Setelah dua bulan lebih kami
melepaskan diri sejenak dari dunia perkuliahan, tepat pada tanggal 3 Maret 2015
kami akan memulai perkuliahan lagi di semester baru. Ketidak puasan terhadap
jatuh bangun selama semester pertama memacu semangat baru tuk menjadi lebih
baik di semester selanjutnya. Memang kuakui, prosesku di semester pertama
buruk. Saat awal memang baik, namun dipertengahan dan akhiran semester satu,
semangatku mulai kualahan. Ingin kutebus dengan semester selanjutnya.
Lembaran awalku
Hari ini, tepatnya tanggal 12 April
aku baru memulai buku harian ini, memang aku tau harusnya sejak mulai kuliah
aku mulai menulis ini, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajarkan. Kutulis
kata-kata ini dengan perasaan rindu besar kepada
teman-temanku di kampung, teman-temanku disekolah, dan bahakan kakak-kakak kelasku dulu. Mereka yang mampu menerimaku apa adanya. Dulu aku berangkat ke kelas tanpa mandi, tanpa dandan keren, tanpa potongan rambut keren, baju dengan ukuran kebesaran, tanpa mengejar perhatian wanita, itu semua biasa bagi kami semua. Tetapi di sini? Di sini berbeda. Aku kangen mereka, tertawa dalam kesederhanaan, tersenyum di atas kekurangan, berangkat bareng, ulang bareng, jalan kaki bareng, bersepedah boncengan, terkena masalah bareng, kampung halaman tercinta. Aku hanya bisa mendoakan mereka dari sini, diamapun kalian berada, semoga kalian bahagia. Saat kita bertemu nanti, kita akan membawa sesuatu yang lain yang dapat dibagi bersama. Amiin..
teman-temanku di kampung, teman-temanku disekolah, dan bahakan kakak-kakak kelasku dulu. Mereka yang mampu menerimaku apa adanya. Dulu aku berangkat ke kelas tanpa mandi, tanpa dandan keren, tanpa potongan rambut keren, baju dengan ukuran kebesaran, tanpa mengejar perhatian wanita, itu semua biasa bagi kami semua. Tetapi di sini? Di sini berbeda. Aku kangen mereka, tertawa dalam kesederhanaan, tersenyum di atas kekurangan, berangkat bareng, ulang bareng, jalan kaki bareng, bersepedah boncengan, terkena masalah bareng, kampung halaman tercinta. Aku hanya bisa mendoakan mereka dari sini, diamapun kalian berada, semoga kalian bahagia. Saat kita bertemu nanti, kita akan membawa sesuatu yang lain yang dapat dibagi bersama. Amiin..
Jalan hidup memang tidak selalu
lurus, namun hal tersebutlah yang telah menghiasi kehidupan manusia dan membuat
semuanya berarti. Sebagaiman yang kurasakan sekarang, Allah memberikan banyak
arti di setiap kejadian-kejadian yang Ia ciptakan. Cuma kita saja yang
kekurangan merenungi dan berfikir mendalam terhadap apa-apa yang Allah
takdirkan.
Untuk mengusir sepi yang kurasa,
aku memutar musik dari notbook ini. Namun, ternyata hal itu malah memperkuat
kangeku. Aku turun ke lantai bawah untuk mencari minuman, makanan, atau apalah
untuk menemani aku belajar malam ini. Aku turun menuju lantai dua , namun
kantin DM tutup. Aku berbelok ke kamar temanku, disitu kudapati teman-temanku,
ada Mizan yang sedang asik dengan laptonya, Jadul yang dengan sabar menunggu
laptopnya untuk belajar yang sedang dipinjam Alghi untuk nonton One Piece. Aku
berdiri ikut nonoton bersama Alghi, aku melupakan tujuanku turun ke lantai dua
tadi. “Goal...!!!” “Ye...!!!” Teriakan
para mahasantri yang sedang nonton sepak bola di ruang TV terdengar sampai
kamar ini. Beberapa temanku terganggu dengan teriakan tersebut, namun mereka
tak mau menegur para mahasantri yang sedang nonton sepak bola tersebut.
Beberapa waktu kemudian, kuputuskan
kembali ke kamarku, kulihat kantin tetap tutup. Sampai di lantai empat aku
mampir ke kamar Faisal untuk membeli kopi, mie dan energen untuk menemani
malamku. Namun aku hutang dulu karena uangku besar, lima puluh ribuan, sedang
Faisal belum mempunyai uang kembali. Lalu aku kembali ke kamarku yang berada
paling ujung dekat toilet di lantai lima. Aku sedirian malam in karena teman sekamarku
pulang kampung setiap minggunya di hari libur.
Aku membuka kunci kamar kemudian
masuk dan menyalakan notbookku. “Tuuuut, tuuuut” suara notbookku karena
baterainya hampir habis, langsung kusambungkan dengan casnya yang sudah
terpasang di colokan terminal. Aku memanaskan air untuk membuat kopi. Selang
beberapa menit air sudah panas. Aku membuka mejikom dan melihat air sudah
mendidih, aku msempat kebingungan encari
alas tangan untuk menahan panasnya panci ketika aku menuangkan air panas ke
dalam gelas plastik yang sudah aku siapkan. Aku sobek tutup kardus tempat semua
cas kuletakkan sebagi alas tangan. Kutuangkan air panasnya ke dalam gelas lalu
kumasukkan dua setengah saset kopi susu karena setengah saset kopi susunya tadi
sudah aku makan mentah-mentah, biasa buat cemilan.
Lalu aku melanjutkan mengetik diary
ini. Aku mencari teman sms-an untuk mengusir sepi malam ini, tapi sepertinya
kakakku mbak Susi yang akrab aku panggil Sen (Senior) sudah tidur. Jadi
kunyalakan musik MP3 dari notbook ini. Kulirik kopiku, sudah habis sepertinya,
terlihat dari rasa ampasnya yang dalam bahasa Jawa disebut “Cekakek” ketika
kuminum kopi tersebut, agak pahit.
Malam ini, sebenarnya aku harus
belajar untuk ujian Pak Prof besok, namun kalau aku belajar bawaannnya kangen
sama teman-temanku, kenapa ya? Jadinya lebih memilih mendahulukan menulis diary
ini. Malam ini juga aku harus mencuci baju-bajuku yang sudah satu minggu lebih
belum aku cuci. Waktu sudah menunjukkan jam dua belas kurang beberapa menit
lagi. Aku teringat seminggu yang lalu di hari yang sama, aku belajar untuk
ujian keesokan harinya sampai hampir subuh. Aku belajar lama karena kurang
konsen dalam belajar, aku terfikirkan oleh kangen berat juga. Hal itu membuat
keesokan harinya aku bangun kesiangan dan nggak ikut intensif bahasa Arab dan
menutup pintu dari luar ketika pelajaran Pak Prof dikarenakan telat lebih dari
sepuluh menit. Aku mau bilang apa, salahku juga, namun aku tidak terlalu
bersedih karena dengan keterlambatanku, aku dapat memberi contoh kepada diriku
sendiri dan juga teman-teman sekelasku untuk tidak meremehkan waktu.
Setelah aku keluar dari ruang
kelas, aku duduk di kursi dekat pintu kelasku dan membuka Hpku. “”Rifqi, kamu
tau hrdiskkku?” Kata Munir yang membuyarkan lamunanku. Aku menjawab “Di kamar
Jadul tadi.” Kami mengobrol tentang hardisk Munir yang nggak ketemu, lalu dia
turun ke kamar Jadul dan aku meninggalkan notbookku untuk pergi ke kamar Jadul
juga untuk memeriksanya. Baru beberapa langkah aku keluar dari kamarku, aku
teringat akan keamanan hardisk juga notbookku yang ada di kamar, aku kembali ke
kamarku dan menguncinya. Lalu aku pergi ke kamar jaul di lantai dua. Zubad
mengatakan bahwa mungkin dibawa Mizan, lalu kami ke kamar Mizan. Stibanya di
kamar Mizan Alghi mengatakan bahwa notbook Jadul beserta hardisk Munir berada
di lemari Jadul. Kami kembali ke kamar Jadul untuk mengeceknya. Ternyata memang
benar di lemari jadul. Kami menghembuskan nafas lega, ternyata tidak hilang.
Aku kembali ke atas, namun aku
menyempatkan mampir di kamar Mizan. Aku berbincang-bincang degannya untuk
melepaskan unek-unekku malam itu agar merasa plong. Tak terasa sudah sekitar
dua puluh menitan aku berada di kamar Mizan. Aku kembali ke kamarku dan melihat
jam di Hpku, waktu telah menunjukkan jam setengah satu malam. Aku bingung, aku
harus mencuci baju, namun aku khawatir kejadian seminggu yang lalu terulang lagi,
aku nggak ikut intensif dan juga nggak ikut kuliah.
Sepertinya, malam ini akan menjadi
malam yang panjang, meski sebenarnya aku berharap dapat memendekkan malam ini
dengan berbaring di atas ranjang. Hanya suara musik dan terkadang suaraku
sendiri yang terbawa suasana lagu yang terputar yang menemaniku malam ini.
Hambar rasa mulutku, sedikit terasa bekas kopi yang kuminum tadi, mataku tak
sepenuhnya terbuka, badanku agak lemas, dan perutkupun agak terasa lapar, namun
aku tidak boleh tidur sekarang. Dengan sisa kesadaranku aku melanjutkan
mengetik diary diselimuti hawa dingin yang masuk dari jendela kamar yang
terbuka.
Malam ini malam yang berbeda dengan
malam-malam yang lain, biasanya aku baik-baik saja dengan kesendirianku di
kamar ini, namun malam ini aku merasa sepi sekali. Di tambah dengan kesunyian
malam yang bagikan Hp tanpa kontak sama sekali.
Hari Kebebasan
Kemarin,
tepatnya tanggal 13 April, saat perkuliahan Pak Prof, aku merasakan bahagia
sekali, kesan-kesan yang sebelumnya kurasakan ketika di perkuliahan beliau
sekarang sudah berubah. Sebelumnya aku merasa selalu minder karena kurasa aku
masih buruk sekali, tapi setelah bertemu beliau kemarin, kesanku berubah total,
ketika beliau mengabsen satu persatu mahasiswa kelas kami, beliau memeberikan
masukan kepada kami satu-persatu dengan tepat sekali setelah nilai ujian kami
di umumkan.
Ketika
teman-temanku diberi masukan satu-persatu, kami berkali-kali memeberikan tepuk
tangan bangga karena ternyata mereka semua
mempunyai sesuatu yang tidak di sangka-sangka sekali. Banyak sekali
masukan yang mereka dapat. Absen terus berlajut, teman-temanku terus dipanggil,
aku yang belum terpanggil mendengarkan masukan untuk teman-temanku sembari aku
menulis semua kekurangan-kekuranganku ketika belajar dan mengerjakan soal ujian
beliau. Diantaranya:
1.
Kurang hafal ayat, karena kesalhanku paling
parah adalah pada soal-soal yang menuntut kami untuk menulis ayat, banyak
sekali ayat-ayat yang aku belum hafalkan.
2.
Kurang
konsen ketika belajar, banyak fikiran yang masuk ke kepalaku ketika
belajr, entah pikiran tentang rumah, teman-temanku di kampung, sekolah aliyahku
dulu, dan lain sebagainya. Susah sekali untuk konsen belajar.
3.
Kurang baca keseluruhan, ini karena memang aku
belajar untuk ujian beliau cuma satu malam sebelum ujian berlangsung. Maka
akibatnya adalah, selau tidak selesai ketika belajar.
4.
Kurang bisa mengatur waktu, hal ini
bersangkutan denganwaktu belajarku yang masih memakai sistem SKS atau sistem
kebut semalam yang emang sebenanya aku tau sistem tersebut kurang efisien.
Akibatnya ketika keesokan harinya selama perkuliahan mataku sudah terlalu lelah
untuk tetap dalam keadaan siaga.
5.
Kurang serius karena aku sudah tau sistem
kebut semalam itu buruk tetapi aku tetap memakai sistem tersebut.
6.
Kurang yakin dengan diri sendiri, penyakit ini
agak parah, yaitu penyakit dimana ketika melihat jawan dari temanku, aku
cenderung menirunya dan tidak percaya dengan
Mengejar Ketinggalan
Hari
ini, tepatnya tanggal 21 April aku baru memlai kembali menulis buku diary,
entah kenapa kemarin tanggal 13 April tiba-tiba aku berhenti menulis karena
males tiba-tiba menghampiriku lagi. Aku sebenarnya kecewa dengan diriku
sendiri, namun tak kuasa berbuat apa-apa.
Kemarin,
aku sudah tidak masuk ke kelas intensif bahasa Arab dikarenakan kesiangan,
sedang hari ini aku tidak masuk mata kuliah Ushul Fiqih karena ketiduran.
Penyakit tidurku bisa dibilanh parah, hampir setiap hari aku bangun kesiangan,
sedang siangnya, kalau aku tidak tidur siang pasti mataku terasa panas. Padahal
banyak yang harus kukerjakan.
Kemarin,
guruku Aliyah datang untuk mengantarkan no. tanda peserta PBSB 2015 untuk adik
kelasku, namun aku malah ketiduran sehingga tidak dapat menemui guruku yang
datang jauh-jauh tersebut. Akhirnya guruku menitipkannya kepada kakak kelasku.
Lalu aku menerimanya dari teman sekelasku. Itulah secuil cerita betapa parahnya
aku.
Hari
libur kemarin mempunyai cerita tersendiri yang berbeda dengan hari-hari liburku
yang lain, dimana hari-hari liburku yang lain aku habiskan untuk tidur, hari
liburku kemarin aku mengikuti acara PTQ (Pembinaan Tilawatil Qur’an) IQMA. Acar
tersebut sedikit uni dari acara-acar yang lain, karena pada acara tersebut aku
menjadi peserta sekaligus panitia. Awalnya dikarenakan uang pendaftaran yang
terbilang mahal, ditambah acara tersebut adalah acara baru yang belum pernah
diadakan oleh IQMA. Akibatnya peserta yang mendaftar jauh dari jumlah yang
ditargetkan. Selanjutnya pengurus IQMA bidang tilawah mengambil jalan menurunkan
harga pendafaran dan mewajibkan semua anggota IQMA untuk mengikuti acara PTQ
tersebut. Pada hari H, peserta tenyata masih belum memenuhi target sehingga
pendanaan acara menjadi minus banyak.
Melanjutkan Estafet
Hari
ini bertepatan dengan tanggal 22 April, aku mulai merasakan kembali perjuangan
dalam memperbaiki diri. Berawal dari malam kemarin malam, aku ketiduran duluan
sebelum sempat sholat isya’. Aku merasakan Allah memperhatikan aku, tepat jam
setengah empat pagi Allah membangunkan aku untuk mendirikan sholat isya’
sebelum waktu isya’ habis. Setelah sholat, tak lama kemudian berkumandanglah
adzan subuh. Setelah sekalian sholat susbuh, aku ingat bahwa hari ini nanti
akan dilaksanakan ujian tengah semester mata kulia Filsafat Ilmu, aku menyempatan
diri untuk belajar. Namun mataku tak kuasa membuka kelopaknya lebar-lebar.
Melakukan apa yang seharusnya
Tanggal
27 ini, aku teringat akan sesuatu yang harus kulaksanakan yang telah terencana
sejak seminggu yang lalu. Diawali dari kemarin malam, ketika akan belajar
Tafsir BKI, aku terkekang oleh rasa malasku. Lalu aku memberikan batasan kepada
diriku senidir, setelah selesai nonton One Piece sampai episode 100 aku harus
mengakhiri nontonku dan dilanjutkan belajar. Aku belajar sampai larut malam
yaitu sekitar jam satu lebih, lalu aku menyempatkan juga untuk belajar bahasa
Arab untuk ujian UTS intensif bahasa Arab besok sampai aku ketiduran.
“Drrrrrd...
Drrrrrrd...” alarm hpku berbunyi keras menandakan jam tiga lewat dua puluh lima
menit. Aku terbangun dan mengambil hpku untuk mematikan alarm nya, setelah itu
aku ketiduran lagi. Aku terbangun dan langsung melihat jam di hp, “Wah...”
teriakku dalam hati, jam sudah menunjukkan pukul enam lebih, aku terlambat
masuk intensif dan sekaligus melewatkan ujia tengah semester intensif bahasa
Arab tersebut. Namun, apalah artinya menyesali diri, Allah tidak pernah salah
kok, jadi apapun kehendak-Nya aku meerimanya.. Aku yang sudah kehilangan minat
untuk bangun tertidur kembali sampai jam tujuh, aku bangun lalau bersiap-siap
untuk masuk kuliah Pak Prof. Dengan agak terburu-buru aku berjalan menuju
kelas.
Gedung
fakultas Dakwah sudah tinggal beberapa meter lagi, aku melirik hp dan melihat
ada miskol dari temaku Egha yang khawatir aku tidak dapa mengikuti kuliyah
lagi. Ia juga mengirimkan pesan kepadaku untuk bersegera masuk ke kelas. Ketika
kurang beberapa langkah lagi ke kelas, aku melihat teman-temanku dari luar
pintu yang tengahnya terdapat kaca yang tembus pandang. Disitu aku melihat
pandangan mereka mengarah kepada seseorang yang berada di depan kelas. Aku
masuk dengan mengucapkan salam di kelas, aku melihat Pak Ainul Yaqin yang
mengguanakan baju berwarna merah dengan kerah dan bagian pergelangan baju
berwarna hitam. Beliau mengenakan jam tangan di tangan kirinya serta sepatu
hitam dengan garis putih di bawahnya menambah elegan penampilannya. Beliau
duduk di pojok depan kelas dengan perhatian penuh terfokus kepada Faisal yang
sedang menceritakan sesuatu di depan kelas dengan menggunakan bahasa Arab. Aku
mendekati beliau dan menjabat tanganya, setelah itu aku mengambil tempat duduk
di barisan depan yang masih kosong satu kursi.
Aku
duduk dan memperhatikan Faisal, aku belajar bagaimana agar bisa tampil percaya
diri dan juga menarik dari Faisal. Dari caranya mengawali pembicarannya,
caranya mengungkapkan, caranya mendapatkan perhatian dari para pendengar, dan
lain sebagainya.
Setelah
itu ujian dimulai, kami melewati ujian dari soal ke soal selanjutnya dengan
perhatian penuh terhdap suara Pak Yaqin yang membacakan soal. Kami agak merasa
lega sealgus tegang karena soal yang akan di berikan cuma dua puluh, tidak
empat puluh seperti biasanya dikarenakan bahan ujiannya cuma tiga ayat dan juga
tafsirnya tidak terlalu banyak. Di tengah ujian berlangsung Pak Prof datang ke
kelas dengan mengenakan baju putih bergaris hitam ke abu-abuan, bercelana
hitam, sepatu fentovel hitam mengkilat seperti baru, jam tangan di tangan kirinya,
sabuk hitam dengan bentuk seperti ukiran garis-garis tegak yang di tengahnya
terdapat garis hitam lurus yang menyatukan semua garis tegak tersebut. Dengan
penampilan yang rapi tersebut beliau langsung duduk di kursi besi dengan bagian
dudukan dari kapas halus dan empuk. Beliau masuk dan merebut perhatian kami
semua yang berada dalam kelas. Semua terdiam ketika beliau masuk sebagaimana
pembina acara masum ke dalam sebuah lapangan upacara bendera.
Sambungan yang terputus
Tadi,
setelah jam kuliah Pemahaman Individu yang di ajar oleh Ibu Yusria, ketua
angkatan kami yang berwibawa yang kerap di panggil Aa’ Jajang, meminta
perhatian kami sejenak sebelum kami bubar dari kelas. Aa’ membacakan pesan dari
Pak Prof di handphone miliknya yang di angkatnya setinggi dada bahwasanya kami
disharatkan minimal harus sudah menulis buku diary sebanyak tiga puluh halaman
untuk bisa mengikuti ujian terakhir mata kuliah Tafsir BKI.
Kabar
tersebut menggemparkan hampir semua hati mahasiswa kelas B3 semester II jurusan
BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini. Mungkin hanya segelintir mahasiswa yang
tidak terkejut dan bahkan merasa biasa dengan kabar tersebut. Misalnya saja
Nursabila, gadis asal Sambas yang tidak suka menganggur sehingga meluangkan
waktunya untuk menulis diarynya. Meskipun berpostur tubuh mungil dengan
kira-kira tingginya 140 cm, tetapi ia memiliki kesungguhan dalam menulis diary
melebihi kami semua. Dua hari yang lalu tepatnya tanggal 27 April 2015, saat
perkuliahan Pak Prof, ia ditanya tentang jumlah halaman diary yang telah ia
tulis, gadis mungil tersebut menjawab bahwa ia telah menulis diary kira-kira
sebanyak tiga puluh sembilan halaman. Sungguh gadis asal Sambas tersebut telah
jauh melampaui kami semua.
Kami
terkejut dengan kabar tersebut, kami dipaksa menulis minimal tiga puluh
halaman, namun kami sadari, kami tidak akan memacu kencang kemampuan kami
menuju perubahan yang lebih baik kalau tidak dipaksa seperti ini. Memang setiap orang mempunyai potensi dan
kemampuan yang berbeda, namun siapa yang tidak mau bila diajak menjadi penulis
hebat?
Aku
sendiripun masih jarang menyempatkan diri untuk merutinkan menulis diary setiap
hari. Aku malah lebih sering menonton film baik yang sekaligus habis ataupun
yang bersambung. Misalnya saja film sambungan yang sedang marak di angkatan
kami khususnya yang laki-laki, yaitu film One Piece. Film yang
menceritakan tentang seorang anak ang memiliki kekuatan seperti karet yang
dapat memanjang dan tahan banting yang berjuang mengejar impiannya menjadi raja
bajak laut seluruh dunia dengan mencapai Grand Line dan mendapatlkan harta
karun one piece. Ia mempunyai sifat seperti polos, jujur, bukan
pendengar yang baik, cepat akab dengan orang baru, pantang menyerah, menepati
janji, bertekad kuat, tidak takut mati dalam mengejar impian, dan juga tidak
pernah takut ataupun gentar bgaimanapun musuhnya. Ia ering dijuluki dengan
Mugiwara atau si topi jerami karena ia selalu memakai sebuah topi jerami
cokelat bergaris merah di sekelilingnya yang di berikan oleh seorang kapten
bajak laut yang rendah hati.
Aku merasa harus
meniru semangat berjuag Mugiwara ketika mengejar impiannya. Bagaimana caranya
berjuang, semangat berjuangnya, jiwa pantang menyerahnya, kepercayaan kepada
kemampuan diri sendiri tanpa keraguan sedikitpun dan tidak pernah gentar dengan
masalah sesulit apapun. Si topi jerami telah mengajarkan kepadaku bahwasanya
berjuang itu simpel yaitu berusaha dengan maksimal, jangan takut terjatuh, dan
juga jangan mendengarkan mereka yang ingin menghentikan impian kita.
Setelah kami
mendengarkan kabar penulisan diary tadi, satu persatu dari kami mulai bubar
dari kelas. Ketika di kelas tinggal beberapa orang, aku mlihat laptop dan buku
temanku masih berada di kelas, padahal orangnya sudah tidak ada. Aku keluar
dari kelas untuk mencari temanku tersebut dengan tujuan dapat menemukan temanku
tersbut. Namun aku tidak menemukannya, aku kembali ke kelas dan melihat
barang-barang temanku akan dibawakan temanku Jadul, tetapi aku mlihat ia
sendiri sedang membawa laptopnya di salah satu tangannya, “Biar ku sajayang
bawa” kataku dengan suara agak keras karena aku masih berada di depan pintu
yang jauh dari barang-barang tadi. “Ouh, kamu juga tahu.” Jawab Jadul. “Iya,
akukan barusan nyari nisa.” Kataku. Lalu kami keluar dari kelas mau kembali ke
Pesma. Aku turun dengan mata selalu mengawasi ke setipa sudut tempat untuk
mencari Nisa pemilik barang yang ketinggalan tadi. Ketika aku menuruni tangga
ke lantai satu aku melihat Mbak Tria dan Rina pergi manuju ruang dosen menyusul
Mizan dan Faisal, Aku bertanya “Mau ngapain?” tpi mereka tidak menjawabya.
Setelah itu aku melihat Nisa masuk ke Fakultas dengan agak terburu-buru dan
melihat aku membawa sesuatu yang ia cari, lali ia menghampiriku dan aku
menyerahkannya kepadanya, ia tterlihat senang sekali aku membawakannya. Ia
berterima kasih dan langsung kembali keluar Fakultas.
Aku berbelok
menyusul Mbak Tria dan rina ke ruang dosen. Aku bertanya kepada mereka
pertanyaan yang sama, namun mereka tidak menjawabnya. Akhirnya aku kurang
sesrius menanggapi mereka. Aku menarik tas Rina dan bertanya, “Aku ke sini
ngapain?” tanyaku agak sedikit usil. Ternyata mereka berhenti di depan pintu
ruang dosen dan terlihat sedang mencari sesuatu. “Inilah TKP-nya” kata Mizan.
Aku langsung mengerti apa maksud mereka semua datang ke sini. Mereka mau
mencari absensi Solidaritas yang telah hilang di tempat itu kemarin ketika kami
kesitu. Aku teringat sesuatu, kemarin
aku melihat Nanang melempar setumpuk kertasb dan terjatuh dibalik lemari dosen
yang berada di sisi-sisi jalan menuju ruang dosen. Aku langsung menceritakan
ingatanku tersebut kepada mereka.
Lalu mereka
mencoba menginitip belakangh lemari dari sela-sela antara tembok dengan lemari,
dari sela-sela lemari satu dengan lemari yang lain, dan juga dari bawah lemari
tersebut. Mizan melihat sesuatu di balik lemari, Lalu ia pergi mencari celah
yang lain, gantian aku menginitip dari sudut yang tadi di tempati Mizan. Ia
benar, aku melihat ada kertas di balik lemari, lalu Miozan dan Faisal menarik
lemari dari ujung yang lain, aku melihatnya semakin jelas ketika lemari mulai
di tarik keluar, dan akhirnya kami mendapatkan kertas tersebut dan ternyata
dugaa-n-dugaan kami benar, itulah absensi Solidaritas yang kami cari. Oia, aku
hampir lumpa menjelasklaan, Solidaritas adalah Unit Kegiatan Mahasiswa yang
fokus terhadap bidang jurnalistik.
Aku mengatakan
kepada diriku sendiri, “Ternyata aku disini ada gunanya juga.” Mereka semuya
tampak bahagia sekali tatkala menemukan absensi tersebut. Setelah itu sebelum
kembali ke Pesma, kami menyempatkan diri membaca koran yang terpampang di teras
Fakultas. Setelah itu kami ke Pesma. Sesampainya di Pesma kami duduk-duduk di
rauang tamu dan Mizan menyuruhku untuk memesan lauk dan nasi di warung Bu Puji.
Kami ngobrol kembali tentang kabar yang diberitakan ketua angkatan kami tadi di
kelas. Miza, temanku yang aku akui dia adalah orang yang termasuk rajin dalam
menulis diary, ia sudah menulis sampai sekitar sebelas halaman namun ia
mengeluhkan kalau harus tiga puluh halaman. Aku sendiri yang jumlah halamanku
belum sebanyak Mizan mencoba menghiburnya agar tidak menyerah, “Ni laptokuy
saja belum bisa di buat ngetik, keyboardnya sering tidak berfungsi. Aku
harus men-sscan boottime terlebih dahulu.” Kataku sambil
menunjukkan notbookku. Ku akui, notbookku sudah pernah terjatuh dari atas kursi
satu kali, mungkin inilah efek dari jatuhnya notbookku tersebut. Kadang juga,
kursorny tidak mau bergerak sama sekali. Tidak apa-apa sih sebenarnya, tapi
kalau bisa jangan keseringan saja.
Setelah itu aku kembali ke kamarku lalu
mau makan dengan lauk yang dibelikan Mizan, namun setelah melihta nasinya,
ternyata belum matang. Setelah itu, aku ingin segera memulai menulis diaryku,
namun mau bagaimana lagi, notbookku masih belum bisa. Aku program notbookku
untuk scan Booottime, aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku mengambil
kertas dan bolpoin di dalam tasku. Aku menulis diaryku di kertas dulu supaya
mendaptkan gambaran nanti apa yang akan aku tulis dan juga biar aku tidak lupa
kejadian hari ini yang akan aku tulis di diaryku. Aku berklali-kali melirik
mesin penanak nasi, perutku d\sudah lapar karena dari tadi pagi belum makan
nasi sama sekali. Akhirnya nasi matang juga, aku makan bersama teman sekamarku.
Setelah itu aku melanjutkan menulis diaryku di kertas sambil tiduran lagi sampai
ketiduran.
Aku bangun sekitar jam lima sore
kurang sedikit, aku menyadari bahwa aku telah melewatkan kajian kitab kuning
ma’had di masjid hari ini. Aku mandi dan sholat, setelah itu selang beberapa
menit adzan maghrib di kumandangkan, aku sholat maghrib sekalian. Setelah itu
untuk menjernihkan hatiku aku mengaji Al- Qur’an yang sebenarnya aku sudah
jarang sekali mengaji Al-Qur’an. Karena memang ketika aku membaca Al-Qur’an,
aku tidak menargetkan harus sampai berapa juz, yang penting baca saja. Setelah
itu, ketika kau mau menulis diaryku, DM (dewan Mahasantri) mengumumkan dari
lantai satu bahwasanya perlombaan catur akan dil;anjutkan sampai selesai hari
ini juga. Aku yang terlajur semangat mau menulis diary terhalang oleh lomba
catur yang aku alami. Di tambah lagi hari ini aku harusnya mengikuti rutinan
tilawah IQMA di masjid sekitar jam delapan malam. Akhirnya aku menyapkan
notbook, Al-Qur’an, songkok dan juga alat tulis sebagian persiapan untuk
mengikuti semua jadwal kegiatanku hari itu juga. Namun ternyata Allah
berkehendak lain, aku memenangkan babak penyiusihan catur sampai aku menjadi
juara dua dikalahkan Faisal kemudian ia menjadi juara satu perlombaan catur
se-Pesma. Aku melirik jam yang ada di handphoneku, ternyyata jam sudah
menunjukkan pukul sembilan malam, rutinan tilawah IQMA sudah selesai pada jam
tersebut.
Lalu Faisal mengajakku makan di
kamrnya aku menurut dan makan bersam di kamar tersebut sambil sharing masalah
dunia percaturan kami sebelum memasuki dunia perkuliahan. Dari situ aku tahu
kalau memang ia telah banyak memiliki prestasi di bidang catur, sedang aku
sendiri baru Aliyah ikut perlombaan catur. Sebelum aku berpamitan dengan Faisal
dan teman sekamrnya, aku meminta film Nruto dan Sule. Sesampainya di kamar aku
masih merasa males untuk menulis diary, aku menonton beberapa episode Naruto.
Aku sudah lama tidak melihat film Naruto, ketiak aku menonton, aku baru
merasakn hal yang berbeda dari waktu-waktu dulu ketika nonton Naruto. Aku baru
menyadari bagaiman rasanya menjadi Naruto, mungkin orang-orang berpendapat
bahwa tokoh utama tersebut merupakan tokoh yang kuat dan konyol. Namun di sisi
lain, ia adalah seorang ytim piatu, kedua orang tuanya meninggal demi
melindunginya. Bisa aku bayangkan ketika menonton bagaimana perasaan menjadi
seorang anak yatim piatu, aku sendiri hampir mengeluarkan air mata ketika
menonton episode tersebut. Aku nonton keasyyikan dan tak terasa hampir dua jam
aku kesyikan nonton film naruto sampai ketiduran.
Aku terbangun sekitar jam tiga
pagi. Lalu aku baru melnjutkan menulis diaryku yang belum terselesaikan.
Jadinya, aku menulis diary khusus bagian ini bisa di bilang dua hari yaitu
tanggal dua puluh sembilan dan tanggal tiga puluh April. Namun sebenarnya
jangka waktu ketika mengetik tidak sampai dua puluh empat jam, namun ketepatan
menulisnya malam sampai berubahnya tanggal. Dalam menulis diary ini aku ingin
memberikan kejutan bagi dirku sendiri dengan tips dari Faisal kemarin, yaitu
dengan mengubah ukuran font menjadi 10, lalu ketika kira-kira sudah
mendekati target, aku merubahnya kembali menjadi ukuran font 12.
Sehingga seakan-akan ketika menulis diary aku masih mendapatkan sedikit, namun
ketika aku melihat hasil real-nya, ternyata sudah banyak. Aku akan
melihat, seberapa banyak aku akan terkejut.
Hari ini adalah hari kamis, Nanti
aku harus masuk perkuliahan Ibu Ragwan karena kamis kemarin aku sudah tidak
amsuk kelas di karenakan aku bangun
kesiangan. Aku akui, memang bangun kesianganku parah, namun bukan berarti
aku harus menyerah. Sebagaiman kata Pak Prof “Allah itu tidak menilai hasil,
namun menilai usahanya.” Memang beliau pernah mengatakan bahwa penyakit tidur beliau paling parah, misal saja ketika
ia mau pergi dari kota A ke kota B, ketika bus belum keluar dari terminal
beliau sudah tidur duluan bahkan kadang-kadang sampai melewati kota tujuan.
Namun aku rasa, tidurku tidak kalah parahnya dengan Pak Prof, aku sudah
berkali-kali tidak ikut jam perkuliahan di karenakan aku ketiduran ataupun
kesiangan.
Aku sekarang sudah mengantuk,
padahal baru dari jam tiga aku mengetrik diary ini, dan sekarang waktu masih
menunjukkan pukul setengah enam. “Wah.., ternyata akuudah hampir sekitar dua
jam setengah mengetik diary ini, namun hanya mendapatkan hampir dua halaman.Aku
mengetik diary ini sembari kuputar musik instrumen santai guna mencegah diriku
sendiri dari rasa bosan. Namun ternyata halangannya adalah ngantuk. Pagi ini, keyboardku
bermasalah lagi, tadi aku menyempatkan untuk meminjam keyboard Muajib,
teman sekamar Mizan untuk mempermudah pengetikan diary ini.
Sekarang, aku sudah mulai bingung
mau mengetik apa lagi, namun yang jelas aku harus mengejar target tiga puluh
halaman yang bila kukalkulasikan maka jatah hari ini adalah minimal aku harus
sudah mengetik sekitar delapan belas halaman. Memang jumlah targetnya lumayan
banyak, namun aku sendiri belum tahu kesulitannya bila belum mencobanya.
Oia, aku baru ingat bahwa aku mempunyai catatan-catatan untuk diaryku yang
kebanyakan belum aku ketik, tetapi memang ada yang sudah aku ketik namun belum
selesai, maka dari itu bagian ini naku beri judul “Sambungan yang terputus”
dengan harapan aku bisa menyambung semuanya hari ini juga. Berikut ini akan aku
tuliskan sambungan-sambungan dari catatan-catatan di atas yang telah terputus.
Catatan yang pertamaakan saya bahas
adalah sambungan catatan diary yang berjudul “Hari kebebasan” yang kucatat pada
tanggal 13 April lalu. Yaitu:
7.
Kurang husnudzon, yaitu mudah sakit
hati terhadap perilaku orang lain.
8.
Kurang semangat, karena aku sendiri
lebih banyak menghabiskan waktuku untuk hal-hal yang kurang bermanfaat bagi
diriku sendiri, contohnya saja nonton film.
9.
Kurang usaha, karena aku sendiri
lebih sering malesnya dari pada semangatnya dalam mempelajari mata perkuliahan.
10.
Kurang jeli, yaitu kurangnya
menguasai semua materi yang ada.
Selanjutnya pada tanggal 13 april
itu aku juga mendapatkan banyak masukan dari Pk Prof yaitu:
1.
Kesuksesan tidak harus bersama
ayah. Masukan ini sebenarnya diperuntukkan teman-temanku yang ayahnya sudah
meninggal dunia. Namun bagiku sebenarnya juga bisa masuuk di karenakan
terkadang aku ketika malam hari kesulitan belajar karena kerinduan hati kepada
keluarga di rumah.
2.
Ketika belajar jangan tegang. Ini
ditujukan kepada aku sendiri, hal ini di karenakan baisanya ketika belajar
matteri yang akan di ujukan keesokan hariny biasanya aku kepikiran bagimana
ujiannya besok, bagaimana soalnya, dan bagaimana-bagaiman yang lain. Aku diberi
masukan agar ketika belajar santai saja, pokoknya belajarnya maksimal,
selanjutnya masalah hasil biar Allah yang menentukan, kita dilarang mendikte
Allah.
3.
Orang sedih tidak akan sukses.
Bagaimana ia akan sukses bila ia tidak bangkit dan berjuang. Sindiran tersebut
sangat cocok sekali untukku karena aku dulu sering bersedih karena merasa belum
menjadi hamba yang baik. Sebenarnya bersedih boleh saja, namun harus pada
tempatnya bersedih.
4.
Terkadang seorang guru lebih
perhatian dari pada orang tua murid tersebut. Sebagaimana beliau hari itu, hari
itu beliau memberikan masukan-masukan kepada kami satu-persatu, memang hari
yang benar-benar istimerwa.
Selain itu kebanyakan yang aku
tulis adalah masukan bagi teman-temanku. Namun yang membuatku memberikan judul
“Hari kebebasan” pada catatan ini adalah pesan beliau yaitu,”Apapun kalina,
saya bangga.” Kata-kata tersebut merubah mensetku yang sudah tertanam dalam
hati lama sekali. Aku berpikir bahwa aku selalu jauh dari apa yang beliau
harapkan, aku masih belum pantas menjadi mahasiswa yang beliau banggakan. Namun
ketika mendengar kataikata tersebut dari beliau, suasana hatiku berubah, dari
mendeung berkepanjangan menjadi cerah sejuk dan nyaman sekali suasana hati ini.
Rasanya kau maju terbang saat itu juga.
Namun naasnya, pada jam kuliahan
tertsebut, temanku Shofi, anak asal Bangkalan Madura, ia di kelluarkan dari
kelas karena ketahuan mengoperasikan handphonenya dalam kelas. Aku merasa, aku
harus berjumpa dan menghiburntya karena aku sendiri juga pernah dikeluarkan
dari kelas karena aku terlambat hampir sepuluh menit ketika mau masuk ke dalam
ruang kelas beliau. Seusai perkuliahan beliauy, aku mencarinya keluar kelas,
tepat sekali aku bertemu dengannyya, ia sedang menuju kampus. Ketika ia bertemu
denganku, ia langsung mengajakku untuk pergi ke perpustakaan pusat untuk
mencari hadits yang telah diberikan Ibu Ragwan dalam mata kuliah Hadits BKI.
“Ini kesempatan emas”, kataku dalam hati. lalu aku menurutinya untuk
menemaninya mencari hadits. Waktu itu kira-kira sampai jam dua belas lebih dua
puluh, kami belum mendapatkan hadits yang kami cari. Sembari kami mencariu
hadits, aku berbincang-bincang dengannya mengenai dikeluarkannya dia dari
kelas. Aku m,eyakinkan dia bahwa sebenarnya Pak Prof tidak marah, itu hanyalah
bentuk ketegasannya.Tegas berbeda dengan keras, apa lagi dengan marah. Perkuliahan
Bu Ragwan akan di mulai jam setengah satu, sedangkan aku sendiri belum
melaksanakan sholat dzuhur. Lalu kami pergi ke tempat sholat yang sudah di
persiapkan oleh petugas perpustakaan di dalam perpustakaan, namun tempat
tersebut kulihat dipenuhi oleh wanita-wanita. Aku yang laki-laki sendiri merasa
sungkan kalau aku sendiri, akhirnya aku mengatakan kepada Shofi kalau aku akan
pergi ke masjid untuk sholat, alalu aku menyuruhnya untuk menunggu di
perpustakaan, setelah aku selesai sholat, aku akan menemuinya di perpustakaan
kembali untuk bersam-sama masuk kelas bu Ragwan di karenakan handphonenya mati,
jadi jadi dia tidak bisa melihat jam.
Aku pergi menuju masjid untuk
melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah. Setelah selesai, aku kembali
menuju perpus. Aku mencari-cari Shofi dari lanti satu sampai lantai dua di
perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.n namun
tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku tidak menemukannnya. Aku melihat
jam di hp-ku, waktu telah menunjukkan jam dua belas tiga puluh lebih. Aku
mencoba mencari lagi, mungkin aku tadi kurang teliti. Selang beberapa menit,
aku mendapatkan pesan dari salah satu temanku yang isinya mengatakan bahwa
Shofi telah masuk ke kelas, aku disuruh langsung masuk ke kelas. Lalu ketika
sampai di kelas, aku hanya mengarahkann jari telunjukku kepada Shofi sambil
memapangkan wajah sinis tanpa mengatakan sepatah katapun.
Selanjutnya aku sudah lupa
bagaimana kejadian tanggal tiga belas April tersebut, maklum juga, aku cuma
mengandalkan ingatanku. Kelupaan terhadap kejadian masa lampau diakibatkan oleh
kita sendiri, karena sebenarnya kita bisa membuat suatu kejadian yang susah
untuk dilupan diri kita sendiri. Bagaimana maksudnya diakibatkan oleh kita
sendiri? Begini, aku dulu pernah menonton acar ILK (Indonesia Lawak Kleb) yajng
aku download dari Youtube. Di situ, Abdel, seorang salah satu
komedian yang melejit di karenakan sebuah acara komedi yang berjudul “Abdel dan
Temon” mendapatkan hati masyarakat Indonesia, ia berdebat dengan Cak Lontong,
seorang komedian yang pernah menjadi “Jawara” dalam acara yang menjadi sorotan
pemuda sekarang yaitu “Stand Up Comedy”, Cak Lontong adalah nama julukan yang
di berikan kepadanya, sedang nama aslinya aku belum tahu. Abdel mengatakan
kepada Cak Lontong bahwa kita bisa lupa terhadap sesuatu karena kita tidak
meletakkan sesuatu tersebut ke dalam memori-memori penting. Ia memberikan
pertanyaan perumpamaan dengan beberapa pertanyaan kepada Cak Lontong, “Sejak
kapan anda menikah?”, Cak Lontong menjawab bahwa ia telah menikah sejak empat
belas tahun yng lalu, lalu Abdel bertanya kembali tentang apa saja yang terjadi
pada saat empat belas tahun yang lalu, ternyata Cak Lontong masih ingat apa-apa
yang terjadi empat belas tahun yang lalu. Kemudian Abdel bertanya kembali
tentang sesuatu yang diulakukan Cak Lontong empat belas hari yang lalu, namun
ternyata Cak lontong sudah tidak ingat kejadain empat belas hari yang lalu.
Lalu Abdel menyimpulkan bahwa, Cak Lontong dapat mengingat kejadian empat belas
tahun yang lalu karena ia meletakkan kejadian tersebut dalam memori-memori
penting, sedangkan ia tidak dapat mengingat kejadian empat belas hari yang lalu
karena ia tidak meletakkannya ke dalam memori-memori penitng. Maka dari acar
ILK tersebut tepatnya dari perbincangan Abdel dan Cak Lontong bahwasanya setiap
kejadian yang kita lalui akan dapat diingat atau tidak dapat diingat
dikarenakan kita sendiri. Namun kalau nkita seorang penulis diary yang rajin,
kita dapat m,engingat kejadian-kejadian yang lampau melaui tulisan kita baik
kejdian tersebut penting atau tiudak buat kita.
Selanjutnya, aku akan memasukkan catatan-catatanku yang lain yang akan
sia-sia bila tidak aku nmasukkan ke dalam diary ini. Catatan ini aku sudah
hampir lupa sebenarnya, namun aku akan memasukkannya. Catatan kecil ini aku
catat pada tanggal 30 Maret lalu.
Berawal dari selesainya perkuliahan
intensif bahsa Inggris, aku dan beberapa temanku yang kebetulan satu kelas
intensif sekaligus satu kelas perkuliahan biasa juga, dan kebetulan juga nanti
perkuliahan Pak Prof dilaksanakan di kelas ini juga, jadi kami tinggal menunggu
teman-teman kami hadir sekaligus menunggu kehadiran Pak Prof dan juga Pak Ainul
Yaqin tanpa harus repot-repot berganti kelas. Aku diberikan sepotong roti oleh
teman sekelasku lalu aku memakannya, namun Pak Prof dan Pak Ainul Yaqin datang
ketika saat aku belum selesai menghabiskan sepotong roti yang sebenarnya taingal
satu gigitan lagi. Aku tidak mengurangi rasa hormat terhadap guru-guruklu, aku
meninggalakn sepotong roti kecil tersebut karena pk prof dan pak Ainul yaqin sudah
masuk di kelas. Aku biarkan roti tersebut disamping tangan kananku selama
beberapa jam sampai jam kulia selesai, aku sebnarnya sangat ingin memakan
sepenggal roti tersebut, namun aku malu dengan Pak Prof dan pak Ainul Yaqin
meskipun sebenarnya mereka tahu atau tidak tahu aku tidak mengerti. Beberapa
temanku telah melirik sepotong rotiku, namun aku mengacuhkan mereka dengan
tersenyum kepada mereka tanpa mengatakan apa-apa bahkan sepenggal katapun tidak.
Kadang kalu mereka terlihat akan melihat rotiku, aku menutupinya dengan
tanganku sambil tersenyum setengah tertawa. Dalam pengajaran pak prof kali ini
aku mendapatkan pelajaran bahwa, dalam penulisan tugas tafsir kami tidak boleh
ada kesalahan sediki pun. Dengan
kepastian bahwa minggu depan kesalahan yang ada targetnya adalah dalam
sepuluh halaman hanya terdapat satu keslalahan saja, tidak seperti sekarang,
satu halaman saja terdapat banyak sekali kesalahan.
Beliau mengatakan hal tersebut lalu
memngatakan sebuah kata-kata bijak, “Kehebatanmu jangan sampai tercoreng oleh
kekurang telitianmu.” Karena terkadang seseorang gagal meraih kesuksesan karena
disebabkan oleh hal-hal yang dianggap sepele namun ternyata mempunyai dampak
buruk bagi kesuksesan seseorang. Beliau juga mengajarkan bahwa, sebenarnya
kesulitan adalah hal yang dapat membantu kita menuju kesuksesan lebih cepat.
Contoh saja Pak Hamka, seorang pidana pengarang kitabTafsir Al Azhar. Beliau
mengarang tafsir al Azhar tersebut
selama di dalam penjara. Seandainya saja beliau tidak di penjara, dia
tidak akan sanggup untuk menulis tarsir tersebut, karena keadaanyalah yang
dapat membantunya untuk mengarang sesuatu. Memang ternyata Allah selalu
mempunyai rahasia di balik semua kejadian yang di kehendakinya.
Selanjutnya aku masukkan lagi
catatan yang lebih lama dari pada catatan tersebut, yaitu catatanku ketika
pertama kali aku dan teman sekelasku diperkenalkan dengan Pak Ainul Yaqin,
seorang yang berasal dari Malang, beliau lulusan S1 dari Universitas Al Azhar
Kairo, Mesir. Beliau orang yang tidak suka pamer, beliau kurang setuju kalau
beliau beliau diunggulkan karena beliau lulusan Kairo. Beliau berpesan kepada
kami semua, “Selama kamu berbakti sama orang tua, selama itu juga kamu
merasa tenang.” Beliau adalah orang yang aku akui dalam hal berbaktinya kepada
orang tua luar biasa. Beliau memang tidak pernah sholat istikhoroh, karena
beliau menempatkan istikhoroh beliau kepada keputusan ibu beliau. Ketika ada
apa-apa, istkhoroh beliau selalu bergantung kepada keputusan ibu beliau apapun
itu. Sebagaimana cerita beliau semasa masih menuntut ilmu di Al Azhar, ketika
itu beliau akan mengambil ijazah S1 beliau beberapa hari lagi, namun Ibu beliau
meminta beliau untuk segera pulang ke rumah, ibu beliau sudah kangen terhadap
beliau. Lalu beliau menceritakan tentang pengambilan ijazahnya, namun ibunya
menjawab kurang lebih seperti ini, “Aku tidak membutuhkan ijazah kamu, aku
membutuhkan kamu.” Akhirnya beliau pulang sebelum mengambil ijazah S!-nya.
Beliau adalah orang pertama dari Indonesia yang lulus dari Al Azhar selama
empat tahun dan berani tidak mengambil ijazahnya. Padahal Universitas di Kairo tersebut terkenal bahwa
mahasiswa yang lulus dari Al Azhar selama lima tahun itu sudah tergolong hebat,
sedang beliau mampu lulus dalam waktu empat tahun. Maka dari itu aku
menyimpulkan bahwa Birrul Walidain beliau luar biasa.
Selanjutnya beliau juga berpesan, “Jika
kamu punya uang lebih, pakailah untuk sekolah atau menyekolahkan orang lain.”
Beliau nebyadari betapa mahalnya ilmu dan juga betapa banyak oarng yang ingin
mendapatkan ilmu namun tidak mempunyai kemampuan materi serta begitu banyak orang
memiliki kemampuan materi untuk belajar namun kurang bisa memanfaatkan
kemampuannya tersebut. Misal saja di Surabaya ini, begitu banyak anak usia
belajar yang tidak mampu membayar SPP sekolah sehingga membantu perekonomian
orang tuanya dengan mengamen di angkutan umum. Mereka adalah musisi jalanan
sekaligus pelajar. Menghabiskan waktunya untuk mencari recehan dari para
penumpang yng kebetulan bertemu dengan mereka. Mempertaruhakn harga diri demi
sesuap nasi. Berpacu melawan hawa panas yang selalu menerpa kulit mereka.
Bising suara mesin tak jemu memasuki daun telinga mereka. Namun, mereka dapat
mengatasi semua itu, semangat mereka tak pernah madam meskipun sudah
berkali-kali terhembus angin permasalahan. Mereka lebih pantas untuk
mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak. Namun Allah memberikan
kelayakan tersebut dengan jalan yang berbeda, mungkin bila mereka mempunyai
kemampuan materi, mereka akan menyeleweng dari jalan Allah. Allah lebih tahu
apa yang terbaik buat mereka.
Kemudian, catatanku yang telah aku
ketik pada tanggal 20 April kemarin. Kebetulan kemarin Pak Prof tidak masuk di
perkuliahan di karenakan Beliau sedang ada acara di Jakarta. Jadi yang mengajar
kami adalah Pak Ainul Yaqin saja. Di tengah-tengah perkuliahan, Pak Prof
menelpon Pak Ainul Yaqin, kemudian Pak Ainul Yaqin mengisyaratkan kepada kami
untuk maju mendekat ke hanpdhonenya karena Pak Prof mau menyampaikan beberapa
pesan kepada kami, beberapa isinya telah aku catat di buku tulisku. Yang
pertama adalah tentang jaringan atau relasi terhadap siapapun. Beliau
menekankan kami untuk memiliki hubungan yang baik dengan semua orang. Jaringan
lebh pentng dari pada kepandaian. Kuatnya jaringan menandakan seseorang
memiliki jiwa sosial yang tinggi dan mampu memberi kenyamanan bagi setiap orang
yang ada di sekitarnya.Orang dikenal bukan karena kepandaiannya, tetapi karena
kebaikan dan kenyamanan yang ia berikan. Di tambah lagi, sebaik-baik manusia
adalah ia yang paling baik akhlaknya dan juga bermanfaat bagi sesama manusia.
Lalu yang kedua adalah, beliau
meyakini bahwa posisi kami sudah mudah
tinggal memacu diri untuk mengembangkannya saja. Beliau sudah tahu akan
kemampuan kami dan beliau yakin bahwa kami semua sanggup menjadi orang-orang
besar di kemudian hari. Beliu sangat perhatian dengan kelas kami. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Pak Ainul Yaqin, “Dekat dengan guru besar itu bangga dan juga
tuntutan.” Maksudnya adalah, kami senang bisa dekat dengan guru besar, namun
kami tidak bisa santai-santai saja bila sudah dekat, kami sangat takut
mengecewakannya, Jadi amu harus menuntut diri sendiri untuk memacu lebih
kencang belajar kami, cara belajar kami, dan bahkan berusaha lebih keras lagi.
Kami akan berkembang lebih pesat dengan usaha yang lebih banyak di banding
dengan biasanya. Namun, bila semua dilaksanakan dengan hati yang ikhlas,
semuanya itu indah, tidak ada yang dirasa berat, karena semuanya dilakukan
dengan lapang dada. Karena memang sejatinya masalah itu salnya dari beban yang
ada d dalam hati, bila dari awal sudah melakukan dengan kerelaan, tidak akan
ada beban dalam hati yang dapat mengubah keikhlasan itu sendiri.
Poin ketiga adalah tentang salah
satu cara beliau meningkatkan kemampuan kami, yaitu menekakan menulis diary
ini, harus bisa sampai tiga puluh halaman dengan sau spasi, tidak boleh kurang.
Memang benar, dari penulisan diary ini kami belajar banyak hal, kami menjadi
bisa mengekspresikan diri lewat tulisan, memperkaya kosa kata kami, dan juga
sekaligus memperindah bahasa kami. Kami menghidupkan diri kami melewati sebuah
tulisan. Dengan menulis, kita naru saja menghidupkan diri lebih lama dari umur
kami sendiri. Dengan menulis, kami dapat tetap hidup di mata masyarakat,
meskipun jasad kami meninggal, namun karya yang telah kami buat akan tetap
hidup di hati masnyarakat. Namun tentu saja itu semua bila kami sudah menjadi
penulis hebat yang dapat memenangkan hati para pembaca. Kemudian beliau juga
mengingatkan kami tentang tahsin Al Qur’an yang akan di ujikan kepada kai untuk
menambah kekurangan-kekurangan nilai kami pada setiap ujian. Walaupun aku
sendiri belum juga menyiapkan bagaimana membaca Al Qur’an yang bagus. Untu
membaca Al Qur’an dengan bagus, tidak haris mempunyai suara atau vokal yang
bagus, namun kita hanya perlu untuk pintar-pintar memilih lagu yang sesuai
dengan suara kita.
Lalu di akhir, beliau menyakan
kepadakami, mau oleh-oleh apa dari beliau, lalu kami menjawab bahwa kami hanya
minta doa dari beliau agar kami dapat berjuang semaksimal mungkin. Stelah
telephone berakhir, kami melanjutkan perkuliahan Tafsir BKI. Aku mendapatkan
masukan lagi dari Pak Ainul Yaqin ketika membahas ayat-ayat Al Qur’an beserta
tafsirannya, antara lain:
1.
“Kita bukan hamba kenikmatan, tapi
hamba Maha Pemberi Kenikmatan.” Maka jangan sampai kami terjebak di dunia hanya
mencari kenikmatan saj dan buta terhadap Pemberi Kenikmatan. Dunia memang
menyilaukan, banyak godaan-godaan dan banyak pula rintangan. Dengan berpegang
teguh kepada hakikat agama Islam, Insya’ Allah kami akan selamat di dunia ini.
2.
“Dapat bersyukur harus di syukuri,
Maka hakikatnya kita itu tidak bisa mensyukuri. Ketidak berdayaan kita dalam
bersyukur, itulah hakikat syukur.” Maksudnya ketika kita ersyukur, kita harus
juga mensyukuri rasa syukur tersebut, setelah itu kita juga mensyukuri rasa
syukur terhadap kemampuan untuk bersyukur tersebut, lalu mensyukuri dapat
mensyukuri rasa syukur kita terhadap rasa syukur kita atas nikmat Allah, dan
terus bersambung tanpa ada habisnya. Maka beliau menyimpulkan bahwa hakikat
menusia itu tidak bisa bersyukur secara sempurna.
3.
“Hakikat kita adalah ketiadaan.”
Karena pada hakikatnya yang maujud hanyalah Allah, semua alam adalah ciptaan Allah.
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
4.
“Inti dari makhluk adalah
Rasulullah SAW yang diciptakan dari nur Allah langsung.” Beliau mengatakan
begitu karena di dasarkan kepada dalil nash yang mengatakan bahwa, seandainya
Allah tidak menciptakan Nabi Muhammad, maka Allah juga tidak akan menciptakan
dunia ini. Manusia yang paling sempurna adalah Rasulullah SAW. Bahkan di ‘arsy.
Asma Rasulullah SAW sejajar dengan Asma Allah, sebagaiman dalam cerita Nabi
Adam ketika melewati ‘ary melihat tulisan tersebut, padahal pada waktu itu
Rasulullah belum muncul ke dunia, namun nur Muhammad sudah ada.
5.
“Kalau mencintai saja masih
menyisakan sakit dan derita, apa lagi memusuhi.” Kita sebagai muslim dilarang
saling membenci karena rasa benci itu ibarat air aqi yang lebih merusak
wadahnya dari pada sesuatu yang di tumpahi air tersebut. Apa lagi kami sebagai
konselor dituntut untuk menjadi seseorang yang memberikan kenyamanan kepada
semua orang yag ada di sekitarnya.
6.
“Orang yang membenci kita adalah
orang-orang yang diam-diam memperhatikan kita.” Meskiun kita dibenci orang,
namun kita usahakan kita tidak membencinya balik. Karena oarng yang membenci
kita sebenarnya adalah orang yag sebenarnya memberikan perhatian lebih kepada
kita, mereka menunggu berjam-jam menuggu hanya untuk melihat beberapa detik
kesalahan kita. Istimewa bukan. Bahkan mungkin orang yang dekat dengan kita
belum tentu dapat memberikan perhatian lebih sebagaiman orang yang membenci
kita.
7.
“Setiap orang pasti ada yang
menyukai dan juga ada yang memusuhi.” Kita lihat saja Rasululah, manusia yang
begitu luar biasanya masih saja ada yang membencinya, apa lagi kita yang
manusia biasa yang cenderung banyak kekurangan serta kesalahannya. Jadi ketika
ada yang suka atau membenci kita, jangan kaget, karena memang itulah fitrah
manusia. Kesimpulannya adalah, sebaik apapun manusia pasti ada yang
membencinya, dan juga sebaliknya, seburuk apapun seseorang pasti ada juga yang
menyukainya.
8.
“Baghat adalah ngeyel.” Baghat
secara bahasa banyak diartikan sebagai pemberontak, namun hakikatnya adalah ngeyel
(bahasa Jawa). Ngeyel bila
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bisa berarti susah dibilangin, susah
dinasehati.
9.
“Banyak kesalahan yang tidak kita
sadari, maka keuntungan dari seorang mukmin adalah kebiasaan kita mendoakan
semua umat Islam.” Kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari bisa jadi lebih
banyak dari pada kesalahan-kesalahn kita yang kita sadari. Karena terkadang,
seseorang merasa tersakiti karena tingkah laku kita padahal kita sendiri tidak
merasa menyakiti, kita secara tidak sengaja telah melukai hati seseorang tanpa
sepengetahuan kita sendiri. Namun untungnya, kita adalah seorang muslim, kita
kerap kali ketika berdoa bukan cuma untuk diri sendiri, namun untuk semua orang
Islam pada umumnya, jadi secara tidk langsung kita sebagai muslim saling
mendoakan satu sama lain.
Selanjutnya mengenai catatan yang
telah aku catat pada tanggal 27 April lalu, yaitu yang pertama adalah, “Sesuatu
yang luar biasa bila di ulang-ulang menjadi biasa kecuali bagi orang-orang yang
terbisa tafakkur.” Maksdunya adalah sesuatu yang sangat kita sukai memang
seharusnya adalah sesuatu yang jarang kita temui, karena bila kita mendapatan
apa yang kita sukai secara berulang-ulang, maka kita dikhawatirkan akan cepat
bosan dengan hal tersebut dan akhirnya kita sendiri menjadi tidak suka terhadap
hal tersebut. Kecuali bagi orang-orang yang selalu tafakkur, yaitu
orang-orang yang selalu memikirkan setiap sesuatu yang menimpanya sehingga
mampu mengambil hikmah di balik sebuah kejadian dan akibatnya, ia dapat
menikmati apapun yang ia hadapi dengan kenikmatan yang tidak ada duanya.
Masukan selanjutnya adalah,
أَوَّلُهَا
التَكَلَّفُ ثُمَّ جَاءَتْ التَّأَلُّفُ
“Di paksa dulu baru ikhlas
setelahnya”.
Maksudnya
adalah ketika melakukan sesuatu yang baik memang biasanya adalah paksaan dari
guru, teman ataupun oleh orang tua kita, hal ini di perbolehkan karena untuk
memiasakan dulu dengan kebaikan tersebut. Lalu ketika kita sudah terbiasa
dengan kebaikan tersebut, rasa ikhlas akan muncul dengan sendirinya. Semisal,
ketika waktu kecil kita disuruh untuk makan dengan tangan kanan, awalnya kita
melakukannya karena dipaksa dan takut dimarahi, kemudian ketika kita sudah
terbiasa makan dengan tangan kanan, kita akan makan dengan tangan kanan dengan
sendirinya meskipun tidak disuruh ataupun diawasi. Karena sebuah kebaikan butuh
pembiasaan terlebih dulu, meskipun pada awalnya di beri iming-iming sesuatu
atau karena takut akan dimarahi atau disakiti.
Masukan
yang ketiga yaitu, “Politik dan Agama, dua hal yang kadang bertentangan dan
juga kadang juga saling memperkuat.” Dua hal ini memang sesuatu yang terlihat
sulit untuk disatukan. Karena politi dan agama mempunyai “Cara main”
masing-masing. Keduanya mempunyai aturan-aturan yang berbeda, namun dapat
disatukan meskipun tidak secara menyeluruh. Agama menuntut kita untuk berada
sedekat-dekatnya dengan Tuhan, semua yang dilakukan ikhlas untuk Allah, bukan
yang lain. Sedangkan dalam politik, semua usaha dilakukan untuk kemenangan diri
sendiri. Kemudian masukan yang kudapat selanjutnya adalah, “Bencilah sikap golongan
Islam keras, jangan orangnya.” Hal ini berhubungan dengan akhlak seorang
muslim, ketika kita membenci seseorang baik orang Islam atau bukan, kita
dilarang untuk membenci orangnya, namun boleh membenci sikapnya. Hal ini
dikarenakan setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk memilih jalan
yang baik dan juga jalan yang buruk bagi dirinya. Dengan membenci skapnya
dengan harapan sikapnya tersebut dapat berubah suatu saat nanti.
Masukan
terakhir adalah, ”Apa bila ilmu dihitung dengan uang, maka Rasulullah adalah
orang yang paling kaya.” Karena kita tahu, Rasulullah mempunyai ilmu yang
langsung diberikan oleh Allah meskipun beliau adalah Nabi yang ummi,
yaitu Nabi yang tidak bisa baca tulis. Namun dibalik ke-ummi-an beliau,
terdapat banyak sekali hikmah yang di dapat, salah satunya adalah ke-ummi-an
beliau membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan karangan Rasulullah, namun murni dari
Allah langsung.
Kemudian
catatan terakhirku yang tertulis pada tanggal 30 April lalu. Aku mengetik
catatan tersebut di kelas dengan memakai laptop temanku karena laptopku sendiri
sedang rewellagi, tidak mau diajak untuk mengetik diary. Catatan tersebut
adalah sebagai berikut.
Pagi ini, aku berangkat ke fakultas
dengan antusias meskipun aku datang gak terlambt. Namun seperti biasa, ternyata
Mis Ayu, dosen B. Inggrisku lebih terlambat dari pada aku sendiri. Dari
mahasiswa kelasku yang terdaftar di absen, hanya tiga yang hadir hari ini.
Ketika Mis Ayu masuk, beliau masuk agak lesu, mungkin sedang ada masalah, atau
mungkin juga ini cuma naluriku sebagai calon konselor Islami, atau mungkin juga
cuma perasaanku saja.
Setelah beliau masuk, beliau
menanyakan kami maunya apa, lalu kami memutuskan untuk nonton film saja. Mereka
teman-temanku sudah tau film apa yang akan di putar karena dulu sudah pernah
diputar di kelas namun belum selesai dan kebetulan aku tidak tahu karena aku
tidak masuk. Lampu kels dimatikan, namun tidak memakai speaker karena Mis tahu
kalau kami cuma membaca subtitlenya saja.
Entah kenapa, baru beberapa menit kami
nonton, mataku sudah terasa panas, mungkin karena aku kurang tidur pagi ini.
Setelah selesai, kami keluar menuju ruangan yang lain untuk melangsungkan
perkuliahan Ibu Ragwan yaitu mata kuliah Hadits BKI. Setelah masuk di kelas,
aku menulis catatan ini. Ketika di tengah mencatat, Munir, anak dari Balikpapan
yang meiliki tubuh bidang, memiliki retorika bahasa yang baik, dan juga ramah,
masuk ke dalam kelas. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin meminjam
hardisknya untuk mengkopi film bersambung Naruto Shippuden. Dulu sebelum
menyukai film One Piec, aku terlebih dahulu menyukai film Naruto. Naruto
sebenarnya adalah film yang sangat terkenal pada masa kecilku dulu. Namun aku
dul sering melewatkannya ketika ditampilakn di layar televisi, sedangkan
teman-teman sebayaku tidak melewatkannya. Sekarang gantian aku yang menyesal
karena telah melewatkannya. Memang, dari duu yang aku ketahui, film anime
Jepang, bagian tokoh utamanya pasti mempunyai tingkah-tingkah yang konyol namun
mempunyai jiwa yang pantang menyerah. Namun, ketika aku tengah menyalin film
Naruto tersebut, Ibu Ragwan tiba-tiba masuk ke kelas. Aku tidak ingin
menyia-nyiakan proses menyalinnya. Maka aku biarkan sampai proses menyalinnya
selesai, kemudian setelah selesai aku langsung mengembalikan hardisk dan laptop
yng aku pinjam. Ketika aku masuk jam perkliahan tersbut, aku teringat minggu
lalu aku tidak masuk jam perkuliahan ini dikarenakan aku bangun kesiangan.
Di balik layar
Kemarin, hari jum’at
tanggal 1 Mei, aku sempat terhenti menulis diary ini dikarenakan notbooku rewel
lagi, tombol keyboardnya banyak yang tidak berfungsi. Akhirnya, dari pagi
sampai dengan mau jum’atan aku hanya menggunakannya untuk nonton film. Ketika
berangkat jum’atan, aku bersama beberapa penghuni Pesma telat datang, hingga
akhirnya pintu keluar Pesma telah dikunci. Kami kebingungan mencari jalan
keluar, semua pintu ditutup. Akhirnya, aku mengajari mereka berdasarkan
pengalamanku dulu. Dulu aku pernah telat satu kali sehingga semua pintu
ditutup. Selanjutnya saya naik ke atas teras lantai dua. Saya melihat ke tepi
atap sebelah utara teras, aku ingin melompat, tetapi ternyata di bawah ada dua
motor. Lalu aku mencoba ke tepi sebelah barat atap, disitu terdapt pohon yang batangnya
panjang-panjang namun tidak terlalu kuat untu dinaiki. Waktu terius berjalan,
aku ingin pergi ke masjid untuk jum’atan. Aku melihat di tera gedung FISIP
(Fakultas Ilmu Psikologi) dan FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) ada dua
orang cewek yang membuatku agak malu karena telat pergi jum’atan skaligus
karena aku mau nekat loncat dari lantai dua. Aku merasakan harus segera pergi
ke masjid namn aku ragu kalau harus melompat ke pohon, karena selain nanti
rasanya mungkin agak sakit, bajuku pasti juga akan kotor karena bergesekan
dengan pohon tersebut. Akhirnya, aku mencoba untuk memberanikan diri melompat
ke pohon, aku memegang dahan pohon tersebut di tangan kanan danjuga di tangan
kiriku, aku menghitung dalam hati dari hitungan satu sampai tiga. “satu...”
jantungku berdegup kencang, “dua...” aku tegang sekali namun tetap mencoba
untuk fokus melompat, dan “tiga...” aku mengguguran niatku untuk melompat ke
pohon itu. Aku berpikir dua kali karena di samping kanan dan kiri pohon
tersebut ada banyak motor. Aku jongkok sambil memikirkan cara lain untuk keluar
dari Pesma.
Lalu aku melihat
di sela-sela daun di bawahku di dahan yang masih aku pegang, aku melihat tanah
di bawah, dan aku berpikir, ini tidak terlalu tinggi. Masak aku menyerah dan
tidak jum’atan. Masak segini saja imanku? Waktu terus berjalan, namun aku tidak
akan menyerah. Lalu aku mencoba melihat paping di bawah yang telah tertutup
dengan tanah.Aku melangkah sekitar dua langkah ke kiri. Di situ aku dapat
melihat tanah dengan bebas tanpa tertutup dedaunan lagi. Aku rasa, ini adalah
tempat yang cocok untuk melompat. Namun lantai tiga ini tinggi juga, sekitar
tiga sampai empat meteran dari tanah. Lalu untuk mengurangi ketinggian, aku
bergantung pada atap lantai dua, setelah kurasa cukup, aku menjatuhkan diri ke
tanah, dan bruk.. Aku telah sampai di bawah. Selanjutnya aku segera mengambil
sendal meskipun sendal tersebut lain yang kanan lain yang kiri, lalu aku
langsug berlari menuju masjid. Kedua orang wanita yang melihatiku tadi entah
kagum entah keheranan melihatku berhasil turun dari lantai dua, yang pastiaku
tidak menghiraukannya. Namun ternyata timingku pas, ketika aku sampai di
masjid, iqomah langsung dikumandangkan. Aku sholat dengan perasaan lega.
Dari pengalaman
tersebut, jum’at kemain aku mengajari beberapa penghuni Pesma lain untuk keluar
dari Pesma sebagaimana caraku keluar dulu. Aku turun duluan dar atap lantai
dua, namun kali ini rasanya berbeda dengan yang dulu, kali ini kakiku terasa
sakit. Aku menepi untuk memberikan gilirn kepada yang lain untuk melompat
sambil mengelus-ngelus kakiku untuk meredakan sakitnya. Aku lalu berteriak
kepada mereka yang masih di atas atap untuk mencarikanku sendal. Kebetulan di
atas atap lantai dua ada sendal yang telah di genangi air hujan sebelumnya.
Sendal tersebut di jatuhkan dari atas, lalu aku memakinya secara langsung.
Kemudian aku menepi lagi, salah satu temanku, Munji, anak asal Aceh, langsung
melompat dari lantai dua tanpa bergantung terlebih dahulu. Ia kemudain menepi
sambil berjalan pincang.Aku melihat kakinya, ia melompat dengan sendal, aku
mengatakan kepadanya bahwa betapa beraninya dia melompat langsung tanpa
bergantung telebih dahulu. Lalu dia menjelaskan kalau sebenarnya bila melompat
dengan sendal, itu dapat meredakan benturan yang terjadi, sehingga kakinya
tidak terasa sakit, namun naasnya sendalnya yang sebelah kiri miring sehingga tungkainya
kelihatn dan akhirnya tungkainya berbenturan langsung dengan tanah berlapis
paping. Selanjutnya temanku yang lain bergantung seperti aku, namun ketika
sudah begantung, ia mengayunkan tubuhnya ke dalam teras, lalu melompat ke
lantai dengan kerasnya, kemudain dia berteriak kesakitan dan langsung tengkurap
begitu saja. Lalu suara iqamat terdengar di telinga kami, aku langsung bangun
dan memberi isyarat untuk segera ke masjid karena sudah iqamat. Aku berjalan
dahulu, kemudian Munji memaksakan diri untuk berjalan, dan kami bertiga
berjalan ke masjid. Lalu aku melihat temanku tadi yag masih di atap, aku
mengataan kepadanya untuk segera ke masjid karena sudah iqamat. Lalu aku
berbalik dan berjalan lagi.
Sampai di masjid
aku bertemu dengan mas Umam, anak IQMA bidang sholawat, ia mau menaiki motornya
untuk pergi ke masjid. Kemudan tanpa pikir panjang aku di bonceng untuk pergi
ke masjid dan aku meninggalkan teman-teman Pesmaku begitu saja. Mas Umam
bertanya tentang apakah aku baru beragkat ke masjid, lalu aku menjelaskan bahwa
masjid sudah iqamah, ia sedikita terkejut mengetahui kalau masjid sudah iqamah.
Lal setelah sampai, kami berjalan sedikit berlari menuju shaf shalat kami. Mas
Umam mendahului di depanku, lalu aku berlari juga di belakangnya. Kami berdua
kebagaian rakaat pertama, sedangkan teman-teman Pesmaku mendapatkan rakaat
kedua sehingga harus menambah satu rakaat lagi setelah imam mengucapkan salam.
Setelah selesai
sholat, aku menanyakan bagaimana keadaan kaki Munji, ternyata kakinya keseleo.
Dia butuh pijat kaki. Kami bejalan kembali ke Pesma. Mereka berjalan duluan.
Aku berbelok dulu ke kantin untuk membeli sebungkus nasi. Ketika aku melewati
sebelah kanan Auditorium UIN SA, di situ ada bazar IQMA, aku sungkan melewati
jalan itu karena aku sendiri adalah anak IQMA namun tidak bantu-bantu dalam
even IQMA kali ini, aku berjalan sambil tertuduk ke kantin yang erada di belakang
auditorium. Setelah sampai, akumemesan satu bungkus nasi ayam. Setelah aku
mebeli nasi ayam, aku kembali ke Pesma sambil menundukkan wajahku lagi. Sebelum
ke kamarku, aku mapir dulu ke kamar Mizan untuk meminjam keyboard ke
Muajib, teman sekamar Mizan yang mempunyai ciri khas suara yng lirih. Namun
yang kutemukan cuma Kurni, teman sekelasku yang berasal dari Bone, Sulawesi.
Muajib ternyata pulang kampung sedangkan Mizan pergi dengan Fasal ke Malang
untuk mengikuti sebuah acara. Aku melihat Kurni memakai Keyboard Muajib
yang dipaainya untuk bermain permainan sepak bola di laptopnyya sendiri. Aku
mengtakan kepada Kurni bahwa aku ingin meminjam Keyboard tersebut untuk
mengetik diary, lalu ia mau meminjamkannya setelah satu permainan sepak bola
tersebut selesai satu pertandingan, aku menunggunya sampai selesai lalu
membawanya ke kamarku.
Sesampainya di
kamar, aku menyalakan notbook sambil membuka bungkusan nasi yang telah aku beli
di kantin tadi. Aku makan sambil mengutak-ngatik notbookku. Setelah selesai makan aku kembali
melanjutkan mengetik diary setelah tertunda karena konslet. Sembari mengetik,
terkadang terdengar suara perlombaan MSQ (Muhasabah Syaehil Qur’an) yang
diadakan oleh IQMA di auditorium. Lomba MSQ adalah kejuaran yang melombakan
ceramah, tilawah, sekaligus sari tilawahnya. Aku berseduh dalam hati karena ku
tidak bisa bantu-bantu dalam acar tersebut dikarenakan aku harus menyelesaikan
diary ini. Aku menyalakan musik untuk membantuku fokus sekaligus rileks ketika
mengetik diary. Setiap kali terdengar suara perlombaan MSQ, konsenku sedikit
terguncang, namun aku harus merelakannya.
Tak terasa, aku
mengetik menghabiskan waktu yang banyak. Waktu menunjukkan pukul setengah enam,
adzan maghrib berkumandang. Aku menghentikan tanganku untuk mengetik catatan
harian. Aku merencanaka aan keluar untuk malam ini untuk mencari oleh-oleh
untuk orang-orang di Kediri karena ku kira,karena minggu depan Tafsir sudah
tidak ujian lagi, aku bisa pulang ke rumah setelah dua bulan lebih, yaitu selam
semester dua ini aku belum pernah pulang ke rumah sama sekali. Sudah tidak bisa
di bayangkan lagi betapa kangennya aku degan rumah, sekolah, teman-teman,
guru-guru, serta semuanya di kampung halaman. Setelah sholat, aku menonton
naruto lagi. Saking asyiknya, aku menonoton samapi jam sembilan malam. Lalu aku
keluar bejalan kaki ke Wonocolo, aku melewatkan warung nasi, toko, dan yag lain
karena aku mau mendahulukan ke toko laptop untuk mencari stiker Arab untuk
memudahkan kita mengetik tulisan Arab. Dengan memakai sarung hijau dan jaket
abu-abu. Aku menundukan kepala ketika melewati depan audit karena malu terhadap
teman-teman IQMA. Ketika aku tengah berjalan di wonocolo, seorang perempuan yan
naik motor menyapaku dari belakang, “Dek..” Aku spontan tersenyum, ketika
perempuan tersebut mendahuluiku dengan motornya, perempuan yang belakang
melihatku keherana karena ia tidak menganalku, sedang aku tersenyum kepadanya.
Mereka berlalu dengan cepat. Aku melnjutkan berjalan menuju toko laptop yang
jaraknya lumayan jauh. Ketika sampai di perempatan, aku melihat Alfamart sdah
tutp, aku bepikir, apakah toko laptop juga sudah tutup, aku melihat waktu sudah
menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku berbelok ke kanan mengarah ke
toko laptop. Setelah sampai, aku agak sedikit lupa dimana letak toko laptop
tersebut, aku melihat bagian atas toko. Aku menemukan tulisan toko laptop yang terpampang di atas teras sebuah
toko yang sudah tutup. Aku sudah kemalaman karena keasyikan menonton naruto.
Aku mengurungkan niatku untuk mencari oleh-oleh karena aku pikir, sebaiknya
kalau mencari oleh-oleh sebaiknya di area sekitar jalan masuk menuju pemakaman
Sunan Ampel.
Aku kembali
melewati jalan yang lain. Setelah berjalan agak jauh, aku menghentikan
langkahku untuk berbelok menuju sebuah warung untuk memesan sebungkus nasi.
Alau aku berjalan menuju sebuah toko yang berada di seberang jalan warung nasi
tadi. Aku membeli beras dua ilo dan juga cemilan untuk persiapan bila ku
begadang malam ini untuk mengetik diary. Setelah itu aku berjalan kembali.
Ketika melewati toko terakhir di jalan Pabrik Kulit Wonocolo, aku menghentikan
langkahku untuk yang kedua kainya untuk membeli sebotol besar air putih. Lalu aku
kembali menuju Pesma. Sesampainya di kamarku, aku langsung memakan nasi bungkus
yang aku beli sambil menyalakan notbookku. Setelah selesai makan, aku
mendengarkan teriakan Kurni yang memanggilku dari lantai tiga. Aku keluar untuk
melihtnya, dia menanyakan apakah aku masih memakai keyboard Muajib, aku
menjawab bahwa aku sudah selesai memakainya. Meskipun sebenarny belum selesai,
tetapi kurasa, aku cuma meminjam dan aku harus mebgembalikannya. Aku berlalu
sambil menuju dapur untuk mencuci tanganku. Setelah itu, aku berjalan menuju
kamarku. Kurni memanggilku lagi untuk menanyakan apakah aku mempunyai air. Aku
mengatakan bahwa aku mempunyai air. Kemudian aku mengambil keyboard dan
juga air sebotol yang aku beli tadi, lalu aku turun ke lantai tiga untuk memberikannya.
Aku rasa notbookku
selesai ngambeknya. Aku berpamitan dengan Kurni dan menyempatkan diri untuk
berkunjung ke kamar Jadul di lantai dua. Di situ aku bertemu dengan Alghi dan
juga Jadul yang sedang asyik juga mengetik diarynya. Setelah selesai berbincang-bincang,
aku berpamitan untuk kembali melanjutkan mengetik diary di kamarku, tetapi
Jadul menawarkannya untuk mengetik bareng di kamarnya dan aku menyetujuinya.
Kemudian aku kembali ke kamarku untuk mengambil tas yang berisikan terminal,
cas hp, cas notbook, alat tulis. Kemudian aku tidak lupa juga untuk membawa
cemilan yang aku beli tadi. Aku berangkat ke kamar jadul dengan hp di kantong,
notbook di tangan kananku yang masih menyala, dan juga tida lupa untuk mengunci
pintu kamarku untuk berjaga-jaga.
Sampai di kamar
jadul, akukembali melanjutkan mengetik dary. Lalu Jadul pergi ke kamar mizan
untuk meminjam kipas angin untuk kami. Ketika ia masuk kamar, ia bertanya
kepadaku apakah aku bisa memperbaiki sambungan kabel kipas angin tersebut yang
terputus, aku menjawab bahwa aku bisa. Lalu aku melihat kabel yang putus
tersebut. Aku mengeluarkan gunting yang ada di dalam tasku untuk memotong
pembungkus kabel supaya aku dapat mengaitkan besi kuningan di dalamnya. Lalu
setelah selesai, aku membungkusnya dengan isolasi dari dalam tasku untuk
memastikan kabelnya dapat tersemabung lagi. Lalu aku mencolokkan kipas angin
tersebut di terminal yang sudah aku bawa dari kamarku, kipaspun menyala membawa
angin sejuknya. Kami melanjutkan mengetik diary.
Setelah beberapa
waktu, notbookku kembali bermasalah. Mataku juga sudah terasa panas karena
terlalu lama diterpa hembusan angin dari kipas angin. Aku merebahkan tubuhku di
depan notebookku yang masih menyala, untuk mengatisipasi agar notbookku tidak
mati, aku menyalakan slide show dari foto-fotoku dulu semasa Aliyah. Alu
aku mematikan slide show tersebut dan memejamkan mata untuk
menetralisasi panasnya mataku. Namun ternyata aku malah ketiduran. Jam tiga
pagi aku terbangun lalu menyalakan notbookku lagi, aku melihat teryata notbookku
sedang baik, semua tomobl keyboard berfungsi lagi. Aku tidak ingin
menyia-nyiakan kesempatan ini, aku melanjutkan kembali mengetik diary. Selang
beberapa menit kemudian, adzan subh berkumandang. Aku mengemasi semua
barang-barangku. Sebelum aku keluar kamar Jadul, aku menggoyangkan badan Jadul
agar terbagun, dengan keadaanya yang setengah sadar setengah tidak, aku mengatakan
kepadanya “Dul, udah subuh.” Lalu aku melihat Jadul tidur lagi. Aku tidak
menghiraukannya, aku langsung kembali ke kamarku. Di kamar, aku melaksanakan
sholat subuh, lalu melanjutkan mengetik diary. Samapi sekitar pukul enam pagi,
aku merasa agak lelah dan mengantuk. Aku merebahkan diri di atas kasur lalu
tertidur pulas.
“Rif, udah pagi.”
Kata Aa’ Jajang yang membangunkanku dari tidur pulasku. Lalu Aa’ keluar begitu
saja. Aku melihat jam di hp dan ternyata sekarang sudah pukul setengah delapan.
Aku membasuh mukaku dan melanjutkan mengetik diary. “Ngiik...” Suara pintu
kamarku yang terbuka, aku menoleh ke arah pintu. Aku melihat Syarif yang telah
berpakain rapi. Dia masuk dan menanyakan kenapa aku belum bersiap-siap untuk
mengikuti kajian bersama Pak Ainul Yaqin. Aku bertanya kembali kepadanya
tentang jam berap kajiannya karena aku sendiri tidak mendapatkan pemberitahuan
apa-apa dari jalur sms. Dia sendiri menjelaskan bahwa di kajian nanti kami
harus membawa laptop, namun dia juga tidak mengetahui jam berapa nanti kajian
akan dimulai. Sembari mengobrol, aku melanjutkan mengetik.
Lalu kami
mendengarkan teriakan Rahmat, teman sekelasku yang berasal dari Pangkeb,
kepulauan Sulawesi, teriakan tersebut berasal dari bawah di luar Pesma. Lalu
kami melihat ke luar jendela namun tida melihat Rahmat di sana. Lalu kami
memutuskan untuk berangkat ke masjid untuk mengikuti kajian, kami rasa teriakan
tadi menadakan bahwa Rahmat sudah berangkat duluan ke masjid. Setelah selesai
mengemasi semua barang yang aku perkirakan di butuhkan nati saat kajian, kami
turun ke lantai satu di bawah. Ketika sampai di teras lantai satu, aku melihat
Ajdul sudah berangkat dan hampir sampai di audit, aku berteriak memanggil
namanya agar dia mau menunggu kami. Lalu kami berangkat ke masjid. Sampai di
masjid, Pak Ainul Yaqin telah hadir duluan, aku melepas sendalku lalu melangkah
ke lantai masjid dan mengambil posisi di samping Pak Ainul Yaqin dan tak lupa
menjabat tangannya terlebih dahulu. Beliau berbicara dengan bahasa Arab karena
sesuai dari tema kajian kami kali ini yaitu kajian bahasa Arab. Beliau
memanggil nama kami sesuai dengan setumpuk kertas yang bertulisakan tafsiran ayat Al Qur’an
dalam bahasa Arab. Itu adalah kertas yang diberikan kepada kami sabtu kemarin
yang telah kami beri harakat dan selanjutnya di koreksi oleh beliau. Beliau
menanyakan tentang nahwanya, beliau menanyakan pertanyaan sesuai dengan kesalahan-kesalahan
mayoritas yang memberikan harakat tersebut.
Ketika namaku di
panggil, aku ditanya tentang amal kaana wa akhawatiha dengan bahasa
Arab, aku menjawab dengan agak ragu-agu, turfa’ul isma wa tanshibul khobar,
lalu beliau bertanya dengan bahasa Arab yang maksudnya adalah bahwa bagaimana
aku bisa menjawab tentang amalnya Kaana, namun tetapidalam kertas yang
diberikan kepadaku kemarin harakatnya tidak sama dengan jawabanku tadi. Lalu
beliau memberikan kertas tersebut kepadaku. Memang aku akui, selain aku kurang
hafal dengan nahwu, aku juga mempunyai kekurangan dalam pemraktekan nahwu dalam
lafadz-lafadz berbahasa Arab. Lalu, Bila menyodorkan flashdisknya
kepadaku dan memberi isyarat untuk mengkopi beberapa file. Lalu setelah kukopi,
aku membuka apa yang telah aku kopi ke notbookku. Aku mengkopi satu folder yang
di dalamnya terdapat dua berkas, berkas pertama adalah berkas berbentuk pdf,
lembaran awal bertuliskan Majalah Al Azhar yang didalam berkas tersebut semua
tulisannya berbahasa Arab. Sedangkan berkas yang satunya berbentuk berkas microsoft
word, namun ternyata setelah aku buka, banyak kata-kata yang hilang
spasinya sehingga sulit di pahami. Aku tahu kenapa bisa begini, beliau mengetik
tulisan ini dalam microsoft 2013, sedangakn bila di masukkan ke dalam microsoft
2007 seperti punyaku akan menjadi rancu seperti ini. Lalu aku memperbaiki
tulisan tersebut dn membuatku kurang fokus terhadap beliau. Namun bila tidak
aku perbaiki terlebih dahulu, aku nanti akan ketinggalan pembahasa, akhirnya
aku memilih untuk ketinggalan sekarang dari pada ketinggalan nantinya dalam
membahas berkas yang ini.
Setelah selesai,
tepat beliau menyuruh kami untuk membaca teks yang ku perbabaiki tadi. Bila
yang mempunyai laptop dengan microsoft 2007 sama dengan notbookku
ternyata belum selesai memperbaiki teksnya. Lalu aku berkata kepadanya bahwa
aku telah selesai mengedit teksnya meskipun belum sempurna benar karena ada
beberapa yang kelewatan. Kemudian dia meminta kopian dari punyaku saja untuk
mempercepat waktu agar kami dia tidak ketinggalan pembahasan. Lalu aku
mengkopikannya dari notbookku. Kemudian aku membaca teks tersebut sekaligus
meneliti kembali kalau-kalau masih ada yang salah.
Teks itu adalah
sebuah cerita yang menjadi azbabun nuzul dari Surat An-Nur ayat 11-20.
Cerita tersebut mengisahkan tentang Nabi Muhammad dan juga salah satu istri
mudanya yaitu Aisyah. Dikisahkan, suatu hari Nabi Muhammad akan pergi berperang
dengan bani Mustaliq yang ditetapkan Rasulullah sendiri. Beliau mengundi
istrinya untuk diajak menemani beliau pergi berperang. Dan kebetulan yang
terpilih adalah Aisyah. Aisyah bahkan hampir tidak percaya kalau dirinyalah
yang terpilih karena saking bahagianya. Kemudain berangkatlah Nabi bersama
rombongannya, sedang Aisyah menaiki seekor unta yang tersedia haudah (sebuah tenda kecil
sebagai penutup yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan untuk
tempat perempuan-perempuan yang istimewa saat bepergian) di atasnya. Saat itu
adalah saat dimana perintah behijab baru saja ditetapkan. Jadi Aisyah pergi
menemani Nabi dengan memakai hijab sebaimana yang telah diperintahkan oleh
Allah.
Peperangan
berlangsung singkat dan kemenangan di dapatkan kaum muslimin dengan cepat. Kumdian
Nabi SAW memutuskan untuk kembali ke Madinah. Ketika hampir sampai di Madinah,
Rasulullah memutuskan untuk beristirahat di suatu tempat. Ketika malam tiba,
Aisyah memutuskan untuk keluar menuntaskan kebutuhan pribadinya, ia pergi
secara diam-diam tanpa meminta izin kepada salah satu rombongan Rasulullah sama
sekali. Ketika dia sudah menuntaskan kebutuhannya, ia meraba lehernya dan tidak
menemukan kalung pemberian Rasulullah yang di impir dari Zafir, Yaman. Ia
mencari-cari di sekitar tempatnya berjalan tadi. Namun ia tidak menemukanya, sangat
menyesal sekali karena telah menghilangkan kalung istimewa dari Rasulullah.
Kemudia ia mencoba untuk mencarinya lagi namun tetap tidak menemukannya karena
saat itu masih malam sehingga semua tempat diselimuti dengan gelap gulita.
Akhirnya ia kembali ke tenda tempat rombongan beristirahat dengan hati yang
sedih. Namun ternyata rombongan Rasulullah telah melanjutkan perjalanannya,
Aisyah telah ditinggalkan rombongan. Ia menangis sedih tanpa tahu harus
melakukan apa, ia tidak tahu arah kembali ke Madinah, ia juga percuma bila
harus berteriak karena pasti tidak ada yang mendengar. Di tengah malam yang
gelap, ia melihat sesuatu yang berkilau dalam kegelapan di tempat dimana
untanya tadi beristirahat. Ia mendekatinya dan ternyata itu adalah kalungnya
yang hilang. Ia bersyukur karena dapat menemukan kalung tersebut. Ketemunya kalung
tersebut membuatnya senang, namun ia tetap bersedih karena tidak tahu apa yang
harus dilakukannya, ia telah tertinggal rombongan.
Ia berpikir bahwa orang-orang yang
menutun untanya tadi pasti tidak menyadari kalau ia tidak ada di dalam haudah
yang berada di atsa untanya. Ia memanglah seorang wanita kurus dan berbobot
ringan sebagaimana wanita-wanita pada zaman tersebut. Jadi adanya dia d dalam
haudah ataupun tidak itu sama saja. Ia menyesal karena tadi ia tidak berpamitan
dengan orang-orang yang berada di dalam rombongan. Ia berharap para rombonan
segera menyadari ketiadaannya di dalam haudah. Ia cuma bisa terdiam dan
menangis, sampai akhirnya kantuk menyerangnya, ia tertidur pulas.
“Innalillahi wa inna ilaihi
raji’uun...” teriakan Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menyadarkannya dari
tidur lelapnya. Shafawan memang bertugas untuk mengemasi barang-barng yang
tertinggal, jadi ia adalah rombongan terakhir. Shafwan meneriakkan kalimah tarji’
karena ia melihat wajah Aisyah yang tidak tertutup hijab. Setelah Aisyah
terbangun dari tidurnya, ia langsung menutup wajahnya dengan sara malu. Mereka
tidak berbicara sama sekali kecuali kalimat tarji’ yang diucapkan tadi. Shafwan memberikan
isyarat kepada Aisyah untuk menaiki untanya dengan menundukkan untanya.
Kemudian Aisyah menaiki unta tersebut, Shafwan berjalan menuntun untanya menuju
rombongan Rasulullah.
Sesampainya di rombongan Rasulullah
yang tengah beistirahat di sebuah tempat, banyak para sahabat menggunjing dan
memfitnah Aisyah. Menurut Aisyah, yang memulia menggunjing adalah Abdullah bin
Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay menyebarkan fitnah tersebut kepada para
sahabat lain, sahabat-sahabat lain juga gegabah memakan mentah-mentah tuduhan
tersebut dan ikut-ikutan menyebarkan fitnah tersebut. Namun Aisyah sendiri
tidak mengetahui apakah yang orang-orang bicarakan.
Kemudian mereka kemlabi ke Madinah.
Di Madinah, Aisyah jatuh sakit selama satu bulan. Aisyah tidak tahu kalau
sebenarnya berita nista tentangnya telah menyebar di seluruh masyarakat Madinah.
Ia mulai mengetahui menyebarnya fitnah tersebut setelah ia menyadari perhatian
Rasulullah kepadanya berkurang. Hal itu tampak dari ketika ia sakit, biasanya
ketika ia sakit, suaminya, Rasulullah sangat memanjakannya, namun pada saat itu
Rasulullah hanya menanyakan keadaannya lalu berlalu begitu saja.
Suatu malam, Aisyah pergi membunag
hajat ditemani ibu Misthah bin Utsasah. Ketika mereka kembali, Ibu Misthah
tidak sengaja tersandung batu dan spontan menghina anaknya. Lalu, Aisyah
menegurnya, kenapa ia menghina anaknya. Kemudian Ibu Misthah malah bertanya
kembali kepada Aisyah tentang apa yang dikatakan oleh anaknya. Pertanyaan
tersebut membuat Aisyah penasaran dengan apa yang dikatakan anaknya. Aisyah
bertanya kepada Ibu Misthah tentang apa yang dikatakan anaknya. Kemudian Ibu
Misthah menjelaskan apa yang dikatakan oleh orang-orang termasuk anaknya
bahwasanya Aisyah telah dituduh yang tidak-tidak dan tuduhan tersebut telah
menyebar luas di kalangan masyarakat Madinah, yaitu tuduhan tentangnya saat kepulangannya
dari perang melawan Bani Mustaliq. Karena mengetahui berita tersebut, sakit
Aisyah menjadi tambah parah. Kemudian meeka kembali ke rumah. Sesampainya di
rumah, Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk tinggal di rumah orang
tuanya dan Rsulullah mengizinkan. Ia bertujuan untuk memastikan tentang
tuduhan-tuduhan yang beredar tentangnya.
Aisyah bertanya tentang apa yang
digunjingkan oleh masyarakat Madinah. Ibunya menenangkannya agar tidak risau
dan gelisah. Air mata Aisyah mengalir deras karena tuduhan tersebut, ia
menangis malam itu sampai paginya. Rasulullah sendiri mulai merasakan gelisah
karena perkataan-perkataan buruk tentang istri dan rumah tangganya yang telah
menyebar luas. Kemudian Rasulullah, meminta pendapat Ali bin Abi Thalib dan Usamah
bin Zaid. Usamah bin Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami
hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.” Sedangkan Ali bin Abi
Thalib berpendapat “Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih
dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang
wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda.”
Kemudian Rasulullah bertanya kepada
Barirah bahwa apakah ada keraguan dalam diri Aisyah. Barirah memantapkan
Rasulullah dengan menjawab bahwa tidak ada keraguan dalam diri Aisyah. Kemudian
Barirah menjelaskan tentang keluguan Aisyah yang tidur di atas adonan makanan
kemudian ketika bangun dari tidurnya malah memakan adonan tersebut.
Di sisi lain, Aisyah terus menangis
sepanjang hari meratapi kesdihannya. Oang tuanya yang khawatir duduk di
sisinya, namun Aisyah tetap menangis. Aisyah telah menangis selama dua malam
satu hari. Salah seorang wanita Anshar meminta izin untuk menemaninya lalu ikut
meratapi kesedihan Aisyah. Kemudian Rasuluulah berkunjung ke rumah orang tua
Aisyah dan duduk di samping Aisyah.
Sebelumnya, Rasulullah belum pernah
duduk di samping Aisyah selama tuduhan tersebut menyebar di masyarakat.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu.
Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika
kau melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena
seorang hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima
taubatnya.” Kemudian Aisyah menghapus air matanya sampai tidak tersisa,
kemudian mencoba meminta pembelaan dari orang tuanya namun orang tuanya tidak
membelanya sama sekali. Kemudian Aisyah mengatakan kepada orang tuanya “Aku hanyalah
wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi
Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan
orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian
percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji
itu, kalian tak akan mempercayaiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu
-meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan
mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian
selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang
baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.”
Kemudian Aisyah kebali ke tempat tidurnya. Aisyah yakin bahwa Allah mengetahui
mana yang benar dan mana yang salah. Ia tidak mengira Allah akan menurunkan
wahyu-Nya hanya untuk membebaskan dirinya, ia merasa tidak pantas untuk itu.
Aisayh cuma mengharapkan Rasulullah mendapatkan petunjuk tentang pembebasannya
dari fitnah tersebut melewati mimpi. Rasulullah dan orang tua Aisyah tidak
beranjak dari tempat duduk mereka sama sekali. Lalu keringat Nabi bercucuran,
hal ni aneh, padahal pada waktu itu adalah musim dingin yang dinginnya dapat
terasa sampai ke tulang. Setelah itu, Nabi tersenyum dan mengatakan, “Wahai
Aisyah, sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.”
Ketika Nabi mengucurkan keringat,
Nabi mendapatkan wahyu surat An Nur ayat 11 sampai 20 yang isinya menyindir
semua yang telah menggunjingkan Aisyah. Adapun terjemahan ayat tersebut adalah:
“Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah
baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang
dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar
dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di
waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak
bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:
"Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka
(yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?
Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi
Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab
yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah)
di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan
dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya
suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan
mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu:
"Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau
(Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan
kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika
kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di
akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan
sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan
Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang
besar).” (20) (QS. An-Nur
[24]:11-20)
Lalu
ibu Aisyah menyuruh Aisyah untuk bangkit dari tempat tidurnya untuk menemui
Rasulullah. Selanjtnya Aisyah mengatakan, “Demi Allah, aku tak akan bangkit
kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain Allah.” Aisyah
bersyukur karena Allah telah membebaskannya dari tuduhan nista yang selama ini
membayang-bayangi namanya di mata masyarakat. Dalam ayat ini Allah menyindir
para umat Islam yang menerima berita tersebut tanpa empertimbangkan
kebenaranyya terlebih dahulu, padahal mereka tidak mempunyai bukti yang
benar-benar nyata. Bahkan mereka tidak membawakan empat orang saksi,
sebagaimana syarat melakukan qodzaf (tuduhan berzina). Kenapa merka
tidak berhusnudzon sebagaimana yang biasa mereka lakukan sebelum-sebelumnya.
Setelah selesai
membaca cerita tersebut, kami di suruh menceritakan kembali satu persatu dengan
menggunakan bahsa Arab sebisanya. Giliran pertama di dapatkan oleh Syarif,
namun ia kebingungan sehingga ia belum bisa memberikan komentar apa-apa bila
menggunakan bahsa Arab. Lalu giliran kedua adalah giliranku, kami di pilih
sesuai dengan barisan kami duduk. Aku pun terpatah-patah bila harus mengungkapkannya
denga bahasa Arab, aku mengucapkannya satu kata tambah mikir, satu kata lagi
mikir lagi, begitu seterusnya. Kemudian tanpa harus menunggu lama, giliran
berlanjut kepada Bila yang duduk di sebelahku. Aku memanfaatkan waktu itu untuk
melanjutkan membaca di karenakan aku tadi belum selesai membaca keseluruhan
cerita. Entah lewat beberapa temanku yang telah tertunjuk sehingga aku selesai
membaca cerita tersebut. Kajian selesai sekitar pukul setengah sebelas siang.
Setelah kajian
selesai, aku dan teman-teman berencana untuk kembali ke Pesma dan Pesmi. Namun
langkahku terhenti ketika aku melihat teman-temanku IQMA sedang duduk di
pinggir jalan yang sering di sebut blok M di Kampus UIN SA, tepatnya mereka
duduk di pinggir jalan masuk parkiran masjid. Ketika yang lain kembali, aku
berbelok arah untuk menyapa mereka. Aku menjabat angan mereka semua. Salah satu
dari mereka mengatakan, “Nyang ndi ae kok gak ketok?” Dari perkataan tersebut,
aku hanya mampu tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. Aku duduk untuk menemani
mereka. Aku bertanya-tanya apa yang mereka lakukan disini. Mereka menjelaskan
bahwa mereka sedang menjadi tukang parkir sekaligus mendata peserta yang datang
untuk acara Festival Banjari IQMA sebagai salah satu rangkaian acara Dies
Maulidiyah IQMA yang ke 26. Tanpa berpikir panjang aku mengurungkan niatku
untuk kembali ke Pesma meskipun sebenarnya aku sangat ingin kembali untuk
melanjutkan menulis buku catatan harianku. Aku memutuskan untuk setidaknya
menunggu parkir bersama mereka meskipun aku tidak memakai jas UIN SA
sebagaimana seharusnya panitia. Aku tidak bisa melanjutkan menulis catatan
harian di tempat parkir tersebut di karenakan baterai notbookku hampir habis,
dan juga tidak ada colokan di luar ruangan seperti ini. Banyak panitia IQMA
yang kerap kali lewat dan menyapa kami, aku senang dapat melihat dan bertemu
dengan mereka semua.
Sekitar pukul dua,
kami semua di tarik ke auditorium di karenakan kebanyakan peserta tidak
menghiraukan tempat parkir yang kami tunggu, mereka lebih emilih parkir di
samping auditorium sebelah kana yang sebenarnya tempat itu telah di persiapkan
untuk bazar IQMA, bukan untuk parkir. Akhirnya aku dapat melihat
tampilan-tampilan peserta secara langsung di dalam auditorium. Ada peserta yang
masih SD, meskipun masih kecil dan suaranya pun belum sebagus peserta yang
lain, namun aku menyukainya karena mereka masih ecil namun semangat mereka
bagus. Bahkan aku yang sudah menjadi mahasiswa belum tentu berani untuk tampil
menjadi vokalis seperti itu, menjadi yang memukul terbangan pun juga belum
karena aku belum menguasainya dengan mumpuni. Aku kembali ke Pesma sekitar
pukul tiga sore. Lalu aku kembali elanjutkan menulis catatan harian di kamarku.
Sebenarnya aka sangat ingin untuk membantu menjadi panitia penuh dari awal
acara sampai akhir acara, aku benar-benar ingin. Aku menahan keinginanku
sendiri sekuat mungkin. Pada hari sabtu tersebut, aku sengaja tidak memutar musik
untuk menemaniku menulis karena aku ingin mendengarkan Festival Banjari
tersebut dari kamarku. Hatiku sebenarnya telah menjadi milik IQMA, namun aku
sendiri kurang aktif dalam IQMA, dan itu menyakiti hatiku sendiri. Bukan cuma
denga kesibukanku menulis catatan ini, sebelum-sebelumnya aku juga banyak yang
absen dari kegiatan IQMA. Banya sekali kegiatan, dan jam kuliah yang
berbenturan dengan kegiatan IQMA. Semester satu dulu, aku sangat benci dengan
yang namanya benturan waktu. Namun semester dua ini, hampir setiap hari pasti
ada benturan waktu. Akhirnya aku kurang aktif di semua organisasiku karena aku
berusaha untuk membagi waktunya, seumpama hari ini aku ikut kegiatan oranisasi
A, minggu depan aku ikut organisasi B. Entah seberapa lam aku kuat bertahan dalam
situasi ini yang tidak mungkin terhindar lagi. Sehingga kerap kali, ketika aku
izin untuk meninggalkan sebuah acara untuk mengikuti acar lain, ketika mereka
memaksaku untuk tidak meninggalkan, aku sering kali menjawab dengan amarah.
Mungkin inilah luapan hatiku yang paling dalam. Aku sendiri juga krang memahami
kenapa aku arah ketika di tanya mengapa.
Di tambah lagi,
akhir-akhir ini aku sering memikirkan haflah akhirus sanah di sekolahku
di Kediri, kabarnnya alumniku yang banyak bekerja di banding murid-murid kelas
tiga yang menjadi panitianya. Aku ingin sekali pulang untuk membantu persiapan haflah.
Namun yang terjadi adalah, aku belum pulang sama sekali semenjak semester
dua ini. Aku melanjutkan mengetik catatan sambil mendengarkan Festival Banjari.
Ketika malam, notbookku kembali konslet,
aku marah tidak tahu harus marah dengan siapa, akhirnya aku memilih untuk
memejamkan mataku. Paginya, aku dibangunkan Aa’ untuk mengikuti acara
Musyawarah Besar CSS untuk acara pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Aku tak mempunyai semangat untuk mengikuti Mubes tersebut, aku melanjutkan tidurku. Lalu
Syarif datang ke kamarku untuk membangunkanku lagi. Aku terbangun, namun aku
melnjutkan tidurku lagi. Mungin karena aku ingin menyempatkan diri untuk
mengetik, namun notbookku tidak begitu sejalan dengan keinginanku. Disaat aku
mempunyai waktu untuk mengetik, ternyata masih ada saja masalah yang
menghampiri. Aku teringat dengan kata-kataku sendiri yang telah aku masukkan ke
dalam sebuah gambar dimana ada seekor burung yang mengejar seekor lebah yang
aku umpamakan lebah tersebut adalah kita, sedangkan burung tersebut adalah
resiko dan masalah. Kata-kata tersebut adalah. “Resiko dan masalah adalah teman
setia yang membuat perjuangan tidak sepi dan hambar.” Memang, masalah dan
resiko serasa membebani kita, namun hal itu dapat membuat kita menjadi lebih
kuat untuk menghadapi kerasnya hidup ini.
Sampai akhirnya,
ustadz Baiquni, salah satu dewan mhasantri Pesma yang bisa di bilang salah satu
yang dekat dengan mahasantri membangunkanku dengan paksa. Aku menyadari
beberapa menit sebelumnya ada pengumuna DM dari lantai satu melewati speaker
bahwa setiap lantai harus mewakilkan dua orangny untuk turun ke bawah untuk berfoto-fot,
entah untuk apa aku tidak tahu. Namun yang aku kira, penghuni lantai lima
selain aku itu banyak, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menjadi wakil
yang turun ke bawah. Ketika aku mendengaran pengumuman terebut, aku
mengabaikannya dan memilih melanjutkan tidurku. Sampai ketika Ustadzku
menarik-narik tanganku sambil memintaku untuk turun ke bawah mewakili lantai
lima. Namun ia tidak kuat menarikku sampai bangun, aku sangat males pagi itu.
Aku mengatakan bahwa yang lain masih banyak. Lalu ia keluar kamarku dan akupun
melanjutkan tidurku lagi. Beberapa menit kemudian Ustadz Baiquni menark-narik
tanganku lagi. Ia menjelaskan bahwa bila aku tidak turun maka lantai lima akan
mendapatkan denda lima puluh ribu. Ia benar-benar memaksaku, meski aku masih memakai
celana pendek selutut, ia tetap memaksaku untuk turun meski meski bilak tetap
memakai celana pendek. Lalu aku meminta waktu sebentar dulu untuk berganti
pakaian. Akhirnya ia mengizinkan dan ia bilang ia menungguku di lantai bawah.
Aku bangkit dari tidurku, berjalan ke kamar mandi untuk membasuh badanku
sekilas lalu mengganti celanaku dengan sarung. Kemudian aku cepat-cepat turun
ke latntai satu. Sesampainya di lantai satu, aku terduduk melihat ereka
berfoto-foto di panggung karena ternyata wakil lantai lima sudah ada.
Ketika itu,
setelah selesai mereka mengambil gambar, aku di ajak untuk berfoto juga untuk
tambahan. Lalu aku naik kembali ke lantai lima bersama Ustadz Baiquni. Kemudian
ia mengajakku unutk makan di kamarnya. Aku hanya menurut saja makan di
kamarnya. Setelah itu ia mengajakku untuk keluar ke gedung Fakulat Syariah
untuk mencari sinyal wifi. Aku menuruti saja apa keamauannya. Seusai
makan aku kembali ke kamarku untuk mengemasi apa yang perlu. Setelah itu kami
berangkat, au hanya mengenakan aos dan sarung, karena au sendiri belum mencuci
baju arena melihat tempat jemuran selalu penuh dengan cucian mahasantri lain.
Sampai di Fakulats Syariah, kami mmbersihkan lantai tempat duduk kami lalu
enyambungkan terminal ke colokan yang agak jauh dari tempat kami duduk. Lalu
kami membuka notbook dan laptop kami, kami masing-masing langsung membuka
internet. Aku asyik membuka internet sampai-sampai aku menunda mengetik
catatan. Internet benar-benar mengalihkan perhatianku.
Di awal,
akubingung mencari apa. Lalu aku teringat aku dulu ingin sekali mempunyai buku
cerita Qais dan Laila. Kisah cinta yang sudah lama melegenda di Timur Tengah.
Cerita inilah yang menginspirasi Wiliam Shakespeare untuk mengarang kisah cinta
Romeo dan Juliet. Namun sekarang yang lebih terkenal adalah Romeo dan Juliet.
Sebenarnya kisah Qais dan Laila ini adalah kisah cinta Islami yang sering juga
di sebut Laila Majnun. Majnun adalah julukan dari Qais yang berarti gila,
kegilaannya terhadap cinta sangat dalam. Syair-syair Qais tentang Laila
melegenda sampai sekarang. Qais adalah seorang sufi, ia mengambara karena
cinta, sedangkan Laila memendam cintanya begitu dalam sehingga Allah
memuliakannya di sisinya. Aku dulu membaca cerita mereka dari internet dan sampai
sekarang pun masih hafal mana cerita yang aku baca dulu dan mana yang bukan aku
baca hanya melihat dari awal ceritanya meskipun aku tidak tahu alamat websitenya
yang pasti. Cerita tersebut masih diceritakan dalam bahasa hikayat, yaitu masih
cenderung kepada bahasa melayu.
Selain itu aku juga mencari cerita
Timur Tengah tentang kisah seribu satu malam. Aku juga sangat ingin memiliki
buku tersebut yang berjumlah empat jilid. Namun jarang sekali toko buku yang
menjual buku kisah seribu satu malam Kisah ini terkenal dengan kisah Abu Nawas,
padahal bukan. Kisah seribu satu malam berbeda dengan kisah Abu Nawas.
Cerita-cerita Aladin, Simbad dan empat puluh penyamun, dan lain sebagimana
banyak yang berasal dari kisah seribu satu malam ini. Aku sangat penasaran
dengan buku ini, lama sekali aku menginginkan kedua buku ini, yaitu buku
tentang Qais dan Laila, serta buku seribu satu malam.
Ketika aku mencari
di internet, alhamdulillah aku mendapatkan dua jilid buku kisah seribu
satu malam dalam bentk pdf, aku senang sekali medapatkannnya.Ketika aku
membukanya, isinya foto dari buku tersebut dari cover sampai setiap lembaran
ada di situ. Aku senang meskpun itu adalh foto buku yang penting dapat di baca.
Setelah aku melihat dua lembar terakhir jilid yang kedua, aku mengetahu
ceritanya masih sampai malam ke dua ratus tujuh puluh satu. Aku senang sekali,
aku berharap sekali aku mempunyai waktu untuk membaca buku pdf ini. Inilah yang
telah aku impikan dari bertahun-tahun yang lalu, meskipun belum semuanya namun
aku sungguh senang. Selanjutnya dengan wifi yang lancar begini aku bisa
mendownload video, atau aku bisa belajar caranya mendownload film yang
ada subtitlenya (terjemahan). Selama ini aku hanya bisa mengunduh video
dari youtube, kelamahan dari youtube ini adalah tidak ada subtitlenya.
Tak terasa waktu dzuhur telah
menjumpai kami, kami memutuskan untuk kembali ke pesma terlebih dahulu untuk
melaksanakan sholat dzuhur. Kemudian sesampainya aku di kamar, aku menelfon
Ida, anak dari adiknya bapakku, kalau dalam bahasa Jawa disebut misanan.
Memang sebenrnya aku tidak mempunyai pulsa yang cukup untuk mengirim satu
smspun, namun aku telah menukar poinku dengan bonus telefon, jadi aku bisa
menelfon Ida. Ustadz Baiquni yang menungguku memanfaatkan waktunya untuk tidur
siang. Aku menelfon untuk menanyakan keadaan persiapan haflah di
sekolahku. Sekolahku berbentuk yayasan yang di dalamnya ada pondok pesantren,
RA, MI, MTS, MA dan SMK. Kebetulan Ida adalah murid SMK kelas tiga, ia adalah
koordinator Sinom. Ia mengaku bahwa dirinya beserta teman-temannya SMK belum
masuk ke sekolah dan berencana untuk masuk hari ahad depan di karenakan mereka
banyak yang sakit setelah sepulang ziarah makam wali delapan.
Setelah selesai telfon sekitar
setengah jam-an, aku membangunkan Ustadz Baiquni lalu aku mendirikan sholat
dzuhur. Lalu aku membangunkan ia yang tertidur lagi baru setelah itu kami
kembali ke tempat dimana kami mencari sinyal wifi tadi.Di situ aku
mencoba untuk mendownload film yang ada subtitlenya. Dengan arahan dari
Ustadz Baiquni terlebih dahulu. Kahirnya aku mendapatkan satu buah film, namun
yang entah kenapa ketika mendownload lama sekali, padahal jaringan wifi lancar-lancar
saja, mungkin Allah memang mencegahku untuk mengunduh film ini dengan alsan
tertentu. Aku mencoba mengunduh yang lain dan ternyata cepat sekali, namun
unduhan film tersebut tetap berjalan lamban sekali, bahkan disitu tertulis,
satu hari lebh untuk menyelesaikan mengunduh film tesebut. Lalu aku
meninggalkan internet untuk kembali mengetik catatan harian, aku menekan
keinginanku sendiri untuk belajar cara mengunduh film yang ada terjemahannya
berbahasa Indonesia.
Ketika aku melihat proses mengunduh
film tadi, ternyata gagal. Film yang ingin kuunduh tadi adalah film pirates
of the caribbean. Sebuah film bajak laut dengan petualangannya yang seru.
Sebelumnya aku hanya bisa melihat dari layar televisi. Namun sekarang ketika
tinggal di Pesma, bisa dikatakan aku tidak pernah nonton televisi lagi. Yang
ada aku malah melihat film yang aku kumpulkan dalan hardiskku yang berkapasitas
lima ratus gigabyte yang lebih tepatnya empat ratus empat puluh enam giga.
Kami kembali pukul lima sore ke
pesma. Kemudian aku menghentikan mengetik diary, aku memilih untuk menghibur
diriku sebentar untuk melihat film di hardiskku yang belum aku lihat. Dalam hal
film, aku orang yang selektif, ketika aku tida suka dengan sebuah film, tanpa
pikir panjang aku segera menghapusnya karena tidag berguna juga bila aku terus menyimpannya.
Setelah isya’, aku memutuskn untuk
keluar untuk membeli pulsa dan juga lauk untuk makan. Seperti biasa aku kelur
sendirian. Di Pesma sebenarnya ada lomba Muhasabah Hifdhul Qur’an. Namun aku
malas mengikutinya karena masih banyak buku catatanku yang harus aku
selesaikan. Au keluar dengan menggunakan sarung pemebrian bos bapakku yang
sebenarnya diberikan kepada bapakku naun bapakku memberikannya kepdaku, dan
jaket abu-abu lama bapakku yang masih terlihat bagus.
Ketika aku melewati warung pertama
di Jalan Parik Kulit Wonocolo, aku bertemu dengan teman sekamarku di Pesma,
ternyata dia sudah kemabali dari rumahnya di Jombang menggunakan motornya. Aku
menyapanya dengan senyuman dan melanjutkan langkahku menuju warung nasi leseha
di dekat jembatan sebelum masjid. Sebelum sampai di warung, di depan basecamp
CSS aku bertemu dengan Faisal yang berboncengan dengan Rifai. Ia bertanya
kepadaku kenapa aku tidak ikut debat kandidat di depan fakultas Dawah dan
Komunikasi. Aku menjawab bahwa aku tidak mendapatkan informasi sama sekali
mengenai debat kandidat. Lalu ia mengatakan kepadaku bahwa aku seharusnya tahu.
Aku juga bertanya kepada diriku sendiri, bagaimana aku bisa tahu kalau aku
tidak di tida mendapatkan informasi sama sekali, merekapun tidak memberikku
kabar tentang acara tersebut juga. Ia mengajakku untuk menghadirinya. Kemudian
aku mengiyakan saja. Aku berlalau untuk membeli lauk di earung lesehan.
Lalu ketika kembali, saat melewati toko
terakhir, aku berbelok untuk membeli pulsa. Lalu ketika aku melanjutkan
langkahku untuk kembali ke Pesma, Abduh dan Bima yang menakiki motor menawarkan
diri untuk memboncengku. Lalu aku kembali e Pesma dengan di bonceng naik motor.
Sesampainya di belokan setelah kantor rektorat, aku meminta untuk berhenti
karena aku mau mampir dulu ke Fakultas Dakwah untuk melihat debat kandiat,
namun mereka menolak, mereka memilih untuk mengantarku ke fakulats sekaligus
dan aku mengambil tawaran tersebut. Sesampainya di Fakulats, aku melihat Faisal
dan Rifai juga sampai di Fakultas, namun ternyata acara tersebut sudah sampai
acara akhir yaitu pengucapan salam penutup oleh pembawa acara. Kaku tidak masuk
ke tempat duduk para penonton, aku memilih berjongkok di pinggir dan melihat
akhir dari acara tersebut dari kejauhan. Lalu kami semua kembali ke Pesma
bersama-sama.
Aku kembali ke kamarku unutuk
memakan lauk dan nasi yang telah aku masak dan aku baiarkan tetap di mejikom
dari kemarin malam.Lalu aku melanjutkan mengetik diary ini. Lalu aku tidur
seitar jam setengah dua belas. Karena aku belum mendirikan sholat isya’, belum
menyelesaikan catatan harianku, dan juga belum belajar untuk ujian besok, Allah
membangunkankujam satu kurang sebelas menit. Aku bangun untuk mendirikan
sholat. Kemudian aku melanjutkan mengetik diary ini di malam yang sunyi
diselimuti dingin yang menusuk tulang.
Di awal-awal menulis di hari senin
pagi tanggal empat Mei ini, aku merasakan perasaan-perasaan yang telah terpendam
ketika matahari masih mengawasi bumi bagian Surabaya selatan disini. Namun aku
terus melnjutkan menulis meski diselimuti sepi dan menyesal. Waktu subuh sudah
dekat, aku baru teringat kalau aku belum belajar untuk ujian Tafsir BKI nanti.
Nanti adalah ujian Tafsir yang terakhir kali.
Kusadari bahwa nilai-nilaiku
sebelumnya ada beberapa yang kurang memuaskanku arena hasilnya buruk sekali.
Aku tak mengira bisa mendapatkan nilai seburuk itu. Aku kira aku mendapatkan
nilai buruk itu sejak aku enyadari kalau aku tertekan dengan sumuanya dulu.
Namun setelah hari yang aku sebut hari pembebasan dulu, aku menjadi bisa
bangkit lagi menjadi aku yang seharusnya. Hari pembebasab dulu sangat
berpengaruh bagiku.
Subuh semakin dekat, kantuk mulai
menyerang kesadaranku, namun seharusnya aku belum boleh tidur karena aku belum
belajar untuk ujian nanti.
Bersambung...
secara umum sudah bagus rifqi,, namun perlu dibaca ulang dan di edit kembali ya :0
BalasHapusjangan lupa kirim komentar anda di http://fiskamahasantri-nusantara.blogspot.com/2015/05/aku-hidup-bersama-doanya-meniti-kisah.html
bismillah
BalasHapususahakan jangan ada pengulangan kata dalam 1 kalimat yah, misalnya
Beliau mengatakan hal tersebut lalu memngatakan sebuah kata-kata bijak,
semangat ya
Rifqi,,,
BalasHapuspunya kamu udah bagus, namun ada pengulangan kata,,
penggunaan tanda titik, koma juga,,,
tetap semngat, good job sobat,,,
m'f ya semuanya, hehe, mmang sebenarnya tulisan tsb blum q edit sama sekali, cuma d tlis lalu d krim tnpa d revisi terlebih dahulu..
BalasHapusGood job ... tulisan sampean dah bagus .... tpi Eyd ne iku di perhatikan Nggeh
BalasHapusPenulisan dan prngadaian katanya sangat bagus namun harus memperhatikan penulisan kata yang tepat seprti "Guruku Aliyah"
BalasHapuskocak habis rifqi mungkin dari sekian tulisan teman-teman cuman punya kamu yang paling lama aku baca
BalasHapusaku ngerasa gimana yah kamu ini sangat berbakat dalam kepenulisan suer
kamu menulis dengan kejadian ynag sangat tergambar habis apa kejadian yang baru terjadi kamu kayak cerita dengan bicara ke kami keseharianmu dan apa-apa hal yang terjadi di pesma di kamrmu dan di ukmmu pokokny aku bangga sama kamu dan kami mohon maaf jika kamu rasa kami tak menerimamu apa adanya , walaupun kau lihat aku fashionable aku harus matching berpakaian dan kusuruh kamu bergay laykanya seharusnya kusruh kamu maakai baju biar gag keihatan dumel aku gak bermajsud apa -apa kami meneriammu rifqi apa adanya hanya kami ingin kamu move on dari rifqi yang dulu dengan rifqi yang sekarng. iya kau ngerti kalu kita melihat seseorang jangan lihat baju apa yang dia kenakan tapi bagaimana sikap dan tinkah lakunya tapi kan kalu sampean disodorkan permen yang bungkusnya msih bagus dengan yang sudah uwet uwetan man yang kamu pilih? itu aja mungkin kebanyakan jangan lupa koment punya yang paling penting rifqi kita hars bisa memproritaskan man yang harus dilakukan dan man yang ditinggalkan aku banga samamu thanku u
Subhanallah... luar biasa (y) semngat menulis dek...(y)
BalasHapusgood job rifky, bagus tenan tulisannya rek,...
BalasHapusakan tetapi lebih diperhatikan lagi yah EYD'a rifky,...
fightingggg kawan.
BalasHapussalam LTB.
karakter penulisnya bisa saya dapatkan dalam tulisan ini. Semangat kakak !!!
BalasHapussetuju ca'... karakter si penulis sangat tergambar dalam isi ceritanya.. rentetan ceritanya juga detail sekali..
BalasHapusmungkin jika diberi sub judul akan lebih menarik karena pembaca terpimpin untuk mengetahui point utama dari penggalan ceritanya...
terus berkarya kawan....
jangan lupa komentarnya ya... http://tsalisaalmumtazah.blogspot.com/2015/05/titian-langkah-bersama-sang-guru-besar.html?showComment=1432564234762#c2368300993161394567
BalasHapuslanjutkan.. mantap bro
BalasHapusSubhanallah ,,,,mumtazzz rif,,,semoga kedepannya menjadi penulis yang masyhur,,,,
BalasHapusdan sedikit masukan jika menulis lagi ketelitiannya ditingkatkan ya,,,,
akhirnya,, have done juga tulisanmu rif,,,
BalasHapussalut dah gua....
bagus ki... lanjutkan! tapi hati2 dengan pengulangan kata ya... lebih diminimalisir lagi. good job:)
BalasHapusAyo Rifki...tambah lg semangat membacamu agar semakin bnyk yg akan kau tuliskan...
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusEkspresikan dirimu rif! sebagai teman aku kan senantiasa mendukung dan mensupportmu, namun jangan lupa salah satu tugasku juga adalah mengingatkan dan meluruskan setiap langkahmu, tapi mutlak "kau yang menentukan segalanya"! Sukses :D
BalasHapusTerus Bikin Artikel Gan Kali Aja Artkel Ada yang beli
BalasHapuswah... hehe, emang bisa?
HapusMantap ki....
BalasHapustrus menulis, posting yang lebih banyak lagi...
semangaaaaat...
The great pleasure in life is doing what people say you cannot do. -Walter Bagehot
BalasHapusGood people are good because they've come to wisdom through failure. We get very little
BalasHapuswisdom from success, you know. -William Saroyan
Men are not prisoners of fate, but only prisoners of their own minds.
BalasHapus-Franklin D. Roosevelt
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusjanagan lupa kunjungi
BalasHapushttp://nurmujibiyah.blogspot.com/2015/06/pentingnya-mengelola-lingkungan-belajar.html
nggeh...
BalasHapuslanjutin menulisnya ya kri
BalasHapusenggak tau mau bilang apa
karena semuanya good job
jempol for you
Kurangi bgadang...agar esok harinya lbih produktif dalam menulis
BalasHapusGood job rifqi....
BalasHapusbagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .
BalasHapusamazing rifff. . .
BalasHapusterus berbagi ilmu lewat goresan penamu ki....
BalasHapustetap istiqomah, semangatt....
BalasHapusSubhanallah,,,amazing,,,tetap semangat rif,,,
BalasHapushanya saja perwajahannya ,,,perlu diperindah ya,,,,biar lebih enak dibaca,,,
BalasHapuslanjutkan tulisannya rifqi... jangan berhenti di sini ok
BalasHapusterima kasih semuanya...
BalasHapusTerus berkarya Rifqi Muhammad Nur
BalasHapusditunggu buku terbitannya !!! Oke.
benar katamu di paragraf awal. tidak ada kata terlambat untuk berkarya :)
BalasHapusTULISANNYA MEMBUAT PEMBACA SERASA BERADA DI DALAMNYA. SIIP. LANJUTKAN!!
BalasHapusBenar memang perkataan guru kita, "Potensimu sangat besar tapi sayang semua itu tertutup oleh rasa malas dan minder" Jadi mulai sekarang tidak ada alasan untuk tidak giat, ayo sukses bersama. Bangun Rifqi.....
BalasHapusRifqi,,,
BalasHapusFighting,,,
Potensimu tidak sampai dsini, lanjutkan,,,
Tdak ad kta terlmbat tuk mmulai suatu hal,,,
Rifqi,,,
BalasHapusFighting,,,
Potensimu tidak sampai dsini, lanjutkan,,,
Tdak ad kta terlmbat tuk mmulai suatu hal,,,
Ayo terus berjuang sobat,,,,
BalasHapusgreat writing ^_^
BalasHapusjust make it a short story
Inspiratif bro
BalasHapusJangan berpuas diri perbanyak membaca
BalasHapusLanjutkan
BalasHapusBanyak yang harus dibenahi
BalasHapus