Hari
ini tepatnya hari jum’at tanggal 15 Juni adalah hari yang telah aku nanti
setelah berminggu-minggu aku rencanakan tetapi baru hari ini bisa aku laksanakan.
Aku berencana untuk pulang ke rumah karena aku sangat ingin sekali bertemu
dengan teman-temanku dulu. Aku menyiapkan rencana ini dengan keyakinan saja,
sedang selebihnya tergantung kepada keadaan dan situasi yang ada. Sebenarnya
menurutku bisa menahan lebih lama lagi untuk pulang, namun pada hari-hari ini
aku merasakan suatu hal yang aneh,
ketika aku baru bangun tidur, aku merasa sangat malas sekali untuk berangkat kuliah, aku lebih suka tidur karena dengan tidur aku dapat bertemu dengan teman-temanku dalam mimpi. Sehingga pada suatu hari kemarin, aku tidak berangkat kuliah selama satu hari penuh dengan menghabiskan waktuku dengan berbaring di atas kasur. Aku berbaring bukan karena kau sakit fisik, namun psikisku sepertinya sedng sekarat karena merindu. Aku teringat pada perkataan Pak Prof bahwasanya, jika kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kurang produktif namun sesuatu tersebut dapat memancing semangat untuk belajar, maka lakukanlah. Maka dari itu, aku merasa harus pulang sebelum hatiku menjadi lebih parah lagi.
ketika aku baru bangun tidur, aku merasa sangat malas sekali untuk berangkat kuliah, aku lebih suka tidur karena dengan tidur aku dapat bertemu dengan teman-temanku dalam mimpi. Sehingga pada suatu hari kemarin, aku tidak berangkat kuliah selama satu hari penuh dengan menghabiskan waktuku dengan berbaring di atas kasur. Aku berbaring bukan karena kau sakit fisik, namun psikisku sepertinya sedng sekarat karena merindu. Aku teringat pada perkataan Pak Prof bahwasanya, jika kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kurang produktif namun sesuatu tersebut dapat memancing semangat untuk belajar, maka lakukanlah. Maka dari itu, aku merasa harus pulang sebelum hatiku menjadi lebih parah lagi.
Pagi
hari aku dan teman-temanku mengikuti perkuliahan Teori dan Teknik Konseling ang
di ajar oleh Pak Agus Santosa, dosen sekaligus kepala jurusan BKI. Setelah
selesai perkuliahan, aku bersegera kembali ke Pesma untuk mandi sebelum berangkat
Jum’atan. Ketika aku sholat Jum’at, sholatku tidak husyuk, fikranku melayang
kemana-mana, membaangkan jauh bagaimana aku akan bertemu dengan teman-temanu
nanti. Hal ini membuatku merasa aku memang harus pulang untuk memulikan hati
dan fikiranku. Seusai sholat, aku bersegera menyiapkan barang-barang yang akan
aku bawa pulang.
Namun,
aku tidak berencana untuk langsung pulang ke rumah. Beberap hari yang lalu aku
menyebarkan sms kepada teman-temanku yang telah berpencar ke penjuru wilayah
untuk mencari dan mengembangkan ilmu mereka. Ada salah satu temanku yang sangat
menanggapi smsku sehingga dia menelfonku seminggu yang lalu. Ia menyuruhku
untuk mampir di Malang untuk bertemu dengannya. Ak berpikir kembali, kucoba
mengingat-ingat siapa saja yang kuliah di Malang. Kudapati ada tiga temanku
yang kuliah di malang, yaitu Rizal dan Laila di Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang, dan satu lagi Atam atau yang akrab aku panggil
Lek Am, karena ia adalah keuargaku, ayahnya adalah adik dari nenekku. Satu
lagi, Lek Am sering kali pulang ke rumah karena ia membawa motor sendiri. Aku
mencoba menghubunginya supaya ketika aku sampai di Malang ia bisa menjemputku.
Semua
barang telah siap, aku melangkah kaki keluar kamar dengan wajah berseri-seri,
hati berdebar-debar seakan-akan duniapun ikut berguncang. Aku sengaj tidak berpamitan
dengan teman-teman karena kepulanganku ini bukan merupakan hal yang penting.
Aku berangkat sekitar jam setengah dua siang. Aku mengenakan celana hitam,
atasan sebanyak tiga rangkap, yaitu kaos oblong pada bagian dalam, baju merah
pada bagian tengah dan yang paling luar adalah jas CSSMoRA. CSSMoRA adalah
sebuah nama organisasi yang menampung semua mahasiswa dri jalur PBSB. CSSMoRA
merupakan kepanjangan dari Comunity of Santri Schoolar of Ministry of Religious
Affairs. Sebenarnya aku mempunyai 3 jas, yaitu jas CSSMoRA berwarna hitam, jas
HMP BKI berwarna biru muda, yaitu jas untuk semua anggota prodi BKI, dan satu
lagi adalah jas UINSA berwarna hitam. Diantara ketiga jas tersebut aku memlih
untuk memakai jas yang berwarna gelap tersebut karena ukurannya yang pas
dengan ukuran tubuhku yang terbilang
kecil, sedang kedua jasku yang lain ukurannya agak lebih besar dari tubuhku.
Aku
keluar dari kampus menuju terminal Bungurasih dengan menggunakan angkutan umum
yang di daerahku, Kediri lebih sering di kenal dengan sebutan “len”. Sebenarnya
aku biasanya menaiki len yang berwarna
hijau pada semua bagian hingga sekitar setinggi 20cm dari roda, sedangkan
bagian atasnya berwarna kuning. Len tersebut beroperasi dari Porong, Sidoarjo
sampai Joyoboyo, Surabaya. Namun yang kudapati saat itu adalah len berwarna
cokelat, aku tidak tahu len arah mana itu, ketika aku bertanya apakah len
tersebut menuju Bungurasih, Sopirnya bilang iya, maka tanpa pikir panjang
aku manundukkka kepala dan melangkahkan
kaki memasuki len tersebut. Ketika jembatan layang yang berada di atas dua
jalan raya saru arah yang kami lewati sudah di depan len, namun cuma terhalang
oleh jalan menikung di sebuah pertigaan depan, len tiba-tiba berhenti. Aku agak
bingung kenapa len tersebut berhenti. Pak sopir memberikan petunjuk supaya aku
turun, lalu ia menunjukkan supaya aku nanti setelah turun, naik melewati
jembatan layang untuk sampai di Terminal. Dari caranya memberikan petunjuk
kepadaku aku mengetahui kalau ia memberitahuku seakan-akan aku tidak thu
apa-apa, lalu aku turun menurutinya tanpa mengeluarkan kata-kata dan tidak
prots dengan caranya memberitahuku karena aku sadari memang tampang wajahku
kata orang-orang terlihat lebih muda dari pada umurku yang sebenarnya. Lalu
ketika aku keluar dan membayar orang yang memeritahuku sebesar lima ribu, len
cokelat tersebut belok di pertigaan di depanku. Aku baru menyadari di situ kenapa
aku disuruh turun, yaitu karena warna abu-abu itu menandakan bahwa jalurnya
tidak sama dengan len hijau kuning, ia berbelok sebelum sampai melewati
jembatan layang menuju terminal yang kutuju.
Aku
berjalan menyeberangi pertigaan lalu naik ke jembatan layang menuju terminal.
Panas terik mentari terasa menyayat-nyayat tubuhku, mencoba menggerus niatku,
namun aku akan lebih tersayat lagi bila kepulanganku ditunda lagi. Rasa
tergores rindu yang begitu gencarnya menyerbu hati dari segala arah, memang
dapat melumpuhkan hati seseorang, namun bila ia mampu bertahan, kerinduan
tersebutlah yang akan menjadikannya lebih kuat. Karena sebenarnya orang kuat
itu bukanlah ia yang tak prnah merasakan sakit, namun ia adalah orang yang
berkali-kali merasakan sakit namun mampu bertahan. Ketika rindu menggebu, semua
yang ada di depan mata menghilang, hanya ada bayangan-bayangan yang mengitari
diri namun tak dapat kita ditangkap, bak pinguin dalam kandang berdinding kaca
bergambarkan pegunungan salju yang tampak seperti rumah aslinya, namun tak ada
yang dapat ia nikmati dari gambar tersebut, hanya ada bayangan maya. Namun
anehnya, aku tak tau apa yang harus kulakukan bila sudah bertemu dengan mereka
yang menjadi bayangan dalam benakku. Sehingga konsekuensinya bersua menjadi
pilihan terakhir meskipun sebenarnya tidak mencukupi rasa haus akan kebersamaan
dengan pemilik bayangan-bayangan itu. Perjalanan mungkin akan menjadi lebih
menyegarkan dari pada tujuan keberangkatanku.
Ini
adalah perjalananku ke Malang pertama kali yang kulakuakan sendirian.
Sebelumnya, aku sudah pernah pergi ke Universitas Negeri Malang yang sering
disebut UM, ketika masa Aliyah dulu, ketika itu ku tengah mengikuti acara apel
BANSER (Barisan Anshor Serba Bisa, yaitu sebuah organisasi yang menampung
barisan pemuda yang menjadi pagar bagi NU yang berasal dari Anshor) se-Jawa.
Acara tersebut menjadi spesial karena dihadiri oleh Kepala Mentri Keagamaan Nasional,
yaitu Bapak Moahamad Nuh, Abu Rizal Bakri, pemilik pabroik besar roti bermerek
Bakrie, beberpa tokoh lain yang tak lagi terekam dalam memoriku dan juga
seorang Kiai yang tak kuingat namanya. Acara tersebut dilaksanakan ketika masih
ramai-ramainya pemilihan umum partai politik. Saat itu, kami dikumpulkan dalam
sebuah gedung auditorium besar dengan tempat duduk di pinggir posisinya lebih
tinggi dari pada tempat duduk yang berada di tengah. Gemerlap lampu yang berada
di langit-langit menambah kesan megah pada bangunan seluas 2 lapangan itu.
Acara
besar tersebut dihadiri oleh kurang lebih sepuluh ribu BANSER dari penjuru
pulau Jawa. Yang membuatku tambah takjub lagi adalah, acara tersebut disiarkan
di televisi. Dengan sigap aku mengirim pesan kepada orang tuaku dirumah
bahwasanya acara yang aku ikuti diliput di layar kaca. Aku senang sekali waktu
itu karena jarang sekali anak sepertiku yang notabennya anak desa mengikuti
acara besar yang dipublikasikan lewat media massa. Di tambah lagi aku ditemani
teman-teman seperjuanganku Rozi, kakak kelasku dari MTs sampai MA, Mushlih,
teman sebayaku namun beda jurusan di Aliyah, dan juga kakak-kakak BANSER yang
tidak bisa aku sebutkan satu-persatu. Para tamu undangannya mulai berpidato
satu-persatu. Disitu kami baru tahu bahwa sebenarnya Anshor telah berperan dari
sejak zaman kemerdekaan bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Ketika setelah
merdeka, para remaja Anshor menyebar di beberapa partai politik untuk
menegakkan semangat kemerdekaan. Namun yang kurang sopan adalah, ada satu, dua
petinggi Anshor yang mengira bahwa kepala mentri agama Indonesia tidak tahu
menahu soal nahwu shorof, namun ketika Bapa M. Nuh mulai berpidato, beliau
dengan santainya menjelaskan sebuah ayat dengan tafsiran berdasarkan nahwunya,
ayat tersebut adalah,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Yang artinya
adalah, “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Beliau
menjelaskan bahwasanya lafadz Al’usri adalah ma’rifat, dan Yusran adalah
nakirah. Beliau menjelaskan hanya sampai begitu. Naun kami para penonton telah
terhipnotis dengan penjelasan tersebut, kami sudah faham dengan penjelasan
tersebut. Bila dalam Nahwu dijelaskan bahwa ma’rifat adalah lafadz yang
khusus telah diketahui, sedangkan nakirah adalah lafadz yang masih umum
atau belum diketahui. Itu berarti kesulitan itu sudah kita ketahui, sebagaimana
dalam realita, manusia sangat mengetahui kesulitan/masalah yang dihadapiny dan
bahkan malah melebih-lebihkan sekan masalah tersebut sangat berat. Sedangkan
kemudahannya tidak kita ketahui, sebagaimana dalam realita kehidupan, hanya
segelintir manusia yang dapat mengetahui hikmah dari setiap kesulitan yang ada.
Beliau berhasil menarik perhatian kami dengan penjelasan singkatnya. Penjelasan
beliau itu membersihkan perkiraan negatif dari petinggi Anshor dan juga para
penonton semua.
Pak Kiai menyampaikan pidatonya di akhir. Namun pidato
beliaulah yang paling mengagumkan, namun sayangnya waktu itu aku tidak membawa
alat tulis. Ada kata-kata yang masih aku ingat dari beliau, yaitu,”Ojo golek
jenang, golek o jeneng. Leg oleh jenang iso mambu, tapi leg oleh jeneng,
jenange moro dewe.” Yang dalam bahasa Indonsia kurang lebih maksudnya
seperti ini, “Jangan mencari dunia, tapi carilah lebel nama. Jika kau dapat
dunia, dunia itu sifatnya fana, tapi kalau dapat lebel nama, dunia kan
mengikutimu dengan serta merta.” Kesemua tamu yang berpidato, semuanya luar
biasa. Namun ketika aku mendapatkan pesan sms dari orang tuaku, ternyata yang
ditampilakan di televisi hanyalah Bapak Abu Rizal Bakrie, padahal menurutku
dari semua yang luar biasa, yang luarbiasanya biasa-biasa saja hannya Bapak Abu
Rizal, setelah itu kami baru sadar ternyata acara tersebut hanya ditujukan
untuk politik saja. Tapi walau bagaimanapun, kami merasa senang karena telah
bertemu orang-orang hebat, meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati
kami.
Aku masuk kedalam bus jurusan
Surabaya-Malang. Suasana pengap mulai menyelimuti badan kurusku. Aku mengambil
kursi di bagian paling depan tepat dibelakang tempat duduk sopir. Setelah
kira-kira setengah jam, bus mulai menyalakan mesin dan berangkat dari terminal
Purabaya. Bus ini terbilang mewah untuk ukuran sebuah bus ekonomi, dengan
tempat duduk yang nyaman dan ada tv dibagian depan. Ditambah lagi, jalan keluar
dari terminal adalah jalan arah ke utara dan ke selatan, sehingga untuk ke
malang yang arahnya ke timur laut, kami dilewatkan jala tol. Benar-benar
perjalanan yang menyenangkan, seakan-akan Malang telah menyambutku. Sepanjang
jalan aku membayangkan bagaimana wajah teman-temanku ketika bertemu denganku, rindu
di hati telah mencapai puncaknya. Pernah suatu ketika kau tertidur beberapa
menit namun dalam waktu sesingkat itu aku telah bermimpi bertemu dengan Lek Am
dan juga Jailani, teman sekelas sekaligus teman akrab Lek Am, mereka berdua
sedang naik motor boncengan diatas lantai dua sebuah rumah. Mimpi yang sangat
singkat namun mempunyai arti mendalam yaitu bahwa rinduku telah tumbuh menjadi sangat
besar.
Perjalanan bus melewati pegunungan
yang menjulang tinggi bagai gerbang masuk menuju Malang. Panorama indah
terbentang indah menyambut para penumpang bus. Jalan bus bergejolak dikarenakan
bentuk jalan yang naik turun seperti suasana hatiku yang bergejolak diterpa
kerinduan. Pemandangan di atas pegunungan berselimutkan hawa dingin memanjakan
mata yang memandangnya. Aliran sungai berbatu yang berkelok menyurutkan rasa
bosan. Namun semua itu tak dapat mengalahkan rasa kantukku, berkali-kali aku
ketiduran dan melewatkan pesona alam yang menawan.
Tak terasa dua jam telah beralu,
kami mulai memasuki kota Malang. Angin dingin memasuki celah-celah dalam bus.
Sejuk yang kurasa menghilangkan rasa penat dan sesak di dalam bus
Surabaya-Malang tersebut. Aku mendapatkan pesan bahwa Lek Am tidak bisa
menjemputtku di terminal, namun bisa menjemputku di Unevrsitas Negri Malang. Ketika
memasuki malang, jalanan macet, sehingga kami baru sampai Terminal Arjosari
setelah kira-kira satu jam, aku tak menyangka kalau dari Surabaya sampai Malang
menghabiskan waktu sampai tiga jam, ampir empat jam.
Sesampainya di terminal, semua
penumpang turun. Aku tidak tahu harus kemana untuk mencari angkutan umum,
kuikuti kemana kakiku mau melangkah. Saat melewati pinggiran terminal, aku
bertemu dengan Pak Prof, sungguh senangnya aku. Beliau bertanya mau kemana aku,
kujawab aku mau menemui temanku. Beliau menunjukkan aku jalan menuju tempat
angkot berkumpul. Setelah menemukannya, aku langsung disuruh pak kernet untuk
masuk angkot. Sayang sekali aku tidak bisa bersama beliau lebih lama, beliau
sendiri juga harus menuju sebuah masjid untuk mengisi sebuah acara setelah
maghrib, sedang waktu itu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Benar-benar
sayang sekali.
Selanjutnya kau melaju menggunkan
angkutan umum menuju UM untuk menemui Lek Am. Tak kusangka jalannya jauh sekali
mungkin sekitar 7 km. Dengan jalan yang
penuh dengan lika-liku sehingga membuatku sulit untuk menghafalkannya. Namun,
keindahan dan kebersihan kota Malang tampak selalu menghiburku, rimbunan rumput
hijau yang tertata rapi di pinggiran jalan menyegarkan suasana. Aku
membandingkannya dengan keadaan Surabaya yang kutinggali, ada sedikit perbedaan,
kota Malang lebih dingin dan lebih hijau dari pada Surabaya. Uniknya dari
Malang adalah, wilayahnya lebih terkoordinir. Ketika satu wilayah dikhususkan
untuk kampus, maka dalam satu wilayah itu terdapat berbagai kampus, tidak ada
kampus lain yang berada diluar wilayah tersebut. Ketika suatu wilayah
dikhususkan untuk industri, maka tidak ada industri yang berada diluar wilayah
tersebut, semua industri ditempatkan di wilayah tersebut. Unik bukan.
Sebenarnya, aku sudah lupa juga,
seperti apa UM itu, aku terus memperhatikan pintu keluar angkot agar tidak
terlewat tempat yang kutuju. Memang sejujurnya aku tidak tahu sama sekali yang
namanya Malang. Kulihat disebelahku ada seorang laki-laki mengenakan sebuah
jaket yang bertuliskan Universitas Negeri Malang, aku berharap ia turun di
kampus yang tertulis di jaketnya itu, namun ternyata ia turun di tempat
lain. Ketika sampai di sebuah tikungan
ada seorang cewek yang mengatakan bahwa ia turun UM, namun kulihat sekeliling
tidak ada kampus yang bertuliskan kampus UM, kubiarkan ia turun. Ketika
berbelok, kulihat sebuah tempat luas yang dindingnya bertuliskan Universitas
Negeri Malang. Lalu kulihat sekilas sosok Lek Am yang sudah duduk menungguku di
taman kecil di depan tembok UM dengan mengenakan jaket birunya, ia membawa
sebuah motor. Tepat sekali ketika itu kami bertatapan mata dan tersenyum.
Aku segera turun dengan tergesa-gesa. Tasku yang
lumayan besar membuatku agak kesulitan turun dari angkot. Kuangkat tasku lebih
tinggi agar tidak mengenai penumpang lain yang duduk didekat pintu angkutan
umum itu. Saat berhasil keluar, aku memakai tasku di punggung kembali untuk mengambil
uang di kantong jasku. Kemudian aku menghampiri Lek Am dan menjabat tangannya.
Rinduku terlepas dari hati ketika kulepas tangannya. Kenyataan merupakan mimpi
dari masa lalu.
Setelah berbasa-basi, aku diboncengnya memasuki kampus
UM. Kampus UM memang luas. Dulu aku pernah bermimpi ingin kuliah disini. Ketika
aku bertanya kepada orang tuaku tentang perkuliahan, mereka menjawab kalau
kuliah yang dekat-dekat saja. Kemudian kami memperoleh kesimpulan bahwa daerah
yang paling dekat adalah Surabaya dan Malag, dan aku memilih Malang, tepatnya
UM Malang. Aku hanya beralasan bahwa aku dulu pernah pergi ke UM Malang dan
juga di Malang suaananya lebih menyegarkan dari pada Surabaya. Namun, mimpi
hanyalah mimpi bila tak ada langkah untuk mencapainya. Memang waktu itu aku
telah daftar Bidikmisi, tapi ketika diharuskan mengumpulkan berbagai berkas,
aku yang tidak punya minat besar untuk kuliah berhenti mengurusi pendaftaran begitu
saja. Tidak ada penyesalan sekali bagiku, memang mimpi hanyalah mimpi mungkin.
Aku takut akan merepotkan orang tuaku lagi. Aku hanya mau kuliah, tapi dengan
beasiswa atau dengan kerja sampingan untuk membiayai kuliahku. Atau juga, kerja
tapi tidak kuliah, yang penting tidak mengandalkan keringat orang tua. Namun
nyatanya ketika aku kuliah di Surabaya, aku tetap tidak bisa terlepas dari
jerih payah orang tua, payah...
Kampus Um tidak seperti kampus
biasanya. Yang mencengangkan, di dalam kampus UM terdapat kolam renangnya. Yah,
memang, tempat tidak dapat menentukan sifat dan sikap orang-orang yang tinggal
di dalamnya. Sepanjang perjalanan Lek Am menceritkan kepadaku hal ikhwal
mengenai kampus UM, kampus yang hijau dan menyegarkan. Ketika keluar dari UM,
ia bertanya kepadaku, apakah aku ingin ke pondoknya atau langsung ke UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang menemui temanku yang lain. Aku menjawab terserah, karena
jujur, sampai di Malang saja sudah alhamdulillah, apa lagi sampai
bertemu dengannya dan juga teman-temanku yang lain.
Lalu ia membawaku ke UIN Malang,
kami juga melewati Universitas Brawijaya Malang. Memang benar, wilayah ini
memang dikhususkan untuk kamus, tidak heran kalau kami melewati kampus lain b\bila
menuju suatu kampus. Di sore hari seperti ini, udaranya sudah dingin sekali
seperti Kediri pada pagi harinya.
Kami sampai di kampus UIN Maliki,
waktu telah menunjukkan pukul lima lebih. Kami lanhsung menuu masjid kampus.
Aku melaksanakan sholat ashar karena perjalananku memakan waktu dari setelah
dzuhur sampai sekarang aku disini. Setelah itu kami melaksanakan sholat maghrib
sekalian.
Bersambung....
Bersambung....
iki curhatan tentang opo to jane?? :D
BalasHapuscerito mbk, hehe...
BalasHapus