Baik = Buruk, Buruk = Baik???
Apa yang menjadi tolak ukur sesuatu dinilai baik? Dan apa juga yang menjadi tolak ukur sesuatu dikatakan buruk? Apakah karena manfaatnya? Sulitnya? Mudahnya? Ininya itunya?
Apanya? Apa-apa, apanya dong, apanya dong, dang ding dong daaang ding dong... Walah, malah menyanyi, kita lanjutkan saja membahas tentang ukuran penilaian baik dan buruk.
Tentu, setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda, setiap orang memiliki standar penilaian masing-masing. Semua yang menjadi tumpuan penilaian baik dan buruk adalah pandangan (persepsi dan perspektif) pemandangnya yang mewarnai setiap sesuatu yang di pandang oleh si pemandang. Hal ini menyebabkan suatu hal dapat memiliki banyak nilai, hal ini berarti, sesuatu yang dinilai buruk oleh orang satu belum tentu dinilai baik oleh orang yang lain. Persepsi dan perspektif seseorang di pengaruhi oleh luas tidaknya pengetahuan seseorang, semakin luas pengetahuannya maka semakin tepat juga pandangan seseorang yang selanjutnya ia akan bisa mengambil sikap yang tepat bagi sesuatu tersebut.
Oh iya, hampir lupa teman, persepsi merupakan sesuatu yang dapat membedakan tingkat kecepatan/ketanggapan seseorang dalam menangkap sesuatu yang baru. Persepsi dimiliki oleh setiap individu, persepsi adalah sesuatu yang ditangkap oleh hati dan otak ketika mendapatkan rangsangan dari luar. Semakin luas pengetahuan seseorang maka semakin baik pula persepsinya.
Misal saja, ketika ada seorang anak sedang membeli ice cream (eskrim, begitulah sebutan sederhana dari lidah masyarakat Indonesia), dari kejadian tersebut akan muncul beberapa persepsi dari orang-orang yang melihat kejadian tersebut. Diantaranya ada yang mempunyai persepsi bahwa hal tersebut adalah lumrah, karena sudah sewajarnya anak menyukai eskrim karena rasa yang memanjakan lidahnya di tambah rasa dingin yang membekukan rasa haus dan penat.
Ada juga yang mempunyai persepsi hal itu tidak baik untuk anak kecil, karena kandungan dalam eskrim tersebut belum tentu baik dan memenuhi kebutuhan gizi anak. Ada lagi nih, yang mempunyai persepsi bahwa hal tersebut tidak baik namun dengan alasan yang berbeda-beda, diantaranya adalah hal tersebut dapat menjadikan seorang anak ketagihan yang buruk, karena tidak seharusnya seorng anak itu suka njajan ( bahasa Jawa yang artinya terlalu suka untuk membeli makanan ringan) yang pada akhirnya menjadikan anak menjadi pribadi yang manja.
Persepsi seseorang sangat dipengaruhi oleh perspektifnya. Perspektif memiliki arti dasar sudut pandang, atau lebih mudahnya kita sebut cara berfikir. Cara berfikir seseorang sesuai dengan kapasitas ilmu pengetahuan yang telah ia miliki. Dalam contoh di paragraf atas, nilai baik dan buruk merupakan persepsi, sedangkan penyebab kenapa hal itu baik dan kenapa hal itu buruk, itulah perspektif. Orang dengan pengetahuan tinggi akan sangat berhati-hati dalam menentukan persepsinya karena dalam perspektifnya ada banyak pertimbangan, ia akan dapat memilih persepsinya yang terbaik.
Mengenai persepsi dan perspektif ini, kita sebagai umat Islam sangat dianjurkan untuk memiliki persepsi dan perspektif yang baik. Setiap sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini mempunyai kelebihan dan juga kekurangan. Muslim yang memiliki perpektif dan persepsi akan selalu mencari kelebihan / sisi baik dari setiap sesuatu tersebut. Sehingga dengan begitu, sabar dan syukur akan menjadi kesehariannnya, husnudzon kepada Allah akan menjadi wataknya, dan bahagia akan mengikuti langkahnya. Hebat bukan...
Begitulah sekiranya pendapat saya, Wallahu A’lam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar