada
menerjemahkan seenak mereka saja tanpa mengetahui keindahan sastra bahasa Arab.
Bahasa Arab tidak bisa diterjemahkan sebagaimana lafadzanya begitu saja, itulah
sastra Arab.
Kisah
seribu satu malam merupakan cerita yang memuat berbagai cerita. Diceritakan
bahwa pada zaman dahulu kala hiduplah dua raja yang menguasai daerah India da
Indocina. Raja pertama namanya Syahrayar dan adiknya bernama Syahzaman.
Kakaknya adalah raja sah negeri itu, lalu ia memberikan salah satu daerah
kekuasaanya kepada adiknya untuk dikuasai, daerah tersebut adalah Samarkand.
Akhirnya kedua raja saudar tersebut terpisah jarak.
Setelah
beberapa waktu telah berlalu, Syahrayar merasa rindu dengan adiknya. Ia
mengutus seorang wazir untuk mengundang adiknya ke istananya. Wazir tersebut
pergi e Samarkand sendirian. Syahzaman menyambut baik wazir yang diutus oleh
kakaknya. Syahzaman merasa senang dan mau menghadiri undangan kakaknya. Ia
menyembelihkan beberapa kambing dan menempatkan disebuah tenda di luar kota
serta mencukupi kebutuhannya. Sementara itu Syahaman bersiap-siap untuk
berangkat ke istana kakaknya. Ia melakukan persiapan selama sepuluh hari
lamanya. Kemudian ia menyempatkan untuk menginap selama satu hari di tenda
wazir utusan kakaknya. Syahzaman telah memerintahakan salah seorang wazirnya
untuk menggantikannya selama kepergiannya.
Ketika
tengah malam tiba, Syahzaman pergi menuju istana sendirian untuk berpamitan
dengan istrinya. Namun naasnya, ketik ia sampai di kamarnya, ia melihat
istrinya tengah tertidur dalam pelukan seorang koki istananya. Ia sangat kecewa
karena baru sehari ia pergi tapi ternyata istrinya sudah melakukan hal seperti
ini. Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil pedangnya dan membunuh dua orang
yang tengah tertidur pulas di ranjangnya. Lalu ia menyeret dan membuang mayat
mereka berdua dari atas istana ke dalam sebuah parit. Kemudian ia kembali ke
tenda sang wazir degan hati yang bersedih dan kecewa, ia langsung memerintahkan
untuk berangkat ke istana kakaknya waktu itu juga.
Gemuruh
suara generang menandakan raja Syahzaman dan sang wazir memulai
keberangkatannya. Syahzaman berangkat dengan hati yang panas karena dihianati
istrinya. Dengan suasana hati yang kacau balau membuat mereka berangakat dengan
tergesa-gesa siang dan malam melalui beberapa gurun dan juga hutan belantara.
Rasa sakit tergores cinta membuatnya tak dapat berdiri dengan tegap. Hatinya
berjalan tanpa arah karena telah kehilangan tujuan yang dicari. Pepatah
mengatakan sakit hati hanya disembuhkan dengan hati lain. Keindahan alam yang
mereka lewati tak sanggup menghibur hati yang sedang menangis.
Perjalanan
selama beberapa hari telah mencapai tempat yang dituju. Syahrayar menyambut
adiknya dengan persaan bahagia. Syahrayar memeluk adinya dan memperlakukannya
dengan penuh kemewahan. Ia menawarkan tempat tinggal di dalam istana yang telah
dibangunnya. Ia telah membngun dua istana yang menjulang tinggi dan indah di
tamannya, satu stana untuk para tamu, dan satu lagi untuk para wanita dan
seluruh anggota istana. Ia memberikan istana tamu kepada adiknya untuk
ditinggali. Sebelumnya istana tersebut memang telah dipersiapkan untuk adiknya,
semua truangan telah dibersihkan, jendela-jendela yng mengarah ke taman dibuka
semua. Setiap malam Syahzaman menempatinya, sedang pada waktu siang ia pergi ke
istana kakaknya. Setiap malam dalam kesendirian ia selalu meratapi nasibnya. Ia
merasa tidak ada lagi yang lebih tersiksa dan merasakan nasib seburuk itu.
Keadaan jiwanya tersebut mempengaruhi perilakunya keseharian. Selera makannya
menghilang, mukanya sering pucat, dan kesehatannya juga menurun. Ia mengabaikan
semua yang telah disiapkan dihadapannya.
Syahrayar
yang melihat kondisi adiknya yang semakin hari semakin memburuk, ia mengira
bahwa adiknya sangat rindu dengan negri serta keluarganya. Syahrayar menyiapkan
berbagai hadiah sebelum kepulangan adiknya selama satu bulan penuh. Lalu ia
mengajak adiknya untuk berburu kijang penjelajah selama sepuluh hari kemudian
mempersiapkan kepulangan adiknya. Namun adiknya menolak karena suasana hatinya
tak kunjung membaik. Syahrayar tidak mau memaksa adiknya yang sedang kacau. Ia
pergi berburu bersama pengawal dan pelayannya ke hutan.
Sementara
itu Syahzaman kembali ke istana tamu sendirian. Ia menghadap ke jendela yang
menghadap ke taman sembari meratapi nasib malangnya. Ia membayangkan istrinya
dan yang telah dilakukan istrinya. Ia memandangi pepohonan hijau di taman dari
atas istana. Ia memandang ke langit, kemudian memandang ke arah pintu pribadi
istana kakaknya yang terbuka. Dari sana keluarlah istri kakaknya yang diikuti
dua puluh budak perempuan yang berjalan dengan angkuh, sepuluh budak berkulit
putih dan sepuluh budak lain berkulit hitam. Syahzaman melihat mereka secara
sembunyi-sembunyi. Mereka berjalan terus sampai di bawah jendela Syahzaman.
Mereka tida melihat ke jendela Syahzaman karena mengira bahwa adik raja mereka
mengikuti raja mereka berburu kijang di hutan. Mereka membuka pakaian mereka
dan ternyata mereka adalah sepulu gadis budak dan sepuluh budak laki-laki. Mereka
semua berzina disitu, sedang istri raja memanggil seseorang, “Mas’ud,
Mas’ud...” Kemudian munculah seorang budak hitam yang melompat dari atas pohon
dan bergegas ke arah permaisuri raja. Akhirnya mereka semua berzina zampai
tengah hari, kemudian mereka membersihkan diri mereka dan berpakaian seperti
semula. Mereka kembali ke istana dan mengunci pintu, sedang Mas’ud kembali
melompati tembok taman kemudian menghilang.
Ia
membayangkan kejadian yang baru saja dilihatnya. Kakaknya, seorang yang mampu
menguasai dunia namun tidak mampu menyelamatkan istrinya dan selir-selirnya,
mereka berzina dengan budak-budak hitam. Nasib buruk yang menimpa kakaknya jauh
lebih buruk dari pada nasib buruk yang menimpanya. Kesialan yang menimpany
ternyata sangat kecil sekali di banding kesialan kakaknya. Ia menyalahkan dunia
yang memberikan masalah kepada manusia dan bahka settiap manusia tidak dapat
menolak masalah-masalah yang menimpa mereka. Ia mulai menemukan titik terang
dari kegelapan dunia yang dialaminya. Malam harinya ia makan dengan lahap dan
membuat kesehatan tubunya mulai membaik. Wajahnya sudah kembali ceria seperti
sedia kala. Selama sepuluh hari sepeninggalan kakaknya, kebahagiannya memancar
dari perilakunya.
Ketika
kakaknya pulang, ia menyambutnya dengan kebahagianan dan penuh perhatian.
Kakaknya sangat merindukan Syahzaman dan menceritakan kerinduannya kepada
adiknya. Syahzaman berterima kasih pada kakaknya dan bercengkrama dengannya.
Malam harinya mereka makan malam bersama, Syahzaman makan dengan lahap dan riang
gembira. Syahrayar menyadari perbedaan yang tampak dari adiknya, adinya telah
kembali ceria, wajahnya tidak lagi pucat, berat badannya bertambah seperti
semula, ia telah kembali menjadi dirinya lagi dan bahkan lebih.
Suatu
ketika Syahrayar bertanya kepada kakaknya perihal segala sesuatu yang
membuatknya sedih dan membuatnya senang. Syahzaman menjawab bahwa ia tidak bisa
mengatakan sebab kenpa ia menjadi senang. Syahrayar dibakar oleh api penasaran
terhadap hal-hal mengenai adiknya. Akhirnya kakanya meminta Syahzaman untuk
setidaknya ia menceritakan tentang sebab kesedihannya. Lalu Syahzaman
menceritakan semua kejadian tentang istrinya saat keberangkatannya ke istana
kakaknya dari awal sampai akhir. Ia menegaskan bahwa ketika ia mengingat
kembali tentang istrinya, ia menjadi gelisah dan risau sehingga menyebabkan
kesehatan dan berat badannya menurun dari hari ke hari. Syahrayar menggelengkan
kepala ketika mendengarkan cerita adiknya. Ia mengatakan bahwa kjadian seperti
itu belum pernah dialami oleh seseorang, adiknya harus bersyukur karena telah
membunuh istrinya, ia mendoakan adiknya agar dilindungi Tuhan dari hal-hal
semacam itu. Ia menambah bahwa seumpama saja ia yang mengalami kejadian itu,
mungkin ia akan membunuh seratis atau bahkan seribu wanita, ia pasti menjadi
marah besar dan menjadi gila.
Kemudian
ia bertanya lagi mengenai penyebab kenapa ketika ia pergi berburu, adiknya
dapat menjadi bahagia kembali. Syahzaman meminta izin kepada kakaknya untuk
tidak menceritakan penyebabnya. Namun kakaknya tetap bersikeras agar adiknya
mencritakan segala sesuatunya yang telah membuatnya bahagia. Akhirnya Syahzaman
menceritakan semuanya mengenai istri kakaknya dan juga budak-budaknya, hal
itulah yang membuatnya menyadari bahwa masih ada yang lebih menderita dari pada
dirinya, kebahagiannya menjadi kembali dan bahkan lebih. Kakaknya yang seorang
penguasa besar telah dihianati oleh selir-selir dan bahkan istrinya sendiri.
Mendengar itu semua, muka Syahrayar memerah, ia menjadi marah besar, ia tidak
mempercayai perkataan adiknya sampai ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Lalu Syahzaman menyusun rencana untuk kakaknya, dan kakaknya menyetujuinya.
Lalau
malam itu Syahrayar menginap di tempat adiknya. Keesokan harinya ketika fajar
menyingsing, mereka berdua berangkat keluar kota untuk berkemah di tenda yang
telah dipersiapkan sebelumnya, ia memerintahkan kepala istana agar menggantikannya
dan juga tidak seorangpun boleh memasuki kota selama tiga hari. Kepala istana
juga telah disiapi tentara untuk mengawasi kota. Kemudian ia dan adiknya
menyamar dan pergi ke istana adiknya pada waktu malam hari untuk bermalam
disana. Pagi harinya, mereka melihat ke jendela yang mengarah ke taman istana.
Mereka berbincang-bincang disana. Ketika mereka maih terjaga, mereka melihat ke
pintu probadi istana kakaknya, mereka berdua melihat sebagaimana yang dilihat
oleh Syahzaman sendiri ketika Syahrayar pergi berburu.
Ketika
melihat apa yang dilakukan oleh istrinya dan juga budak-budaknya, ia menjadi
marah besar. Ketika ia turun dari istana ia mengatakan bahwa, tidak seorangpun
selamat dari sunia ini, hal seburuk itu telah terjadi di kerajaannya sendiri
dan bahkan istananya sendiri, dunia akan musnah, kehidupan akan musnah, hal
tersebut merupakan bencana yang sangat besar. Kemudian mereka kembali ke tenda
mereka diluar kota. Semua pengawal dan pelayan yang ikut dengannya diberikan
hadiah dan disuruh pulang. Syahzaman kembali ke istana dan duduk di
dinggasananya. Ia memerintahkan sang wazir untuk memanggil dan membunuh
istrinya. Kemudian ia sendiri mengambil pedangnya dan membunuh semua wanita
yang ada di istananya dan menggantinya dengan wanita yang lain. Ia bersumpah
akan menikahi wanita hanya untuk satu malam kemudian membunuh wanita tersebut
pada pagi harinya untuk menyelamatkannya dari kejahatan dan kelicikan wanita.
Ia akan menikah dan membunuh wanita setiap harinya. Kepercayaannya terhadap
wanita telah hilang, ia menggap semua wanita di dunia ini sama saja. Kemudian
ia menyiapkan perbekalan dan juga berbagai hadiah untuk kepulangan adiknya.
Akhirya adiknya berpamitan kepada kakaknya dan kembali menuju kerajanya di Samarkand.
Daam
riwayat lain diceritaan bahwa, ketika Syahrayar melihat kejadian yang
terjadi di istananya, ia lalu mengajak adiknya untuk pergi, kematianlebih baik
mereka dapatkan dari pada mengalami kejadian yang sangat buruk itu. Syahzaman
menuruti ajakan kakaknya. Melalui sebuah pintu rahasia, kedua orang kakak
beradik itu akhirnya pergi meninggalkan istana. Mereka terus berjalan mengikuti
langkah kaki mereka sampai akhirnya mereka tiba di sebatang pohon yang tumbuh
di tengah sabana. Kebetulan, didekat pohon itu terdapat sebuah mata air yang
letaknya berdekatan dengan bibir pantai. Mereka pun minum dari mata air
tersebut dan kemudian duduk untuk melepas lelah. Saat tengah hari, tiba-tiba
mereka melihat di tengah lautan muncul sesosok makhluk hitam yang tinggi
menjulang ke angkasa. Setelah tegak berdiri, sosok hitam itu lalu menghampiri
tempat dimana mereka sedang beristirahat. Melihat sosok hitam itu mendekat,
mereka merasa amat ketakutan dan segera berusaha memanjat pohon yang menjadi
tempat mereka berteduh. Dari atas pohon yang mereka panjat itu, mereka dapat
melihat apa sebenarnya sosok besar hitam yang tadi muncul dari tengah laut.
Ternyata, yang menghampiri Syahrayar
dan Syahzaman adalah sesosok jin yang tubuhnya tinggi besar dan membawa
sebuah peti di atas kepalanya. Jin itu terus berjalan menghampiri pohon di mana
kedua orang kakak beradik itu bersembunyi, dan kemudian duduk di bawahnya.
Setelah duduk, jin itu menurunkan peti yang dibawa di atas kepalanya dan
mengeluarkan sebuah kotak yang tersimpan di dalamnya. la lalu membuka kotak
itu. Ternyata di dalam kotak kecil itu terdapat seorang anak gadis yang
tubuhnya memancarkan sinar layaknya matahari. Sambil memandangi anak gadis yang
disembunyikan di dalam kotak yang dipegangnya, jin itu berkata, "Hai gadis
yang kuculik pada malam pengantin, aku akan tidur sejenak." Jin itu
kemudian meletakkan kepalanya di atas bahu gadis tersebut dan langsung
tertidur.
Setelah jin yang menculiknya
tertidur, gadis yang malang itu mendongakkan kepalanya ke atas pohon untuk
melihat siapa gerangan yang bersembunyi di atas sana. Di atas pohon dia melihat
kedua orang yang sedang bersembunyi. Dengan amat hati-hati, gadis itu lalu
mengangkat kepala jin yang bersandar di bahunya dan meletakkannya di atas
tanah. Kemudian ia berdiri di bawah pohon. Di bawah pohon, gadis itu
menggerak-gerakkan tangannya untuk memberi isyarat kepada kedua orang yang
sedang bersembunyi di atas pohon agar segera turun dan tidak perlu takut kepada
jin itu. Mengetahui bahwa si jin telah terlelap, Syahrayar dan Syahzaman
akhirnya memberanikan diri untuk memenuhi panggilan gadis tersebut dan turun
dari atas pohon untuk menghampiri gadis yang memanggil mereka.
Ketika mereka berdua telah sampai di
dekatnya, gadis itu mengeluarkan sebuah kantung dari dalam sakunya. Kemudian
dari dalam kantung itu, ia mengeluarkan seutas tali yang terkait padanya lima
ratus tujuh puluh cincin. Kemudian gadis itu berkata bahwa, apakah mereka
berdua mengetahui benda apa yang sedang dipegang gadis tersebut. Mereka
menjawab tidak tahu. Si gadis menerangkan bahwasanya orang-orang menyerahkan
barang mereka kepada si gadis begitu saja dikarenakan kekuatan jin itu. Kemudian
si gadis meminta cincin pula kepada Syahrayar dan Syahzaman. Syahrayar dan
Syahzaman kemudian memberikan cincin yang mereka kenakan kepada si gadis. Si
gadis lalu berkata, "Sebenarnya jin ini telah menculikku pada malam
pernikahanku. Setelah aku diculik, ia meletakkanku di dalam sebuah kotak kecil
yang dia simpan di dalam sebuah peti yang dikunci dengan menggunakan tujuh buah
kunci. Dan sesudah itu, dia meletakkan peti di mana aku terkunci di dalamnya di
dasar lautan yang berombak besar. Rupanya jin itu tidak mengetahui bahwa jika
seorang perempuan menginginkan sesuatu, maka dia tidak akan pernah
menyerah." Dengan kepala yang dipenuhi seribu pertanyaan, kedua orang
kakak beradik itu akhirnya kembali pulang ke istana Raja Syahrayar dan
selanjutnya Syahrayar membunuh semua
wanita yang ada istananya serta menggantinya dengan wanita lain.
Setelah
kepulangan adiknya, Syahrayar memerintahkan sang wazir untuk mencarikannya
wanita untuk dinikahi. Dimulai dari gadis-gadis putri para pejabat, tentara,
dan juga semua gadis penduduknya. Semua bapak dan ibu menjadi bersedih atas
nasib yang menimpa anak-anak mereka, mereka berdoa kepada sang Maha Kuasa agar
kengerian yang terjad di negeri mereka segera berakhir.
Beberapa
waktu telah berlalu, gadis di negeri itu telah habis. Ketika sang raja minta
dicarikan wanita kepada wazir untuk dinikahi, si wazir begitu kebingungan. Si
wazir memiliki dua orang anak perempuan, yang pertama namanya Syarazad dan yang
kedua bernama Dunyazad. Syahrazad merupakan wanita yang suka membaca buku-buku
kesuastraan, filsafat dan juga buku-buku tentang ilmu penobatan. Ia juga telah
hafal puisi-puisi, catatan-catatan sejarah, dan juga hafal perkataan-perkatan dan
pribahasa-pribahasa orang-orang bijak dan para ulama’. Syahrazad adalah gadis
yang cerdas, berpengetahuan luas, bijaksana, dan juga berbudi pekerti baik dan
ramah.
Melihat
ayahnya yang tengah kebingungan dan egeri yang telah menderita itu, Syahrazad
mengajukan diri kepada ayahnya untuk dinikahi oleh sang raja. Namun ayahnya
menentang keras, kebanyakan gadis lari dari permintaan sang raja, namun
putrinya malah mengajukan diri untuk memenuhi permintaan raja. Syahrazad telah
siap menyelamatkan orang-orang di negerinya ataupun akan mati seperti
gadis-gadis lain sebelumnya. Si wazir tetap tidak rela anaknya dinikahi oleh
sang Raja, meskipun sebenarnya ia sendiri juga tidak punya pilihan lain karena
tidak ada wanita lain lagi. Ia mengatakan kepada anaknya bahwa bila ia tidak
memperdulikan akibat, maka dunia akan memusuhinya, sebagaimana dalam cerita sapi
dan keledai.
Dahulu
kala hiduplah seorang pedagang yang makmur dan kaya raya di daerah pedalaman yang
bekerja di ladang. Dia memiliki banyak hewan ternak di ladangnya. Ia
mempekerjakan banyak orang di ladangnya.
Ia memiliki seorang istri dan beberapa anak. Pedagang sekaligus peternak
ini mempunyai kemampuan untuk berbicara dengan hewan, namun ia memiliki
pantangan tidak boleh menceritakannya kepada orang lain. Kalau ia melanggar
pantangannya, ia akan mati.
Suatu
ketika, si pedagang bersama keluarganya sedang bercengkrama. Ia pedagang
memandangi sapi dan keledai yang diikat didekat bak makanan. Pedagang itu
mendengar perbincangan antara sapi dan keledai. Si sapi mengeluh dengan
keadaanya, ia selalu dipekerjakan untuk membajak sawah dari pagi hari sampai
malam hari, pinggangnya koyak karena dicambuki,lehernya mengelupas karena
memikul gagang bajak yang besar dan berat. Namun ketika ia kembali ke kandang,
ia di tempatkan di tempat kotor penuh kotoran dan kencing, diberikan air minum
keruh dan juga makanan buncis. Sedangkan keledai di tempatkan di tempat yang
bersih, air minum yang jernih, dan juga hanya ditunggangi si pedagang sementara
lalu istirahat lagi. Keledai lebih banyak bersantai di kandangnya menikmati
makanan yang telah disiapkan untuknya. Keledai memberikan tips untuknya, yaitu
dengan tidak memakan makanan yang telah disiapkan untuknya melainkan hanya
membauinya saja, kemudian lebih banyak berbaring dari pada menyepak-nyepak
tanah dan menyeruduk. Perutnya
mengembung dan kakinya terangkat ke atas.
Pagi
harinya tukang bajak datang ke tempat pedagang. Ia langsung pergi menghampiri
kandang sapi. Ia menari si sapi, si sapi mengikuti nasehat keledai, ia mundur
ke tempat jerami kering. Tukang bajak mencambuk tubuhnya berkali-kali, si sapi
menahannya sampai jatuh, sapi bangkit lagi dan jatuh lagi. Hal ini terus
berlangsung sampai malam tiba. Akhirnya tukang bajak kembali pulang. Sebelum
pulang, ia memenuhi tempat makan sapi dengan buncis dan makanan ternak.
Keesokan harinya tukang bajak kembali ke kandang sapi. Namun ia mendapati
tempat makanan tetap utuh sebagaiamana ia meninggalkannya kemarin. Lalu pergi
ke rumah pedagang utuk mengadukan perihal sapinya. Pedagang yang telah
mengetahui semuanya menyuruh tukang bajak untuk pergi ke kandang keledai, ia
menyuruh agar tukang bajak menggunakan keledai untuk menggantikan sapi
menyelesaikan pekerjaanya, sebelum pekerjaan sapi selesai, maka keledai tetap
tidak boleh diistirahatkan. Si keledai dipekerjakan sampai malam hari, ia
hampir tidak bisa berjalan lagi, pinggulnya koyak, lehernya mengelupas. Ia
kemudian duduk dan berfikir bagaimana agar pekerjaan lamanya kembali, ia tidak
mau salah perhitungan lagi.
Si
wazir tidak mau anak permpuannya mati karena salah perhitungan sebagaimana si
keledai. Ia tak mau anak yang sangat disayanginya mengundang bahaya bagi dirinya
sendiri. Ia bersikeras melindungi anaknya dari kematian, atau ia sendiri akn
melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan pedagang terhadap istrinya
sendiri. Cerita ini merupakan sambungan dari cerita sapi dan keledai, berikut
ini ceritanya.
Setelah
peristiwa yang terjadi antara sapi dan keledai, pedagang bersama istrinya pergi
ke kandang pada malam bulan purnama. Pedagang mendengar percakapan antara
keledai dan sapi.
Keledai :“Apa yang akan kamu
lakukan jika besok tukang bajak mendatangimu dan
membawakanmu makanan?”
Sapi :“Apa yang akan aku
lakukan bila bukan menuruti nasehatmu dan
menjalankannya? Jika ia membawakanku
makanan, aku akan berpura-pura sakit,
berbaring, dan menggembungkan perutku.”
Keledai : (keledai
menggelengkan kepalanya). “Jangan lakukan itu. Tahukah engkau
wahai sapi, apa yang kudengar dari perkataan
majikan kita, pedagang kepada
tukang bajak?”
Sapi :“Apa?”
Keledai :“Pedagang mengatakan
kepada tukang bajak bahwa, jika si sapi tidak mau
memakan makanannya, tukang bajak
diperintahkan untuk memanggil tukang jagal
untuk menyembelih dan menguliti sapi dan
menjadikan kulitnya untuk keset. Aku
mengkhawatirkanmu, turutilah nasehat baikku,
jika tukang bajak membawakanmu
makanan, makanlah makanan itu dan jangan
tampak loyo. Jika engkau tidak
makan, maka mereka akan menyembelihmu dan mengulitimu.”
Mendengar
perbincangan mereka, pedagang tertawa terbahk-bahak dengan keras. Istrinya
mendengar suaminya yang secara tiba-tiba tertawa keras langsung tersinggung, ia
mengira suaminya menertawakannya. Namun pedagang mengatakan kepada istrinya
kalau ia tidak menertawakannya. Si istri menjadi penasaran, ia bertanya kepada
suaminya apa yang membuatnya tertawa begitu keras, pedagang tidak mau
menceritakannya. Ketika si istri bertanya apa yang suaminya takutkan, pedagang
menjawab bahwa ia takut mati bila menjawb pertanyaan istrinya. Si istri tetap
bersikeras, ia tidak percaya alasan suaminya, ia berjani akan meniggalkannya
bila suaminya tidak menceritakan penyebabnya tertawa. Setelah mengatakan itu si
istri menangis dan berlari pulang kerumahnya, ia menangis sampai pagi harinya.
Pagi
harinya pedagang mencoba untuk menenangkan istrinya, namun ternyata istrinya
tetap ingin tahu alasan kenapa suaminya tertawa. Ia tetap bersikeras ingin
tahu, ia tetap ingin tahu meskipun suaminya harus mati setalah
memberitahukannya. Mendengar perkataan itu s pedagang pasrah. Memerintahkan si
istri untuk memanggil semua keluarganya. Pedagang memberitahukan kepada
keluarganya bahwa ia akan mati, ia mengataknnya kepada semua orang,
pelayan-pelayannya, pekerja-pekerjanya, juga sekaligus memanggil ahli hukum
waris dan menulis wasiat. Semua orang berkabung (bersedih karena orang yang
meninggal) atas kabar akan matinya si pedagang. Orang-orang mencoba untuk
merayu si istri, namun si istri tetap bersiteguh atas pendiriannya.
Wazir
melanjutkan ceritanya, dikisahkan bahwa si pedagang juga memelihara lima puluh
ayam betina dan satu ayam jantan. Si pedagang merasa sedih karena ia akan
meninggalkan semua keluarganya. Dia merenung dan bersiap-siap untuk
mengungkapkan rahasianya. Kemudian secara tidak sengaja ia mendengarkan
percakapan anjing dan ayam jantan. Si ayam jantan sedang mengepak-ngepakkan
sayapnya sambil bertengger di atas tubuh ayam betina, setelah selesai melompat
lagi di atas ayam betina lain.
Anjing : “Tidak tahu malu,
ayam jantan jelek. Apa engkau tidak tahu malu melakukan hal
semacam itu di hari
seperti ini.”
Ayam : “Apa istimewanya hari
ini?”
Anjing : “Tidakkah engkau tahu
majikan kita dan sahabat kita sedang berkabung? Istrinya
menuntut dia untuk
menceritakan rahasianya, dan jika ia menceritakan rahasianya
ia aka mati. Ia sedang
dalam berada dalam kesulitan ini, ia sedang bersiap-siap
mengungkapkan rahasia
bahwa ia dapat memahami bahasa binatang kepada
istrinya, dan kami semua
sedang berkabung karenanya, sedangkan engkau asyik
mengepak-ngepakkan
sayapmu dan melompat di atas punggung ayam betina satu
ke ayam betina lain. Apakah
engkau tidak malu?”
Ayam : “Kalian bodoh, kalian
gila! Majikan kita menyatakan dirinya bijaksana. Tetapi
ternyata dia tolol. Ia
hanya memiliki satu orang istri dan tidak tahu bagaimana cara
menanganinya.”
Mendengar
hal itu si pedagang semakin tertarik untuk mendengarkan percakapan antara
anjing dan ayam jantannnya.
Anjing : “Apa yang seharusnya
dilalukan majikan kita terhadap istrinya?”
Ayam : “Seharusnya ia
mengambil sebatang kayu yang besar, mendorong istrinya ke kamar,
mengunci pintu, dan
menindihkan kayu tersebut ke atas tubuh istrinya. Kemudian
memukulinya tanpa belas
kasihan sampai ia berkata, ‘Aku tidak lagi menginginkan
engkau menceritakan kepadaku atau
menjelaskan padaku apapun juga.’ Ia harus
memukulinya terus sampai
ia kapok seumur hidupnya dan wanita itu tidak akan
menentangnya lagi dalam
hal apapun. Jika ia melakukan hal ini dia akan tetap
hidup, ia akan hidup
dalam perdamaian dan tidak perlu besedih lagi. Namun ia
tidak tahu bagaimana melakukan hal ini.”
Mendengar
Penuturan ayam jantan terhadap anjing, si pedagang langsung bangun dan keluar
mencari sebatang kayu yang besar. Ia mendorong istrinya ke kamar. Pedagang itu
memukuli istrinya sampai istrinya berteriak, “Tidak.. Tidak... Aku tidak ingin
mengetahui apapun lagi. Tinggalkan aku sendiri, tinggalkan aku sendiri. Aku
tidak ingin mengetahui apapun.” Ia memuuli istrinya sampai kelelahan, lalu ia
membuka pintu kamar. Istrinya keluar dengan penuh penyesalan, si pedagang
belajar menguasai keadaan. Malam itu semuo orang menjadi bahagia, malam
berkabung menjadi pesta kebahagiaan.
Wazir
berkata kepada anaknya bahwa bila ia tetap bersikeras ingin dinikahi oleh sang
raja ia akan bernasib sama dengan si istri pedagang. Namun Syahrazad menekankan
bahwa cerita-cerita semacam itu tidk akan mengubah keputusannya yang sudah
bulat. Jika ayahnya tetap melarangnya, ia kan menceritakan banyak cerita juga
kepada ayahnya yang dapat menguatkan keputusannya. Ia akan pergi sendiri ke
istana secara sembunyi-sembunyi dan mengatakan kepada sang raja bahwa ayahnya
menolak membawanya kepada sang raja. Si wazir bertanya untuk terakhir kalinya,
“Haruskah engkau melakukan itu?” Syahrazad menjawab, “Ya, aku harus.”
Akhirnya
si wazir pergi menuu istana raja dengan lemas. Kemudian ia menceritakan kepada
sang raja tentang anak pertamanya. Sang raja bertanya kepadanya, apakah ia
benar-benar akan menyerahkan anaknya kepadanya padahal ia tahu bahwa bila ia
menyerahkan putrinya kepadanya, keesokan harinya ia akan memerintahkannya untuk
membunuh putrinya sendiri, dan jika ia tidak mau melakukannya maka sang raja juga
akan mebunuhnya. Wazir menjelasakan bahwa ia telah membujuk putrinya dengan
sekuat tenaga, namun putrinya tetap bersikeras untuk dinikahkan dengan sang
raja. Sang raja mengiyakan pendapat putri wazirnya. Ia memerintahkan wazir
untuk menyiapkan anaknya dan membawa anaknya ke istana malam itu juga.
Wazir
lagsung pulang dan menyampaikan pesan sang raja kepada putrinya. Ia berdoa
kepada Tuhan agar tida dipisahkan dengan putrinya. Syahrazad lalu menyiapkan
segala sesuatunya. Setelah ia selesai menyiapakan semua, ia pergi menghampiri
adiknya, Dunyazad. Syahrazad berkata kepada adiknya, “Dengarkan baik-baik apa
yang akan aku katakan kepadamu dik. Aku akan mengutus seseorang untuk
menjemputmu. Jika engkau melihat sang raja sudah selesai denganku, mintalah
kepadaku untuk diceritakan sebuah kisah sebelum tidur. Setelah itu aku akan
mendongeng dan hal itu akan membuat sang raja menghentikan perbuatannya,
menyelamatkan diriku sendiri dan juga menyelamatkan semua rakyat.” Dunyazad
menyanggupinya.
Malam
harinya, Syahrazad berangkat ke istana. Ia menemui sang raja. Ketika sang raja sedang
bersama dengan Syahrazad, Syahrazad menangis. Sang raja bertanya, “Mengapa
engkau menangis?” Syahrazad menjawab: “Hamba mempunyai seorang adik hamba ingin
mengucapkan selamat tinggal kepadanya sebelum fajar. Kemudian sang raja
memerintahkan pengawalnya untuk menjemput adiknya, Dunyazad. Ia menunggu sang
raja menyelesaikan urusannya dengan kakaknya di bawah ranjang.
Setelah
mereka berdua selesai, Dunyazad berkata kepada kakaknya, “Kak, jika engkau
belum mengantuk, ceritakan kepadaku salah satu dongeng yang indah untuk mengisi
malam sebelum engkau mengucapkan selamat tinggal di pagi hari nanti, sebab aku
tidak tahu apa yang akan terjadi padamu esok hari.” Lalu Syahrazad meminta izin
kepada sang raja untuk membacakan sebuah cerita kepada adiknya ditemani sang
raja. Sang raja mengabulkan permintaan Syahrazad. Kemudian Syahrazad memulai
ceritanya. Kisah tersebut sangatlah menakjubkan. Syahrazad menceritakan
kisahnya sampai pagi hari, ketika fajar telah muncul, ia menutup mulutnya
rapat-rapat. Akhir kisahnya selalu menggantung yang membuat pendengarnya selalu
ingin tahu kelanjutan ceritanya. Hal ini membuat sang raja menunda pembunuhan
Syahrazad karena dibakar oleh rasa ingin tahu. Cerita tersebut berlanjut dari
malam ke malam sampai genap seribu satu malam sampai Syahrazad mempunyai tiga
orang anak dan membuktikan kesetiaannya kepada sang raja.
Itulah
cuplikan pembukaan kisah seribu satu malam yang sangat menakjubkan. Metode yang
digunakan oleh Syahrazad kini banyak dipakai dalam pembuatan film, yaitu dengan
membuat cerita ketika masih dalam sisi menarik-menariknya malah menghentikan
ceritanya dan membuat penonton ingin melihat episode selanjutnya. Di dalam
dakwah Pak Prof pun cara ini juga dipakai, yaitu ketika pendengar sudah
terpikat, saat itu juga merupakan saat yang tepat untuk mengakhiri agar
pendengar penasaran dengan dakwah kita.
Waktu
masi berjalan, aku masih menunggu kapan namaku akan dipanggil meskipun aku
sendiri menyadari bahwa aku belum menghafal semua ayatnya. Akhinya nmaku di
panggil, aku maju dengan anung berdetak lumayan kencang. Aku maju bersama
temanku, metode sebeumnya dengan memanggil nama kami satu persatu memakan waktu
terlalu lama, akhirnya pada giliranku ini aku maju bersama temanku. Setelah aku
menyerahkan kertas hafalanku, aku bersiap untuk di tes. Mas Yaqin ternyata
telah memahami kalau hafalanku tergolong buruk, beliau memilihkanku ayat-ayat
yang mudah untuk dihafalkan. Namun meskipun beigitu, aku tetap terlewatkan satu
bagian yang tak kuhafal, tapi ya sudahlah, memang itulah kemampuanku,
kesempatan tak datang kedua kalinya bukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar