Minggu, 31 Mei 2015

lembar kedua..

Akhir yang kurang memuaskan
    Hari senin tanggal 4 Mei merupakan hari dimana ujian Tafsir BKI terakhir kali dilaksanakan. Sebelumnya, pada paginya harinya, karena aku kurang bisa mengatur waktu, membuatku tidak bisa mendapatkan waktu untuk belajar. Ketika memasuki waktu subuh, aku bersegera melaksanakan sholat subuh, setelah itu aku duduk bersandar pagar ranjang terbuat dari besi yang aku selipkan bantal di antara punggung dan pagar tersebut. Aku menyempatkan diri untuk membaca materi yang akan diujikan di mata kuliah Tafsir nanti. Baru dua halaman aku baca, mataku sudah terasa berat untuk tetap terbuka, aku tak kuasa menahan kantuk yang menyerang. Akhirnya aku ketiduran di pagi itu. Aku terbangun pada jam tujuh, akibatnya u tidak bisa mengikuti intensif bahasa Arab pada hari itu. Kemudian aku segera bersiap untuk mengikuti peruliahan tafsir.
    Aku berangkat agak terburu-buru. Sesampainya di kelas, aku hanya melihat Pak Ainul Yaqin, Pak Prof belum hadir di kelas. Mungkin hal itu disebabkan cuaca waktu itu yang memang sedang mendung agak gelap. Aku menjabat tangan Pa Ainul lalu menempati tempat duduk di depan yang masih kosong. Kebiasaan meyoritas kami adalah
duduk di belakang ketika ujian berlangsung. Maka tidak heran aku yang meskipun datang agak terlambat bisa mendapatkan tempat duduk di depan. Di kelas berukuran kira-kira 4 x  8 meter itu kami mengikuti ujian Tafsi terakhir. Setelah selesai Pak Ainul mengabsen kani satu persatu untuk menaanyakan nilai akhir kami. Ujian kali ini aku mendapatkan nilai terendah dari semua nilai ujianku sebelumnya. Aku medaptakan nilai 44. Ketika Pak Ainul Yaqin bertanya kepadaku kenapa bisa mendapatkan nilai serendah itu, aku menjwaba bahwa memang aku baru membaca dua halaman pertama dari sekitar 22 halaman yang diujikan, atau bisa dibilang aku masih mempelajari kurang dari 10%. Ketika ditanya lagi kenapa aku tidak belajar semuanya, aku beralasan bahwa aku telah menghabiskan waktuku untuk mengetik diary, padahal karena salahku sendiri yang kurang bisa mengatur waktu dengan baik. Karena pada awalnya aku terlalu bersantai-santai pada awalnya, sehingga ketika deadline di tentukan aku menjadi gedandapan (bahasa Jawa, maksudnya seperti tergesa-gesa karena kehabisan waktu) ketika mengetik dan mengorbankan belajarku yang sebenarnya juga penting.
    Ketika membahas tafsir, Pak Ainul memberikan masukan kepada kami yang sebenarnya lebih pas untukku, yaitu, “ketika kamu sibu, yang dikurangi tidurnya, bukan belajarnya.” Tetapi aku malah mengorbankan waktu belajarku. Memang kelihatannya aku mengorbankan keduanya, namun tubuhku pasti meminta sendiri untuk tidur bila sudah tidak kuat. Dan memang bila tubuhku sendiri yang meminta istirahat, tidak bisa kuajak komrpomi terlebih dahuu, pasti langsung pulas dan lama, hinga meninggalkan hal-hal yang harus kulakukan. Kedaan seperti ini sering disebut dengan nama kelelahan.
Permulaan baru
    Setelah aku beserta teman-temanku menyelesaikan tiga puluh halaman kemarin, sulit sekali untuk memulai menulis kembali. Sekarang, hari Ahad tanggal 10 Mei ini aku baru memaksa diriku sendiri untuk sesegera mungkin memulai menulis. Banyak kejadian yang telah kualami seminggu ini yang belum aku tuliskan. Baru sedikit bayanganku tentang yang aku tulis kali ini. Langsung saja aku akan mencoba membawa kalian (para pembaca) ke dalam duniaku.
    Kemarin aku bersama teman satu kelasu telah melaksanakan ujian tahsin + hafalan ayat Al-Qur’an yang di bahas dalam perkuliahan Tafsir bimbingan dan Konseling Islam. Seperti sebelum-sebelumnya aku kurang bisa memanfaatkan waktuku dengan baik untuk hafalan, bila hari H atau bahkan jam h belum dekat, aku males sekali untuk menghafalkannya. Hal ini berdampak kepada hasil hafalanku. Akibatnya, masih banyak sekali ayat yang belum aku hafalkan. Malam hari sebelum hari H aku baru mulai menghafalkan. Namun baru sebentar aku menghafalkan, semilir lembut angin malam menarikku ke dalam dunia mimpi. Hawa dingin yang dibawanya menutup mataku perlahan. Suara hening seakan menghipnotisku untuk segera menuju alam bawah sadar.
    Pagi harinya setelah mendirikan sholat, aku melanjutkan menghafalkan ayat, meski kemungkinan besar aku tidak bisa menghafalkan semua ayat yang kira-kira berjumlah tujuh pilih ayat tepat pada waktunya, aku harus tetap berusaha. Sekitar pukul lim pgi, aku pergi ke kamar Faisal untuk membeli mi untuk kujadikan lauk sarapan pagi ini. Lalu aku mengambil air untuk memasak mi, lalu aku bertemu dengan Rahmat, aku bertanya kepadanya jam berapa kami nanti harus berkumpul untuk setoran hafalan ayat. Ia menjawab bahwa berdasarkan informasi sebelumnya seharusnya kami berkumpul pada pukul setengah enam, namun bahkan sekarang sudah hampir pukul enam memang jam Indonesia. Kira-kira pukil enam kurang tiga belas menit, aku selesai sarapan pagi, aku keluar kamar menuju dapur untuk mencuci piringku. Aku melihat Faisal lewat dengan mengenakan celana pendek dan handuk yang menggantung di pundaknya, kelihatannya ia mau mandi. Aku menyimpulkan bahwa keberangkatan kami nanti pasti terlambat, karena Koordinator Mahsisawa (ketua kelas) kami saja baru mau mandi. Namun aku tida megeluhkan hal tersebut, ku malah senang karena dengan begitu aku memunyai waktu tambahan untuk menghafalkan. Aku tidak menyia-nyakan waktu, aku melanjutkan kembali menghafalkan ayat.
    Waktu terus berjalan, aku menandai keberangkatan teman-temanku di lantai bawah dengan suara-suara teriakan mereka di bawah untuk mengajak teman yang lain untuk segera berangkat. Mesipun mereka tidak memanggil namaku secara langsung, namun tanda tersebut sangat penting untukku yang berada di lantai lima. Baru sekitar pukul delapan menuju setengah sembilan ku mendengar suara-suara temanku dari lantai bawah, aku segera mengganti pakaianku. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diriku untuk mengeprin hafala ayat-aat tersebut, sebelumnya aku menghafalkan dengan mumbuka notbookku, dengan begitu aku dapat membuka kertas tersebut sewaktu-waktu untuk menghafalkan. Hal ini membuatku menjadi yang paling akhir berangkatnya.
    Aku sudah mengkopikan berkas yang berbentuk pdf ke dalam flashdisk baruku. Aku teringat kembali kisah flsadisk baru ini. fd ini aku beli dengan harga 75 ribu rupiah. Sangat murah untuk fd berkapasitas 16 gb(giga byte). Aku tertaik dengan harga ini, dan kebetulan juga fdku sendiri belum kembali, sehingga ketika aku membutuhkannya aku akan memiliki penggantinya. Aku bertransaksi i depan fakultas adab, di depan bis-bis UINSA diparkirkan, disitu tanpa harus memilih lagi, karena aku percaya kepada penjualnya, seorng bertubuh gemuk yang sedang duduk diatas motor menungguku. Sebelumnya kami telah mengadakan janji lewat sms. Kemudian  pada hari yang telah ditentukan kami bertemu. Ketika aku datang, ia langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan denganku,aku menyanggupinya. Tanpa banyak basa-basi ia membuka jok motornya dan mengeluarkan bungkusan kresek hitam kecil, dikeluarkannya satu fd yang masih terbungkus rapi dengan mereknya. Aku langsung mengambil dn menyerahkan uangku kemudian pamit untuk kembali ke Pesma. Sampai di Pesma aku membuka notbook untuk membuka fd baruku. Kulihat icon dilayar notbook dan aku terdiam. Kulihat fd tersebut tidak berukuran 16gb seperti yang tertera di bungkusnya, fd tersebut cuma berkapasitas setengah gb, aku langsung mencoba menghubungi nomor penjual tadi,, ku coba untuk mengirim pesan, namun tidak ada balasan, ku coba untuk menelfon, tapi tidak diangkat. Aku menghibur diri agar tidak berburuk sangka terleih dahulu. beberapa menit kamudian aku ditelfon oleh si penjual. Aku menceritkakan tentang barang yang telah aku beli, ia menyanggupi dengan siapa untuk ditukar dengan yang baru. kami membuat janji lagi untuk bertemu.
Bersambung...

8 komentar:

  1. iya mbk, inikan catatan harian saya yang meskipun belum rutin setiap hari nulisnya,

    BalasHapus
  2. Di tunggu episode selanjutnya :) ... simple dan keren (y)

    BalasHapus
  3. suwun, lha ngunu guanteng ad.. hehe suwun pokok e,

    BalasHapus
  4. Hmmm.... Pengalaman yang ......

    Pasti nulisnya juga sambil ngantuk??

    BalasHapus