Sabtu, 27 Juni 2015

Hari Yang Dinanti

            Hari ini tepatnya hari jum’at tanggal 15 Juni adalah hari yang telah aku nanti setelah berminggu-minggu aku rencanakan tetapi baru hari ini bisa aku laksanakan. Aku berencana untuk pulang ke rumah karena aku sangat ingin sekali bertemu dengan teman-temanku dulu. Aku menyiapkan rencana ini dengan keyakinan saja, sedang selebihnya tergantung kepada keadaan dan situasi yang ada. Sebenarnya menurutku bisa menahan lebih lama lagi untuk pulang, namun pada hari-hari ini aku merasakan suatu hal yang aneh,
ketika aku baru bangun tidur, aku merasa sangat malas sekali untuk berangkat kuliah, aku lebih suka tidur karena dengan tidur aku dapat bertemu dengan teman-temanku dalam mimpi. Sehingga pada suatu hari kemarin, aku tidak berangkat kuliah selama satu hari penuh dengan menghabiskan waktuku dengan berbaring di atas kasur. Aku berbaring bukan karena kau sakit fisik, namun psikisku sepertinya sedng sekarat karena merindu. Aku teringat pada perkataan Pak Prof bahwasanya, jika kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kurang produktif namun sesuatu tersebut dapat memancing semangat untuk belajar, maka lakukanlah. Maka dari itu, aku merasa harus pulang sebelum hatiku menjadi lebih parah lagi.
            Pagi hari aku dan teman-temanku mengikuti perkuliahan Teori dan Teknik Konseling ang di ajar oleh Pak Agus Santosa, dosen sekaligus kepala jurusan BKI. Setelah selesai perkuliahan, aku bersegera kembali ke Pesma untuk mandi sebelum berangkat Jum’atan. Ketika aku sholat Jum’at, sholatku tidak husyuk, fikranku melayang kemana-mana, membaangkan jauh bagaimana aku akan bertemu dengan teman-temanu nanti. Hal ini membuatku merasa aku memang harus pulang untuk memulikan hati dan fikiranku. Seusai sholat, aku bersegera menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa pulang.
            Namun, aku tidak berencana untuk langsung pulang ke rumah. Beberap hari yang lalu aku menyebarkan sms kepada teman-temanku yang telah berpencar ke penjuru wilayah untuk mencari dan mengembangkan ilmu mereka. Ada salah satu temanku yang sangat menanggapi smsku sehingga dia menelfonku seminggu yang lalu. Ia menyuruhku untuk mampir di Malang untuk bertemu dengannya. Ak berpikir kembali, kucoba mengingat-ingat siapa saja yang kuliah di Malang. Kudapati ada tiga temanku yang kuliah di malang, yaitu Rizal dan Laila di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan satu lagi Atam atau yang akrab aku panggil Lek Am, karena ia adalah keuargaku, ayahnya adalah adik dari nenekku. Satu lagi, Lek Am sering kali pulang ke rumah karena ia membawa motor sendiri. Aku mencoba menghubunginya supaya ketika aku sampai di Malang ia bisa menjemputku.
            Semua barang telah siap, aku melangkah kaki keluar kamar dengan wajah berseri-seri, hati berdebar-debar seakan-akan duniapun ikut berguncang. Aku sengaj tidak berpamitan dengan teman-teman karena kepulanganku ini bukan merupakan hal yang penting. Aku berangkat sekitar jam setengah dua siang. Aku mengenakan celana hitam, atasan sebanyak tiga rangkap, yaitu kaos oblong pada bagian dalam, baju merah pada bagian tengah dan yang paling luar adalah jas CSSMoRA. CSSMoRA adalah sebuah nama organisasi yang menampung semua mahasiswa dri jalur PBSB. CSSMoRA merupakan kepanjangan dari Comunity of Santri Schoolar of Ministry of Religious Affairs. Sebenarnya aku mempunyai 3 jas, yaitu jas CSSMoRA berwarna hitam, jas HMP BKI berwarna biru muda, yaitu jas untuk semua anggota prodi BKI, dan satu lagi adalah jas UINSA berwarna hitam. Diantara ketiga jas tersebut aku memlih untuk memakai jas yang berwarna gelap tersebut karena ukurannya yang pas dengan  ukuran tubuhku yang terbilang kecil, sedang kedua jasku yang lain ukurannya agak lebih besar dari tubuhku.
            Aku keluar dari kampus menuju terminal Bungurasih dengan menggunakan angkutan umum yang di daerahku, Kediri lebih sering di kenal dengan sebutan “len”. Sebenarnya aku biasanya menaiki  len yang berwarna hijau pada semua bagian hingga sekitar setinggi 20cm dari roda, sedangkan bagian atasnya berwarna kuning. Len tersebut beroperasi dari Porong, Sidoarjo sampai Joyoboyo, Surabaya. Namun yang kudapati saat itu adalah len berwarna cokelat, aku tidak tahu len arah mana itu, ketika aku bertanya apakah len tersebut menuju Bungurasih, Sopirnya bilang iya, maka tanpa pikir panjang aku  manundukkka kepala dan melangkahkan kaki memasuki len tersebut. Ketika jembatan layang yang berada di atas dua jalan raya saru arah yang kami lewati sudah di depan len, namun cuma terhalang oleh jalan menikung di sebuah pertigaan depan, len tiba-tiba berhenti. Aku agak bingung kenapa len tersebut berhenti. Pak sopir memberikan petunjuk supaya aku turun, lalu ia menunjukkan supaya aku nanti setelah turun, naik melewati jembatan layang untuk sampai di Terminal. Dari caranya memberikan petunjuk kepadaku aku mengetahui kalau ia memberitahuku seakan-akan aku tidak thu apa-apa, lalu aku turun menurutinya tanpa mengeluarkan kata-kata dan tidak prots dengan caranya memberitahuku karena aku sadari memang tampang wajahku kata orang-orang terlihat lebih muda dari pada umurku yang sebenarnya. Lalu ketika aku keluar dan membayar orang yang memeritahuku sebesar lima ribu, len cokelat tersebut belok di pertigaan di depanku. Aku baru menyadari di situ kenapa aku disuruh turun, yaitu karena warna abu-abu itu menandakan bahwa jalurnya tidak sama dengan len hijau kuning, ia berbelok sebelum sampai melewati jembatan layang menuju terminal yang kutuju.
            Aku berjalan menyeberangi pertigaan lalu naik ke jembatan layang menuju terminal. Panas terik mentari terasa menyayat-nyayat tubuhku, mencoba menggerus niatku, namun aku akan lebih tersayat lagi bila kepulanganku ditunda lagi. Rasa tergores rindu yang begitu gencarnya menyerbu hati dari segala arah, memang dapat melumpuhkan hati seseorang, namun bila ia mampu bertahan, kerinduan tersebutlah yang akan menjadikannya lebih kuat. Karena sebenarnya orang kuat itu bukanlah ia yang tak prnah merasakan sakit, namun ia adalah orang yang berkali-kali merasakan sakit namun mampu bertahan. Ketika rindu menggebu, semua yang ada di depan mata menghilang, hanya ada bayangan-bayangan yang mengitari diri namun tak dapat kita ditangkap, bak pinguin dalam kandang berdinding kaca bergambarkan pegunungan salju yang tampak seperti rumah aslinya, namun tak ada yang dapat ia nikmati dari gambar tersebut, hanya ada bayangan maya. Namun anehnya, aku tak tau apa yang harus kulakukan bila sudah bertemu dengan mereka yang menjadi bayangan dalam benakku. Sehingga konsekuensinya bersua menjadi pilihan terakhir meskipun sebenarnya tidak mencukupi rasa haus akan kebersamaan dengan pemilik bayangan-bayangan itu. Perjalanan mungkin akan menjadi lebih menyegarkan dari pada tujuan keberangkatanku.
            Ini adalah perjalananku ke Malang pertama kali yang kulakuakan sendirian. Sebelumnya, aku sudah pernah pergi ke Universitas Negeri Malang yang sering disebut UM, ketika masa Aliyah dulu, ketika itu ku tengah mengikuti acara apel BANSER (Barisan Anshor Serba Bisa, yaitu sebuah organisasi yang menampung barisan pemuda yang menjadi pagar bagi NU yang berasal dari Anshor) se-Jawa. Acara tersebut menjadi spesial karena dihadiri oleh Kepala Mentri Keagamaan Nasional, yaitu Bapak Moahamad Nuh, Abu Rizal Bakri, pemilik pabroik besar roti bermerek Bakrie, beberpa tokoh lain yang tak lagi terekam dalam memoriku dan juga seorang Kiai yang tak kuingat namanya. Acara tersebut dilaksanakan ketika masih ramai-ramainya pemilihan umum partai politik. Saat itu, kami dikumpulkan dalam sebuah gedung auditorium besar dengan tempat duduk di pinggir posisinya lebih tinggi dari pada tempat duduk yang berada di tengah. Gemerlap lampu yang berada di langit-langit menambah kesan megah pada bangunan seluas 2 lapangan itu.
Acara besar tersebut dihadiri oleh kurang lebih sepuluh ribu BANSER dari penjuru pulau Jawa. Yang membuatku tambah takjub lagi adalah, acara tersebut disiarkan di televisi. Dengan sigap aku mengirim pesan kepada orang tuaku dirumah bahwasanya acara yang aku ikuti diliput di layar kaca. Aku senang sekali waktu itu karena jarang sekali anak sepertiku yang notabennya anak desa mengikuti acara besar yang dipublikasikan lewat media massa. Di tambah lagi aku ditemani teman-teman seperjuanganku Rozi, kakak kelasku dari MTs sampai MA, Mushlih, teman sebayaku namun beda jurusan di Aliyah, dan juga kakak-kakak BANSER yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu. Para tamu undangannya mulai berpidato satu-persatu. Disitu kami baru tahu bahwa sebenarnya Anshor telah berperan dari sejak zaman kemerdekaan bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Ketika setelah merdeka, para remaja Anshor menyebar di beberapa partai politik untuk menegakkan semangat kemerdekaan. Namun yang kurang sopan adalah, ada satu, dua petinggi Anshor yang mengira bahwa kepala mentri agama Indonesia tidak tahu menahu soal nahwu shorof, namun ketika Bapa M. Nuh mulai berpidato, beliau dengan santainya menjelaskan sebuah ayat dengan tafsiran berdasarkan nahwunya, ayat tersebut adalah,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Yang artinya adalah, “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Beliau menjelaskan bahwasanya lafadz Al’usri adalah ma’rifat, dan Yusran adalah nakirah. Beliau menjelaskan hanya sampai begitu. Naun kami para penonton telah terhipnotis dengan penjelasan tersebut, kami sudah faham dengan penjelasan tersebut. Bila dalam Nahwu dijelaskan bahwa ma’rifat adalah lafadz yang khusus telah diketahui, sedangkan nakirah adalah lafadz yang masih umum atau belum diketahui. Itu berarti kesulitan itu sudah kita ketahui, sebagaimana dalam realita, manusia sangat mengetahui kesulitan/masalah yang dihadapiny dan bahkan malah melebih-lebihkan sekan masalah tersebut sangat berat. Sedangkan kemudahannya tidak kita ketahui, sebagaimana dalam realita kehidupan, hanya segelintir manusia yang dapat mengetahui hikmah dari setiap kesulitan yang ada. Beliau berhasil menarik perhatian kami dengan penjelasan singkatnya. Penjelasan beliau itu membersihkan perkiraan negatif dari petinggi Anshor dan juga para penonton semua.
Pak Kiai menyampaikan pidatonya di akhir. Namun pidato beliaulah yang paling mengagumkan, namun sayangnya waktu itu aku tidak membawa alat tulis. Ada kata-kata yang masih aku ingat dari beliau, yaitu,”Ojo golek jenang, golek o jeneng. Leg oleh jenang iso mambu, tapi leg oleh jeneng, jenange moro dewe.” Yang dalam bahasa Indonsia kurang lebih maksudnya seperti ini, “Jangan mencari dunia, tapi carilah lebel nama. Jika kau dapat dunia, dunia itu sifatnya fana, tapi kalau dapat lebel nama, dunia kan mengikutimu dengan serta merta.” Kesemua tamu yang berpidato, semuanya luar biasa. Namun ketika aku mendapatkan pesan sms dari orang tuaku, ternyata yang ditampilakan di televisi hanyalah Bapak Abu Rizal Bakrie, padahal menurutku dari semua yang luar biasa, yang luarbiasanya biasa-biasa saja hannya Bapak Abu Rizal, setelah itu kami baru sadar ternyata acara tersebut hanya ditujukan untuk politik saja. Tapi walau bagaimanapun, kami merasa senang karena telah bertemu orang-orang hebat, meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati kami.
            Aku masuk kedalam bus jurusan Surabaya-Malang. Suasana pengap mulai menyelimuti badan kurusku. Aku mengambil kursi di bagian paling depan tepat dibelakang tempat duduk sopir. Setelah kira-kira setengah jam, bus mulai menyalakan mesin dan berangkat dari terminal Purabaya. Bus ini terbilang mewah untuk ukuran sebuah bus ekonomi, dengan tempat duduk yang nyaman dan ada tv dibagian depan. Ditambah lagi, jalan keluar dari terminal adalah jalan arah ke utara dan ke selatan, sehingga untuk ke malang yang arahnya ke timur laut, kami dilewatkan jala tol. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan, seakan-akan Malang telah menyambutku. Sepanjang jalan aku membayangkan bagaimana wajah teman-temanku ketika bertemu denganku, rindu di hati telah mencapai puncaknya. Pernah suatu ketika kau tertidur beberapa menit namun dalam waktu sesingkat itu aku telah bermimpi bertemu dengan Lek Am dan juga Jailani, teman sekelas sekaligus teman akrab Lek Am, mereka berdua sedang naik motor boncengan diatas lantai dua sebuah rumah. Mimpi yang sangat singkat namun mempunyai arti mendalam yaitu bahwa rinduku telah tumbuh menjadi sangat besar.
            Perjalanan bus melewati pegunungan yang menjulang tinggi bagai gerbang masuk menuju Malang. Panorama indah terbentang indah menyambut para penumpang bus. Jalan bus bergejolak dikarenakan bentuk jalan yang naik turun seperti suasana hatiku yang bergejolak diterpa kerinduan. Pemandangan di atas pegunungan berselimutkan hawa dingin memanjakan mata yang memandangnya. Aliran sungai berbatu yang berkelok menyurutkan rasa bosan. Namun semua itu tak dapat mengalahkan rasa kantukku, berkali-kali aku ketiduran dan melewatkan pesona alam yang menawan.
            Tak terasa dua jam telah beralu, kami mulai memasuki kota Malang. Angin dingin memasuki celah-celah dalam bus. Sejuk yang kurasa menghilangkan rasa penat dan sesak di dalam bus Surabaya-Malang tersebut. Aku mendapatkan pesan bahwa Lek Am tidak bisa menjemputtku di terminal, namun bisa menjemputku di Unevrsitas Negri Malang. Ketika memasuki malang, jalanan macet, sehingga kami baru sampai Terminal Arjosari setelah kira-kira satu jam, aku tak menyangka kalau dari Surabaya sampai Malang menghabiskan waktu sampai tiga jam, ampir empat jam.
            Sesampainya di terminal, semua penumpang turun. Aku tidak tahu harus kemana untuk mencari angkutan umum, kuikuti kemana kakiku mau melangkah. Saat melewati pinggiran terminal, aku bertemu dengan Pak Prof, sungguh senangnya aku. Beliau bertanya mau kemana aku, kujawab aku mau menemui temanku. Beliau menunjukkan aku jalan menuju tempat angkot berkumpul. Setelah menemukannya, aku langsung disuruh pak kernet untuk masuk angkot. Sayang sekali aku tidak bisa bersama beliau lebih lama, beliau sendiri juga harus menuju sebuah masjid untuk mengisi sebuah acara setelah maghrib, sedang waktu itu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Benar-benar sayang sekali.
            Selanjutnya kau melaju menggunkan angkutan umum menuju UM untuk menemui Lek Am. Tak kusangka jalannya jauh sekali mungkin sekitar 7 km.  Dengan jalan yang penuh dengan lika-liku sehingga membuatku sulit untuk menghafalkannya. Namun, keindahan dan kebersihan kota Malang tampak selalu menghiburku, rimbunan rumput hijau yang tertata rapi di pinggiran jalan menyegarkan suasana. Aku membandingkannya dengan keadaan Surabaya yang kutinggali, ada sedikit perbedaan, kota Malang lebih dingin dan lebih hijau dari pada Surabaya. Uniknya dari Malang adalah, wilayahnya lebih terkoordinir. Ketika satu wilayah dikhususkan untuk kampus, maka dalam satu wilayah itu terdapat berbagai kampus, tidak ada kampus lain yang berada diluar wilayah tersebut. Ketika suatu wilayah dikhususkan untuk industri, maka tidak ada industri yang berada diluar wilayah tersebut, semua industri ditempatkan di wilayah tersebut. Unik bukan.
            Sebenarnya, aku sudah lupa juga, seperti apa UM itu, aku terus memperhatikan pintu keluar angkot agar tidak terlewat tempat yang kutuju. Memang sejujurnya aku tidak tahu sama sekali yang namanya Malang. Kulihat disebelahku ada seorang laki-laki mengenakan sebuah jaket yang bertuliskan Universitas Negeri Malang, aku berharap ia turun di kampus yang tertulis di jaketnya itu, namun ternyata ia turun di tempat lain.  Ketika sampai di sebuah tikungan ada seorang cewek yang mengatakan bahwa ia turun UM, namun kulihat sekeliling tidak ada kampus yang bertuliskan kampus UM, kubiarkan ia turun. Ketika berbelok, kulihat sebuah tempat luas yang dindingnya bertuliskan Universitas Negeri Malang. Lalu kulihat sekilas sosok Lek Am yang sudah duduk menungguku di taman kecil di depan tembok UM dengan mengenakan jaket birunya, ia membawa sebuah motor. Tepat sekali ketika itu kami bertatapan mata dan tersenyum.
Aku segera turun dengan tergesa-gesa. Tasku yang lumayan besar membuatku agak kesulitan turun dari angkot. Kuangkat tasku lebih tinggi agar tidak mengenai penumpang lain yang duduk didekat pintu angkutan umum itu. Saat berhasil keluar, aku memakai tasku di punggung kembali untuk mengambil uang di kantong jasku. Kemudian aku menghampiri Lek Am dan menjabat tangannya. Rinduku terlepas dari hati ketika kulepas tangannya. Kenyataan merupakan mimpi dari masa lalu.
Setelah berbasa-basi, aku diboncengnya memasuki kampus UM. Kampus UM memang luas. Dulu aku pernah bermimpi ingin kuliah disini. Ketika aku bertanya kepada orang tuaku tentang perkuliahan, mereka menjawab kalau kuliah yang dekat-dekat saja. Kemudian kami memperoleh kesimpulan bahwa daerah yang paling dekat adalah Surabaya dan Malag, dan aku memilih Malang, tepatnya UM Malang. Aku hanya beralasan bahwa aku dulu pernah pergi ke UM Malang dan juga di Malang suaananya lebih menyegarkan dari pada Surabaya. Namun, mimpi hanyalah mimpi bila tak ada langkah untuk mencapainya. Memang waktu itu aku telah daftar Bidikmisi, tapi ketika diharuskan mengumpulkan berbagai berkas, aku yang tidak punya minat besar untuk kuliah berhenti mengurusi pendaftaran begitu saja. Tidak ada penyesalan sekali bagiku, memang mimpi hanyalah mimpi mungkin. Aku takut akan merepotkan orang tuaku lagi. Aku hanya mau kuliah, tapi dengan beasiswa atau dengan kerja sampingan untuk membiayai kuliahku. Atau juga, kerja tapi tidak kuliah, yang penting tidak mengandalkan keringat orang tua. Namun nyatanya ketika aku kuliah di Surabaya, aku tetap tidak bisa terlepas dari jerih payah orang tua, payah...
            Kampus Um tidak seperti kampus biasanya. Yang mencengangkan, di dalam kampus UM terdapat kolam renangnya. Yah, memang, tempat tidak dapat menentukan sifat dan sikap orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sepanjang perjalanan Lek Am menceritkan kepadaku hal ikhwal mengenai kampus UM, kampus yang hijau dan menyegarkan. Ketika keluar dari UM, ia bertanya kepadaku, apakah aku ingin ke pondoknya atau langsung ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menemui temanku yang lain. Aku menjawab terserah, karena jujur, sampai di Malang saja sudah alhamdulillah, apa lagi sampai bertemu dengannya dan juga teman-temanku yang lain.
            Lalu ia membawaku ke UIN Malang, kami juga melewati Universitas Brawijaya Malang. Memang benar, wilayah ini memang dikhususkan untuk kamus, tidak heran kalau kami melewati kampus lain b\bila menuju suatu kampus. Di sore hari seperti ini, udaranya sudah dingin sekali seperti Kediri pada pagi harinya.
            Kami sampai di kampus UIN Maliki, waktu telah menunjukkan pukul lima lebih. Kami lanhsung menuu masjid kampus. Aku melaksanakan sholat ashar karena perjalananku memakan waktu dari setelah dzuhur sampai sekarang aku disini. Setelah itu kami melaksanakan sholat maghrib sekalian.
Bersambung....

2 komentar: