Kamis, 10 Desember 2015

Sabar itu Darah

    Sabar merupakan tameng bagi muslim dari rasa bosan, risau dan bimbang ketika melaksanaan ibadah, meninggalkan maksiat serta dalam menghadapi musibah. Membawanya dalam keseharian membuat segala kejadian yang mendatanginya setiap hari terasa nyaman dan nikmat sehingga

Jumat, 27 November 2015

Rifqi??? Siapa?

Namaku Rifqi Muhammad Nur, sering dipanggil dengan nama Rifqi. Aku dilahirkan di Kabupaten Kediri, tepatnya pada hari ahad tanggal 24 Desember tahun 1995. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Satu setengah tahun pertama setelah pernikahan orang tuaku, mereka tinggal dirumah kakekku. Selama satu setengah tahun tersebut ayahku membangun rumah sendiri untuk keluarga kami. Setelah dirasa rumah disebelah rumah kakekku tersebut layak pakai, orang tuaku menempati rumah tersebut. Seiring waktu berjalan, pembangunan diteruskan sampai akhirnya menjadi layak dan nyaman sebagimana rumah-rumah tetangga yang lain. Beberapa tahun setelah kakekku tersebut meninggal, rumah kakekku dibongkar.
    Aku tinggal di Desa Turus bagian selatan yang sering disebut dengan Besole. Besole bukan nama desa, bukan juga nama dusun

Kamis, 03 September 2015

Baik = Buruk, Buruk = Baik???

Baik = Buruk, Buruk = Baik???
Apa yang menjadi tolak ukur sesuatu dinilai baik? Dan apa juga yang menjadi tolak ukur sesuatu dikatakan buruk? Apakah karena manfaatnya? Sulitnya? Mudahnya? Ininya itunya?

Sabtu, 27 Juni 2015

Hari Yang Dinanti

            Hari ini tepatnya hari jum’at tanggal 15 Juni adalah hari yang telah aku nanti setelah berminggu-minggu aku rencanakan tetapi baru hari ini bisa aku laksanakan. Aku berencana untuk pulang ke rumah karena aku sangat ingin sekali bertemu dengan teman-temanku dulu. Aku menyiapkan rencana ini dengan keyakinan saja, sedang selebihnya tergantung kepada keadaan dan situasi yang ada. Sebenarnya menurutku bisa menahan lebih lama lagi untuk pulang, namun pada hari-hari ini aku merasakan suatu hal yang aneh,

Sambungan Lembar Kedua

Tepat keesokan harinya aku bertemu dengannya pada malam hari selepas isya’. Aku berjalan dengan menggunakan kaos oblong, sarung agak ngeper (agak longgar karena terlalu sering dipakai), dan juga tak lupa kubawa notbook untuk memastikan aku tidak salah fd lagi. Aku pergi ke tempat kam beremu kemarin.ketika tinggal beberapa langkah lagi, “mas..” suara seorang laki-laki kudengar dari pinggir jalan. Kulihat sosok laki-laki tersebut duduk di teras sebuah rumah kecil berhamparkan halaman kecil yang berisi tumbuhan bambu kuning di sisi jalan masuk di depannya. Kutatap lebih tajam sosok lelaki

Minggu, 31 Mei 2015

lembar kedua..

Akhir yang kurang memuaskan
    Hari senin tanggal 4 Mei merupakan hari dimana ujian Tafsir BKI terakhir kali dilaksanakan. Sebelumnya, pada paginya harinya, karena aku kurang bisa mengatur waktu, membuatku tidak bisa mendapatkan waktu untuk belajar. Ketika memasuki waktu subuh, aku bersegera melaksanakan sholat subuh, setelah itu aku duduk bersandar pagar ranjang terbuat dari besi yang aku selipkan bantal di antara punggung dan pagar tersebut. Aku menyempatkan diri untuk membaca materi yang akan diujikan di mata kuliah Tafsir nanti. Baru dua halaman aku baca, mataku sudah terasa berat untuk tetap terbuka, aku tak kuasa menahan kantuk yang menyerang. Akhirnya aku ketiduran di pagi itu. Aku terbangun pada jam tujuh, akibatnya u tidak bisa mengikuti intensif bahasa Arab pada hari itu. Kemudian aku segera bersiap untuk mengikuti peruliahan tafsir.
    Aku berangkat agak terburu-buru. Sesampainya di kelas, aku hanya melihat Pak Ainul Yaqin, Pak Prof belum hadir di kelas. Mungkin hal itu disebabkan cuaca waktu itu yang memang sedang mendung agak gelap. Aku menjabat tangan Pa Ainul lalu menempati tempat duduk di depan yang masih kosong. Kebiasaan meyoritas kami adalah

Senin, 04 Mei 2015

Lembar Awal Penulis

Setelah dua bulan lebih kami melepaskan diri sejenak dari dunia perkuliahan, tepat pada tanggal 3 Maret 2015 kami akan memulai perkuliahan lagi di semester baru. Ketidak puasan terhadap jatuh bangun selama semester pertama memacu semangat baru tuk menjadi lebih baik di semester selanjutnya. Memang kuakui, prosesku di semester pertama buruk. Saat awal memang baik, namun dipertengahan dan akhiran semester satu, semangatku mulai kualahan. Ingin kutebus dengan semester selanjutnya.
Lembaran awalku
Hari ini, tepatnya tanggal 12 April aku baru memulai buku harian ini, memang aku tau harusnya sejak mulai kuliah aku mulai menulis ini, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajarkan. Kutulis kata-kata ini dengan perasaan rindu besar kepada