Sabtu, 27 Juni 2015

Sambungan Lembar Kedua

Tepat keesokan harinya aku bertemu dengannya pada malam hari selepas isya’. Aku berjalan dengan menggunakan kaos oblong, sarung agak ngeper (agak longgar karena terlalu sering dipakai), dan juga tak lupa kubawa notbook untuk memastikan aku tidak salah fd lagi. Aku pergi ke tempat kam beremu kemarin.ketika tinggal beberapa langkah lagi, “mas..” suara seorang laki-laki kudengar dari pinggir jalan. Kulihat sosok laki-laki tersebut duduk di teras sebuah rumah kecil berhamparkan halaman kecil yang berisi tumbuhan bambu kuning di sisi jalan masuk di depannya. Kutatap lebih tajam sosok lelaki
yang berada dibawah sorotan lampu lima watt tersebut, ternyata sosok tersebut adalah sosok penjual fd yang kucari. Aku menghampiri rumah mungil itu dan duduk di kursi kayu tua usang namun masih bagus dan layak. Teras tersebut berisikan dua kursi kayu biasa, dua kursi kayu panjang dan satu meja sederhana, dua kursi terletak dikanan meja, sedang dua kursi panjang lain di sebelah depan dan belakang meja. Tatanan meja kursi tersebut tepat berada di kanan pintu masuk rumah mungil itu.
            Aku mengeluarkan fdku yang berisi 1/2 GB dan sekaligus membuka notbookku untuk membuktikannya. Sosok agak gendut itu juga terkejut dan sedikit tertawa ketika melihat bahwa kapasitas fd yang bertuliskan 16 GB itu ternyata isinya cuma setengah GB. Lalu ia mengeluarkan beberapa fd yang ia jual dan memilih salah satunya. Lalu ia menggaris bagian belakang bungus fd itu dengan sebuah pisau untuk mengeluarkan fd yang ada di dalamnya. Ia memberikan contoh kepadaku bagaimana cara untuk mengeluarkan fd dari bungkusnya yang benar tanpa merusak hampir keseluruhan bungkusnya. Kuberikan senyuman untuk setiap perkataannya karena aku tidak mau mengambil hati untuk kesalah fahaman tersebut yang akibatnya menyiksa batinku sendiri. Fd baru tersebut dimasukkan ke notbookku. Sembari tersenyum ia menyodorkan notbook itu kepadaku untuk menunjukkan kapasitas fd baru tersebut. Kulihat, fd tersebut berukuran 14,9 GB, itulah yang kucari. Lalu ia meminta maaf untuk kesalah fahaman kecil yang terjadi.  Aku tidak langsung kembali ke Pesma, aku masih duduk di teras tersebut. Tidak lama kemudian datanglah beberap orang, kulihat salah satu mereka adalah teman seperjuanganku dulu, namanya Daud, lebih akrab dipanggil kang Daud, ia berasal dari kota tahu kuning, tepatnya di kecamatan Pare. Lalu kami berjabat tangan, baru kuketahui setelah itu bahwa rumah mungil itu adalah rumah UKM Teater milik Fakultas Tarbiyah. Aku senang dapat bertemu teman seperjuanganku dulu, dulu kami ngaji di Pondok Belungsari, Belung, Kediri.Ia memakai kaos lengan pendek dengan celana lepis dengan panangnya sampai bawah lutut dengan tanpa memakai alas kaki. Kulihat ia sudah dapat beradaptasi dengan lingkungannya, namun peringainya tetap ramah dan kalem seperti yang dulu aku kenal. Setelah kurasa cukup, aku pamit untuk kembali ke Pesma.
            Setelah mengkopi berkas ke fdku, aku mampir di kamar Syarif untuk menjadikan berkas pdf menjadi lembaran siap baca. Kemudian dengan agak tergesa-gesa aku berangkat meuju blok M depan kantor rektorat. Sesampainya di blok M, ternyata ada yag lebih terlambat dari pada aku. “Yah, Nggak papa. lebih baik menunggu dari pada ditunggu, meskipun sebenarnya aku lebih banyak ditunggu. hehehe” Gumamku dalam hati sambil tersenyum.
            Ketika semua sudah berkumpul, kami berangkat ke tempat Mas Yaqin dengan menyewa dua angkot, satu untuk putri, dan satu lagi untuk putra. Di jalan, suasana angkot diramaikan dengan suara-suara kami yang masing-masing sibuk menghafalkan ayat-ayat yang telah ditentukan. Mungkin suara kami sampai mengganggu pengguna jalan lain, namun kami bersikap apatis atau acuh tak acuh kepada semua yang kami lewati. Memang sih, itu egois namanya, namun orang Jawa berkata, “Durung tenanan sinaune wong lek durung gendengi.” Maksudnya adalah, seseorang belum dikatakan belajar dengan sungguh-sungguh apabila belum menggilai apa yang dipelajarinya tersebut. Semisal, bila aku sedang mempelajari sebuah puisi, setiap hari mempelajari puisi, mimpipun mimpi belajar puisi atau berpuisi, sampai-sampai aku seperti tergila-gila dangan puisi. Maka sikapku tersebut baru bisa disebut belajar dengan sungguh-sungguh. Persis seperti yang kami lakuakan searang, kami tidak peduli apakah orang-orang berkata kami sok pintar, sok alim, tau sok apalah, yang penting kami belajar. Meski sebenarnya belajarku karena kepepet waktu seperti biasanya.
            Sesamainya di tempat Mas Yaqin, kami langsung disambut oleh beliau. Tempat tinggalnya adalah sebuah masjid yang ada kamar-kamar untuk dtinggali diatasnya. Kami dipandu beliau menuju masjid tersebut. Kami melepaskan sendal mangikuti tradisi kami di Pare dulu, yaitu dengan membalikkan sendal kearah luar dan merapatkannya sehingga terlihat rapi dan enak dipandang. Lalu kami mingikuti beliau menuju sebuah ruangan dilantai tiga yang memiliki pintu masu berupa pintu geser dari kayu. Kami terkagum-kagum dengan ruangan tersebut, luas, bersih, putih, beralaskan karpet tebal dan lembut, di pinggir ruangan terdapat meja ngaji kecil yang banyak sekali, ada LCD Proyektor yang terletak di depan. Ruangan sebesr empat kali lima belas meter tersebut panjangnya menghadap ke arah utara dan selatan, bagian depan di sebelah utara, sedang pintu masuknya berada di sebelah timur agak depan. Di bangunan yang entah berapa lantai itu ami melaksanakan tes hafalan ayat. Lantai pertama bangunan itu hanya untuk parkir kendaraaan. Lantai kedua sebagai tempat sholat. Lantai tiga memiliki beberapa kamar untuk menampung beberapa orang. Lantai empat aku tidak mengetahuinya, lantai lima apakah ada atau tidak aku juga tidak tahu. Bangunan itu benar-benar unik, kelihatan mungil dari luar, namun ketika di dalam, luar biasa.
            Mas Yaqin telah maju ke depan, kami dipilih acak untuk maju kedepan. Lembaran yang kupegang sebanyak sebanyak lima lembar. Kalau masalah hafalan, aku kalah dengan teman-temanku, apalagi masalah ayat, hafalanku tergolong rendah. Kulihat dari teman-teman yang maju sebelumnya, beliau meminta kertas hafalan kami terlebih dahulu, lalu memilih tiga bagian saja yang di tes dari keseluruhan ayat, keseluruhan ayatnya berjumlah kira-kira 70-an ayat. Sedangkan satu bagian ada yang terdiri dari satu ayat, dua ayat, dan juga ada yang lebih. Lalu aku mengatur siasat untuk majuku nanti, aku tahu aku belum hafal semuanya, lalu aku menghafalkan minimal disetiap lembar ada yang kuhafal. Karena kemungkinan Mas Yaqin akan memberikan setiap bagian di lembar yang berbeda.
Menurutku, aku telah menunggu begitu lama untuk dipanggil. Aku menghabiskan waktu dengan membaca cerita seribu satu malam yang berbentuk pdf di notbookku. Sebuah dongen lama yang berasal dari Arab yang telah dterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Teks aslinya berbahsa Arab kuno. Namun kebanyakan penerjemah yang ada menerjemahkan seenak mereka saja tanpa mengetahui keindahan sastra bahasa Arab. Bahasa Arab tidak bisa diterjemahkan sebagaimana lafadzanya begitu saja, itulah sastra Arab.
Kisah seribu satu malam merupakan cerita yang memuat berbagai cerita. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala hiduplah dua raja yang menguasai daerah India da Indocina. Raja pertama namanya Syahrayar dan adiknya bernama Syahzaman. Kakaknya adalah raja sah negeri itu, lalu ia memberikan salah satu daerah kekuasaanya kepada adiknya untuk dikuasai, daerah tersebut adalah Samarkand. Akhirnya kedua raja saudar tersebut terpisah jarak.
Setelah beberapa waktu telah berlalu, Syahrayar merasa rindu dengan adiknya. Ia mengutus seorang wazir untuk mengundang adiknya ke istananya. Wazir tersebut pergi e Samarkand sendirian. Syahzaman menyambut baik wazir yang diutus oleh kakaknya. Syahzaman merasa senang dan mau menghadiri undangan kakaknya. Ia menyembelihkan beberapa kambing dan menempatkan disebuah tenda di luar kota serta mencukupi kebutuhannya. Sementara itu Syahaman bersiap-siap untuk berangkat ke istana kakaknya. Ia melakukan persiapan selama sepuluh hari lamanya. Kemudian ia menyempatkan untuk menginap selama satu hari di tenda wazir utusan kakaknya. Syahzaman telah memerintahakan salah seorang wazirnya untuk menggantikannya selama kepergiannya.
            Ketika tengah malam tiba, Syahzaman pergi menuju istana sendirian untuk berpamitan dengan istrinya. Namun naasnya, ketik ia sampai di kamarnya, ia melihat istrinya tengah tertidur dalam pelukan seorang koki istananya. Ia sangat kecewa karena baru sehari ia pergi tapi ternyata istrinya sudah melakukan hal seperti ini. Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil pedangnya dan membunuh dua orang yang tengah tertidur pulas di ranjangnya. Lalu ia menyeret dan membuang mayat mereka berdua dari atas istana ke dalam sebuah parit. Kemudian ia kembali ke tenda sang wazir degan hati yang bersedih dan kecewa, ia langsung memerintahkan untuk berangkat ke istana kakaknya waktu itu juga.
Gemuruh suara generang menandakan raja Syahzaman dan sang wazir memulai keberangkatannya. Syahzaman berangkat dengan hati yang panas karena dihianati istrinya. Dengan suasana hati yang kacau balau membuat mereka berangakat dengan tergesa-gesa siang dan malam melalui beberapa gurun dan juga hutan belantara. Rasa sakit tergores cinta membuatnya tak dapat berdiri dengan tegap. Hatinya berjalan tanpa arah karena telah kehilangan tujuan yang dicari. Pepatah mengatakan sakit hati hanya disembuhkan dengan hati lain. Keindahan alam yang mereka lewati tak sanggup menghibur hati yang sedang menangis.
Perjalanan selama beberapa hari telah mencapai tempat yang dituju. Syahrayar menyambut adiknya dengan persaan bahagia. Syahrayar memeluk adinya dan memperlakukannya dengan penuh kemewahan. Ia menawarkan tempat tinggal di dalam istana yang telah dibangunnya. Ia telah membngun dua istana yang menjulang tinggi dan indah di tamannya, satu stana untuk para tamu, dan satu lagi untuk para wanita dan seluruh anggota istana. Ia memberikan istana tamu kepada adiknya untuk ditinggali. Sebelumnya istana tersebut memang telah dipersiapkan untuk adiknya, semua truangan telah dibersihkan, jendela-jendela yng mengarah ke taman dibuka semua. Setiap malam Syahzaman menempatinya, sedang pada waktu siang ia pergi ke istana kakaknya. Setiap malam dalam kesendirian ia selalu meratapi nasibnya. Ia merasa tidak ada lagi yang lebih tersiksa dan merasakan nasib seburuk itu. Keadaan jiwanya tersebut mempengaruhi perilakunya keseharian. Selera makannya menghilang, mukanya sering pucat, dan kesehatannya juga menurun. Ia mengabaikan semua yang telah disiapkan dihadapannya.
Syahrayar yang melihat kondisi adiknya yang semakin hari semakin memburuk, ia mengira bahwa adiknya sangat rindu dengan negri serta keluarganya. Syahrayar menyiapkan berbagai hadiah sebelum kepulangan adiknya selama satu bulan penuh. Lalu ia mengajak adiknya untuk berburu kijang penjelajah selama sepuluh hari kemudian mempersiapkan kepulangan adiknya. Namun adiknya menolak karena suasana hatinya tak kunjung membaik. Syahrayar tidak mau memaksa adiknya yang sedang kacau. Ia pergi berburu bersama pengawal dan pelayannya ke hutan.
Sementara itu Syahzaman kembali ke istana tamu sendirian. Ia menghadap ke jendela yang menghadap ke taman sembari meratapi nasib malangnya. Ia membayangkan istrinya dan yang telah dilakukan istrinya. Ia memandangi pepohonan hijau di taman dari atas istana. Ia memandang ke langit, kemudian memandang ke arah pintu pribadi istana kakaknya yang terbuka. Dari sana keluarlah istri kakaknya yang diikuti dua puluh budak perempuan yang berjalan dengan angkuh, sepuluh budak berkulit putih dan sepuluh budak lain berkulit hitam. Syahzaman melihat mereka secara sembunyi-sembunyi. Mereka berjalan terus sampai di bawah jendela Syahzaman. Mereka tida melihat ke jendela Syahzaman karena mengira bahwa adik raja mereka mengikuti raja mereka berburu kijang di hutan. Mereka membuka pakaian mereka dan ternyata mereka adalah sepulu gadis budak dan sepuluh budak laki-laki. Mereka semua berzina disitu, sedang istri raja memanggil seseorang, “Mas’ud, Mas’ud...” Kemudian munculah seorang budak hitam yang melompat dari atas pohon dan bergegas ke arah permaisuri raja. Akhirnya mereka semua berzina zampai tengah hari, kemudian mereka membersihkan diri mereka dan berpakaian seperti semula. Mereka kembali ke istana dan mengunci pintu, sedang Mas’ud kembali melompati tembok taman kemudian menghilang.
Ia membayangkan kejadian yang baru saja dilihatnya. Kakaknya, seorang yang mampu menguasai dunia namun tidak mampu menyelamatkan istrinya dan selir-selirnya, mereka berzina dengan budak-budak hitam. Nasib buruk yang menimpa kakaknya jauh lebih buruk dari pada nasib buruk yang menimpanya. Kesialan yang menimpany ternyata sangat kecil sekali di banding kesialan kakaknya. Ia menyalahkan dunia yang memberikan masalah kepada manusia dan bahka settiap manusia tidak dapat menolak masalah-masalah yang menimpa mereka. Ia mulai menemukan titik terang dari kegelapan dunia yang dialaminya. Malam harinya ia makan dengan lahap dan membuat kesehatan tubunya mulai membaik. Wajahnya sudah kembali ceria seperti sedia kala. Selama sepuluh hari sepeninggalan kakaknya, kebahagiannya memancar dari perilakunya.
Ketika kakaknya pulang, ia menyambutnya dengan kebahagianan dan penuh perhatian. Kakaknya sangat merindukan Syahzaman dan menceritakan kerinduannya kepada adiknya. Syahzaman berterima kasih pada kakaknya dan bercengkrama dengannya. Malam harinya mereka makan malam bersama, Syahzaman makan dengan lahap dan riang gembira. Syahrayar menyadari perbedaan yang tampak dari adiknya, adinya telah kembali ceria, wajahnya tidak lagi pucat, berat badannya bertambah seperti semula, ia telah kembali menjadi dirinya lagi dan bahkan lebih.
Suatu ketika Syahrayar bertanya kepada kakaknya perihal segala sesuatu yang membuatknya sedih dan membuatnya senang. Syahzaman menjawab bahwa ia tidak bisa mengatakan sebab kenpa ia menjadi senang. Syahrayar dibakar oleh api penasaran terhadap hal-hal mengenai adiknya. Akhirnya kakanya meminta Syahzaman untuk setidaknya ia menceritakan tentang sebab kesedihannya. Lalu Syahzaman menceritakan semua kejadian tentang istrinya saat keberangkatannya ke istana kakaknya dari awal sampai akhir. Ia menegaskan bahwa ketika ia mengingat kembali tentang istrinya, ia menjadi gelisah dan risau sehingga menyebabkan kesehatan dan berat badannya menurun dari hari ke hari. Syahrayar menggelengkan kepala ketika mendengarkan cerita adiknya. Ia mengatakan bahwa kjadian seperti itu belum pernah dialami oleh seseorang, adiknya harus bersyukur karena telah membunuh istrinya, ia mendoakan adiknya agar dilindungi Tuhan dari hal-hal semacam itu. Ia menambah bahwa seumpama saja ia yang mengalami kejadian itu, mungkin ia akan membunuh seratis atau bahkan seribu wanita, ia pasti menjadi marah besar dan menjadi gila.
Kemudian ia bertanya lagi mengenai penyebab kenapa ketika ia pergi berburu, adiknya dapat menjadi bahagia kembali. Syahzaman meminta izin kepada kakaknya untuk tidak menceritakan penyebabnya. Namun kakaknya tetap bersikeras agar adiknya mencritakan segala sesuatunya yang telah membuatnya bahagia. Akhirnya Syahzaman menceritakan semuanya mengenai istri kakaknya dan juga budak-budaknya, hal itulah yang membuatnya menyadari bahwa masih ada yang lebih menderita dari pada dirinya, kebahagiannya menjadi kembali dan bahkan lebih. Kakaknya yang seorang penguasa besar telah dihianati oleh selir-selir dan bahkan istrinya sendiri. Mendengar itu semua, muka Syahrayar memerah, ia menjadi marah besar, ia tidak mempercayai perkataan adiknya sampai ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Lalu Syahzaman menyusun rencana untuk kakaknya, dan kakaknya menyetujuinya.
Lalau malam itu Syahrayar menginap di tempat adiknya. Keesokan harinya ketika fajar menyingsing, mereka berdua berangkat keluar kota untuk berkemah di tenda yang telah dipersiapkan sebelumnya, ia memerintahkan kepala istana agar menggantikannya dan juga tidak seorangpun boleh memasuki kota selama tiga hari. Kepala istana juga telah disiapi tentara untuk mengawasi kota. Kemudian ia dan adiknya menyamar dan pergi ke istana adiknya pada waktu malam hari untuk bermalam disana. Pagi harinya, mereka melihat ke jendela yang mengarah ke taman istana. Mereka berbincang-bincang disana. Ketika mereka maih terjaga, mereka melihat ke pintu probadi istana kakaknya, mereka berdua melihat sebagaimana yang dilihat oleh Syahzaman sendiri ketika Syahrayar pergi berburu.
Ketika melihat apa yang dilakukan oleh istrinya dan juga budak-budaknya, ia menjadi marah besar. Ketika ia turun dari istana ia mengatakan bahwa, tidak seorangpun selamat dari sunia ini, hal seburuk itu telah terjadi di kerajaannya sendiri dan bahkan istananya sendiri, dunia akan musnah, kehidupan akan musnah, hal tersebut merupakan bencana yang sangat besar. Kemudian mereka kembali ke tenda mereka diluar kota. Semua pengawal dan pelayan yang ikut dengannya diberikan hadiah dan disuruh pulang. Syahzaman kembali ke istana dan duduk di dinggasananya. Ia memerintahkan sang wazir untuk memanggil dan membunuh istrinya. Kemudian ia sendiri mengambil pedangnya dan membunuh semua wanita yang ada di istananya dan menggantinya dengan wanita yang lain. Ia bersumpah akan menikahi wanita hanya untuk satu malam kemudian membunuh wanita tersebut pada pagi harinya untuk menyelamatkannya dari kejahatan dan kelicikan wanita. Ia akan menikah dan membunuh wanita setiap harinya. Kepercayaannya terhadap wanita telah hilang, ia menggap semua wanita di dunia ini sama saja. Kemudian ia menyiapkan perbekalan dan juga berbagai hadiah untuk kepulangan adiknya. Akhirya adiknya berpamitan kepada kakaknya dan kembali menuju kerajanya di Samarkand.
Daam riwayat lain diceritaan bahwa, ketika Syahrayar melihat kejadian yang terjadi di istananya, ia lalu mengajak adiknya untuk pergi, kematianlebih baik mereka dapatkan dari pada mengalami kejadian yang sangat buruk itu. Syahzaman menuruti ajakan kakaknya. Melalui sebuah pintu rahasia, kedua orang kakak beradik itu akhirnya pergi meninggalkan istana. Mereka terus berjalan mengikuti langkah kaki mereka sampai akhirnya mereka tiba di sebatang pohon yang tumbuh di tengah sabana. Kebetulan, didekat pohon itu terdapat sebuah mata air yang letaknya berdekatan dengan bibir pantai. Mereka pun minum dari mata air tersebut dan kemudian duduk untuk melepas lelah. Saat tengah hari, tiba-tiba mereka melihat di tengah lautan muncul sesosok makhluk hitam yang tinggi menjulang ke angkasa. Setelah tegak berdiri, sosok hitam itu lalu menghampiri tempat dimana mereka sedang beristirahat. Melihat sosok hitam itu mendekat, mereka merasa amat ketakutan dan segera berusaha memanjat pohon yang menjadi tempat mereka berteduh. Dari atas pohon yang mereka panjat itu, mereka dapat melihat apa sebenarnya sosok besar hitam yang tadi muncul dari tengah laut.
Ternyata, yang menghampiri Syahrayar dan Syahzaman adalah sesosok  jin yang tubuhnya tinggi besar dan membawa sebuah peti di atas kepalanya. Jin itu terus berjalan menghampiri pohon di mana kedua orang kakak beradik itu bersembunyi, dan kemudian duduk di bawahnya. Setelah duduk, jin itu menurunkan peti yang dibawa di atas kepalanya dan mengeluarkan sebuah kotak yang tersimpan di dalamnya. la lalu membuka kotak itu. Ternyata di dalam kotak kecil itu terdapat seorang anak gadis yang tubuhnya memancarkan sinar layaknya matahari. Sambil memandangi anak gadis yang disembunyikan di dalam kotak yang dipegangnya, jin itu berkata, "Hai gadis yang kuculik pada malam pengantin, aku akan tidur sejenak." Jin itu kemudian meletakkan kepalanya di atas bahu gadis tersebut dan langsung tertidur.
Setelah jin yang menculiknya tertidur, gadis yang malang itu mendongakkan kepalanya ke atas pohon untuk melihat siapa gerangan yang bersembunyi di atas sana. Di atas pohon dia melihat kedua orang yang sedang bersembunyi. Dengan amat hati-hati, gadis itu lalu mengangkat kepala jin yang bersandar di bahunya dan meletakkannya di atas tanah. Kemudian ia berdiri di bawah pohon. Di bawah pohon, gadis itu menggerak-gerakkan tangannya untuk memberi isyarat kepada kedua orang yang sedang bersembunyi di atas pohon agar segera turun dan tidak perlu takut kepada jin itu. Mengetahui bahwa si jin telah terlelap, Syahrayar dan Syahzaman akhirnya memberanikan diri untuk memenuhi panggilan gadis tersebut dan turun dari atas pohon untuk menghampiri gadis yang memanggil mereka.
Ketika mereka berdua telah sampai di dekatnya, gadis itu mengeluarkan sebuah kantung dari dalam sakunya. Kemudian dari dalam kantung itu, ia mengeluarkan seutas tali yang terkait padanya lima ratus tujuh puluh cincin. Kemudian gadis itu berkata bahwa, apakah mereka berdua mengetahui benda apa yang sedang dipegang gadis tersebut. Mereka menjawab tidak tahu. Si gadis menerangkan bahwasanya orang-orang menyerahkan barang mereka kepada si gadis begitu saja dikarenakan kekuatan jin itu. Kemudian si gadis meminta cincin pula kepada Syahrayar dan Syahzaman. Syahrayar dan Syahzaman kemudian memberikan cincin yang mereka kenakan kepada si gadis. Si gadis lalu berkata, "Sebenarnya jin ini telah menculikku pada malam pernikahanku. Setelah aku diculik, ia meletakkanku di dalam sebuah kotak kecil yang dia simpan di dalam sebuah peti yang dikunci dengan menggunakan tujuh buah kunci. Dan sesudah itu, dia meletakkan peti di mana aku terkunci di dalamnya di dasar lautan yang berombak besar. Rupanya jin itu tidak mengetahui bahwa jika seorang perempuan menginginkan sesuatu, maka dia tidak akan pernah menyerah." Dengan kepala yang dipenuhi seribu pertanyaan, kedua orang kakak beradik itu akhirnya kembali pulang ke istana Raja Syahrayar dan selanjutnya Syahrayar  membunuh semua wanita yang ada istananya serta menggantinya dengan wanita lain.
Setelah kepulangan adiknya, Syahrayar memerintahkan sang wazir untuk mencarikannya wanita untuk dinikahi. Dimulai dari gadis-gadis putri para pejabat, tentara, dan juga semua gadis penduduknya. Semua bapak dan ibu menjadi bersedih atas nasib yang menimpa anak-anak mereka, mereka berdoa kepada sang Maha Kuasa agar kengerian yang terjad di negeri mereka segera berakhir.
Beberapa waktu telah berlalu, gadis di negeri itu telah habis. Ketika sang raja minta dicarikan wanita kepada wazir untuk dinikahi, si wazir begitu kebingungan. Si wazir memiliki dua orang anak perempuan, yang pertama namanya Syarazad dan yang kedua bernama Dunyazad. Syahrazad merupakan wanita yang suka membaca buku-buku kesuastraan, filsafat dan juga buku-buku tentang ilmu penobatan. Ia juga telah hafal puisi-puisi, catatan-catatan sejarah, dan juga hafal perkataan-perkatan dan pribahasa-pribahasa orang-orang bijak dan para ulama’. Syahrazad adalah gadis yang cerdas, berpengetahuan luas, bijaksana, dan juga berbudi pekerti baik dan ramah.
Melihat ayahnya yang tengah kebingungan dan egeri yang telah menderita itu, Syahrazad mengajukan diri kepada ayahnya untuk dinikahi oleh sang raja. Namun ayahnya menentang keras, kebanyakan gadis lari dari permintaan sang raja, namun putrinya malah mengajukan diri untuk memenuhi permintaan raja. Syahrazad telah siap menyelamatkan orang-orang di negerinya ataupun akan mati seperti gadis-gadis lain sebelumnya. Si wazir tetap tidak rela anaknya dinikahi oleh sang Raja, meskipun sebenarnya ia sendiri juga tidak punya pilihan lain karena tidak ada wanita lain lagi. Ia mengatakan kepada anaknya bahwa bila ia tidak memperdulikan akibat, maka dunia akan memusuhinya, sebagaimana dalam cerita sapi dan keledai.
Dahulu kala hiduplah seorang pedagang yang makmur dan kaya raya di daerah pedalaman yang bekerja di ladang. Dia memiliki banyak hewan ternak di ladangnya. Ia mempekerjakan banyak orang di ladangnya.  Ia memiliki seorang istri dan beberapa anak. Pedagang sekaligus peternak ini mempunyai kemampuan untuk berbicara dengan hewan, namun ia memiliki pantangan tidak boleh menceritakannya kepada orang lain. Kalau ia melanggar pantangannya, ia akan mati.
Suatu ketika, si pedagang bersama keluarganya sedang bercengkrama. Ia pedagang memandangi sapi dan keledai yang diikat didekat bak makanan. Pedagang itu mendengar perbincangan antara sapi dan keledai. Si sapi mengeluh dengan keadaanya, ia selalu dipekerjakan untuk membajak sawah dari pagi hari sampai malam hari, pinggangnya koyak karena dicambuki,lehernya mengelupas karena memikul gagang bajak yang besar dan berat. Namun ketika ia kembali ke kandang, ia di tempatkan di tempat kotor penuh kotoran dan kencing, diberikan air minum keruh dan juga makanan buncis. Sedangkan keledai di tempatkan di tempat yang bersih, air minum yang jernih, dan juga hanya ditunggangi si pedagang sementara lalu istirahat lagi. Keledai lebih banyak bersantai di kandangnya menikmati makanan yang telah disiapkan untuknya. Keledai memberikan tips untuknya, yaitu dengan tidak memakan makanan yang telah disiapkan untuknya melainkan hanya membauinya saja, kemudian lebih banyak berbaring dari pada menyepak-nyepak tanah dan  menyeruduk. Perutnya mengembung dan kakinya terangkat ke atas.
Pagi harinya tukang bajak datang ke tempat  pedagang. Ia langsung pergi menghampiri kandang sapi. Ia menari si sapi, si sapi mengikuti nasehat keledai, ia mundur ke tempat jerami kering. Tukang bajak mencambuk tubuhnya berkali-kali, si sapi menahannya sampai jatuh, sapi bangkit lagi dan jatuh lagi. Hal ini terus berlangsung sampai malam tiba. Akhirnya tukang bajak kembali pulang. Sebelum pulang, ia memenuhi tempat makan sapi dengan buncis dan makanan ternak. Keesokan harinya tukang bajak kembali ke kandang sapi. Namun ia mendapati tempat makanan tetap utuh sebagaiamana ia meninggalkannya kemarin. Lalu pergi ke rumah pedagang utuk mengadukan perihal sapinya. Pedagang yang telah mengetahui semuanya menyuruh tukang bajak untuk pergi ke kandang keledai, ia menyuruh agar tukang bajak menggunakan keledai untuk menggantikan sapi menyelesaikan pekerjaanya, sebelum pekerjaan sapi selesai, maka keledai tetap tidak boleh diistirahatkan. Si keledai dipekerjakan sampai malam hari, ia hampir tidak bisa berjalan lagi, pinggulnya koyak, lehernya mengelupas. Ia kemudian duduk dan berfikir bagaimana agar pekerjaan lamanya kembali, ia tidak mau salah perhitungan lagi.
Si wazir tidak mau anak permpuannya mati karena salah perhitungan sebagaimana si keledai. Ia tak mau anak yang sangat disayanginya mengundang bahaya bagi dirinya sendiri. Ia bersikeras melindungi anaknya dari kematian, atau ia sendiri akn melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan pedagang terhadap istrinya sendiri. Cerita ini merupakan sambungan dari cerita sapi dan keledai, berikut ini ceritanya.
Setelah peristiwa yang terjadi antara sapi dan keledai, pedagang bersama istrinya pergi ke kandang pada malam bulan purnama. Pedagang mendengar percakapan antara keledai dan sapi.
Keledai  :“Apa yang akan kamu lakukan jika besok tukang bajak mendatangimu dan
                 membawakanmu makanan?”
Sapi       :“Apa yang akan aku lakukan bila bukan menuruti nasehatmu dan
                 menjalankannya? Jika ia membawakanku makanan, aku akan berpura-pura sakit,
                 berbaring, dan menggembungkan perutku.”
Keledai  : (keledai menggelengkan kepalanya). “Jangan lakukan itu. Tahukah engkau
                 wahai sapi, apa yang kudengar dari perkataan majikan kita, pedagang kepada
                 tukang bajak?”
Sapi       :“Apa?”
Keledai  :“Pedagang mengatakan kepada tukang bajak bahwa, jika si sapi tidak mau
                 memakan makanannya, tukang bajak diperintahkan untuk memanggil tukang jagal
                 untuk menyembelih dan menguliti sapi dan menjadikan kulitnya untuk keset. Aku
                 mengkhawatirkanmu, turutilah nasehat baikku, jika tukang bajak membawakanmu
                 makanan, makanlah makanan itu dan jangan tampak loyo. Jika engkau tidak
                 makan, maka mereka akan menyembelihmu dan mengulitimu.”
Mendengar perbincangan mereka, pedagang tertawa terbahk-bahak dengan keras. Istrinya mendengar suaminya yang secara tiba-tiba tertawa keras langsung tersinggung, ia mengira suaminya menertawakannya. Namun pedagang mengatakan kepada istrinya kalau ia tidak menertawakannya. Si istri menjadi penasaran, ia bertanya kepada suaminya apa yang membuatnya tertawa begitu keras, pedagang tidak mau menceritakannya. Ketika si istri bertanya apa yang suaminya takutkan, pedagang menjawab bahwa ia takut mati bila menjawb pertanyaan istrinya. Si istri tetap bersikeras, ia tidak percaya alasan suaminya, ia berjani akan meniggalkannya bila suaminya tidak menceritakan penyebabnya tertawa. Setelah mengatakan itu si istri menangis dan berlari pulang kerumahnya, ia menangis sampai pagi harinya.
Pagi harinya pedagang mencoba untuk menenangkan istrinya, namun ternyata istrinya tetap ingin tahu alasan kenapa suaminya tertawa. Ia tetap bersikeras ingin tahu, ia tetap ingin tahu meskipun suaminya harus mati setalah memberitahukannya. Mendengar perkataan itu s pedagang pasrah. Memerintahkan si istri untuk memanggil semua keluarganya. Pedagang memberitahukan kepada keluarganya bahwa ia akan mati, ia mengataknnya kepada semua orang, pelayan-pelayannya, pekerja-pekerjanya, juga sekaligus memanggil ahli hukum waris dan menulis wasiat. Semua orang berkabung (bersedih karena orang yang meninggal) atas kabar akan matinya si pedagang. Orang-orang mencoba untuk merayu si istri, namun si istri tetap bersiteguh atas pendiriannya.
Wazir melanjutkan ceritanya, dikisahkan bahwa si pedagang juga memelihara lima puluh ayam betina dan satu ayam jantan. Si pedagang merasa sedih karena ia akan meninggalkan semua keluarganya. Dia merenung dan bersiap-siap untuk mengungkapkan rahasianya. Kemudian secara tidak sengaja ia mendengarkan percakapan anjing dan ayam jantan. Si ayam jantan sedang mengepak-ngepakkan sayapnya sambil bertengger di atas tubuh ayam betina, setelah selesai melompat lagi di atas ayam betina lain.
Anjing : “Tidak tahu malu, ayam jantan jelek. Apa engkau tidak tahu malu melakukan hal
    semacam itu di hari seperti ini.”
Ayam  : “Apa istimewanya hari ini?”
Anjing : “Tidakkah engkau tahu majikan kita dan sahabat kita sedang berkabung? Istrinya
    menuntut dia untuk menceritakan rahasianya, dan jika ia menceritakan rahasianya
    ia aka mati. Ia sedang dalam berada dalam kesulitan ini, ia sedang bersiap-siap
    mengungkapkan rahasia bahwa ia dapat memahami bahasa binatang kepada
    istrinya, dan kami semua sedang berkabung karenanya, sedangkan engkau asyik
    mengepak-ngepakkan sayapmu dan melompat di atas punggung ayam betina satu
    ke ayam betina lain. Apakah engkau tidak malu?”
Ayam  : “Kalian bodoh, kalian gila! Majikan kita menyatakan dirinya bijaksana. Tetapi
    ternyata dia tolol. Ia hanya memiliki satu orang istri dan tidak tahu bagaimana cara
    menanganinya.”
            Mendengar hal itu si pedagang semakin tertarik untuk mendengarkan percakapan antara anjing dan ayam jantannnya.
Anjing : “Apa yang seharusnya dilalukan majikan kita terhadap istrinya?”
Ayam  : “Seharusnya ia mengambil sebatang kayu yang besar, mendorong istrinya ke kamar,
    mengunci pintu, dan menindihkan kayu tersebut ke atas tubuh istrinya. Kemudian
    memukulinya tanpa belas kasihan sampai ia berkata, ‘Aku tidak lagi menginginkan
    engkau menceritakan kepadaku atau menjelaskan padaku apapun juga.’ Ia harus
    memukulinya terus sampai ia kapok seumur hidupnya dan wanita itu tidak akan
    menentangnya lagi dalam hal apapun. Jika ia melakukan hal ini dia akan tetap
    hidup, ia akan hidup dalam perdamaian dan tidak perlu besedih lagi. Namun ia
    tidak tahu bagaimana melakukan hal ini.”
Mendengar Penuturan ayam jantan terhadap anjing, si pedagang langsung bangun dan keluar mencari sebatang kayu yang besar. Ia mendorong istrinya ke kamar. Pedagang itu memukuli istrinya sampai istrinya berteriak, “Tidak.. Tidak... Aku tidak ingin mengetahui apapun lagi. Tinggalkan aku sendiri, tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin mengetahui apapun.” Ia memuuli istrinya sampai kelelahan, lalu ia membuka pintu kamar. Istrinya keluar dengan penuh penyesalan, si pedagang belajar menguasai keadaan. Malam itu semuo orang menjadi bahagia, malam berkabung menjadi pesta kebahagiaan.
Wazir berkata kepada anaknya bahwa bila ia tetap bersikeras ingin dinikahi oleh sang raja ia akan bernasib sama dengan si istri pedagang. Namun Syahrazad menekankan bahwa cerita-cerita semacam itu tidk akan mengubah keputusannya yang sudah bulat. Jika ayahnya tetap melarangnya, ia kan menceritakan banyak cerita juga kepada ayahnya yang dapat menguatkan keputusannya. Ia akan pergi sendiri ke istana secara sembunyi-sembunyi dan mengatakan kepada sang raja bahwa ayahnya menolak membawanya kepada sang raja. Si wazir bertanya untuk terakhir kalinya, “Haruskah engkau melakukan itu?” Syahrazad menjawab, “Ya, aku harus.”
Akhirnya si wazir pergi menuu istana raja dengan lemas. Kemudian ia menceritakan kepada sang raja tentang anak pertamanya. Sang raja bertanya kepadanya, apakah ia benar-benar akan menyerahkan anaknya kepadanya padahal ia tahu bahwa bila ia menyerahkan putrinya kepadanya, keesokan harinya ia akan memerintahkannya untuk membunuh putrinya sendiri, dan jika ia tidak mau melakukannya maka sang raja juga akan mebunuhnya. Wazir menjelasakan bahwa ia telah membujuk putrinya dengan sekuat tenaga, namun putrinya tetap bersikeras untuk dinikahkan dengan sang raja. Sang raja mengiyakan pendapat putri wazirnya. Ia memerintahkan wazir untuk menyiapkan anaknya dan membawa anaknya ke istana malam itu juga.
Wazir lagsung pulang dan menyampaikan pesan sang raja kepada putrinya. Ia berdoa kepada Tuhan agar tida dipisahkan dengan putrinya. Syahrazad lalu menyiapkan segala sesuatunya. Setelah ia selesai menyiapakan semua, ia pergi menghampiri adiknya, Dunyazad. Syahrazad berkata kepada adiknya, “Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan kepadamu dik. Aku akan mengutus seseorang untuk menjemputmu. Jika engkau melihat sang raja sudah selesai denganku, mintalah kepadaku untuk diceritakan sebuah kisah sebelum tidur. Setelah itu aku akan mendongeng dan hal itu akan membuat sang raja menghentikan perbuatannya, menyelamatkan diriku sendiri dan juga menyelamatkan semua rakyat.” Dunyazad menyanggupinya.
Malam harinya, Syahrazad berangkat ke istana. Ia menemui sang raja. Ketika sang raja sedang bersama dengan Syahrazad, Syahrazad menangis. Sang raja bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Syahrazad menjawab: “Hamba mempunyai seorang adik hamba ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya sebelum fajar. Kemudian sang raja memerintahkan pengawalnya untuk menjemput adiknya, Dunyazad. Ia menunggu sang raja menyelesaikan urusannya dengan kakaknya di bawah ranjang.
Setelah mereka berdua selesai, Dunyazad berkata kepada kakaknya, “Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepadaku salah satu dongeng yang indah untuk mengisi malam sebelum engkau mengucapkan selamat tinggal di pagi hari nanti, sebab aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu esok hari.” Lalu Syahrazad meminta izin kepada sang raja untuk membacakan sebuah cerita kepada adiknya ditemani sang raja. Sang raja mengabulkan permintaan Syahrazad. Kemudian Syahrazad memulai ceritanya. Kisah tersebut sangatlah menakjubkan. Syahrazad menceritakan kisahnya sampai pagi hari, ketika fajar telah muncul, ia menutup mulutnya rapat-rapat. Akhir kisahnya selalu menggantung yang membuat pendengarnya selalu ingin tahu kelanjutan ceritanya. Hal ini membuat sang raja menunda pembunuhan Syahrazad karena dibakar oleh rasa ingin tahu. Cerita tersebut berlanjut dari malam ke malam sampai genap seribu satu malam sampai Syahrazad mempunyai tiga orang anak dan membuktikan kesetiaannya kepada sang raja.
Itulah cuplikan pembukaan kisah seribu satu malam yang sangat menakjubkan. Metode yang digunakan oleh Syahrazad kini banyak dipakai dalam pembuatan film, yaitu dengan membuat cerita ketika masih dalam sisi menarik-menariknya malah menghentikan ceritanya dan membuat penonton ingin melihat episode selanjutnya. Di dalam dakwah Pak Prof pun cara ini juga dipakai, yaitu ketika pendengar sudah terpikat, saat itu juga merupakan saat yang tepat untuk mengakhiri agar pendengar penasaran dengan dakwah kita.
Waktu masi berjalan, aku masih menunggu kapan namaku akan dipanggil meskipun aku sendiri menyadari bahwa aku belum menghafal semua ayatnya. Akhinya nmaku di panggil, aku maju dengan anung berdetak lumayan kencang. Aku maju bersama temanku, metode sebeumnya dengan memanggil nama kami satu persatu memakan waktu terlalu lama, akhirnya pada giliranku ini aku maju bersama temanku. Setelah aku menyerahkan kertas hafalanku, aku bersiap untuk di tes. Mas Yaqin ternyata telah memahami kalau hafalanku tergolong buruk, beliau memilihkanku ayat-ayat yang mudah untuk dihafalkan. Namun meskipun beigitu, aku tetap terlewatkan satu bagian yang tak kuhafal, tapi ya sudahlah, memang itulah kemampuanku, kesempatan tak datang kedua kalinya bukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar